My Boss My Ex

My Boss My Ex
29. Mimpi Indah



"Kamu hutang penjelasan sama kakak." Audy menghentikan langkah Rachel hampir saja masuk ke dalam lift.


Rachel terkejut mendapati Audy ada di belakangnya, ia mengernyit bingung melihat Audy menggendong Kalea malam-malam begini. Dan sejak kapan Audy dan Kal ada di luar?


"Dari mana, Kak? Kalea kenapa digendong? Kal nggak sakit 'kan?" Rachel melerakkan telapak tangannya di kening Kalea, ia lega mendapati suhu tubuh putrinya normal.


Audy semakin mendekap Kalea dan menggelengkan kepala. "Bukan ini, tapi itu...." Ia mengangkat dagu menunjuk kening Rachel. "Kakak lihat semuanya, El...semuanya!"


Glek!!!


Rachel susah payah menelan salivanya sendiri, ia tidak menyangka Audy telah melihat Kenzi. Sorot mata Audy menjelaskan bahwa kakaknya itu sedang berusaha menahan emosi.


"Bukan seperti itu, Kak ... kam--


"Kamu menikmatinya, El ... apa itu artinya kamu masih ada rasa sama dia?" tanya Audy menuntut jawaban. "Jangan lupakan kesalahannya, El."


"Kak, nanti aku jelasin tapi gak di sini tempatnya. Aku takut Kalea denger apa yang seharusnya gak boleh dia dengar."


Rachel mengelus rambut Kalea, suara dengkuran Kalea membuat ia kembali bernafas lega. Rachel yakin kalau saat ini anaknya berada di alam mimpi tentu saja tidak menelinga percakapan orang dewasa seperti ia dan Audy.


***


Setelah memastikan Kalea tidur nyenyak di kamar barulah Rachel menemui Audy di ruang tv. Rachel menceritakan mengapa ia bisa bersama Kenzy.


"Anak itu masih gila aja!" kesal Audy setelah mendengar penjelasan Rachel. "Batin Kal kuat banget. Pantesan Kalea yakin dia bukan bos kamu. Untung tadi kamu bilang sama dia kalau Kalea itu anak kakak. Ah ... kalau gak ingat tadi ada Kalea ... udah kakak hajar dia!" kesalnya.


"Terus tadi kamu kenapa diam aja dicium keningnya?"


"Ya, kakak lihat sendiri dia langsung pergi. Lagian aku gak mungkin baper lah kak. Aku udah move on...."


Rachel sengaja meraih remote tv untuk menyalakan layar datar itu. Hanya itu cara membuat kakaknya tidak curiga padanya lagi. Lihatlah, kini perhatian Audy sudah beralih pada saluran televisi.


Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Kalea bisa melihat punggung kedua wanita dewasa itu, hanya saja ia bisa memdengar dengan jelas apa yang dibicarakan di sana.


"Mereka mencurigakan ... kenapa harus main rahasia?" gumam Kalea, ia yakin ada yang tidak beres dengan ibunya. "Ibu udah janji mau bawa ayah pulang. Sekarang aku udah ada di sini berarti aku udah bisa ketemu sama ayah. Apa ibu masih bujuk ayah biar mau ketemu sama aku?"


Kalea buru-buru menutup pintu lalu kembali berbaring di atas tempat tidur.


"Kapan aku bisa ketemu sama ayah? Apa tadi itu memang suara ayah? Tapi, kenapa ayah tanya aku siapa?"


Kalea gelisah, ia mencoba memejamkan mata. Betapa terkejutnya ia ketika wajag Om itu terlintas di sana.


"Apa itu tandanya?" Kini Kalea tertawa. "Aku mimpi indah...," ucapnya sebelum akhirnya kembali larut dalam mimpi. Kalea berharap mimpi ini akan membawanya bertemu dengan sosok yang ia harapkan keberadaannya.


Sementara di tempat lain. Kenzi pun tidak bisa tidur. Suara anak kecil tadi seolah masih terngiang di telinga. Batinnya menolak jawaban Rachel tentang anak itu.


"Kenapa aku berharap dia anak kita, Ra?" lirihnya sembari menatap langit-langit kamar. Anehnya, wajah bocah perempuan yang pernah ia temui waktu itu seolah terlukis di sana. "Kalau memang seperti itu, mengapa kamu tutupi kebenarannya dariku?"


"Aku tahu kamu masih cinta sama aku, Ra. Tunggu sampai aku berhasil memutuskan pertunangan yang tidak pernah aku inginkan ini...."


Kenzi menyingkap selimut, kemudian ia keluar kamar mencari orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padanya dan Rachel.


"Pa ...papa!!" seru Kenzi sembari menuruni anak tangga. "Tunggu sebentar aku mau bicara," ucapnya saat pria separuh baya itu akan masuk ke ruang kerja.


"Ada apa?" Abimana bertanya setelah Kenzi sudah berdiri di hadapannya. "Apa tidak bisa bicara besok saja?"


"Nggak, Pa...aku udah gak bisa nunda ini lagi. Aku mau mutusin pertunangan yang udah papa atur demi bisnis itu. Aku gak bisa nikahi dia, Pa!" ucap Kenzi dengan satu kali tarikan nafas.


Dada Abimana bergemuruh, emosi terpendam di sana. "Apa kamu sudah gila? Kamu mau mempermalukan Papa di depan semua orang, ya?" sentaknya tidak terima.


"Akan lebih malu lagi kalau kami benar-benar menikah! Pernikahan itu tidak akan pernah berakhir bahagia karena sampai kapan pun aku gak akan pernah mencintai dia!" teriakan Kenzi menggema di sekitar mereka.