
Plak!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kenzi hingga membuat wajah pria itu menoleh ke sisi kiri. Abimana sangat emosi kala Kenzi mengeraskan suara di depannya. Jika diingat lagi setelah bertahun-tahun lalu berlalu ini merupakan yang pertama kali putranya itu sekurang ajar ini padanya.
"Beraninya kamu menaikkan intonasi suaramu di depan Papa! Apa wanita itu yang memengaruhimu?"
Suara Abimana tidak kalah lantang di tempat itu, matanya menyalang merah melihat kekurang ajaran yang baru ditunjukkan Kenzi padanya.
Kenzi tersenyum sinis, benar memang kalau ini yang pertama kali ia membentak sang papa. Sudut bibir yang tadinya hanya membentuk senyuman kini sudah mengeluarkan suara tawa. Pria yang umurnya separuh dari sang papa tertawa miris di depan Abimana.
"Sampai sekarang papa belum pernah melihat dia. Papa juga tidak pernah berharap bertemu dengan perempuan itu karena dia bawa pengaruh buruk untuk kamu! Lihat, baru beberapa hari di sini kamu berani kurang ajar sama papa. Apa kamu sudah melanggar janji untuk tidak berhubungan dengan perempuan yang tidak sepadan dengan kita itu?!" pekik Abimana lagi, ia berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan pukulannya lagi kepada anak kebangganya.
"Aku udah pernah bicara baik-baik, Pa ... bahkan, 6 tahun yang lalu aku pernah memohon supaya papa tidak merusak hubunganku dengan dia. Tapi, Papa nggak pernah mau mengerti! Demi melindungi dia dari papa aku rela mengikuti kemauan papa termasuk bersedia tunangan sama perempuan pilihan lain. Tapi, hatiku tetap mencintai perempuan pilihanku sendiri, Pa!"
"Jangan bodoh karena satu wanita! Buka matamu lebar-lebar dia hanya menginginkan hartamu saja! Papa yakin dia tidak akan mau berhubungan denganmu kalau kamu tidak punya apa-apa, kalau kamu tidak punya harta! Kamu harus sadar itu!"
"Semua yang papa katakan salah, wanitaku tidak seperti yang papa duga! Bahkan dari dulu dia gak tau kalau aku anak Abimana pemilik sekolah. Aku anak orang kaya yang tidak pernah mendapat perhatian dari orang tuanya. Hanya dia yang tulus dan selalu ada di saat semua orang menjauhiku termasuk Papa dan mama!!" Kenzi memukul udara rasanya tidak sanggup lagi menahan emosi.
Abimana terdiam menatap putranya itu. Ia mencoba mencerna semua ucapan Kenzi Barata Abimana.
Kedua pria keras kepala ini saling melayangkan tatapan tajam. Kenzi lega sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak lama. Sementara ucapan Kenzi membuat Abimana terperanjat mendengarnya.
"Papa tahu, kamu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Pergilah istrahat, Ken!"
Abimana menepuk pelan pipi Kenzi yang tadi ia tam par. "Anggap saja kita tidak pernah membahas ini," ucapnya sebelum melangkahkan kakinya menjauhi Kenzi.
"Aku tidak main-main, Pa." Kenzi menghentikan langkah sang papa dan menyusulnya hingga mereka saling berhadapan lagi. "Tidak selamanya harta bisa membuat kita bahagia, Pa. Aku harap kali ini papa tidak lagi mengancamku untuk mencari dan menghancurkan hidupnya, karena aku ...tidak akan pernah mengalah dan berdiam diri lagi. Wanita itu terlalu baik untuk disakiti dan dihancurkan. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang mengusiknya termasuk Papa...."
Kenzi meraih cincin di saku celananya lalu ia letakkan di telapak tangan Abimana.
"Aku harap Papa mengerti dan menerima keputusanku. Cincin ini aku kembalikan kepada Papa karena papa yang memberinya. Aku tidak mau ada drama apapun tentang wanita pilihan papa itu," ucap Kenzi tanpa ragu.
"Kamu gila, Ken?" Abimana menatapnya heran. "Begitu special-nya kah wanita itu?"
"Sebenarnya ... Papa mengenalnya, hanya saja Papa tidak tahu kalau dia adalah kekasihku yang aku tinggalkan karena Papa."
Abimana mengernyitkan dahi, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan kapan dan di mana ia mengenal wanita itu. Apa salah satu karyawannya? Ketika Abimana ingin bertanya lebih lanjut lagi. Kenzi sudah pergi dari hadapannya.