
Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Kuselesaikan kegiatan belajar yang rutin dilakukan setiap malam. Buku-buku yang awalnya kupakai untuk mengerjakan PR kini kumasukkan ke dalam tas agar besok tak ada yang tertinggal.
Setelah semua peralatan telah lengkap dimasukkan ke dalam tas, aku keluar menuju kamar mandi untuk mengambil wudu dan melaksanakan salat isya.
Selesai salat, aku melanjutkan kegiatan menebahi kasur agar terhindar dari binatang-binatang asing yang bisa mengganggu tidurku. Ajaran menebah kasur ini sudah diajarkan oleh kedua orangtuaku sejak dulu dan merupakan ajaran yang sangat baik karena juga disebutkan dalam hadis ajaran Islam.
Saat yakin kasurku sudah bersih dan aman ditiduri, aku segera berbaring di atasnya setelah menutup pintu kamar, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang terpasang di dinding.
Suasana rumah begitu hening karena kedua orangtuaku sudah tertidur di kamarnya. Kupejamkan kedua mata seraya mengucap doa sebelum tidur dalam hati.
Pertama, aku berbaring dengan dua tangan terpangku di atas perut. 5 menit kemudian, aku berpindah posisi dengan miring ke kanan sambil memeluk guling. Masih belum juga bisa terlelap, aku kembali memiringkan tubuh dan kali ini ke arah kiri. 5 menit berlalu, akhirnya aku menyerah dengan kembali membuka kedua mata dan menatapi pintu kamar yang sudah tertutup rapat.
Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa tak jua bisa tertidur meski kedua mataku sudah terasa berat meminta untuk dipejamkan.
Aku kembali ke posisi awal yakni berbaring sambil memangkukan kedua tangan di atas perut. Rasanya waktu jadi lama sekali ketika aku menunggu saat bisa tertidur dengan nyenyak dan berpindah ke alam mimpi yang menyenangkan.
Sekali lagi aku memilih memiringkan tubuh ke kanan, memeluk guling dan merapatkan tubuh ke dinding kamar yang terasa dingin.
5, 4, 3, 2, 1... aku mulai merasakan kesenyapan yang berbeda. Seolah terasa kalau sebentar lagi aku akan kehilangan kesadaran. Perasaanku perlahan rileks dan tenang meski samar-samar aku masih bisa mendengarkan pergerakan angin yang masuk ke dalam kamar.
Tak lama kemudian, ketenangan yang semula kurasakan berubah menjadi kecemasan. Jantung tiba-tiba mulai berdetak cepat begitupun dengan napasku. Sesak...! Sangat sesak!
Ingin rasanya aku membuka kedua mata namun entah kenapa kali ini terasa amat berat. Aku tahu pertanda apa ini. Penyakitku sejak lama, sejak rumahku dibangun menjadi tingkat dua yakni sleep paralyses atau sering dikenal sebagai ketindihan atau rep-repan.
Di saat seperti ini aku terbiasa melawannya dengan berusaha bangun. Kubuka kedua mata dengan sekuat tenaga. Amat berat. Sekali terbuka, tapi tak mampu bertahan lama, aku kembali terpejam. Aku membukanya lagi kini hanya mampu sebelah mata, kemudian terpejam kembali.
Aku sama sekali tak bisa menggerakkan tubuh. Sesak semakin menjadi-jadi Kembali dengan sekuat tenaga kubuka kedua mata, dan ternyata hanya mampu setengah terbuka. Namun kondisi seperti itu jauh lebih baik karena setidaknya aku bisa melihat apa yang ada dihadapanku.
Keberhasilanku membuka mata bukan berarti tak ada tantangan, masih butuh usaha yang luar biasa agar tak kembali terpejam karena terasa seperti ada yang memaksaku untuk kembali menutup mata.
Aku bertahan dengan posisi seperti ini. Berusaha sekuat tenaga menghirup udara agar tak kehabisan napas dan meredakan sesak di dada yang mendera. Dalam ketidakberdayaanku, aku menunggu tubuhku mengikuti perintah untuk bergerak dan bangun.
Beberapa saat kemudian, aku merasa ada yang menggerayangi seluruh tubuhku dari batas lengan hingga kaki yang memang masih menempel pada dinding. Seperti ada puluhan jemari sedang menarik-narikku agar lebih mendekat ke dinding kamarku yang dicat biru.
Dalam bayangan kepalaku, terlintas gambaran puluhan tangan putih pucat menggapai-gapai tubuhku. Aku juga merasakan tubuhku bergerak-gerak persis ketika sedang ditarik-tarik paksa oleh beberapa orang.
Aku membaca semua doa yang kutahu untuk menambah keberanian melawan perasaan terancam dan ketakutan. Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq hingga An-Nas menjadi doa paling berharga untukku. Seraya juga dalam hati memanjatkan harapan pada Tuhan untuk membantuku bangun.
"Astaghfirullahaladzim.. Astaghfirullahaladzim.. Astaghfirullahaladzim.. Ya Allah, tolong bangunkan dan selamatkan hamba. Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim."
Kurasakan keinginan yang begitu besar untuk bangun begitu mengucap seluruh doa penyerahan diri agar dikaruniakan pertolongan dari Allah Swt.
Alhamdulillah, akhirnya kurasakan satu persatu anggota badan mulai bisa digerakkan. Mulai dari ujung jari kaki, menjalar ke betis hingga akhirnya aku mampu sepenuhnya bangkit dari pembaringan.
Dengan ganas, aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Keringat terasa menjalar dari kening menuruni pipi. Seluruh tubuhku gemetar hebat.
Kutolehkan kepala menuju dinding yang menjadi biang ketakutanku beberapa saat lalu. Kosong. Tak kutemukan bayangan puluhan tangan yang terasa menarik-nariku dengan paksa.
Kuangkat juga gulingku untuk melihat bagian dinding yang tertutupi benda tersebut, dan hasilnya pun sama. Ya Allah. Aku menghela napas seraya mengusap wajah yang dibanjiri keringat.
Setelahnya, aku berkeinginan mengubah posisi tidur sekali lagi. Kupindahkan seluruh bantal ke arah kiblat, membelakangi jendela kamar yang sudah tertutup tirai tebal.
Sebelum kembali tidur, aku meminum air putih yang memang sudah kubawa sejak sore dan diletakkan di meja belajar. Sebagai persiapan kalau-kalau terbangun di tengah malam karena merasa dahaga.
Aku kembali duduk di atas kasur. Sekali lagi mengusap wajah hingga rambut yang kuhentakkan pelan ke belakang agar tak menutupi wajah ketika tidur. Aku berbaring dan kembali memejamkan mata. Aku berharap kali ini bisa segera tidur nyenyak karena khawatir terlambat bangun keesokan harinya.
5..., 4..., 3..., 2..., 1...
Rasa nyaman mulai mengerubungiku. Aku berharap setelah ini aku benar-benar bisa memasuki dunia mimpi yang indah.
Tapi, harapanku kembali musnah.
Senyap dan pengap! Kenapa tiba-tiba ruangan terasa panas pengap?!
Astaghfirullah, kurasakah kembali gejala sleep paralyses. Baru pertama kali ini, kurasakan sleep paralyses lebih dari satu kali dan dalam waktu yang berdekatan.
Ada apa sebenarnya dengan diriku dan malam ini? Apa karena aku lupa membaca doa tidur saat terbangun tadi?
Argh! aku tak bisa berpikir dengan jernih. Dadaku terasa sakit sekali akibat kesulitan bernapas.
Bangun.. bangun.. aku mengantarkan perintah pada seluruh tubuh. Kedua mata lagi-lagi sudah membuka dengan susah payah dan hanya mampu setengahnya terbuka.
Aku bisa memandang bagian atas kamar dam sekelilingku. Kosong. Ingin rasanya aku teriak meminta pertolongan agar Mama dan Papaku bangun dan membantuku. Namun apalah daya, tak ada satu pun organ tubuh yang mau menuruti kemauanku saat ini, termasuk mulut. Aku merasa mati rasa.
Aku bertahan dengan keadaan ini sambil terus melantunkan doa-doa tadi, namun kali ini entah kenapa rasa takutku lebih besar hingga membuatku beberapa kali salah mengucapkan beberapa ayat.
Jantungku berdetak lebih cepat seperti memberi sinyal akan muncul sesuatu yang buruk. Aku sangat mengharap sinyal ini tidaklah benar. Apapun itu bentuknya, mau itu binatang yang menakutkan atau salah satu dari 'Mereka' yang tak kasat mata.
Nyatanya, ketakutanku justru dengan cepat terbukti. Aku merasa ada sesuatu yang terus bergerak-gerak dari bawah bantal yang kutiduri, dan kuyakini bukan sesuatu yang wajar karena sebelum berpindah posisi tidur tadi tak ada apapun di sana.
Akibat tak bisa menggerakan tubuh, yang bisa kulakukan hanya menunggu sampai sesuatu yang masih saja bergerak-gerak itu berhenti dan tak memunculkan diri hingga aku mampu bangun dari kelumpuhan.
Sesuatu itu berhenti.
"Ayo bangun, bangun!" pintaku pada tubuh melalui batin.
Permintaanku seketika terhenti ketika tiba-tiba melihat dua benda mengerikan muncul perlahan dari bawah bantal. Ujung dari dua benda itu bergerak-gerak seolah tengah merenggangkan diri. Deretan kuku merah yang sangat tajam, membuatku ingin berteriak sekencang mungkin namun lagi-lagi aku masih dalam kondisi tak berdaya.
Tak ada jalan lain selain aku yang hanya bisa memerhatikan dua tangan kurus berbalut kulit yang keriput. Jari jemarinya sangat panjang dibandingkan jari-jari manusia. Begitupun dengan kukunya yang menggambarkan betapa buasnya sosok asli yang masih menyembunyikan dirinya itu.
Aku bertanya-tanya maksud kemunculan dua tangan itu. Apa sosok yang memiliki tangan itu hanya berniat menakut-nakuti? Kalau iya, harusnya dia tahu kalau rencananya berhasil. Aku sangat ketakutan sekarang.
Jari jemari itu berhenti bergerak, yang entah bagaimana justru membuat rasa takutku semakin besar. Kemudian dua tangan dengan jari-jari runcing itu perlahan bergerak turun. Saling terkait satu sama lain. Napasku semakin tersengal-sengal.
Akibat kekurangan napas, dan rasa takut yang muncul semakin besar karena tangan itu seolah bergerak hendak mencekikku.
Semakin dekat...dekat... dekat!!!
Hingga akhirnya kedua tangan itu telah menyentuh kulit leherku. Rasa nyeri menjalar karena tercekik.
"Ya Allah! Ya Allah! Astaghfirullahaladzim!Astaghfirullahaladzim! Astaghfirullahaladzim!!!Tolong aku, Ya Allah," teriakku dalam hati.
Sekuat tenaga aku menggerakkan mulut untuk melantunkan doa-doa suci. Meski terdengar tidak jelas dan kecil, namun aku yakin mampu mengucapkan doa-doa perlindungan.
...ya'lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyaiim min ilmihii illaa bimaa syaa wasia kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa yauuduhuu hifdhuhumaa wahuwal aliyyul adhiim!
Ya Allah!
Aku terdengar seperti orang yang sedang mengerang. Rasa nyeri kini dibarengi rasa panas yang aneh. Aku merasa sudah mencapai batas bertahan. Dadaku semakin sakit akibat kekurangan asupan oksigen.
Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim! Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim! Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim! Allahu Akbar !
Tubuhku terlonjak bangun dengan sendirinya. Ada sensasi gejolak yang aneh di dalam dada seolah mendapatkan hentakan yang begitu keras.
Tak bertahan lama, aku segera menyenderkan badan karena merasa lemas. Tenagaku terkuras habis karena kejadian tadi.
"Ya Allah," ucapku sambil meremas dada yang terasa nyeri, sisa dari sleep paralyses. Leherku terasa sangat pegal.
Lalu saat teringat kembali dengan kehadiran dua tangan tadi, aku segera bangkit menjauhi tempat tidur. Mengambil dengan kasar bantal yang kutiduri hingga guling dan juga selimut. Semuanya kubuang secara sembarang ke lantai.
Kunyalakan lampu utama agar kamar terlihat lebih jelas dan terang. Kuambil sapu lidi yang disandarkan di dinding dekat lemari pakaian, dan kujadikan senjata kalau-kalau sesuatu yang menyeramkan itu kembali muncul.
Karena kesadaranku sudah kembali, kini bukan lagi rasa takut yang menguasaiku melainkan rasa marah karena merasa sudah disakiti dengan cara memanfaatkan kelemahanku. Kutebahi dengan kasar kasurku, berharap apapun yang kini tak mau menunjukkan dirinya merasakan sakitnya dipukuli sapu lidi di tanganku.
Lantunan doa masih terus terucap meski tidak keras karena takut akan membangunkan kedua orangtuaku. Aku beralih memeriksa kolong tempat tidur, mencari-cari sosok yang bisa kusalahkan atas kejadian tadi. Namun, sayangnya tak ada apapun di sana selain sedikit debu yang bertebaran.
Setelah dirasa rapi dan aman, aku mengembalikan bantal, guling dan selimut ke tempatnya. Aku melirik ke jam bulat yang tergantung di dinding. Sudah pukul 1 pagi, dan dipastikan besok aku akan mengantuk sepanjang pelajaran. Aku tak terbiasa tidur kurang dari 8 jam dan ini semua adalah salah tangan-tangan yang telah menggangguku.
"Waqul rabbi a'uudzu bika min hamazaati alsysyayaathiini. Wa-a'uudzu bika rabbi an yahduruuni." Kuucapkan sepenggal doa perlindungan dari surat Al Muminun ayat 98 dan dilanjutkan dengan surat perlindungan lainnya. Serta kali ini aku juga meletakkan sebuah Al Quran dekat dengan kepalaku, sekadar berjaga-jaga jika gangguan kembali datang. Sapu lidi juga kuletakkan dekat tempat tidur, supaya saat bangun aku bisa segera meraih dan menjadikannya senjata.
Aku kembali berbaring, memejamkan kedua mata. Mulutku terus mengucap mohon perlindungan dari Allah Swt., hingga ke dalam batin.
Kali ini suasana terasa lebih normal. Tak lagi terasa panas dan pengap. Tak lagi merasa terancam. Hingga akhirnya aku berhasil berpindah ke dunia mimpi yang menyenangkan.
......-Bagian II Selesai-......