
"Anak siapa?" tanyanya. Ke dua alis bak ulat bulu miliknya hampir menyatu. Wajahnya menegang menyadri Rachel terdiam menatapnya. "Anak siapa, Ra? Kenapa dia manggil kamu ibu?"
Kenzi bertanya lagi, ia tidak terima anak pria lain memanggil ibu kepada Rachel. Tapi, sepertinya ia pernah mendengar suara anak kecil itu. Tapi kapan dn di mana ia pernah mendengarnya? Kenzi mulai berandai-andai dan berharap kelak Rachel menjawab kalau anak itu adalah anak mereka.
Rachel masih terdiam menatap Kenzi, ia memutar otak memikirkan jawaban apa yang tepat ia berikan untuk Kenzi. Tangan yang baru memutus panggilan itu masih bergetar dan mulai berkeringat dingin. Kenzi tidak mudah dikelabuhi, apapun yang keluar dari bibirnya nanti, bagaimana kalau pria itu akan mencari tahu kebenarannya?
"Anak kak Audy," kilah Rachel berbohong, ia membuang pandangan ke sembarangan arah. Takut, Kenzi bisa mendeteksi kebohongan yang baru ia lontarkan.
"Anak kak Audy?" Kenzi meraih dagu Rachel hingga pandangan mereka kembali bertemu. "Yakin?" selidiknya. "Kenapa kamu gak mau lihat aku? Itu artinya kamu bohongi aku 'kan, Ra?"
Rachel menjatuhkan tangan Kenzi, ia tidak mau Kenzi semakin curiga padanya.
"Aku bukan pembohong seperti kamu. Aku udah bilang banyak yang berubah setelah kamu pergi. Kamu juga gak tau kalau kak Audy udah menikah, itu sebabnya kamu terkejut waktu anak itu manggil aku ibu, udah sih gak usah dipermaslahkan!"
Rachel melipat tangan di depan dada. Kali ini matanya fokus mengunci mata Kenzi agar pria itu tidak cari masalah lagi.
Kenzi menyugar rambut gusar, jujur ia kecewa, ia tidak percaya tapi terpaksa harus mengalah agar Rachel merusak mood Rachel.
"Iya, aku minta maaf." Kenzi meraih tangan Rachel lalu ia gandeng menuju dapur.
Bangku single berbahan besi di depan meja berbentuk bar menjadi tempat duduk Rachel saat ini. Sementara Kenzi cekatan di depan kompor memasak sesuatu untuk makan malam mereka kali ini.
"Aku pulang aja Ken, atau kita makan di luar aja. Aku ragu kamu masih bisa masak." Rachel memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.
"Kamu meragukan aku?" tanya Kenzi sembari menaikkan sebelah alisnya. "Tunggu sebentar, yank...."
Rachel merotasikan bola mata jengah melihat tingkah Kenzi. Tapi, ia lega karena Kenzi tidak lagi membahas masalah anak kecil yang tidak lain adalah anak kandung pria itu sendiri. Rachel memerhatikan Kenzi dalam diam, batinnya pun tidak tahu ntah sampai kapan bisa menyembunyikan Kalea dari ayahnya ini.
Beberapa saat kemudian, dua piring nasi goreng tersaji di antara mereka. Rachel tersenyum saat sesendok nasi itu masuk ke dalam mulutnya. Dulu Kenzi sering masak nasi goreng untuknya. Hanya itu yang bisa dimasak anak badung seperti Kenzi.
***
Sementara di tempat lain. Kalea Elga sangat terkesiap mendengar suara seorang pria menyahut dari balik benda pipihnya. Itu bukan suara bos ibunya. Itu seperti suara ...Kalea seperti pernah mendengarnya.
"Itu pasti suara bos ibu kamu." Audy terus menenangkan keponakan yang masih belum mau tidur. Sementara Jordy sudah pergi ntah kemana.
"Bukan, Kal masih ingat suara om itu. Kal yakin itu suara om yang datang ke toko waktu itu," protes Kalea. "Tapi, kenapa om itu bisa sama ibu?"
Jantung Audy berdegup lebih cepat. Penuturan Kalea menghubungkan pikirannya pada pria yang berkeliaran di toko rotinya. Feeling Kalea selama ini sangat kuat. Apa itu artinya saat ini di sana laki-laki brengsek itu memaksa Rachel ikut dengannya? Lalu kemana perginya bos Rachel itu?
"Ayo, kita tunggu di depan. Kalea mau mastiin sama siapa ibu pulang." Kalea menarik tangan Audy. "Ibu gak boleh dekat sama orang sembarangan."
"Sembarangan gimana? Itu bos ibu kamu. Kita tunggu di sini aja." Audy memangku Kalea, ia enggan beranjak dari duduknya.
"Kal mau ngenalin ibu sama om itu. Om itu bukan orang sembarangan," cetus Kalea lagi. "Om itu pasti bisa jadi temen baik buat ibu. Ayo kita tunggu di depan." Kalea memberontak di pangkuan Audy, ia tidak mau diam kalau Audy tidak menuruti permintaannya.
"Ini udah malam, besok saja kita tanya sama ibu."
"Gak mau, pokoknya kita turun sekarang!" pekik Kalea. Ia tersenyum saat Audy menurunkan kakinya dari sofa.
"Di luar dingin, kamu pakai ini dulu." Audy membalutkan sweater miliknya di tubuh Kalea hingga tubuh Kalea hampir tenggelam.
"Ini kebesaran," protes anak kecil itu. "Tanganku hilang." Ia angkat kedua tangannya yang tertutup kain warna hitam itu.
"Yang penting kamu gak kedinginan. Mau nunggu ibu kamu di luar, gak?"
Kalea menganggukkan kepala, wajah anak itu terlihat lebih berbinar saat Audy mengajaknya ke luar.