Miki'S Scary Stories (Based On True Story)

Miki'S Scary Stories (Based On True Story)
Bad Dream (Part II)



Lagi-lagi malamku yang seharusnya telah larut berubah menjadi siang hari nan terik.


Menandakan kalau saat ini aku tengah mengarungi dunia mimpi, yang entah apakah akan berujung baik atau buruk.


Di hadapanku hanya terhampar wilayah yang ditumbuhi pohon-pohon rimbun nan tinggi. Aku memilih untuk berbalik. Penampakan pemandangan di bagian belakang punggungku ternyata menumbuhkan rasa penasaran yang lebih besar. Karena, di sana terdapat bangunan yang tak asing bagiku.


Aku melihat bangunan sekolahku dengan kondisi yang lebih lusuh dan kusam. Ku hela napas panjang karena mengetahui perjalanan mimpiku lagi-lagi harus berhadapan dengan wilayah sekolah.


Sejujurnya, aku masih trauma dengan kehadiran nenek berbaju merah dan laki-laki pembawa kapak besar di mimpi sebelumnya. Namun setelah kuperhatikan sekitar, tak ada lagi bangunan lain selain area yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan rimbun.


Aku melipat kedua tangan di dada. Apa nenek itu yang membuatku kembali ke sini? Ada apa sebenarnya dengan sekolah ini sehingga aku harus berulang-ulang kembali ke sini? Dan semua pertanyaan itu tak akan terjawab kecuali aku masuk ke dalam sana. Tapi haruskah?


Tangan kiriku menggerayang lengan kanan kemudian mencubitnya keras-keras. Seperti mimpi sebelumnya, aku bisa merasakan sakit, dan tentu saja tak berhasil membangunkanku dari mimpi ini. Ini sebuah pertanda, bukan? Kalau aku tidak akan bisa ke mana-mana, kecuali masuk ke dalam bangunan lusuh itu.


Kukumpulkan adrenalin kemudian mengambil langkah ke depan. Dengan perasaan was-was kedua kakiku menapaki teras bangunan. Aku mengernyit begitu mendapati banyaknya tanah basah yang melapisi bagian atas ubin berwarna putih. Kedua kakiku berjalan dengan hati-hati menuju anak tangga yang biasa kugunakan bila ingin ke kelas.


Kulihat adanya aliran air yang mengalir turun dari atas tangga, menyebabkan genangan pada dasar lantai. Aku menoleh ke kiri dan kanan kemudian belakang, mencari kalau-kalau ada makhluk yang muncul tanpa sepengetahuanku.


Setelah yakin kondisi aman dan kosong, aku kembali bergerak menapaki satu persatu anak tangga.Keningku secara otomatis mengernyit saat melihat sudut-sudut bangunan yang menghitam, seperti habis terbakar. Tanah kecokelatan tak hanya menghiasi tiap jengkal langkahku melainkan juga pada dinding-dinding dan menambah kekusamannya.


Aku telah sampai di puncak tangga. Penampakan lantai dua itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan suasana di dunia nyata. Tak ada kelas-kelas, hanya hamparan ruang kosong dengan puing-puing kayu yang berserakan.


Genangan air terlihat di sepanjang lantai tersebut. Atap-atap pun terlihat lapuk bahkan sebagiannya menggantung hampir menyentuh lantai. Tiang-tiang kayu nampak dipaksakan berdiri untuk menyanggah bangunan ini.


Kedua kakiku kembali melangkah, bermaksud menelusuri lantai tersebut. Aku mendekati salah satu tiang kayu, yang paling besar sendiri. Di balik tiang tersebut, aku merasakan adanya kehadiran yang mengancam. Perlahan... aku mengintip, memastikan kekhawatiranku.


Begitu mendapati pemandangan di balik tiang tersebut, aku tercekat namun menahan diri untuk tidak sampai mengeluarkan suara dengan menutup mulutku dengan kedua tangan. Bulu kudukku seketika meremang akibat pemandangan yang sangat menyeramkan.


Seseorang tengah tergantung di sana. Nampak sebuah tali panjang berada di posisi tegak lurus menembus atap tengah dan melilit lehernya. Tubuhnya membelakangiku. Ia mengenakan pakaian terusan putih yang menutupi hingga kakinya. Rambutnya sepanjang punggung, acak-acakan dan kumal.


Kedua kakiku refleks mengambil langkah mundur dengan perlahan. Tanganku masih menutupi mulut. Sialnya...hal yang lebih menakutkan terjadi. Tubuh yang semula terlihat sudah terkulai lemas dengan tali melingkari leher itu kini mulai bergoyang ke kiri dan kanan. Perlahan hingga akhirnya ritme pergerakannya menjadi semakin cepat.


Aku yang sudah sangat ketakutan merasa tak bisa menggerakkan kedua kaki. Seperti ada sesuatu di belakang punggung dan menahan pundakku agar tak berbalik serta sentuhan tangan-tangan yang menahan kedua kakiku agar tak bisa bergerak menjauh.


Tubuh itu tiba-tiba berhenti bergoyang, yang justru menghadirkan rasa mencekam yang lebih besar. Aku mengambil napas dengan berat saat sosok itu mulai berputar. Menampakkan bagian depan tubuhnya yang terhias dengan darah kering. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut hitamnya yang panjang. Sungguh, aku sungguh tak kuat untuk melihat lebih dari ini! Aku ingin segera pergi dari sini!


Aku melawan sebisaku terhadap sesuatu yang seolah masih menahan tubuhku dari belakang. Bersamaan dengan sosok itu yang kini tiba-tiba bergerak menuju arahku, dan masih dengan tali yang melingkari lehernya. Aku berhasil lari meski terseok-seok untuk menghindari jangkauan kedua tangan pucatnya yang siap mengulur ke depan.


Tanpa menoleh ke belakang, aku terus berlari menuruni tangga hingga hampir tergelincir jika tangan kiriku tak berpegangan dengan tiang besi.


Aku berhasil kembali ke lantai satu dan masih terus berlari melewati ruangan yang biasa digunakan sebagai ruang praktik murid-murid jurusan perhotelan untuk memasak. Sekilas melalui ekor mata, kutemukan sosok berwujud monyet sedang duduk berjongkok di atas meja. Aku merasa kedua mata merahnya tengah menatapku.


Aku terus berlari hingga tiba-tiba sesuatu menyandung kaki kananku dan membuatku terjerembab di lantai dengan keras. Kepalaku sakit bukan main hingga rasanya tak mampu bagiku membuka kedua mata. Gelap.


Beberapa saat kemudian...


Aku merasakan kehangatan yang familiar...


Napas yang semula tersengal-sengal perlahan mulai normal...


Perlahan aku mencoba membuka kedua mata, dan refleks mengucapkan alhamdulillah saat melihat suasana sekitarku telah berubah menjadi area kamar.


Dengan perlahan, aku bangkit dari pembaringan. Kepalaku berdenyut dengan keras dan menyakitkan. "Astaghfirullah", batinku.


Aku turun dari tempat tidur. Menatap jam dinding yang baru menunjukkan pukul setengah dua pagi. Aku mengerang pelan karena merasa kesakitan ketika mencoba merenggangkan tubuh. "Lelah banget, Ya Allah," gumamku.


Kubuka pintu kamar dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus berwudu lalu kembali lagi ke dalam kamar. Untuk mengatasi rasa takut, kugelar sajadah, mengenakan mukena kemudian melaksanakan salat tahajud.


Setelah selesai salat, aku meminta pada Tuhan untuk menenangkan jiwaku yang gusar akibat terbayang-bayang sosok yang muncul dalam mimpi burukku. Tak henti-hentinya aku meminta ampun dan memohon agar diberi pertolongan berupa ketenangan batin.


"Ya Allah, sebenarnya ada tabir misteri apa di sekolahku? Kenapa akhir-akhir ini aku terus bermimpi buruk tentang bangunan itu? dan kenapa harus aku?" tanyaku dengan dua tangan menengadah ke atas. Kutangkupkan dua tangan menutupi wajahku. Mengusapnya dari atas ke bawah dengan harapan dapat mengurangi rasa pusing di kening.


"Astaghfirullahaladzim...astaghfirullahaladzim...astaghfirullahaladzim....", terus kuucapkan lafadz tersebut sebanyak 33 kali.


"Bangunan sekolahmu kotor."


Sontak aku terdiam setelah sekian lama tidak mendengar sang pemilik suara misterius. Suara yang selalu datang di kala aku membutuhkan jawaban.


"Kotor bagaimana?" tanyaku.


"Wilayah itu sudah lama sekali tidak ditempati sehingga banyak makhluk yang senang tinggal di sana. Beberapa dari mereka berenergi negatif dan suka mengganggu penghuni yang baru datang."


"Apa mimpi burukku barusan salah satu gangguan yang dibuat oleh mereka?"


"Itu hanya tanda. Tanda supaya kamu tahu makhluk-makhluk seperti apa yang tinggal di sana."


"Kenapa tanda itu harus muncul dalam mimpiku? Apa kaitannya, kenapa harus aku yang tahu?"


"Hah? Maksudnya apa?"


"Sewaktu fenomena kerasukan terjadi, bukankah tebersit di kepalamu tentang apa yang sudah membuat teman-temanmu seperti itu? ingin tahu sosoknya?"


Aku ingat, siang tadi sekolahku memang mengalami insiden yang tidak biasa. Saat jam pelajaran masih berlangsung tiba-tiba salah satu murid dari jurusan Akuntansi II berteriak-teriak tidak terkendali. Aku dan teman-teman sekelas di larang keluar ketika guru yang sedang mengajar kami akhirnya keluar untuk memeriksa situasi.


Melihat melalui jendela, aku dan teman-teman melihat satu murid perempuan digotong 6 orang murid laki-laki menuju lantai satu. Badannya mengejang dan berusaha memberontak dari pegangan 6 murid itu. Ia berteriak dan menangis tidak karuan, saat itulah kami tahu murid tersebut sedang kesurupan.


Tak lama murid itu dibawa turun, kembali terdengar jeritan memilukan dari kelas yang sama... Lagi-lagi murid perempuan yang kesuruoan.... Para murid, dan guru-guru yang sedang mengajar serta petugas sekolah berhamburan untuk menenangkan situasi. Sedangkan aku dan teman-teman tetap diminta tenang di dalam kelas sambil melakukan doa bersama.


Sayangnya, doa yang kami haturkan ternyata tidak dapat mengurangi situasi yang mencekam. Karena kini insiden kesurupan menjalar ke kelas-kelas lain, yakni Akuntansi I, Penjualan hingga Perhotelan dan korban lebih banyak didominasi perempuan.


Salah satu guru masuk ke dalam kelasku, Administrasi Perkantoran, meminta kami segera bersiap membawa barang-barang dan turun ke lantai satu. Teriakan demi teriakan emosi hingga tangisan menghiasi suasana sekolah siang itu.


Begitu kami semua sampai di lantai satu, aku melihat banyak sekali murid yang kesurupan, beberapa bahkan ada yang berlari hendak menghindari tangkapan dari petugas sekolah. Tertawa-tawa menyeringai dengan tatapan kosong, kemudian berganti menjadi tangis histeris. Beberapa ada yang melakukan tindakan ekstrem, yakni memukul hingga menggigit.


Menyadari situasi sudah sangat berbahaya, salah satu guru memerintahkan kami yang dalam kondisi baik untuk segera pulang.


Aku melihat beberapa warga yang tinggal di sekitar sekolah mulai berdatangan karena merasa penasaran dan empati dan ikut membantu para guru dan petugas sekolah. Setelah itu, aku tidak tahu lagi kelanjutannya.


"Jadi, maksudmu sosok-sosok yang muncul dalam mimpiku tadi adalah sosok-sosok yang merasuki teman-temanku?"


"Tidak semua. Hanya yang usil."


"Lalu, apa yang seharusnya pihak sekolah lakukan untuk menghentikan gangguan-gangguan itu?"


"Doakan. Selama kalian datang, tak ada satupun yang mengucap salam dan doa dengan benar supaya aura negatif bangunan itu berkurang. Tidak perlu dengan tujuan mengusir tapi buatlah tempat itu jadi terang dan damai dengan doa. Sehingga makhluk-makhluk negatif di sana pun pergi dengan sendirinya."


"Aku harus mengatakan itu semua? Apa pihak sekolahku akan percaya?"


"Keputusan ada di tanganmu. Kau sudah menemukan jawabannya."


"Apa kalau bangunan tidak kunjung didoakan, gangguan seperti ini akan terus datang?"


Hening. Suara itu sudah pergi. Aku menghela napas kesal karena merasa ditinggalkan ketika aku belum puas bertanya. Namun menyadari rasa kesalku tak akan membuat suara itu datang kembali, aku memilih kembali mengucap istigfar dan melanjutkan doa-doa seraya mengucap terima kasih karena bagaimana pun sekali lagi Tuhan membantuku menemukan jawaban atas kegusaranku.


...***...


Keesokan paginya kulihat beberapa petugas PLN berlalu lalang di sekitar teras sekolahku bersama dengan guru biologi, Pak Gio, dan Bu Retno. Melihat gerak geriknya, nampaknya sekolah kami akan mulai terjangkau aliran listrik.


Setelah itu kulihat guru biologi dan kepala sekolahku bergerak memisahkan diri dari salah satu petugas PLN. Aku yang sedang berjalan pelan di belakang keduanya mampu mendengarkan perbincangan mereka.


"Nanti malam ikut saya stay di sini, ya Pak. Akan ada acara pengajian bersama dengan warga sekitar untuk mendoakan bangunan sekolah supaya menghilangkan gangguan-gangguan gaib selama ini," ujar bu Retno.


"Siap, Bu," jawab Pak Gio.


Keduanya kemudian berbelok menuju ruang guru. Aku menghela napas lega begitu mendengar rencana mereka. Rupanya, apa yang dibilang suara misterius semalam benar. Pihak sekolahku belum mendoakan bangunan ini secara benar. Yang lebih melegakan lagi adalah bahwa aku tak perlu mendatangi dan memberitahu pihak sekolah mengenai pembacaan doa untuk sekolahku.


"Alhamdulillah, Allah kembali mempermudah urusanku," gumamku. Semoga setelah pengajian nanti malam, benar-benar dapat mengurangi gangguan-gangguan gaib yang selama ini terjadi di sekolah. Aamiin.


Sesampainya di kelas, aku mendapati teman-teman sedang berkumpul di satu meja salah satu murid bernama Inggid. Aku bertanya pada Aya mengenai perkumpulan itu.


"Itu... pada ngomongin soal kesurupan masal kemaren." Jelas Aya yang sudah tahu lebih dulu.


"Ooh, kenapa emang Ay?"


"Katanya awal mula kesurupan itu karena ada salah satu penunggu di toilet perempuan enggak terima tempatnya dikotori sama pembalut yang masih ada darahnya."


"Waduh, lagi-lagi masih ada aja murid perempuan yang jorok kayak gitu. Terus ketahuan siapa pemilik pembalut itu?"


Aya mengangguk, "Iya, pembalutnya punya si murid perempuan yang pertama kali kesurupan itu, Ki... dari Akuntansi II. Dia lagi dapet, terus ganti pembalut. Tapi pembalut yang kotor enggak dicuci dulu langsung dibuang di pojokan WC. Jadilah setannya enggak terima."


"Tapi, si murid itu enggak apa-apa sekarang?"


"Enggak apa-apa sih, katanya udah masuk juga. Yang kasihan justru teman sebangkunya yang enggak tahu apa-apa."


"Kenapa emang?"


"Iya, pas murid itu kesurupan, kepala teman sebangkunya dijedotin ke atas meja. Tapi, untungnya enggak luka parah."


"Wew, sadis amat itu setan. Sensinya sama siapa, yang kena getahnya siapa. Yaaa ini jadi pertanda kita juga, buat jaga kebersihan dan enggak asal buang sampah apalagi pembalut kotor di kamar mandi. Demi menghormati penghuni lama yang udah terlanjur ada dan demi kebaikan kita juga."


Aya mengangguk setuju. Tak lama bel tanda mulai pelajaran pun berbunyi, mengakhiri sesi obrolanku dan teman-teman sekelas.


...~Bagian Ketujuh Selesai~...