
26
Meskipun canggung ada di apartmen milik Kenzi, tapi Rachel tetap ke dapur menyiapkan air untuk mengompres luka di sebagian wajah Kenzi. Padahal, lukanya hanya secuil, tapi Kenzi seperti tidak berdaya saja. Tidak berhenti merintih kesakitan sebelum Rachel mengambil tindakkan.
Seperti saat ini, Kenzi mulai berakting ketika kain kecil yang dipegang Rachel menyapu sudut bibirnya. "Pelan-pelan, yank ... ini sakit banget," lirihnya, ia tidak kuasa menahan senyum ketika Rachel menajamkan mata padanya.
"Gak usah banyak tingkah!" ketus Rachel, aslinya ia pun salah tingkah dipanggil ayank. Gila! Bisa-bisanya dada ini berdebar hebat di tatap pria itu.
Kenzi merebut kain yang telah basah untuk ia hempaskan ke dalam mangkuk kecil yang ada di atas meja, kemudian ia menahan pergelangan tangan Rachel agar Rachel tidak bisa menghindarinya.
"Aku masih sayang sama kamu, Ra ... aku gak akan berhenti manggil kamu sayang. Dari dulu cuma kamu yang aku panggil seperti itu." Kenzi tidak kendor mengungkapkan isi hatinya, perlahan tapi pasti ia akan membuka alasan pergi meninggalkan Rachel.
"Tolong, jangan bahas apapun lagi. Kita udah usai, Ken. Kenapa kamu gak ngerti juga?"
"Justru kamu yang gak ngerti, Ra! Katakan, aku harus gimana supaya kamu mau mengertikanku. Bukan cuma cinta, tapi aku juga mau bertanggung jawab atas apa yang pernah aku lakukan dulu. Jujur, aku berharap kamu hamil anak kita, Ra...."
"Gila! Dengan kamu ngomong kayak gini aku semakin benci sama kamu. Mengungkit hal itu sama saja kamu ngerendahin aku, aku tau aku gak ada harga dirinya lagi, Ken! Tapi, please ... bantu aku untuk tidak mengingat kebodohan yang pernah aku buat dulu!"
Semakin Rachel berusaha melepaskan tangannya, justru semakin erat Kenzi mencengkramnya. Hingga akhirnya wanita tersebut mengalah dan memilih membiarkan Kenzi menggenggam tangannya. Rachel berusaha tenang agar mulutnya tidat kelepasan bicara tentang Kalea.
"Aku gak bermaksud begiti. Andai saat itu aku tidak menuruti papa. Kita pasti gak pernah berpisah, Ra. Aku berani bersumpah, rasa sayangku ke kamu tidak pernah berubah. Pilihanku jauh darimu membuat aku menderita."
Pria rapuh itu menyandarkan kepalanya di bahu Rachel. Sungguh, ia sangat merindukan pelukan Rachel, ia lepakan tangan Rachel berharap wanita itu mau mendekapnya.
'Andai kamu tahu aku lebih menderita dari kamu, Ken. Bahkan, bukan cuma aku saja, Kalea lebih menderita lagi dari kita. Anakmu itu bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, jangankan kasih sayang ... keberadaannya saja tidak kamu ketahui.' Rachel membatin nyeri, hingga tanpa sadar ia mengelus punggung Kenzi.
"Kembali padaku, Ra ...," lirih Kenzi, ia bahagia Rachel mulai menerimanya.
"Aku kembalikan ini ke dapur, setelah itu biarkan aku pulang!" Rachel meraih mangkuk di atas meja kemudian buru-buru ke dapur.
Kenzi membuang nafas resah, ia kecewa karena Rachel masih marah padanya. Di saat seperti ini benda pipih yang tergeletak di atas meja menarik perhatiannya. Handpone itu bergetar sebelum ia meraihnya.
"Jordy?" Kenzi mengernyit membaca nama yang tertera di layar kaca itu. Hatinya panas menduga siapa pemilik nama itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia menggeser layar hijau hingga panggilan itu pun tersambung. Kenzi penasaran siapa Jordy. Mungkinkah laki-laki kurang ajar yang berusaha menggoda dan mengganggu Rachel?
"Ibu kapan pulang?"
Deg!!!
Denyut jantung Kenzi berdebar kencang saat mendengar suara anak kecil di seberang sana.
'Ibu?' batin Kenzi bertanya-tanya. Siapa yang memanggil Rachel ibu? Pria itu kembali membaca nama Jordy di sana. Tidak salah lihat, tapi mengapa suara anak kecil di sana? Apa itu anak Jordy?
"Ibu, kenapa diem aja? Ibu kapan pulang?"
Kenzi semakin menajamkan telinga, ia tidak terima jika anak Jordy memanggil Rachel ibu.
Sementara setelah menyelesaikan urusan di kamar mandi, Rachel kembali ke ruang tamu. Betapa terkejutnya ia melihat Kenzi memegang benda pipihnya. Kenapa ia bisa sebodoh ini melupakan benda penting tersebut? Meskipun ia tidak memasang foto Kalea di layar utama, tapi tetap saja banyak rahasia di sana.
"Ibu...?" tanya Kenzi balik. "Siapa yang kamu panggil, Ibu?" tanyanya pada anak kecil yang ada di sana. Belum sempat ia mendengar jawaban, Rachel sudah merampas handpone-nya.
"Gak sopan banget, sih!" ketus Rachel. Ia berusaha sembunyikan ketakutannya.
Mata Kenzi menajam melihat Rachel. "Anak siapa?" tanyanya.