Miki'S Scary Stories (Based On True Story)

Miki'S Scary Stories (Based On True Story)
Lantai Empat (Part I)



Hari Sabtu, pukul setengah 12 siang, aku bersama dengan Intan, Raissa, dan Aya telah sampai di depan area rumah sakit di kawasan Jakarta Pusat.


Sejak dua hari lalu, kami memang sudah membuat janji untuk pergi bersama menjenguk ayah Amel yang tengah sakit dan dirawat di rumah sakit tersebut. Selain kami berlima, masih ada Sari yang juga akan datang namun tidak bisa pergi bersama-sama karena dirinya masih memiliki urusan yang harus diselesaikan di kampus.


Pertemuan hari ini juga menjadi ajang reunian bagi kami setelah satu tahun lulus dari sekolah, dan tak sempat mencocokkan waktu bertemu karena disibukkan dengan kegiatan masing-masing, baik yang tengah kuliah ataupun bekerja.


Kami segera memasuki area rumah sakit dan beberapa kali salah masuk bagian gedung karena tak adanya petugas keamanan yang menjaga area depan membuat kami kesulitan mencari informasi tentang tempat rawat Ayah Amel.


Kami baru bisa menemukan gedung yang tepat setelah bertanya pada perawat-perawat yang kebetulan tengah lewat di depan kami. Setelah beberapa saat berputar-putar, akhirnya kami sampai di gedung tempat perawatan Ayah Amel.


Aku tercengang saat melihat bagian dalam gedung yang begitu kotor dengan debu dan daun serta sangat sepi. Tak ada satpam yang biasanya menjaga area teras, ataupun petugas yang menjaga meja informasi di ruang lobi. Aku dan ketiga temanku saling melihat satu sama lain, sama- sama heran dengan kondisi ruangan yang terasa tak wajar.


"Gedungnya kok sepi gini, deh?" Tanya Aya.


"Kita langsung naik lift aja kali, ya. Kan, Amel yang bilang kalau ruangannya ada di lantai empat." Intan berinisiatif sambil menunjuk lift yang ada di belakang kami.


"Amel enggak mau jemput kita ke bawah? Takut salah ruangan, Ntan. Di sini enggak ada orang yang bisa ditanyain, pula." Usul Raissa.


"Dia belum sampai, masih OTW dari kampus." Intan memberi penjelasan, '...udah, kita lanjut jalan aja. Paling sampai di lantai empat, ada petugas yang bisa kita tanyain." Katanya berusaha meyakinkan kami.


Tanpa membantah, kami pun mengikuti usulannya dan menuju lift. Tak lama, pintu lift terbuka dan dalam keadaan kosong, kami bergegas masuk kemudian Intan menekan angka empat pada tombol yang tersedia.


Kami meninggalkan lantai satu, melewati lantai dua...tiga, dan sampailah kami di lantai yang dituju.


Ting!


Pintu lift terbuka secara perlahan. Memperlihatkan kondisi lantai yang tetap tak biasa di mata kami berempat. Kami tertegun mendapati ruangan yang lebih gelap dan sepi dibandingkan dengan lantai satu.


Dengan perasaan ragu, kami melangkah keluar dari lift. Aku melihat deretan pintu kaca berwarna kecokelatan di sisi kiri dan menjadi batas antara ruang lobi dengan teras di luar. Bias matahari yang masuk menjadi satu-satunya penerangan untuk lobi tersebut.


"Kok suasananya sepi dan gelap gini, ya?" Kataku yang tak tahan untuk bertanya.


Kami pun sepakat berpencar menelusuri ruangan yang cukup luas itu dengan harapan dapat bertemu seseorang. Pada bagian meja informasi, tak ada petugas yang menunggui di sana, begitupun dengan lorong panjang yang terdapat di sisi kiri dan kanan.


Masing-masing dari kami juga mendapati pintu-pintu yang tertutup, namun lampu di dalama ruangan dinyalakan sehingga kami mengira mungkin di dalamnya ada orang yang bisa ditemui.


Sayangnya, saat kami menggerakkan gagang pintunya, ternyata pintu tersebut tak mau terbuka. Kami coba dorong sekuat tenaga, namun pintu tersebut tetap bergeming.


"Kayaknya pintunya di kunci, deh." Terang Aya.


"Apa mungkin dikunci dari dalam?" Tanyaku.


Kemudian Aya berinisiatif mengetuk-ngetuk pintu di hadapannya. Cukup lama namun kami tak mendapati respons yang diharapkan.


"Enggak ada orang kali, ya?" Tanya Aya lagi.


"Tapi, lampu di dalam nyala. Apa emang sengaja dinyalakan walaupun enggak ada penghuninya?" Aku balik bertanya.


"Coba ke ruangan lain, deh Ki." Ajak Aya menuju ruangan lain yang ada di samping.


Kami pun melakukan hal yang sama dan tetap mendapatkan hasil yang sama. Tak ada satu pun pintu yang bisa dibuka dan tak ada respons apapun dari dalam.


"Kayaknya emang kosong, deh Ki." Aya menyimpulkan.


"Iya kali, ya.. Jangan-jangan kita yang udah salah lantai? Kalau emang ayah Amel di rawat di sini, seharusnya ruangannya enggak segelap dan sesepi ini." Kataku Menduga-duga.


"Coba samper Intan dulu, deh. Soalnya info ruangan kan cuma dia yang tahu." Usul Aya. Kami pun melangkah mencari Intan dan Raissa.


Kami melihat Intan dan Raissa sedang berputar-putar di sekitar meja informasi serta tangga yang nampaknya menuju lantai selanjutnya. Sebenarnya, bagiku cukup aneh, karena tombol lift hanya sampai lantai 4 tapi di lantai ini ternyata masih ada lantai tambahan.


Apa lantai atas itu hanya diperuntukkan oleh petugas? Entahlah, aku tak tertarik untuk mencari tahu. Bagiku sekarang yang terpenting adalah segera menemui Ayah dan Ibu Amel.


"Ntan, coba deh lu hubungi lagi Amel atau Ibunya. Minta salah satu dari mereka ke luar ruangan dan jemput kita. Soalnya di sini enggak ada siapa-siapa, gue sama Miki ngecek ke ruangan pun semua pintunya dikunci. Entah dari dalam atau luar. Kita ketok-ketok semua ruangan, gak ada jawaban." Aya menjelaskan.


Intan menjawab dengan anggukan kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia berjalan mendekati area lobi supaya bisa bicara dengan kondisi yang lebih tenang.


"Lu juga enggak nemuin siapa-siapa, Sa?" Tanyaku.


"Enggak ada siapa-siapa, Mai. Aneh banget, enggak sih? Si Intan malah tadi mau nekad naik ke lantai atas, padahal gelap begitu." Jawab Raissa.


“Feeling gue kayaknya sih kita salah lantai." Kataku lagi.


Aya terlihat sedang berusaha melihat ke lantai atas yang gelap. Nampaknya, dia juga penasaran dengan lantai tersebut.


"Mau ke atas, Ay?" Tanyaku.


"Enggak lah." Jawab Aya.


Tak lama Intan kembali menghampiri kami.


"Gue udah hubungi Amel, dan kata dia kita udah benar kalau sampai di lantai empat. Terus, sebentar lagi Ibunya Amel mau keluar jemput kita. Kita tunggu di sini aja." Ujarnya.


Kami pun memutuskan menempati tempat duduk yang tersedia di ruang lobi sambil menatapi area sekitar. Sunyi. Atmosfer itulah yang kami rasakan.


Untuk mengurangi rasa sepi dan juga gelisah, kami berempat membuka banyak obrolan.


5 menit...


10 menit...


15 menit pun berlalu...


Rasa heran kembali menguasai hati kami ketika masih tak ada satu sosok pun yang datang menghampiri kami.


"Kok enggak nyampe-nyampe, yah. Yang mau nyamperin Ibunya, kan Ntan?" Yanya Aya sambil berdiri dari kursinya.


"Iya, Ay." Jawab Intan dengan nada malas. Ia menyandarkan punggungnya ke badan kursi. "Coba ditunggu sebentar lagi. Kalau enggak datang juga, baru gue telepon lagi."


Aku ikut berdiri dan mendekati pintu kaca yang dilapisi plastik berwarna cokelat suram itu. Di luar sana, terpampang gedung lain, yang nampaknya masih satu area dengan rumah sakit ini, terlihat dari banyaknya orang yang sedang bersantai di terasnya.


Akhirnya Intan ikut berdiri. Ia berjalan mendekati tangga. Dari tatapannya, jelas ia nampak penasaran.


"Guys, gimana kalau gue naik ke atas?"Perkataannya sontak membuatku dan kedua temanku menoleh kaget.


"Ngapain? Lu enggak lihat, dari bawah aja kelihatan kalau lantai atas enggak ada penerangannya." Kata Aya.


"Ya siapa tahu aja, kan ternyata di atas ada orang yang bisa kita temui." Jawab Intan dengan nada tanpa rasa takut sekali pun.


"Gue enggak dengar ada suara-suara atau pergerakan aktivitas di sana, Ntan. Mending enggak usah, daripada lu kenapa-kenapa, malah jadi repot." Kataku asal nyeplos.


"Iya, Ntan, kita tunggu sebentar lagi aja, kalau enggak datang juga Ibunya Amel.. mending turun aja ke lantai satu dan cari orang yang bisa ditanya-tanya." Usul Raissa.


Intan masih menatap ujung tangga tersebut. Tangan kanannya memegangi tiang besi yang dibuat sepanjang anak tangga sebagai pegangan.


"Tapi, gue penasaran mau lihat ke atas. Kalian tunggu di sini aja, sebentar doang, kok." Katanya dengan yakin.


Seriusan lu, Ntan?! Gila kali lu ya, enggak ada takutnya banget. Enggak usahlah." Aya merespons.


"Iya, enggak usah. Kalau lu kenapa-kenapa di atas, siapa yang bisa nolong? Gue enggak mau lho. Takut naik ke atas." Kataku.


"Gini aja, guys...kalau sampai gue enggak turun setelah 10 menit, mending kalian turun ke lantai satu dan bawa orang lain ke sini. Ya. Ok?" Masih dengan keras kepalanya, Intan justru memberi titah pada kami sambil menjejaki anak tangga pertama.


"Ih, lu ngapa susah banget sih kalau dibilangin, Ntan! Jangan, Ntan!" Raissa berusaha membujuk, berharap mantan teman sebangkunya itu mau mengurungkan keinginannya.


"Iya, Ntan enggak usah. Yakin gue enggak ada apa-apa di sana." Susulku berusaha ikut menghentikan keingintahuannya yang tak terbendung.


"Dilihat aja belum, guys udah nyimpulin enggak ada apa-apa. Wis, gue cuma sebentar. Tunggu, ya. Inget pesan gue tadi." Kata Intan yang tak mempedulikan kekhawatiran teman-temannya dan dengan percaya dirinya melangkah menuju puncak tangga.


"Terserah, deh emang susah dibilangin tuh anak. Kata Raissa sambil mendengus kesal.


Kami pun hanya bisa pasrah menungguinya. Aku merasa khawatir melihat kepergian temanku yang hanya seorang diri dan takut jika hal yang buruk terjadi padanya di atas.


5 menit berlalu...


Aku mulai gelisah karena merasa telah lama sekali menunggu kepulangan Intan dari lantai atas.


“Guys, apa gue susulin aja, ya? Gue takut Intan kenapa-kenapa. Kalian tunggu di sini, ya." Kataku.


"Ya udah buruan, begitu ketemu Intan langsung tarik turun aja." Kata Aya yang jelas merasa khawatir.


"Oke!" Kemudian aku menjejaki satu persatu anak tangga. Saat tinggal 5 anak tangga lagi untuk mencapai puncak, tiba-tiba aku mendengar derap langkah kaki menuju arahku. Aku mematung dan menanti kehadiran sang pemilik langkah hingga akhirnya kulihat wajah Intan yang telah berubah jadi pucat pasi. Ia berlari melewatiku.


"Turun, Ki turun!" Serunya yang kini lebih dahulu mencapai lantai bawah.


"Baru mau gue samperin, Ntan." Kataku sambil ikut terburu-buru mengikutinya turun.


"Muka lu kenapa jadi lebih putih, gitu?" Pertanyaan dariku yang terasa berupa pujian itu tentu saja berisi ledekan.


"Enggak usah ngeledek, deh, Ki." Ia menjawab dengan ketus sambil masih mengatur napasnya yang terengah karena berlari-lari kecil tadi.


"Di atas akhirnya ketemu siapa, Ntan?" Tanya Aya dengan sinis dan melipat kedua tangannya di dada.


"Enggak ada apa-apaan di atas. Kita balik aja ke lobi. Takut Ibunya Amel datang tapi kita enggak ada." Jawab Intan yang melangkah mendahului kami.


Begitu sampai di lobi dan duduk, kami kembali mendesak Intan menceritakan kondisi di lantai atas.


"Beneran enggak ada apa-apa, Ntan? Satu orang pun enggak ada, gitu?" Tanyaku yang merasa penasaran.


"Padahal tadi, Miki mau nyamperin lu, tahu. Takut lu kenapa-kenapa, abis lama banget turunnya." Susul Aya.


"Beneran enggak ada apa-apa, guys. Gelap doang." Sebelum melanjutkan ceritanya, Intan terlihat kepayahan menelan ludahnya, "...tapi gue sempat dengar suara-suara kayak orang lagi ngobrol, gitu. Karena penasaran akhirnya gue coba deketin eh suaranya malah hilang. Begitu gue menjauh, suara obrolannya kedengeran lagi dari arah yang sama. Suaranya hilang tiap kali mau gue deketin. Gue tengok kanan kiri, enggak ada orang dan gue tiba-tiba merinding, dong. Makanya langsung turun." Jelasnya.


"Syukurin, itu akibat enggak mau dengerin kata kita-kita tadi." Ledekku.


"Tahu, makanya jadi orang jangan ngeyel." Susul Aya yang sama kesalnya denganku begitupun Raissa.


"Ya namanya juga, kan usaha guys. Gue mikir positif aja, siapa tahu ada orang di lantai atas." Intan masih membela diri.


"Usaha sih, boleh aja Ntan tapi lain kali pertimbangin juga pendapat teman-teman lu. Kita khawatir kalau terjadi apa-apa sama lu di atas." Akhirnya Raissa membuka suara.


"Iya iya. Gue yang salah. Sorry." Akhirnya Intan menyerah dan tubuhnya mendadak lesu.


"Eh, itu pintu kacanya bisa dibuka enggak, sih?" Tanya Aya seraya berdiri mendekati pintu.


Tangannya menggoyang-goyangkan gagang pintu kaca tersebut, dan ternyata berhasil dibuka dengan cara didorong.


"Eh, bisa dibuka, guys!"


Kami ikut terkesan ketika melihat pintu itu terbuka.


"Itu pintunya yang emang bisa dibuka atau lu paksa, Ay?" Tanya Intan bermaksud bercanda.


"Emang enggak dikunci, kok." Jawab Aya sambil keluar menjejakkan kaki di teras yang terasa seperti balkon itu. Kami pun mengikuti langkahnya dan merasakan udara panas di luar karena bersinggungan langsung dengan sinar matahari.


"Lihat deh, masih banyak pintu-pintu kaca yang lain dan ada ruangan-ruangan perawatan juga." Tunjuk Aya.


"Iya, ya. Gue kirain cuma sekadar balkon biasa." Jawab Intan, kemudian melirik padaku dan dua teman lainnya, "...mau nyoba mencar, enggak?"


"Ngapain?" Tanyaku sambil menyandarkan punggung pada pinggir tembok pembatas.


"Yaaa kali aja masih ada pasien yang dirawat di dalam sana, dan bisa kita tanyain." Jawabnya.


Aku tersenyum sinis, "Kalau ada, Ntan... di dalam sana aja sepi melompong begitu, apa enggak bakal sama aja."


"Dicoba aja dulu. Sambil nyari tahu, gue sms Amel lagi buat nanya keberadaannya." Kata Intan.


"Terserah aja, deh." Balasku, tak ingin berdebat.


Akhirnya lagi-lagi, kami terbagi menjadi dua tim. Tim pertama diisi oleh Intan dan Raissa yang berjalan ke sisi kiri. Tim kedua tentu saja ada aku dan Aya yang mengambil jalan di sisi kanan.


Langkah awal membawaku dan Aya ke sebuah ruangan sempit berisikan toilet dan lemari es yang telah rusak. Ruangan itu cukup kotor dan terlihat bekas rembesan air sehingga dindingnya agak berwarna cokelat.


Kami bergerak ke ruangan lain yang berpintu. Satu persatu kami sentuh gagangnya, berharap dapat terbuka. Sayangnya, harapan kami tetap tidak terwujud. Kondisi pintu-pintu tersebut dengan pintu-pintu yang ada di dalam sama-sama terkunci dan tak terdengar adanya aktivitas manusia.


"Situasinya sama aja, Ay. Enggak ada apa-apa di sini." Kataku. "Gue yakin banget kalau kita udah salah lantai. Buktinya lantai ini kosong, dan baik Amel atau Ibunya Amel enggak muncul-muncul."


"Iya, baru kali ini juga lihat kondisi rumah sakit sepi begini. Meski weekend, kayaknya enggak bakal sampai sekosong ini, sih. Tapi, kalau ngikutin arahan Amel, seharusnya udah benar, kan? Lantai empat di koridor melati."


"Lantai empatnya mungkin benar, tapi yang masih belum jelas adalah kita benar-benar di koridor melati atau enggak." Jawabku kemudian. "Saran gue, sih mending kita turun dulu ke lantai dasar. Nyari suster atau petugas buat nanya ruangan, daripada kita nunggu dan muter-muter enggak jelas, gini."


"Ya udah lah, yuk kita bilang gitu aja ke Intan sama Raissa. Lama-lama horor juga keliling-keliling di lantai yang enggak berpenghuni begini." Kata Aya.


Akhirnya aku dan Aya beralih menyusuri jalan yang diambil oleh Intan dan Raissa. Melewati pintu-pintu kaca dan sampai di depan jalan berupa lorong yang panjang dan gelap. Ada perasaan ragu di hatiku ketika ingin bergerak memasukinya.


"Yakin, mau masuk ke sana, nih?" Tanyaku.


"Gelap, ya. Apa kita tunggu mereka di sini aja?" Aya menyarankan.


"Kita tunggu sini sambil panggil mereka aja, deh siapa tahu kedengeran." Usulku. Aya pun memberikan anggukan setuju.


"Intan! Raissa! Oi, keluar oi!" Secara bergantian, kami memanggil nama mereka.


"Intan ! Raissa ! Kita mau turun, nih." Aku melanjutkan.


Kami menunggu respons Intan dan Raissa, hingga muncullah suara gaduh dari arah lorong. Suara-suara langkah kaki yang tengah berlari menuju tempat kami berdiri.


"Pasti si Intan sama Raissa, tuh." Aku menduga dengan yakin.


"Kalau ternyata bukan, gimana Ki?" Tak disangka-sangka Aya justru melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat bulu kudukku berdiri. Pertanyaannya sungguh tidak cocok dengan situasi dan tempat kami saat ini.


Aku menatap penuh pertanyaan dan menuntut jawaban atas alasan Aya mengutarakan pernyataan barusan. Namun yang ditatap ikut diam dan mulai ikut ketakutan. Entah akibat takut dengan suara-suara langkah yang semakin mendekat, atau takut karena ditatap lama olehku.


Kami menoleh secara bersamaan ke dalam kegelapan lorong. Berpegangan tangan menanti kemunculan sang pemilik langkah gaduh tersebut. Awalnya hanya samar-samar hingga akhirnya dengan jelas kami bisa melihat kemunculan Intan dan Raissa. Ketika sudah mencapai posisi kami, mereka meraih lenganku dan Aya, memaksa kami menjauhi lorong seolah ada sesuatu yang mengejar mereka dari belakang.


...~Bagian Kesembilan Bersambung~...