My Boss My Ex

My Boss My Ex
22. Pengakuan Kenzi



22


"Kamu buat masalah apa sama Bara, El?" Lian semakin curiga, agaknya tingkah Bara mulai membut ia risih.


"Nggak usah dihiraukan, putar balik aja mobilnya," pinta Rachel memelas, sementara di luar sana Kenzi masih tidak bisa diam. Berteriak dan menggedor kaca jendela.


"Bara gak akan berhenti, El." Lian membuka sabuk pengaman yang tadi melilit di tubuhnya. "Kamu jangan takut, biar aku yang tangani dia!"


Lian masih tidak menghiraukan Rachel, pria itu segera menemui Bara ingin memastikan kenapa sahabatnya itu menghalangi jalannya.


Sementara Rachel semakin risau, ia tidak bisa mengabaikan kemarahan yang tergambar di wajah Kenzi. Rachel takut Lian menjadi korban sasaran amukan pria itu, di sisi lain ia juga takut kalau Lian salah bicara yang menyangkut tentang putrinya.


"Lo punya masalah apa?" Lian memasang badan di hadapan Bara. "Baru ketemu setelah sekian lama, lo udah cari ribut aja!"


"Gue gak akan cari ribut kalau bukan lo yang mulai lebih dulu!" sentak Kenzi, ia menunjuk dada Lian, sepertinya lawan bicaranya tidak mengerti apa maksud ucapannya. "Mau lo bawa kemana...." Kenzi menjeda ucapannya, ia melirik Rachel yang masih betah berada di mobil Lian. Mata Rachel terlihat membola menatapnya, wanita cantik itu menggelengkan kepala berharap Kenzi tidak mengungkit apapun tentang mereka, tapi sayangnya Kenzi tidak semurah hati itu membiarkan Lian bisa bebas mendekati bahkan mengajak Rachel jalan mengelilingi kota yang penuh kenangan mereka.


Kenzi mengangakat sebelah alisnya, tersenyum angkuh sebelum akhirnya melihat Lian lagi.


"Gak jelas, lo! Ganggu gue aja!" Lian menepis tangan Kenzi. "Gue ada urusan penting yang gak bisa ditinggalin, kalau mau ribut mending lo hubungi Niko sama Albi. Nanti gue nyusul!" Lian berbalik arah ingin masuk kembali ke mobil, tapi secepat kilat bahunya ditahan oleh Bara.


Lian tersentak mendengarnya, ucapan Bara mulai membuat pikirannya resah. Ada hubungan apa antara kedua orang ini?


"Lo ngancem gue?" Lian berdecih, meskipun terkadang mereka sering berselisih paham, tapi belum pernah ada dalam sejarah Bara seserius ini. "Sayangnya, gue gak takut! Gue gak tahu dari mana dan sejak kapan lo kenal sama Rachel, gue juga gak tahu kenapa lo keberatan gue pergi sama Rachel dan gue gak mau tau tentang semua itu! Dan kali ini lo gak bisa maksa gue buat nurutin kemauan, lo! Terutama gak untuk Racel!"


Lian tidak mau kalah. Sementara Rachel semakin ketakutan, ya ...keras kepala dan emosi yang bersarang di diri Kenzi masih membuat ia ketar-ketir. Mata Rachel semakin terbiak lebar kala melihat Kenzi mencengkram kerah kemeja Lian hingga ia memutuskan keluar dari mobil Lian.


"Lo harus ingat ini baik-baik...Rachel itu--


"Pak Bara!" Rachel sengaja memungkas ucapan Kenzi, ia tidak mau Kenzi menungkit masa lalu mereka di depan Lian karena itu bukan hanya akan membuat masalah baru untuknya, tapi kemungkinan bisa menyakiti perasaan Lian. Apalagi Lian tahu kalau ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan pria dari masa lalu yang juga merupakan ayah dari putri semata wayangnya. Rachel memelas agar Kenzi tetap diam dan tidak menuruti egonya.


Sayangnya Kenzi tidak mengindahkan keinginan Rachel. Pria itu tentu masih bisa membaca raut wajah Rachel yang seakan memaksa ia mundur dan pergi, namun Kenzi tidak mau mengabulkan keinginan Rachel itu.


Kenzi tersenyum angkuh sebelum akhirnya bicara tepat di depan wajah Lian berharap teman baiknya itu bisa menerima ucapan dan kenyataan yang ada.


"Rachel cewek gue!" serunya seraya melepaskan cengkraman tangan dari kerah kemeja Lian. "Paham, sekarang?" tatapannya masih menajam bagai pisau siap menu suk objek yang ada di dekatnya.


Lian terkesiap mendengar pengakuan Bara, ia menatapnya tidak percaya, mata, telinga, hati, perasaan dan sekujur tubuhnya memanas, ia merasa seperti berdiri dalam lingkaran kobaran api siap menghanguskan dirinya.