
Jam dinding di kamar telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku terjaga tanpa bisa bergerak dari pembaringan, setelah sebelumnya sempat tertidur pulas. Sleep paralyses ini...entah sampai kapan akan berlaku padaku.
Aku memandangi area luar kamar karena pintu yang telah terbuka lebar. Itu tentu ulah Mamaku. Akibat cuaca yang sedang memasuki musim panas, Mama khawatir aku akan kepanasan di dalam jika pintunya ditutup rapat. Bukan hanya pintu yang dibuka olehnya melainkan lampu tidur pun juga dimatikan sehingga kamarku gelap gulita. Penerangan hanya datang dari cahaya bulan yang masuk dari celah-celah jendela kamar dan ventilasi jendela di teras lantai dua.
Aku menunggu dalam rasa takut karena khawatir kalau-kalau tangan menyeramkan itu akan kembali muncul dan menyerang lebih ganas sehingga aku tak mampu melawan.
Dalam penantianku, terasa angin malam yang segar menyapu wajah hingga tubuhku. Tak lama, terlihat liukan asap putih muncul dan berputar-putar di ambang pintu. Saat melihat penampakan itu, firasatku langsung mengatakan akan muncul sesuatu yang tidak ingin aku lihat.
Asap putih itu masih meliuk-liuk tak tentu arah. Semakin banyak dan pekat. Kemudian asap itu mulai mewujud menjadi sebuah bentuk. Memanjangkan diri dengan masih melayang-layang sekitar dua jengkal jari dari lantai.
Kulihat terdapat lubang hitam pada bagian atasnya seolah membentuk wajah tanpa menghadirkan mata, mulut ataupun hidung. Tak hanya itu, masih ada asap kecil yang melayang-layang di atas dan menyatu dengan asap yang paling besar, membentuk sebuah kuncung.
Dalam sekali lihat aku tahu sosok apa yang berusaha dibentuk oleh asap pekat itu, yakni Pocong. Dan memang benar, asap itu akhirnya terbentuk hampir sempurna menggambarkan sosok yang sedang dibalut kain kafan.
Aku tak ingin melihat pemandangan ini! Sangat tidak ingin! Pocong adalah sosok terseram yang sama sekali tak ingin aku lihat. Sosoknya mengingatkanku akan kematian yang mungkin tidak diterima oleh Sang Khalik, sehingga terpaksa bergentayangan di muka bumi.
Kupejamkan kedua mata, dan memilih pura-pura tidur. Memilih untuk tidak tahu kehadiran sosok itu.
"Hei!" Sebuah panggilan yang nampaknya diarahkan padaku terasa menggema di dalam kamar.
"Bangunlah, aku tahu kamu tidak tidur."
Aku tetap bergeming dan tak mau membuka mata. Hanya dengan memikirkan sosok pocong saja sudah membuatku ketakutan setengah mati, apalagi melihatnya langsung. "Ya Allah, aku enggak mau ngomong, enggak mau lihat sosok yang nyeremin begini," keluhku dalam hati.
"Jangan takut, kami tidak akan mencelakaimu."
Aku tercekat saat mendengar kata Kami, bukankah itu pertanda kalau sosok berbalut kain kafan itu bukan hanya satu?
"Bangunlah dan ikuti kami."
"Ogah!" Aku menjawab hanya dalam hati. "Siapa juga yang bakal berani mengikuti makhluk yang kayak begini," lanjutku, masih dalam hati. Duh, ini kapan bisa bangun, sih...! Ya Allah, ini sleep paralyses terlama.
"Kami datang bukan untuk mengganggu atau mencelakaimu. Kami hanya ingin meminta bantuan."
Aku tetap memilih bergeming.
"Kami tahu kamu tidak tidur. Tolong, bukalah matamu dan dengarkan."
Aku mulai luluh dengan permohonan itu, sehingga kuputuskan untuk membuka sedikit kedua mataku, namun tak bisa bertahan lama karena melihat empat lubang hitam menyerupai mata tanpa isi sudah berada dekat dengan wajahku.
"Enggak! enggak mau, kalian nyeremin!" Masih membalas dalam hati karena mulutku masih belum bisa digunakan untuk bicara.
"Ikutlah dengan kami. Ada seseorang di sana, yang memiliki niat jahat," kata sosok itu lagi. Aku tidak tahu pihak mana yang bicara, karena suara mereka terdengar sama di telingaku.
"Ngomong apa, sih mereka," keluhku dalam hati. "Siapa yang berbuat jahat, di mana?"
"Orang itu ingin mencuri. Di sana..."
Sekarang aku baru memikirkan perkataan demi perkataan yang mereka ucapkan. Aku mengira-ngira apa sebenarnya mereka bisa mendengar suara hatiku sehingga bisa berkata sesuai dengan apa yang kutanyakan? Aku harus membuktikannya.
"Orang itu mau mencuri di mana? Di rumah ini?"
Semoga bukan. Kalau iya? bisa gawat kalau aku tak segera memberitahukannya pada orangtuaku karena masih dalam posisi lumpuh seperti sekarang.
"Bukan. Bukan di rumah ini. Di sana, dekat kebun."
Dugaanku ternyata tidak meleset. Mereka bisa mendengar suara batinku. Selain itu, aku juga merasa lega setelah mengetahui bukan rumahku yang dijadikan target pencurian. Tapi tunggu, rasanya aku tahu tempat yang mereka katakan.
"Kebun? Yang di bawah itu, yang ada banyak pohon kecapi, dan pisang?!"
"Ya! Di sana!"
"Duh, saya kaget euy," balasku saat mendengar suara salah satu dari mereka terdengar lebih keras dari sebelumnya. Tapi, jika memang di sana target pencuriannya, bukan kah di sana ada rumah Pak RT juga? Kalau mau minta tolong, kenapa tidak ke sana saja dan buat laporan?
"Cepat! Cepatlah, orang itu sudah sampai di rumah itu!"
"Kalau memang orang itu datang untuk mencuri, kenapa kalian tidak mendatangi rumah korbannya saja? dan beritahu si korban."
"Kami sudah berusaha memberi tanda, namun orang itu tak mau bangun. Tak ada lagi yang bisa kami datangi selain dirimu."
Aku dilanda kebingungan. Antara ingin percaya dan tidak dengan makhluk yang amat kutakuti itu.
"Ayo, cepatlah ikut dengan kami. Orang itu sudah berhasil membuka pintunya!" bujuknya lagi.
"Duh, aku bukannya tidak mau membantu tapi kalian lihat sendiri, kan kondisiku sedang tidak baik. Jangankan bangun dan ikut dengan kalian. Menggerakkan satu jari saja aku belum bisa. Mintalah bantuan pihak lain, atau kalian saja yang mencegah pencuri itu melakukan aksinya. Bisa, kan?"
"Kami tidak bisa melakukan hal sejauh itu, dan orang ini memiliki ajian yang tidak baik untuk melindungi dirinya."
"Ajian? Ajian apa?"
"Ajian perlindungan diri sehingga tidak ada yang bisa mengganggu ataupun menangkapnya. Lalu, soal kamu yang tak mampu bergerak, cukup dengan menatap kami, maka kita akan tiba di sana."
"Iya, ayo bukalah matamu. Percaya pada kami. Kita tak bisa membiarkan orang itu membawa pergi barang yang bukan miliknya."
Masih dengan kedua mata terpejam, otakku berpikir keras. Apa benar tidak apa-apa jika aku ikut dengan mereka? Terus, kalau sudah di sana, bantuan apa yang bisa kuberikan? Menakut-nakuti pencuri itu sampai kabur? Tapi dibanding diriku, dua sosok pocong itu juga sudah sangat cukup.
Apa benar tidak apa-apa Ya Allah, aku hanya ingin membantu meski tidak tahu caranya.
"Jangan!!!"
Aku kaget begitu mendengar suara misterius yang lain, namun kali ini aku merasa familiar dengan suara tersebut. Suara itu adalah suara yang sama ketika beberapa hari lalu memberitahuku tentang kehadiran sosok bersorban putih di balkon.
"Jangan diikuti," katanya lagi.
Dia mengambilnya! Dia akan segera membawa barang itu pergi! Apa kamu benar tidak mau menolong?"
Lagi-lagi aku tersentak mendengar bentakan dari suara pocong itu. Rasanya ingin segera bangun, kemudian meraih sapu lidi dan melemparkannya pada sosok-sosok yang seolah terus memaksaku mengikuti kehendak mereka. Bukan aku tak mau menolong, tapi aku sendiri sedang merasa ketakutan dengan kondisi lumpuh, ditambah lagi dengan kehadiran sosok yang paling kubenci.
"Kalian sesama manusia, apa tidak mau saling menolong?" kata salah satu pocong itu lagi.
Aku terdiam. Hatiku merasa tertohok dengan pertanyaannya. Benar. Sikapku yang sekarang menunjukkan kalau aku nampak enggan menolong meski tahu dua pocong di hadapanku ini juga berniat membantuku.
"Jangan didengarkan." Suara misterius itu kembali muncul.
Aku memberanikan diri membuka mata. Aku tak mau melihat ke arah tempat berdirinya dua pocong itu melainkan ke arah lain karena penasaran dengan kemunculan suara misterius lainnya. Aku penasaran apakah kali ini suara itu hadir dengan wujud aslinya. Kedua mataku berusaha berkeliling hingga akhirnya sampai pada dua pocong itu yang masih bergeming di tempatnya. Aku segera menutup mata lagi, beberapa kali dilihat, tetap saja mereka sangat menyeramkan.
"...kalau kau ikut dengan mereka, tak akan ada yang bisa menolongmu jika tak bisa kembali," lanjut suara misterius itu.
"Tapi, kalau benar ada pencurian bukankah sebaiknya aku membantu, jika memang bisa?" ucapku dalam hati.
"Semua yang terjadi sudah menjadi kehendak Tuhan, baik dan buruk selalu ada hikmah di sana, tidaklah manusia mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya sebaik Tuhan yang mengetahuinya."
Aku meng-aduh dalam hati saat mendengar penjelasan yang rumit menurutku. Aku ini masih anak sekolahan, tidak bisakah dia memberikan jawaban yang sederhana dan mudah untuk dimengerti olehku?
"Lagipula, apa kau yakin mereka datang hanya sekadar memberitahukan tentang pencurian?"
Pertanyaan suara misterius itu membuatku semakin bingung. "Hah? Maksudnya, mereka punya maksud lain?"
"Kamu bicara dengan kami?" tanya salah satu pocong itu.
Memahami pertanyaannya, aku menduga nampaknya yang bisa mendengar suara misterius itu hanya diriku.
"Tidak, ada kami yang membantu, " jawab sang pocong.
Aku tak memberi respons apapun, karena jawaban yang kutunggu bukan dari pocong-pocong itu melainkan suara misterius yang melarangku pergi.
"Jangan percaya mereka, dalam perkataannya memang ada kebenaran namun sisanya adalah untuk memperdayamu. Hanya ini yang bisa kusarankan padamu."
"Kamu ini sebenarnya siapa atau apa, sih? Kenapa aku tidak bisa melihat wujudmu, atau memang kamu yang enggak ingin menampakkan diri?" tuntutku.
"Apa yang kamu maksudkan? Bukankah kamu sudah melihat wujud kami?" tanya sang pocong.
Aku memilih diam, karena pertanyaan itu bukan untuk mereka.
"Karena kau belum mampu dan pantas." Akhirnya suara misterius itu kembali memberi jawaban.
Aku menghela napas dengan berat, meski kenyataannya saat ini seharusnya aku lebih banyak menghirup oksigen.
"Maaf, aku tidak bisa menolong." Kali ini ucapanku memang untuk menjawab permintaan dua pocong itu.
"Kenapa?" Dua pocong itu bertanya secara berbarengan.
"Karena meski aku ikut dengan kalian, aku tetap tidak bisa memberikan bantuan yang besar untuk mencegah pencurian itu. Tubuhku sedang lumpuh."
"Cukup dengan mengeluarkan rohmu dari tubuh, kamu bisa ke sana dan melakukan sesuatu."
"Aku menolak cara itu.. tanpa tubuh justru aku tidak tahu akan memberikan bantuan apa. Kalian cari orang lain saja, yang lebih mampu. Maaf dan terima kasih sudah memberitahuku."
"Kamu tidak percaya kalau kami akan membantu?"
"Bukan tidak percaya, aku hanya menyadari batas kemampuanku. Aku tidak bisa. Sebaiknya sekarang kalian pergi, aku tidak nyaman dengan kehadiran kalian. Aku juga memiliki masalahku sendiri saat ini."
"Eeergggh!"
Tunggu, apa mereka baru saja menggeram? Mereka marah karena aku menolak? Wow, sebuah tanggapan yang tidak kuduga-duga.
Aku sedikit membuka mata, dan memperhatikan gumpalan asap padat yang semula menggambarkan dua wujud mulai melebur dan menghempaskan angin yang aneh dan terasa kasar sampai-sampai membuat pintuku sempat menutup kemudian membuka lagi secara paksa.
"Tuh, kan mereka marah.. coba bisa gerakin badan, bisa langsung di pukul pakai sapu lidi tuh, " kataku dalam hati.
Saat berharap demikian, tiba-tiba aku mulai bisa menggerakkan jari-jari tangan dan kaki. Perlahan aku juga bisa kembali bernafas dengan normal hingga akhirnya mampu membangkitkan diri.
Buru-buru kututup pintu kamar dan menyalakan kembali lampu utama. Sleep paralyses kali ini benar-benar lama dan membuat tubuhku terasa pegal disebabkan tegang dan rasa takut. Kurenggangkan tangan ke atas kemudian bersambung pada kedua kaki. Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu membuangnya secara perlahan supaya detak jantungku bisa berdetak dengan normal.
Aku bergerak mendekati jendela. Menyingkapkan tirainya sedikit supaya bisa melihat ke area luar. Apakah benar saat ini salah satu barang tetanggaku sudah diambil oleh pencuri? Jika benar, besok pasti akan ramai sskaligus membuktikan kalau pocong-pocong itu tidaklah berbohong.
"Hei, kalau benar besok ada orang yang kecurian, bagaimana?" Aku bergumam dan tentu saja pertanyaanku itu teruntuk suara misterius.
"Aku enggak akan dosa, kan karena enggak melakukan pencegahan?" Aku menunggu balasan darinya.
Sayangnya, jawaban itu tak pernah datang. Hanya angin malam yang terdengar masuk ke dalam telingaku. Mungkin dia sudah pergi, dan hanya datang untuk melarangku.
Aku menoleh ke arah jam dinding, dan terpana melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Apa sebaiknya aku salat tahajud saja sebelum tidur lagi? Supaya tidurku kali ini tenang.
Tirai kembali kututup dan rapikan. Kemudian, bergegas ke kamar mandi untuk membasuh anggota tubuh dengan air wudu.
Sekilas kuperhatikan kedua orangtuaku yang masih pulas tertidur. Syukurlah, drama akibat kedatangan pocong tadi tidak sampai membangunkan mereka. Mama dan Papaku sudah cukup lelah menjalani kesehariannya, jadi kuharap malam dapat menjadi waktu terbaik bagi mereka untuk beristirahat.
...***...
Keesokan paginya, aku yang sudah mandi dan rapi segera turun ke lantai satu untuk sarapan. Di luar pagar rumah aku melihat Mamaku sedang mengobrol serius dengan gerombolan ibu-ibu, dari wajah-wajahnya, nampaknya ada yang sudah terjadi.
"Ada apa, Pa? tumben pagi-pagi, ibu-ibu udah ramai di depan rumah?" tanyaku pada Papa yang sedang duduk dan serius membaca Koran yang biasa dibelinya kemarin.
"Ada yang kemalingan semalam."
Aku terhenyak mendengar jawaban dari Papa sampai-sampai pergerakan meletakkan tas di atas sofa pun jadi terasa melambat.
"Kemalingan? Siapa, Pa?" Aku duduk di lantai menghadap meja, yang diatasnya sudah tersaji sepiring nasi goreng dan susu cokelat buatan Mama.
"Itu lho, rumah yang dijadiin kontrakan. Deket kebun kecapi, yang dinding rumahnya warna biru dan dipagari besi bercat hitam. Dekat rumah Pak RT juga," jelasnya.
"Yang diambil apa, Pa? dan jam berapa kemalingannya?" Pertanyaanku mungkin terdengar tenang namun sebenarnya dalam hati aku heboh karena mengetahui kalau informasi dari dua pocong semalam bukanlah kebohongan.
"Motor. Enggak tahu tepatnya jam berapa, kata pemiliknya pas keluar buat salat subuh ke Masjid, ternyata motornya udah enggak ada di teras. Gembok pagar rumahnya juga dirusak."
"Oh, motornya emang biasa sengaja enggak dimasukin ke dalam rumah, ya? Kalau kayak gitu, kan riskan dicuri orang."
"Iya, sekarang lagi kena sialnya. Sebelum-sebelumnya udah pernah diingatkan tetangga sekitar. Yah, mungkin hidayahnya adalah supaya orang itu lebih hati-hati dalam menjaga benda berharga. Walaupun di sini kampung dan masih belum banyak orang, bukan berarti enggak ada orang jahat yang mau memanfaatkan keadaan sepi, kan?" Papa menyampaikan pendapatnya masih dengan kedua mata yang terpaku pada bacaan di koran.
"Iya, Pa benar juga."
"Buruan itu sarapannya dihabisin, udah mau jam 6 nanti terlambat ke sekolah."
"Iya," jawabku sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutku. Aku masih merasa takjub mengetahui dua pocong itu tidaklah berbohong, dan sayangnya permintaan mereka kutolak sehingga mereka pergi dengan kekecewaan. Aku sedikit merasa menyesal sekarang.
"Informasi mereka memang benar, namun mereka mau memperdayamu jika berhasil membawa rohmu keluar dari tubuh."
Aku tersentak mendengar suara misterius yang kembali datang. Kutatap Papa yang masih serius dengan bacaannya. Nampaknya, dia tidak bisa mendengar apa yang kudengar sekarang.
Aku penasaran. "Memperdaya yang seperti apa, maksudmu?" tanyaku dalam hati.
"Mereka bersengkokol untuk menahanmu agar tak bisa kembali. Jika itu terjadi maka kaulah yang akan kehilangan nyawamu."
"Kenapa mereka mau melakukan hal sejahat itu?"
"Sudah jadi tabiat mereka, kan? Para setan yang dikutuk oleh Tuhan karena telah mengingkari perintah-Nya. Selain itu, karena malam itu energimulah yang paling mencolok sebagai manusia, dan mereka menginginkan semua energi itu."
"Begitu, ya? aku mulai memahami sesuatu."
"Apa itu?"
"Apa kamu akan selalu datang jika aku sedang dalam masa-masa sulit? Bukankah kedatanganmu semalam adalah yang kedua kalinya? Pertama, ketika aku bertanya-tanya soal kakek sorban yang muncul di balkon, kedua ketika kamu muncul untuk melarangku mengikuti dua pocong itu. Kamu ingin melindungiku, kan?"
"Tidak. Aku datang karena Tuhan. Kau meminta tolong pada Tuhan, maka aku datang untuk memberimu sedikit pengetahuan. Hanya sedikit."
"Kalau begitu aku seharusnya berterima kasih pada Allah karena tidak meninggalkanku."
"Seharusnya kau lakukan itu sejak awal."
"Aku ini masih terhitung anak-anak wajar, kan kalau masih suka lupa."
"Keimanan bisa datang kapan saja, dan untuk siapa saja tergantung seberapa ingin makhluk itu tunduk dan menyerahkan segala hal pada Tuhannya."
"Baiklah, aku mengaku salah." Seraya mengucapkan itu dalam hati dengan pasrah, aku mengakhiri sarapanku dan memberitahu Papa kalau aku sudah siap berangkat.
Mendengar itu, Papa pun segera berdiri dan melipat rapi korannya. Ia ikut bersiap-siap, menggunakan jaket kesayangannya kemudian bergerak mengeluarkan motor.
Setelah motor dipanaskan, aku menyalami tangan Mama dan ibu-ibu tetangga lainnya yang masih asyik mengobrol. Aku dan Papa berangkat setelah mengucapkan salam dan menghaturkan Bismillahirrahmanirrahim, supaya aman selama di jalan dan selamat sampai tujuan.
...-Bagian III Selesai-...