
Aku baru saja tiba di rumah, dan bergegas masuk ke kamar yang berada di lantai dua untuk meletakkan tas serta mengganti seragam dengan baju yang lebih santai.
Rasa penat yang menguasai akibat aktivitas belajar yang padat hari ini di sekolah membuatku ingin segera membaringkan tubuh di atas kasur. Kuabaikan azan zuhur yang berkumandang dan memilih untuk memejamkan kedua mata, mengharap bisa melenyapkan rasa lelah dengan tidur siang.
"Miki, salat Zuhur dulu kalau mau tidur," kata Mama yang sedang berada di lantai satu, ruang tamu. Mendengar suaranya tentu saja menggagalkan usahaku yang ingin tidur. Aku mengerang kesal seraya merenggangkan tubuh hingga akhirnya dengan terpaksa bangkit dari posisi berbaring.
"Iya, Ma. Ini mau salat. " Aku menjawab tanpa antusias dan bergerak menuju kamar mandi.
Selesai membasuh seluruh anggota tubuh sesuai tuntunan berwudu, aku keluar untuk kembali ke kamar.
Saat langkahku mencapai ambang pintu, ekor mata kiriku seperti menangkap sosok yang tak wajar dan tentu saja tak kukenal. Buru-buru aku menoleh untuk memastikan penglihatanku tidaklah salah. Ternyata benar... terdapat sosok laki-laki sedang berdiri membelakangiku di teras balkon dekat kamarku, yang juga biasa digunakan untuk menjemur pakaian.
Kuperhatikan lekat-lekat tanpa berani mendekat, karena walaupun sosok itu sedang di posisi membelakangi, aku tahu ia bukanlah golongan manusia. Tubuhnya terlihat transparan dibalut gamis putih yang pada ujung bagian bawahnya menggantung beberapa senti di atas ubin rumahku. Kedua kakinya tidak bisa kulihat. Di kepalanya juga terpasang rapi lilitan sorban berwarna senada dengan gamisnya. Penampilannya mirip seperti ulama.
Lalu seolah menyadari sedang diperhatikan, sosok itu perlahan menolehkan kepalanya. Ketika dirinya berbalik menghadap ke arahku sepenuhnya, kulihat ia menggenggam tongkat cokelat panjang. Nampaknya sengaja digunakan untuk menopang dan membantunya bergerak.
Kulitnya putih bersih, dihiasi dengan kumis yang tumbuh menyatu dengan jenggotnya yang sudah sepenuhnya berwarna putih. Sosok itu tersenyum dengan tatapan matanya yang seolah meneduhkan hati bagi siapapun yang menatapnya.
"Salat." Begitu pelan dan lembut suaranya, hingga akhirnya ia tiba-tiba melesat kemudian hilang dari pandanganku.
Sepeninggal sosok itu, aku masih terpaku. Bertanya-tanya dalam hati tentang kehadiran sosok gaib tersebut. Dari sekian penampakan yang pernah muncul di rumah ini, sosok itu sangatlah berbeda. Ia tidak menyeramkan, justru tatapan dan senyumannya seolah menyebarkan ketenangan pada batinku. Siapakah sosok itu sebenarnya? Dari mana ia berasal? Apakah dia salah satu penunggu dari rumahku? Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku.
Kemampuanku dalam melihat dan mendengar hal gaib dimulai ketika rumah ini dibangun menjadi dua lantai. Entah apa pemicunya, namun tiba-tiba banyak sekali gangguan-gangguan gaib yang kuterima. Anehnya lagi, hanya aku yang mengalaminya di rumah ini.
Tiap kali kuceritakan pengalaman gangguan dan penampakan yang kualami pada kedua orangtuaku, mereka selalu mengatakan kalau semua itu hanyalah halusinasi atau bisa jadi kala itu aku sedang dalam posisi tidak fokus sehingga menganggap semua yang terjadi dikait-kaitkan dengan hal yang menyeramkan. Oleh karena alasan itulah, kini aku memilih diam. Bertahan dengan segala gangguan dan penampakan menyeramkan yang masih sering terjadi. Lambat laun aku pun mulai terbiasa untuk mengontrol rasa takut dikala melihat 'Mereka' yang tak kasat mata.
"Miki, udah salat, belum? Jangan suka nunda-nunda, kalau udah salat kan tenang kalau mau tidur." Lagi-lagi suara Mama memecahkan fokusku. Tanpa memberi jawaban, aku segera masuk ke kamar dan menggelar sajadah. Kupasang mukena, dan mulai membaca niat salat Zuhur.
"Siapa sosok berpenampilan seperti ulama itu? Apa dia juga salah satu penunggu rumah ini? Aku belum pernah melihatnya, tatapan dan senyumnya begitu menyejukkan hati. Akan sangat bagus kalau ternyata dia juga penghuni rumah ini." Aku memejamkan kedua mata dan mulai larut dalam rentetan zikir, memuji Sang Khalik.
"Bukan siapa-siapa, Nak."
Seketika aku berhenti berzikir sesaat mendengar suara halus memasuki kedua telinga. "Lalu, apa alasan sosok itu menampakkan diri?" Secara spontan aku melontarkan pertanyaan. Entah apa alasan aku yang begitu berani memberikan pertanyaan , tapi hatiku sangat yakin akan menerima jawaban dari suara misterius itu.
"Dia hanya mampir, jangan terlalu kau pikirkan. "
"Hanya mampir? Jadi, dia bukan salah satu penghuni rumahku. Lalu, sebenarnya sosok tadi itu menghilang ke mana?" Aku yang masih penasaran memilih melanjutkan percakapan batin meski tidak tahu rupa dari si pemilik suara.
Hening. Jawaban tak segera datang seperti sebelumnya. Apakah si pemilik suara itu sudah pergi? Apa aku terlalu banyak memberi pertanyaan yang sebenarnya tidak boleh dijawab olehnya? Aku menoleh ke kanan dan kiri, hingga ke atas. Berharap suara itu kembali terdengar.
"Dia mau menjalankan ibadahnya. Tanah suci Makkah."
Hatiku begitu senang saat mendengar suara misterius itu kembali. Ditambah pula rasa takjub saat mengetahui sosok bergamis putih itu adalah jin muslim yang hendak beribadah langsung ke Makkah. Tempat yang menjadi dambaan bagi seluruh umat muslim, termasuk aku.
"Waaah, dia bisa mencapai tempat itu dalam berapa lama?" Rasa penasaranku semakin besar. "Apa dia terbang? Tadi dia melesat menghilang dengan sangat cepat."
"Lebih cepat daripada terbang dengan burung besi. Hanya dalam sekejap mata, secepat kilat cahaya menyambar tanah bumi, dia bisa sampai di tempat suci itu."
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum mendengar jawaban suara misterius itu. Aku juga ingin bisa seperti itu, bisa dengan mudahnya mencapai tanah suci Makkah tanpa harus menabung dan mengantre berpuluh-puluh tahun agar bisa terbang menuju Mekkah, memutari tempat Ka'bah, mencium batu hajar aswad, melempar jumrah, mengalami perjalanan ke Madinah, hingga berziarah ke makam Nabi Muhammad saw. serta keluarga dan sahabatnya.
Aku menghela napas panjang, merasa lega karena semua pertanyaanku telah terjawab. Kulanjutkan lantunan zikir yang terjeda, kemudian memanjatkan doa pada Allah Swt. agar aku serta kedua orangtuaku juga diberi kesempatan bisa pergi naik haji oleh-Nya. Aamiin.
...-Bagian I Selesai-...