
Lulus dari sekolah menengah atas, kedua orangtuaku meminta agar Aku meneruskan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Awalnya, aku menolak keras keinginan mereka karena telah gagal lolos dari ujian SBMPTN sehingga menurutku menjadi pekerja adalah pilihan terbaik.
Alasanku bersikeras ingin bekerja adalah karena tidak mau lagi membebani mereka untuk membiayai pendidikanku. Namun, kedua orangtuaku tetap ingin aku melanjutkan kuliah dibandingkan bekerja karena menurut mereka jika aku sudah mengenal uang maka keinginan untuk kuliah akan berkurang atau tidak ada sama sekali.
Karena perbedaan pendapat itu, aku sempat bertengkar hebat dengan kedua orangtuaku. Aku tetap merasa tidak enak jika harus meneruskan kuliah di kampus swasta dengan biaya dari mereka sehingga memilih untuk bekerja dulu. Tapi,pada akhirnya aku lah yang harus mengalah. Kedua orangtuaku tetap memaksaku mendaftarkan diri di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta.
Perselisihan tidak berhenti di situ. Aku dan kedua orangtuaku kembali bertengkar dalam hal menentukan jurusan yang akan kuambil. Aku yang merasa memilih jurusan harus benar-benar dari hati, berbeda pandang dengan kedua orangtua yang menginginkanku mengambil jurusan manajemen atau akuntansi karena lebih menjanjikan masa depan yang lebih baik, khususnya dalam hal peluang lapangan pekerjaan.
Untuk urusan jurusan, kali ini aku tegas dan tidak mau diatur karena alasan apapun. Mengetahui aku akan menghabiskan waktu selama 4 tahun dengan biaya yang besar, membuatku berpikir harus berhati-hati dalam memilih jurusan. Aku tidak mau kalau menuruti keinginan orang lain akan membuatku berhenti di tengah jalan karena merasa terpaksa. Oleh karena itu, aku tegas memilih jurusan Sastra Inggris.
Alasanku mengambil jurusan itu hanya satu. Aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Ketika membaca profil jurusan tersebut di katalog yang diberikan oleh kedua orangtuaku, hatiku bergejolak, merasa begitu tertarik dan bertekad ingin memiliki gelar dari jurusan tersebut. Menyadari keputusanku tidak lagi bisa diganggu gugat, kedua orangtuaku pun pasrah membiarkanku mendaftarkan diri di jurusan Sastra Inggris.
2 bulan kemudian, aku mulai menjalani kegiatan perkuliahan. Dari kegiatan ospek hingga akhirnya resmi mempelajari satu persatu materi di semester satu. Kegiatanku masih terasa berjalan lancar. Teman-teman baru pun kudapatkan, bahkan aku sudah punya dua teman dekat yang selalu pergi dan mengerjakan tugas bersama.
Hingga suatu hari, kepekaanku kembali. Beberapa minggu menjalani kegiatan kampus, aku mulai merasakan adanya kehadiran makhluk-makhluk lain di setiap sudut gedung kampus.
Suatu malam, aku kembali mengalami peristiwa astral projection dan tempat yang kukunjungi kali ini adalah kampusku sendiri. Dalam perjalanan malam itu, aku berjalan menembus pintu kaca gedung 4. Gedung yang menjadi tempatku rutin belajar. Suasana ruangan terlihat lebih gelap, karena lampu selasar utama yang berhadapan dengan kantor sekretariat telah dimatikan dan hanya menyisakan lampu-lampu putih berwatt kecil di lorong berisikan kelas-kelas yang biasanya mahasiswa & mahasiswi jurusan Sastra Inggris isi.
Seperti ada yang mengarahkan, langkahku bergerak menuju anak tangga yang mengarah ke lantai 3. Ternyata lantai itu lebih parah suasana gelapnya dibandingkan lantai sebelumnya. Ditambah untuk bagian lorong yang berisi kelas-kelas untuk penghuni jurusan teknik elektro hanya menggunakan lampu-lampu kuning berwatt kecil. Membuat suasana terasa semakin mencekam dan menimbulkan rasa was-was. Tubuhku melayang bergerak tanpa diperintah dan memasuki bagian lorong tersebut. Kedua mataku menatap satu-persatu pintu ruangan yang tertutup rapat. Tak terdengar kegiatan apa pun, menandakan sudah tidak ada penghuni yang menggunakan ruangan-ruangan tersebut.
Ketika sudah berada di tengah-tengah lorong, hatiku seolah memberi sinyal ada yang sedang mengawasi dari belakang. Aku terdiam cukup lama sambil menguatkan diri sebelum memastikan peringatan yang datang. Sinyal bahaya terasa semakin kuat seolah sesuatu yang ada di belakangku kini bergerak mendekat. Kemudian, Aku memberanikan diri untuk menolehkan kepala ke arah belakang. Tidak ada apa pun di hadapanku, tapi... tapi tidak dengan bagian atas....
Sesuatu terlihat melayang dan hanya berjarak sejengkal tanganku. Sesuatu itu adalah sesosok makhluk bergaun putih dengan wajah yang tertutupi sepenuhnya dengan rambut hitam yang panjang dan berantakan. Sosok itu mematung, seperti sedang menunggu reaksi yang akan kukeluarkan. Aku sontak bergerak mundur, sialnya sosok itu justru bergerak maju. Semakin aku mempercepat pergerakan untuk menjauh, sosok itu juga melakukan hal yang sama. Bedanya, dia justru semakin mendekati posisiku.
Aku yang mulai ketakutan, akhirnya memilih pergi secepat dan sejauh mungkin dari sosok itu. Kemudian aku tiba di bagian toilet, yang mana di depan toilet itu masih ada anak tangga yang mengarah ke lantai berikutnya dan lantai sebelumnya. Jika aku mengambil anak tangga menuju lantai bawah, maka aku akan tiba di lantai jurusanku. Jika aku mengambil anak tangga ke lantai berikutnya, aku akan memasuki bagian administrasi umum kampus dan lorong berisi kelas untuk penghuni jurusan Bahasa Korea.
Aku berhenti sejenak ketika melihat sosok yang mengikutiku tadi ternyata tidak lagi menuju tempatku, melainkan masuk ke dalam toilet perempuan. Instingku memberi sinyal kalau kemungkinan sosok itu tinggal di dalam sana. Merasa tidak ingin tahu lebih jauh soal benar atau tidaknya instingku itu, aku memilih segera menuruni anak tangga yang akan membawaku ke bagian belakang gedung 4.
Semula kukira dengan kembali ke lantai sebelumnya, situasi akan lebih baik namun nyatanya tidak...
Aku berdiri mematung ketika mendapati pintu bagian belakang terbuka, menampakkan jejeran bangunan kecil lainnya yang digunakan oleh para mahasiswa untuk berorganisasi. Yang membuatku mematung bukanlah suasana bangunan yang ada di sana, melainkan penampakan jejeran pocong yang kini sedang berdiri, menatapku dengan kedua mata yang kosong tanpa bola mata, dan bergoyang-goyang ke kiri dan kanan. Kain yang digunakan terlihat begitu kotor dengan bercak-bercak, entah darah atau tanah kuburan yang mengering.
Aku berusaha menggerakan tubuh memasuki kembali lorong jurusan, bermaksud keluar melalui pintu utama. Sambil terus bergerak, sesekali kepalaku menoleh ke belakang untuk memastika barisan pocong itu tidak mengikutiku. Beruntungnya, mereka masih berada di tempatnya dan masih bergoyang perlahan ke kiri dan kanan.
Tubuhku kembali menembus pintu kaca, kemudian bergerak menuju area masjid yang letaknya dekat dengan parkiran motor para mahasiswa. Aku bergerak ke sana masih bukan atas kemauanku sendiri. Seolah memang ada sesuatu yang tak terlihat sedang menuntun dan menginginkanku mengetahui situasi dan kondisi dari tempat yang aku datangi.
Tubuhku berhenti di depan sebuah pohon mahoni yang cukup besar. Di bawah pohon itu, lagi-lagi aku menemukan sesosok perempuan bergaun putih yang panjangnya hingga menutupi ke dua kakinya. Sosok itu sedang menangis tersedu-sedu dan menyayat hati. Ingin rasanya bertanya alasannya menangis seperti itu, tapi aku sadar yang kutanyai bukanlah manusia. Dan bisa saja sosok itu adalah hantu yang biasa jail dengan cara menangis tersedu-sedu seperti itu. Tak hanya satu rupanya, masih ada satu perempuan lagi yang sedang duduk di atas pohon mahoni lainnya, yang letaknya tak jauh dari perempuan yang masih menangis itu. Bedanya, perempuan itu sedang kecikikan.
*"Mereka semua yang kamu lihat saat ini adalah sekian dari penghuni kampus yang jail. Masih banyak jenis yang lainnya, terlebih di bagian basement. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Karena beberapa dari mereka, ada yang dipelihara dan sangat berbahaya sehingga bisa menjerumuskanmu ke perbuatan jahat." *Lagi-lagi aku mendengar suara misterius tanpa wajah. *"...sekarang, perjalanan telah selesai... waktunya kamu pulang." *
Setelah mendengarkan perkataan yang terasa seperti perintah itu, tubuhku terasa seperti tersedot dengan kuat. Sekelilingku berubah gelap dan sunyi.
"Ki... Miki..." sebuah suara yang tak asing memasuki kedua telinga dan kepalaku. Tangan dan tubuhku terasa digoyang-goyangkan oleh seseorang. "Bangun, Ki... udah azan Subuh. Salat, nanti kalau mau tidur lagi, enggak apa-apa."
Sekuat tenaga aku membuka mata.
Begitu mampu sadarkan diri, kutemukan sosok Mama sudah berdiri di sampingku dan terus berusaha membangunkanku.
"Kamu masuk kelas pagi atau siang?" tanyanya lagi.
"Pagi, Ma.. jam 9 tapi." jawabku dengan suara yang parau.
"Ya udah salat Subuh dulu. Kalau mau tidur lagi, terserah."
"Iyaa." Mama beranjak keluar kamar. Aku mulai mengulet dan merenggangkan badan yang terasa amat pegal.
Kuusap kasar wajahku dengan kedua tangan, kemudia segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu.
***
Pukul 11.30 siang, kelas pertamaku usai. Aku bersama kedua teman baikku beralih pergi menuju kantin untuk makan siang sebelum kelas selanjutnya dimulai. Nira dan Dian adalah nama mereka. Begitu pesanan makanan datang, masing-masing dari kami langsung menyantapnya.
"Eh, guys... Gue denger-denger gedung kampus kita lumayan angker, lho." Dian membuka pembicaraan.
"Kata siapa?" tanya Nira, yang dari sikapnya menunjukkan tidak terlalu peduli dengan cerita Dian. Ia terlihat sibuk dengan makanan dan HP-nya.
"Kemarin sore, gue sempat ikutan nongkrong sama anak-anak dari kelas A di selasar depan kantor sekretariat. Kalian udah pulang. Kata salah satu dari mereka yang dengar rumornya dari senior, katanya gedung 4 ini lumayan horor. Terlebih bagian lantai di atas kita."
"Lantai mana? Lantai 3?" tanyaku.
Dian menjawab dengan anggukan."
"Kenapa, gitu, dibilang horor?" Aku kembali bertanya, sambil menyantap mie jawa kuah yang kupesan.
"Katanya sih, dulu lumayan sering mahasiswi tiba-tiba kesurupan pas lagi di kamar mandi di lantai 3." jawab Dian, "...bahkan ada yang pernah jedotin kepalanya sendiri ke kaca di toilet itu. Kabarnya lagi, yang suka ngerasukin itu perempuan. Sosok itu enggak suka kalau ada mahasiswi yang berlama-lama dandan atau suka berisik." lanjutnya.
"Kok gitu, dah... itu semacam iri dengki dan sebel gak diajak berisik aja mungkin, ya. Sensi banget." Nira berkomentar.
"Bisa jadi." sahutku.
"Ya pokoknya, mah ceritanya sih, gitu. Udah gitu, bukan di situ aja, guys, ada sosok seram lainnya. Salah anak di kelas A cerita kalau pas awal daftar ke kampus ini kan ngajak saudarinya yang lumayan paham hantu-hantuan. Katanya, dia ngelihat ada sosok perempuan suka duduk di bawah atau gelayutan di pohon-pohon mahoni dekat masjid." kata Dian.
"Tumben ya, ada hantu yang punya rumah dekat masjid. Gak ngerasa kepanasan pas azan." sahut Nira yang telah selesai menghabiskan makanannya. Aku sontak menyemburkan sedikit makanan di dalam mulut ke mangkuk karena merasa lucu juga mendengar sahutan Nira.
"Hantunya muslim juga, mungkin. Jadi, enggak kepanasan kalau azan berkumandang." sahutku sambil mengelap mulut dengan tissue. Dian juga sudah tertawa cekikan mendengar perkataan Nira.
"Lagian yah, ngapain sih bahas gituan. Kayak zaman masih sekolah aja, suka diceritain rumor horor tentang bangunan sekolah. Yang bekas rumah sakitlah, kuburan, ada mister gepenglah, sampai suster ngesot. Semua tempat mah pasti ada penghuni gaibnya. Yang penting, mereka gak nongol langsung depan mata, ya udah abaikan aja." kata Nira. Aku memberikan anggukan setuju.
"Ya iya, sih... Tapi, suka seru aja denger rumor-rumor horor kayak gitu."
"Gue bukannya sok berani, ya... malah sebenarnya gue penakut kalau udah dengar rumor kayak gitu. Takut kebawa parno kalau misalnya lagi sendirian terus ke tempat-tempat yang lu sebutin tadi. Makanya, udah gak usah diceritain kalau dengar rumor-rumor kayak gitu. Kalau gue udah parno, lu berdua kudu tanggung jawab." kata Nira.
"Lha, gue juga? Kan gue gak cerita..." sahutku.
"Ya kan, kalian teman terdekat gue. Ya harus satu paketlah. Makanya, udah jangan bahas gituan, ah. Males." pinta Nira.
Dian tertawa mendengar pengakuan Nira yang sebenarnya, "Iya-iya, dah... sorry yaa. Gk cerita-cerita gituan lagi, gimana kalau kita bahas tentang senior ganteng aja. Siapa tahu mahasiswi semester pertama bisa jadian sama senior." Ia kembali terkekeh.
"Kalau itu gue baru suka." Nira menyetujui.
Aku ikut tertawa dengan pengajuan topik baru dari Dian, "Boljug, tuh. Ada rekomendasi senior yang gampang dideketin, enggak? Lumayan lho, buat nanya-nanya tugas atau isi KRS."
"Ada nih..." Dian melanjutkan informasi yang didapatnya.
Nira mendengarkan dengan seksama, begitupun dengan diriku. Meski sebenarnya diam-diam sempat merasa bergidik ngeri karena ternyata perjalananku semalam & bertemu sosok-sosok gaib di kampus seolah terbukti kebenarannya dengan rumor yang diceritakan oleh Dian. Benar atau tidak... wallahu a'lam bishawab.
-Bagian Sebelas Selesai-
*Boljug \= Boleh juga