
21
Kehadiran Rachel di sisi Lian membuat pria itu sangat bahagia, karena biasanya, Lian yang selalu berinisiatif mendekati Rachel, tapi kini tidak ada angin tidak ada hujan Rachel sendiri menghubungi dirinya, bahkan tidak menolak diajak dinner special.
"Kita mau ke mana?" Rachel bertanya setelah mobil yang dikemudikan Lian berbelok ke arah jam dua. "Aku udah lama gak ke Jakarta, jadi beberapa tempat di sini terasa asing untukku.
"Tenang saja, kamu gak takut aku bawa lari 'kan?" goda Lian, ia tidak sadar kalau saat ini ada mobil lain yang mengikuti dari belakang, hingga ia mengurangi kecepatan mobilnya.
"Nggak, kok. Tampang kamu bukan tampang kriminal! Lagian kamu rugi kalau nyulik aku. Makanku banyak loh!"
"Itu, sih perkara kecil. Aku bahkan sanggup memenuhi kebutuhan kamu, asalkan kamu mau jadi istriku!" Lian menoleh sekilas, mengedipkan sebelah matanya saat Rachel juga melihatnya.
"Mulai lagi!" Tanpa sadar, Rachel memukul lengan Lian dan itu berhasil membuat perasaannya tidak enak, ntah memang karena tindakannya atau karena pikirannya. Rachel canggung dan menarik tanganya. "Maaf," ucapnya lirih.
"Santai aja, El. Kenapa sih kamu gampang banget minta maaf? Padahal, gak ngelakuin kesalahan apapun," goda Lian, ia senang karena Rachel tidak lagi menutup diri darinya. Lian mengernyit ketika melihat kedua tangan Rachel saling meremat, Rachel seperti sedang memikirkan sesuatu saat ini. "Kamu gak apa-apa 'kan, El? Kayaknya resah gitu."
"Ehm, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu dan ini mendesak," ucap Rachel agak ragu, namun ia sudah tidak bisa lagi menunda waktu.
"Penting, ya? Bicara aja aku fokus, kok." Lian siap menajamkan telinganya.
"Lian, kamu janjikan gak akan buka rahasiaku, ehm ...maksudku, tentang putriku," ucapnya tidak enak hati.
Lian terkejut, ia tidak menyangka Rachel akan membahasnya. "Kamu meragukan aku, El? Aku kan udah janji akan jaga rahasia kamu."
"Bu-bukan itu maksudnya. Aku cuma takut Ken...maksudku pak Bara tahu kalau aku punya anak. Aku gak siap dipecat."
Lian terdiam dan penasaran kemana tadi Bara membawa Rachel.
"Kalian saling kenal, ya?" tebak Lian, ia tentu tahu Bara pasti punya alasan sendiri mengapa membawa Rachel yang merupakan karyawan biasa yang baru pertama kali dilihatnya.
Ciiittttttt!!!!!
Rachel tersentak saat mendengar rem berdecit bersamaan dengan mobil hitam melaju kencang mendahului mobil mereka. Rachel tersentak ketika mobil itu berhenti beberapa meter di depan mereka.
"Kenapa mobilnya berhenti, Lian?" tanya Rachel sembari memerhatikan ke luar jendela, saat ini mereka berada di kawasan sepi. Lian pun menepikan mobilnya. "Kenapa kamu berhenti juga? Gimana kalau orang itu punya niat jahat sama kita!"
Rachel mulai panik, namun tidak dengan Lian. "Aku tahu itu mobil siapa!" seru Lian, ia semakin mencengkram erat strir kemudinya.
"Memangnya siapa?" Mata Rachel terbiak lebar saat melihat seorang pria yang keluar dari pintu kemudi. Kenzi melangkah lebar mendekati mobil Lian. Wajah pria itu terlihat menyeramkan.
"Putar balik aja, Lian...aku gak mau ketemu dia!" Rachel panik, ia tidak sadar apa yang ia ucapkan justru membuat Lian semakin penasaran.
"Memangnya kenapa? Apa kalian punya masalah, El?" Lian menatap curiga.
Tok! Tok! Tok!
"Buka!!!"
Seruan Kenzi membuat Rachel semakin gemetaran, pria itu mengetuk-ngetuk kaca jendela tepat di sampingnya.
"Jangan dibukain pintunya, kita pergi aja!" Rachel memohon, ia genggam tangan Lian memaksa pria itu tidak menghiraukan Kenzi.
Namun, Lian tidak bisa mengabaikan gelagat Rachel dan Kenzi.
"Lian! Buka pintunya sebelum kesabaran gus habis!!" teriak Kenzi lagi, pria itu mengitari mobil dan bergantian mengetuk kaca jendela samping kemudi.