Miki'S Scary Stories (Based On True Story)

Miki'S Scary Stories (Based On True Story)
Sebuah Nyanyian



Tak terasa sudah dua minggu, aku bersama dengan kelima teman sekelasku magang di salah satu departemen milik pemerintah di wilayah Jakarta Selatan. Kegiatan magang ini diwajibkan bagi murid-murid yang bersekolah dengan sistem kejuruan guna memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian nasional yang akan diadakan tahun depan.


Aku sekelompok dengan Intan dan Aya dan mengisi divisi umum di lantai paling dasar gedung departemen. Kegiatan kami hanya menulis surat masuk dan keluar ke dalam buku besar serta mengirimkan surat-surat masuk kepada divisi-divisi lain. Terkadang kami juga diminta untuk merapikan arsip-arsip agar jika dibutuhkan bisa ditemukan dengan mudah.


Siang itu, sekitar pukul dua, aku dan Intan kembali ditugaskan untuk menyerahkan surat-surat masuk kepada para kepala divisi di lantai atas. Kami berangkat menuju lift setelah mencatat ke mana saja surat-surat tersebut harus diantar.


"Kali ini, lu mesti hati-hati ya, Mai. Lu inget, kan terakhir kali kita mengantar surat ke Pak Ahmad, kepala divisi di lantai tiga? Lu kesandung bangku di depan tamu-tamunya. Haduh, malu-maluin banget." Intan memperingatkanku saat sudah berada di lift yang akan membawa kami menuju lantai tiga.


"Iyaaa. Waktu itu, kan gue enggak sengaja kesandung. Gue beneran enggak lihat kalau ada bangku di dekat pintu masuk," ujarku. 


Ting!


Pintu lift terbuka. Aku dan Intan bergegas keluar dan bergerak menuju ruang Pak Ahmad. Beruntungnya, begitu sampai di ruangan beliau, kami tak menemukan adanya tamu, dan bangku yang sebelumnya diletakkan di dekat pintu juga sudah dipindahkan.


"Sekarang kita ke mana?" Tanyaku setelah memberikan surat tersebut kepada Pak Ahmad.


"Lantai empat." Kata Intan sambil membolak-balikkan surat yang akan kami antar selanjutnya. "Eh, kita naik tangga aja yuk. Cuma satu lantai ini." Usulnya kemudian. 


"Boleh." Aku memberi anggukkan setuju. 


"Itung-itung biar lu olahraga, dan siapa tahu lemak di badan lu bisa berkurang.” Kata Intan lagi sambil terkekeh sambil kedua tangannya bergerak mendorong pintu besi menuju tangga darurat.


"Waah, mulai berani ngeledek deh lu. Mentang-mentang punya badan bagus," protesku, "...dasar sipit." Balasku tak mau kalah. Intan hanya menjulurkan lidahnya. 


Satu persatu anak tangga kami jejaki dan kami pun sampai demi langkah di bagian lantai empat. Karena tak mengetahui ruangan mana yang harus kami tuju, kami pun bertanya pada salah satu pegawai yang sedang menunggu di depan pintu lift dan mendapatkan arahan petunjuk darinya.


"Eh, Ki ke kamar mandi dulu, yuk. Mau pipis." Ajak Intan setelah surat selesai diantar.


"Yuk." Aku mengekori langkahnya dari belakang.


Setelah mencoba berkeliling pada lorong-lorong ruangan, akhirnya kami menemukan kamar mandi. Di dalam kamar mandi tersebut terdapat tiga bilik dengan satu bilik yang dikunci. Pada pintu bilik itu tertempel pemberitahuan kalau toilet tersebut sedang dalam perbaikan.


Intan segera masuk ke salah satu toilet yang bisa digunakan. Sedangkan aku memilih merapikan pakaian dan rambut. Kukeluarkan sisir kecil dari kantong rok dan mulai menyisir helai demi helai rambutku yang mulai kusut. Aku memang terbiasa membawa sisir kecil dan memasukkannya ke dalam kantong baju atau celana karena menyadari rambutku adalah tipe yang sangat mudah sekali berantakan apalagi jika terkena hempasan angin. Jika kubiarkan, semakin lama rambutku akan semakin kusut dan aku kehilangan kepercayaan diri dengan kondisi rambut yang seperti itu. Oleh karena itu, bagiku dibanding bedak atau lipgloss yang menurut wanita lain sangatlah penting dibawa ke mana pun tapi bagiku sisir adalah salah satu benda utama yang tak boleh tertinggal.


Dari dalam toilet yang digunakan oleh Intan, terdengar guyuran air. Tak memakan waktulama, ia sudah keluar dan mencuci tangannya di wastafel.


Saat kami masih merapikan penampilan, dari luar kamar mandi datanglah seorang pegawai perempuan. Aku sempat menatap wajahnya yang terlihat sinis. Ia berdiri tepat di sampingku, sedang merapikan pakaian dan make up di wajahnya. Secara diam-diam, Aku dan Intan mencuri-curi pandang padanya.


"Hmmm...hmmm...hmmm..."


Aku terhenyak, begitu mendengar sebuah alunan suara nyanyian yang pelan namun terasa syahdu. Lalu kepalaku refleks menoleh ke arah dua bilik yang pintunya terbuka. Tak ada siapapun di sana.


"Ki, baliknya sebentar lagi, ya tarik napas dulu, sebelum kerja lagi." Bisik Intan padaku.


Aku menjawab ajakan Intan hanya dengan anggukan pelan. Masih terheran-heran dengan sekilas nyanyian pelan tadi, namun melihat respons dari Intan ataupun wanita dewasa yang masih sibuk dengan polesan lipstik pada bibirnya, sepertinya hanya aku yang mendengar suara nyanyian tersebut.


"Hmmm...hmmm...hmmm..."


Suara nyanyian syahdu itu terdengar lagi. Kupandangi wajah Intan, melihat raut wajahnya yang membeku serta kedua mata yang menatapku melalui cermin, aku yakin bukan hanya aku yang mendengar suaranya kali ini.


Aku memberanikan diri bergerak mendekati pintu bilik toilet yang rusak. Perlahan, aku menundukkan badan hendak menemukan bayangan dari sela-sela bawah pintu, yang menandakan adanya kehadiran seseorang di dalam.


Sayangnya, sekeras apapun aku mencari dan menunggu sebuah pergerakan, tak kutemukan bayangan itu. Bahkan aku tak melihat adanya kedua kaki di dalam sana. Mungkinkah dia berjongkok di atas toilet? Tidak mungkin, kan? Sikap seperti itu melanggar peraturan penggunaan toilet.


"Lalalaaaa...lalaaaaa...laaaa..."


Aku hampir melompat karena kaget mendengar lantunan nyanyian yang tiba-tiba berubah dan semakin sangat jelas. Bukan hanya itu saja, aku juga yakin suara yang jelas milik perempuan itu berasal dari bilik yang rusak dan terkunci itu.


Tiba-tiba, aku merasa merinding, dan perasaan mencekam nampaknya bukan hanya aku yang merasakan.


Wanita dewasa yang semula setia menunjukkan raut ketus itu berubah panik dan tangannya buru-buru memasukkan peralatan make up-nya secara sembarang ke dalam mini pouch yang ia bawa. Intan yang juga merasa ketakutan segera menghampiri dan menarik lengan kiriku kemudian menggiringku ke luar kamar mandi. Tanpa obrolan, kami berjalan cepat menuju pintu lift. Intan menekan-nekan kasar tombolnya.


"Ntan, tadi lu dengar suaranya juga, kan? dari arah toilet yang rusak." Bisikku.


"Sst, ngomongin itunya nanti aja.. kalau udah sampai di lantai satu." Katanya sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke depan mulut, sebagai sinyal memintaku tidak mengatakan apapun soal kejadian tadi.


Tak lama, pintu lift pun terbuka. Kami segera masuk dan berdesakan dengan beberapa pegawai yang sudah lebih dulu menaiki lift tersebut.


Sesampainya di lantai dasar, Intan pun mulai berani mengeluhkan rasa ketakutannya atas kejadian di kamar mandi.


"Tadi, lu lihat kan gue sempat ngintip ke bagian bawah pintu dan di sana enggak ada apa-apa lho, Ntan. Kosong. Bayangan aja enggak ada." Kataku berusaha meyakinkan.


"Iya, gue percaya, Ki. Dengar dari suaranya aja gue udah tahu itu bukan suara manusia. Kayak lirih, gitu Ki. Hiiiiyy, siang-siang begini udah muncul yang kayak gitu."


"Tapi, dilihat dari situasi kamar mandinya emang udah enggak enak, sih. Kayak terpencil dari ruang-ruang lain terus penerangannya juga remang, gitu." Kataku lagi.


"Iyaaa masih untung kita enggak lihat penampakannya, Ki." Sahut Intan, "...tadi si mbak yang lagi dandan aja sampai kabur gitu, berarti dia juga tahu ada yang enggak wajar sama kamar mandi itu." Percakapan kami otomatis terhenti saat sampai di ruang divisi umum. Para pegawai yang melihat kedatangan kami mulai meminta bantuan untuk membereskan pekerjaan mereka yang dianggap mudah untuk kami.


Tepat pukul 5 sore, jam kerja kami telah usai. Aku bersama dengan Intan, Aya, Hana dan juga Sarah berjalan ke luar gedung sambil menceritakan pengalaman mistisku dan Intan di kamar mandi lantai empat tadi siang.


“Hiii, seram amat, sih. Gue enggak mau ke kamar mandinya ah kalau kebagian ngantar surat ke lantai empat." Kata Aya yang bergidik ngeri. Dia memang tipe yang sangat membenci cerita-cerita mistis.


"Eh, tapi kayaknya gue inget deh, pernah ada salah satu staf yang ngerumpi di ruangan gue kalau lantai empat tuh emang agak seram. Ruang dan jumlah pegawai di sana juga enggak terlalu banyak dibanding lantai-lantai lain." Hana membuka suara, "...inget enggak, Sar sama ceritanya Bu Marni?"


Sarah mengangguk dengan antusias, "Iya, inget. Katanya ruangan-ruangan di situ kebanyakan cuma buat taruh barang-barang inventaris kebutuhan perusahaan, semacam gudang gitu lah. Makanya karyawannya juga enggak banyak. Kebanyakan pegawai yang ada di sana juga kerjanya hanya mencatat barang masuk dan update persediaan aja. Jarang ada aktivitas."


"Hmm, pantas waktu kita mengantar surat, ruangan yang kita datangi cuma diisi satu orang dan itu pun kayak buru-buru mau pergi, gitu." Kata Intan.


"Terus menurut cerita pegawai-pegawai di ruangan gue, di sana emang sering terjadi penampakan-penampakan kalau malam. Entah perempuan yang tiba-tiba lewat sekelebatan atau lift yang tiba-tiba terbuka lama di lantai itu padahal enggak ada siapa pun." Hana melanjutkan cerita yang pernah didengarnya.


"Pokoknya, jangan lagi deh kita ke kamar mandi itu, Ntan kalau enggak benar-benar terpaksa, mah." Kataku.


"Keadaan terpaksa pun mending nyari toilet lain, Ki... Enggak mau gue ke sana lagi." Timpal Intan.


Perbincangan di antara kami kemudian harus terhenti karena masing-masing dari kami harus menaiki angkot yang akan membawa kami menuju rumah masing-masing. Karena jarak rumahku yang terdekat, maka aku cukup menaiki satu kali angkot dan sampai rumah dalam kurun waktu kurang dari 30 menit.


...~Bagian Kedelapan Selesai~...