
24
Kedua pria yang pernah olah raga bersama di ring tinju untuk membentuk otot-otot di tubuh mereka, kini justru berkelahi sungguhan di jalan raya. Bagi Lian, Bara tentu bukan lawan yang mudah dilumpuhkan, namun ia tetap melawan Bara yang berulang kali memukul wajah hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Lo tau 'kan ... gue paling gak suka diusik? Kenapa lo masih ngeyel, huh!" Kenzi menghempaskan Lian begitu saja hingga tergeletak di tepi jalan.
"Sadar, lo sendiri yang ganggu gue bro! Gak tau malu ngakui Rachel sebagai cewek lo!" Lian berdecih, ia masih tidak bisa menerima pengakuan Kenzi. Naas belum sepenuhnya ia bangkit, Kenzi kembali mencengkram kerah lehernya.
"Memang itu kenyataannya! Lo lebih tahu semarah apa gue kalau kepunyaan gue disentuh orang seenaknya, mulai hari ini jauhi Rachel, atau lo habis di tangan gue!" ancam Kenzi sembari mengangkat satu tangan untuk kembali melayangkan tinjunya di wajah Lian.
"Kenzi, stop!!!" teriak Rachel, tubuhnya gemetaran melihat perkelahian yang dipertontonkan Kenzi dan Lian. Kelakuan Kenzi saat ini mengingatkan ia pada peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam, ketika Kenzi mematahkan kedua kaki lawannya. Rachel tidak mau kejadian itu terulang lagi pada Lian.
"Kenapa waktu gak bisa merubah kamu menjadi lebih baik?" tanya Rachel, ia mendorong Kenzi hingga sedikit menjauhi Lian. Noda darah yang ada di sudut bibir Kenzi membut ia meringis melihatnya, namun ia abaikan rasa iba yang ada di hatinya. "Kamu bukan anak kemarin sore, harusnya bisa bersikap lebih dewasa," imbuhnya ketika Kenzi hanya diam melihatnya.
"Sikapku tergantung bagaimana orang itu memperlakukan aku! Termasuk kamu, Ra! Kalau kamu menghindari aku karena dia, maka aku bisa membunuhnya, Ra!" sentak Kenzi sembari menunjuk Lian yang kini sudah berdiri di antara mereka.
"Jangan gila, Kamu! Lian gak ada hubungannya sama semua ini, bunuh saja aku kalau kamu mau!" pekik Rachel lagi, lengan Kenzi menjadi sasaran empuknya kali ini.
"Tutup mulutmu, Ra! Kenapa mulut ini semakin berani bicara yang bukan-bukan, huh!" Kenzi tidak terima perlawanan, ia raih pergelangan tangan Rachel. "Ikut aku!" ajaknya sepihak.
Lian terperangah melihat perdebatan Rachel dan Bara. Mulut saling cekcok, tapi gestur tubuh terlihat saling ingin tarik menarik. Mata Bara yang semula tajam langsung berubah kalem di hadapan Rachel.
"Jangan memaksanya, Bara!" seru Lian di sisa tenaga yang ia miliki. "Biarkan Rachel memilih."
Kenzi teraenyum angkuh kepada Lian dan bicara, "Rachel pasti lebih milih gue sebagai cowoknya." Ia semakin suka melihat Lian mengepalkan tangan, lalu ia melihat Rachel lagi. "Jadi, apa keputusanmu, Sayang...?" tanyanya lirih.
"Sudahlah, kalian berdua sama aja, aku mau pulang sendiri," ucap Rachel, rasanya ia ingin segera menghilang saja, tapi Kenzi menahan tangannya.
"Aku ... atau dia?" Kali ini raut wajah Kenzi sudah kembali serius, tentu ada ancaman di sana.
Rachel tentu tahu betul apa maksud dari pertanyaan Kenzi. Bagaimanapun juga, ia tidak mau melihat Lian dipukul dan kedua orang ini berkelahi lagi. Rachel terdiam menatap Lian.
Lian, ntah seperti apa bentuk hatinya kini. Apa yang ia lihat dan ia dengar sudah menghancurkan perasaannya. Lian merasa kalah sebelum berperang. Rasanya, ia ingin berlari untuk menarik Rachel dari Bara, namun ia lemah mengingat pria itu adalah ayah dari anak Rachel. Bolehkah ia menggantikan posisi Kenzi sebagai ayah dari anak itu?
Jika malam ini Rachel memilih ikut dengannya, maka ia akan maju 1000 langkah di depan Bara.
"Katakan ... kamu mau aku apakan dia?" Kenzi bertanya dengan nada megancam tepat di telinga Rachel.
Rachel bergidik bahu merinding mendengarnya. "Maaf, Lian...," ucapnya lirih penuh penyesalan. Keputusan ini berat ia ambil, Rachel berharap Lian bisa memakluminya. Lian bergeming menatapnya.
Kenzi tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia menggandeng Rachel menuju mobil yang masih berhenti di sembarang tempat.
❤Apa kabar tayangan, akoh. Rachel Kenzi Kalea menyapa. Btw cuma 50 bab, ya. Diusahakan akhir bulan tamat❤
Ig. Violla536