
Kini, aku tengah terpana dengan wilayah sekitarku yang tergenang air seperti sedang dilanda banjir. Cuaca sudah malam dan sekelilingku tak nampak manusia satu pun. Aku pun tak mengharapkan dapat melihat sosok yang sama denganku karena aku tahu dunia ini bukan dunia manusia, melainkan dunia mimpi.
Aku merasa yakin ini dunia mimpi, karena beberapa saat lalu seharusnya aku sudah ada di kamar dan berbaring di atas tempat tidur serta memejamkan kedua mata dengan nyenyak.
"Brrr." Aku memeluk dua lengan dengan tangan. Semakin lama di sini, aku mulai merasakan kedinginan. Aku pun memilih bergerak maju dan merasakan pergerakan air di setiap langkahku. Ini mimpi yang terasa sangat nyata.
Tak lama, dari arah belakang aku merasakan ada pergerakan lain. Suara itu terdengar dari suara cipakan air dan gelombang yang semakin besar dan bergerak secara tak beraturan. Aku menoleh ke belakang.
Beberapa langkah di belakang, aku melihat beberapa orang sedang bergerak mendekatiku dengan wajah was-was. Dua laki-laki dewasa, satu perempuan dewasa, satu gadis kecil dan adik laki-lakinya yang digendong oleh salah satu laki-laki dewasa, yang nampaknya ada Ayahnya. Kulitnya yang putih, bola mata biru dan warna rambut yang pirang secara alami menandakan mereka bukan dari kebangsaan Indonesia.
"Run! Run!" teriak laki-laki dewasa yang wajahnya lebih muda padaku begitu berpapasan.
"What's happened?" Aku bertanya seraya mengikuti pergerakan mereka.
"Someones trying to catch us. A bad man."
"He wants to kills us."
Orang-orang berkebangsaan beda negara itu bicara secara bergantian.
"But why he wants to kill you? What have you done?" tanyaku lagi. Diam-diam aku merasa bangga bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan lancar. Tak sia-sia juga aku mendengarkan beragam lagu dan menonton film berbahasa Inggris.
"We don't know. Hes only running after us and wants to hurt us by using his axe."
"Okay, that's scary but also weird." Balasku.
Pelarian kami berhenti di sebuah rumah misterius. Salah satu dari orang-orang asing itu membuka pintu dengan mudahnya, seolah itu adalah rumah mereka sendiri. Tangan kananku ditarik paksa oleh sang perempuan dewasa hingga masuk ke dalam. Laki-laki dewasa yang wajahnya terlihat lebih muda dibanding laki-laki yang menggendong anak kecil mulai bergerak ke sana dan sini serta menarik benda-benda yang ada di sekitarnya. Lemari berisi piring dan gelas, kemudian sofa serta yang terakhir adalah meja. Semua benda berat diletakkannya untuk menahan pintu rumah.
Bug! Bug!
Tiba-tiba sesuatu yang berat menghantam pintu dari luar. Perempuan asing itu kembali menarik lenganku agar menjauh dari pintu.
"He's still chasing us!" seruku dan mulai ketakutan.
Kenapa aku juga harus terlibat dalam mimpi buruk ini? Bukankah korban yang diinginkan tokoh jahat itu adalah orang-orang asing ini? Namun, entah kenapa aku juga tak berani jika bertahan dan berhadapan oleh sang pengejar seraya menjelaskan kalau bukan aku yang diincarnya.
"We know that. He is a psychopath," jawab laki-laki yang lebih muda.
"Mommy, I'm scared...are we gonna die?" tanya bocah perempuan yang sejak tadi diam dan menurut ke mana pun langkah orang tuanya pergi.
"No, we will be safe. Trust me. You are with me. I will protect you and your little brother. Just keep moving, okay?" Ibunya berusaha menenangkan.
"He is a monster. He has an axe and really wants to kill us! I dont wanna die, Daddy." Kini bocah laki-laki lah yang mulai merengek ketakutan.
"No one will die, Son. Keep my words," jawab sang Ayah, "...we have to go, come on!" serunya. Ia memilih masuk ke dalam satu kamar. Menutup dan mengunci pintunya. Semua orang menuruti langkahnya termasuk aku meski dilanda kebingungan. Pikirku, apa gunanya memasuki sebuah kamar, bukankah itu sama saja dengan memasuki jalan buntu?
Rupa-rupanya ruangan yang kami masuki bukanlah sekadar ruangan biasa. Sebuah lorong gelap tersaji menambah kengerian dalam hatiku. Lantai yang basah akibat air yang ikut masuk dari luar rumah menambah kesan mencurigakan atas jalan gelap itu. Orang-orang asing itu terus bergerak maju dan saling berpegang satu sama lain agar tak terpisah.
Kami berjalan menuju cahaya putih yang memendar di ujung lorong dan berharap itu adalah jalan keluar yang bisa membuat kami terbebas dari situasi mencekam ini.
"Bug! Bug!" suara hantaman kembali terdengar dan kali ini nampaknya datang dari arah pintu kamar yang kami masuki.
"Oh no, it seems he's already came in the house, Honey." Ucap sang perempuan dewasa.
"We should run faster. Go go go!" perintah sang suami.
Pergerakan kami yang lebih cepat akhirnya membawa kami sampai ke ujung lorong. Kami keluar melalui cahaya putih itu dan berpindah ke tempat asing lainnya.
Aku terperanjat saat mengetahui area yang kami datangi selanjutnya merupakan tempat yang sangat kukenal, yaitu sebuah bangunan dari SEKOLAHKU !
Kami terus bergerak maju. Melintasi lorong sekolah menuju area gerbang.
"Berhenti di sana!" suara bentakan tercampur rasa geram terdengar dari arah belakang kami dan entah bagaimana menimbulkan efek gema pada ruangan yang tidak sepenuhnya tertutup.
Begitu aku menoleh untuk mencari tahu, dari arah kedatangan kami telah muncul sosok laki-laki berbadan tinggi dan besar. Ia berpakaian serba hitam dan memakai topeng yang menutupi wajah serta kepalanya. Namun aku masih bisa membayangkan betapa bengisnya laki-laki itu. Dari lubang mata hanya terdapat sorot mata berwarna merah yang terlihat marah.
"Jika kamu pergi lebih jauh lagi, maka kapak ini akan kulemparkan dan menghancurkan kepalamu dengan mudah."
"Don't look and hear him, just move!" perintah laki-laki yang masih menggendong anak laki-lakinya. Aku berlari dalam kebingungan akibat penggunaan bahasa Indonesia yang diucapkan si tokoh jahat.
Saat sedikit lagi kami sampai di ujung lorong, tiba-tiba dari celah menuju anak tangga muncul sesosok nenek berbaju merah dengan rambut berwarna kuning bergerak melebarkan dua lengannya seolah menghalangi kami agar tidak pergi lebih jauh.
"Kalian tidak boleh pergi lebih jauh lagi." Ujarnya.
Setelah diancam demikian, nenek dengan senyum menyeramkan itu justru di dorong dengan kasar oleh laki-laki dewasa yang berjuang keras melindungi keluarganya. Terjadilah aksi tarik menarik antara sang nenek dan perempuan asing. Sang tokoh jahat berbaju hitam sudah semakin dekat jaraknya.
Sang nenek kembali didorong lebih keras, kemudian kami semua masuk kembali ke dalam sebuah ruangan berpintu yang ada di sisi kiri. Sempat terjadi aksi dorong mendorong meski akhirnya pintu berhasil ditutup dari dalam dan dikunci. Sebuah meja belajar ditarik untuk menahan getaran pintu yang hendak didobrak dari luar.
Aku memandang ke sekeliling ruang yang ternyata berupa kamar. Ada lemari pakaian dan sebuah tempat tidur. Padahal jika di dunia nyata, ruangan di sekolahku ini digunakan sebagai ruang salat. Aku bingung sekali dengan semua kejadian ini. Aku tahu, sangat tahu kalau ini semua adalah mimpi, tapi kenapa terasa begitu melelahkan dan nyata sekali?
Tunggu! Benar, ini adalah mimpi. Aku hanya tinggal bangun untuk pergi dari situasi menyeramkan seperti ini. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi?!
Aku berpikir akan mencubit lenganku sekuat tenaga agar bisa membuatku terbangun. Aku tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak, namun dari semua artikel yang kubaca tentang cara bangun dari mimpi salah satu caranya adalah dengan mencubit diri sendiri dan tentu rasanya tidak akan sakit.
Aku menggerakan tangan kiriku. Membentuk jari-jarinya menjadi serupa capit. Kucubit kuat-kuat kulitku.
"Aargh!" Aku mengerang.
Sial kenapa aku bisa merasakan sakit?! Ini mimpi, kan?! Dan kenapa, aku tak bisa terbangun?
Saat masih dirundung kebingungan hebat, sebuah tangan lagi-lagi menarik lenganku. Aku mencari si pelaku dan ternyata orang yang sama yaitu sang perempuan yang sebenarnya adalah Ibu dari dua bocah asing itu. Aku disuruhnya masuk ke dalam kolong tempat tidur, membuatkj benar-benar bingung dengan perlakuannya ini. Apa faedahnya masuk ke kolong tempat tidur bersama-sama saat ada dua musuh di luar yang hendak memaksa masuk? Mimpi ini sudah menjadi semakin aneh dan aku benar-benar ingin keluar dari sini.
"Why do we hide here? They will find us easily. We should go out from here," keluhku.
"It's ok, keep quiet." Jawab sang perempuan. Pikirku semua orang di sini sudah mulai gila dan aku benar-benar harus segera keluar kemudian meninggalkan mereka. Aku tidak ada hubungannya dengan kegiatan tangkap menangkap ini.
Aku melihat satu persatu dari mereka yang justru terlelap tidur. Ini sungguh gila? Mereka tidak waras, dan kalau terlalu lama bersama mereka, maka aku juga akan ikut tidak waras. Aku yang sudah ditarik ke dalam kolong tempat tidur bergerak perlahan hendak keluar. Aku sama sekali tak berniat membangunkan mereka, karena bertekad ingin menyelamatkan diriku sendiri.
Drrrrtttttt drrrrrtttttt.
Aku terdiam begitu mendengar suara yang mencurigakan. Suaranya seperti sebuah gergaji mesin yang sedang dinyalakan dan digesekkan ke suatu benda. Apa nenek dan laki-laki yang berpakaian layaknya algojo itu tengah melakukan sesuatu di luar? Apa mereka menggunakan sebuah mesin untuk membuka pintu kamar ini? Jika benar, maka aku harus bergerak cepat untuk pergi. Tapi, di mana jalan keluarnya? Di ruangan ini tak ada pintu lain, kecuali ada sebuah ventilasi seukuran badanku di atas. Untuk menggapainya aku perlu sebuah benda yang bisa membantuku memanjat. Aku melihat sebuah lemari berukuran sedang, yang tak sempat ditarik oleh orang-orang asing tadi untuk menghalau pintu.
Aku menariknya perlahan hingga menempel pada dinding di bawah ventilasi.
Drrttttt drrrttttt. Suara mesin itu terdengar semakin menderu dan terasa dekat. Dinding yang menyatu dengan tempat tidur terlihat bergetar. Ada sesuatu yang besar hendak menggerusnya. Tunggu, tidak mungkin orang-orang jahat di luar itu berusaha menjebol dinding, kan? Kenapa harus dinding jika ada pintu yang lebih mudah?
Ah, aku tidak peduli lagi dengan segala pertanyaan dan analisa dalam kepalaku. Aku melanjutkan aksi memanjatku.
Brrrrrrrrrttttt
Terpaksa, aku turun lagi dari puncak lemari, hendak menarik orang-orang asing yang ada di bawahnya. Pertama sang ibu yang kutarik dan ia kaget dengan perlakuanku yang kasar.
"What are you doing? Can't you just let us take some rest?" Aku sedikit kaget ketika mendengarnya mengomel.
"I can't! If that thing is going to separate your body." Jawabku seraya melanjutkan melakukan penarikan anak-anak dari bawah tempat tidur.
Ketika perempuan itu menyadari perkataanku, ia tercekat kemudian ikut membantuku mengeluarkan orang-orang yang bisa-bisanya tak mendengar suara mesin menyeramkan itu karena tidur terlalu nyenyak.
Tinggal satu orang lagi yang belum kukeluarkan yaitu saudara dari sang Ayah. Menarik mereka satu persatu sungguh menghabiskan banyak tenaga, karena tubuh mereka yang cukup berat.
Berlomba waktu dengan mesin yang sudah sangat dekat dengan tubuhnya, aku berusaha membangunkannya dengan segala cara seraya menariknya dibantu dengan sang Ayah.
Sayangnya, tubuhnya ternyata lebih berat dari yang kuperkirakan. Hingga, akhirnya aku kalah cepat dan benda bergigi tajam itu menggerus permukaan perut laki-laki itu.
Ia terbangun dengan suara erang kesakitan, meski begitu kami berhasil menariknya menjauh. Darah mengucur deras dari lukanya. Meski kutahu ini hanya bagian dari mimpi, tapi semua hal yang terjadi terasa amat nyata termasuk rasa lelah hingga kesakitan yang kini bisa kurasakan.
Orang-orang asing di sekelilingku panik luar biasa ketika dinding telah jebol seutuhnya termasuk pintu yang tiba-tiba jatuh dengan mudahnya. Sang nenek berbaju merah dan laki-laki menyeramkan itu masuk dengan membawa kapak besarnya. Berusaha menggapai tubuh kami dengan masing-masing tangannya, dan tentu saja itu tidaklah cukup. Aku berhasil lolos dari jangkauan tangannya dan pergi keluar.
Aku sempat menoleh ke belakang dan melihat nampaknya orang-orang asing itu juga mampu menghindar setelah sang Ayah melawan dengan sekuat tenaga. Mereka lari tunggang langgang tak tentu arah dan tak satu pun dari mereka berlari menghampiriku, membuatku bersyukur karena hal itu. Satu-satunya hal yang kali ini sangat menyebalkan untukku adalah sang nenek berbaju merah itu memilih untuk mengejarku!
Langkahku menyerbu ke arah timur, menuju pintu gerbang. Dari arah belakang aku mendengar sang nenek berteriak-teriak memintaku berhenti dan mengatakan aku tak akan diizinkan pergi.
Kedua kakiku berhasil menjangkau area luar gerbang kemudian kusempatkan diri untuk menengok sudah sejauh mana nenek itu mengejar. Jantungku berdegup sangat cepat ketika tahu dia tak lagi sendirian melainkan didampingi dua laki-laki bertampang bengis yang juga mengejarku. Nampaknya mereka adalah anak buah sang nenek dan jarak mereka tidaklah jauh dariku.
Aku terus berlari hingga memasuki sebuah area yang ditumbuhi rerumputan tinggi. Memasuki area seperti ini tentu saja membawa keberuntungan dan juga kesulitan. Aku mungkin bisa menyaru dan orang-orang itu akan kesulitan menjangkauku, sedangkan kerugiannya adalah rumput-rumput liar nan tinggi ini juga menghambat pergerakanku.
"Teruslah lari, kamu akan temukan pusara putih dan masuklah ke dalamnya." Suara misterius itu kembali muncul di tengah-tengah rasa keputusasaanku.
"Kenapa baru sekarang munculnya?" keluhku. Suara itu tak menjawab, dan aku memilih mengikuti arahannya untuk menemukan pusara tersebut.
Setelah berpuluh-puluh langkah, akhirnya aku berhasil keluar dari area rerumputan dan berhasil menemukan pusara putih yang tengah berputar-putar memendarkan cahaya dari dalam.
"Jangan biarkan ia masuk ke sana. Tangkap, cepat! aku akan menghukum kalian jika gagal." Suara sang nenek kembali terlintas dalam telingaku namun aku tak berminat menoleh lagi demi sekadar tahu sudah sedekat apa orang-orang yang mengejarku.
Aku masuk ke dalam pusara tersebut, kemudian sekelilingku pun berubah menjadi putih. Aku tak menemukan warna apapun dan tubuhku terasa terombang-ambing bagaikan terhantam ombak laut, hingga beberapa saat kemudian berubah jadi hitam. Aku seperti kehilangan kesadaran sampai-sampai tak mampu lagi membedakan apakah aku sedang membuka atau menutup mata.
Tak lama, aku terlepas dari semua hal berwarna hitam. Kedua mataku terbuka dan menemukan benda-benda yang familiar. Tempat tidur, bantal, guling, lemari pakaian, meja belajar, radio, rak buku, dinding hingga atap, pemandangan ini adalah pemandangan dalam kamarku.
Aku akhirnya menyadari kalau sudah terbangun dari alam mimpi yang menyeramkan. Segera, kupeluk guling dengan erat seolah melepas rasa rindu karena lama tak bercengkrama.
Ditengah-tengah pelepasan rindu, pintu kamarku tiba-tiba terbuka dan muncul wajah Papaku. "Salat dan mandi, Miki udah jam 5." Ia mengingatkan.
"Iya, Pa." Jawabku seraya berdiri dan pergi menuju kamar mandi.
...***...
Sesampainya di kelas, aku menemukan teman-temanku sudah datang dan sedang asyik berkumpul dan mengobrol di area meja belajarku. Seraya meletakkan tas, aku berusaha menguping topik yang tengah mereka bicarakan supaya mudah bergabung. Rupanya mereka sedang membicarakan hal-hal horror dan mimpi seram yang pernah mereka alami.
Tentu saja ini obrolan bagus bagiku yang baru semalam dihantui mimpi buruk. Teman-temanku menyimak dengan serius ketika aku mulai bercerita. Ekspresi mereka menunjukkan ketakutan dan kekhawatiran mengetahui betapa terasa nyatanya mimpi yang kualami.
"Coba deh, Ki nanti gue ceritain mimpi lu ke kakak gue. Kakak gue bisa menerawang cerita orang dan nentuin itu benar atau enggak," tawar Intan.
"Wah boleh, tuh gue juga penasaran sebenarnya sosok nenek dan laki-laki yang bawa kapak itu benar ada atau enggak. Soalnya gue ketemu mereka, kan di sekolah ini. Latarnya di sini." Kataku.
"Iya, besok gue kabari, deh." Jawab Intan.
"Tapi, ini sekolah emang horor deh udah berapa kali tuh kejadian kerasukan masal dan katanya yang paling angker itu ya area kamar mandi." Kata Aya.
"Iya, bikin enggak nyaman deh belajar di sini." susul Raissa.
"Dan lu masih inget enggak, sih Ki sosok yang kita lihat bareng, yang di luar jendela. Serem banget, kan." Kata Amel.
"Tentu aja inget, Mel.. itu sosok nyeremin, dan enggak mungkin bisa gue lupain." Jawabku.
Obrolan kami terus berlanjut di seputar hal-hal horor hingga jam pelajaran dibunyikan. Masing-masing dari kami segera menempati tempat duduk dan dengan tenang menanti kedatangan sang guru yang dari luar jendela terlihat berjalan hendak memasuki kelas.
...***...
Keesokan paginya, aku kembali menemukan Intan dan Raissa sudah mendatangi wilayah dudukku. Kedatanganku kebetulan bersamaan dengan Amel dan Sari. Kami bertemu di luar gerbang sekolah dan akhirnya berjalan bersama menuju kelas.
"Weiz, udah pada ngumpul aja kalian." Ujarku seraya meminta izin pada Aya agar bisa menduduki kursiku yang ada di bagian pojok.
"Kalian kok bisa barengan?" Raissa justru melemparkan pertanyaan dan mengabaikan pernyataanku barusan.
"Tadi ketemu di luar gerbang," jawab Amel, "...ada topik baru apa, nih yang bikin kalian udah ngerumpi di sini?" tanyanya.
"Gue lagi bahas soal mimpi Mai kemarin sama Aya." Jawab Intan.
"Oh ya? Udah nanya ke kakak lu?" tanyaku yang sangat penasaran.
"Udah, dan dia coba terawang arti mimpi lu kemarin."
"Terus, apa katanya?" kataku lagi. Kini bukan hanya aku yang penasaran melainkan Amel, dan Sari turut merasakan hal yang sama denganku.
Katanya, mimpi lu itu semacam petunjuk soal wujud-wujud tak kasat mata yang menghuni sekolah ini, Ki." Terang Intan dengan ekspresi serius.
Beneran? Waduh, mereka seram banget, lho. Aku merespons.
"Iya, menurut penglihatan kakak gue, nenek dan sosok laki-laki besar yang memegang kapak itu ada ikatan yang cukup kuat. Ibarat nenek dengan cucunya. Cuma kakak gue enggak tahu alasan mereka masuk ke dalam mimpi lu dan sejauh ini kakak gue cuma bisa menduga, kalau mereka mau memperkenalkan diri sama lu." Intan menjelaskan lebih jauh.
Aku terhenyak sesaat. Mendengar penjelasan Intan, terasa agak kurang bisa kuterima. Kebengisan yang kulihat dari mata mereka dan tindakannya yang sangat ingin menangkapku, menunjukkan mereka tak sekadar ingin memperkenalkan diri tapi ada hal yang mereka inginkan dariku.
"Terus, Ntan kakak lu bilang apa soal bule-bule yang juga ada di mimpi gue dan kejadian berdarah yang menimpa mereka?" tanyaku lebih lanjut.
"Nah, yang bagian itu kakak gue juga masih belum paham. Dia cuma dapat semacam petunjuk soal hubungan yang terjalin antara nenek dan laki-laki pemegang kapak itu."
"Oh, gitu." Aku mengangguk-angguk pelan. Rupanya harapanku untuk mengetahui secara detail soal kemunculan sosok-sosok dalam mimpi kemarin malam tidak terwujud. Masih banyak misteri yang belum terungkap. Aku masih bisa menerima soal hubungan nenek berbaju merah dengan laki-laki pemegang kapak itu, tapi rasa penasaranku sangatlah besar mengenai alasan keduanya yang ingin menangkap bahkan menyakitiku beserta 5 orang asing lainnya.
"Kalau kata kakak gue, lu enggak perlu mikirin soal bunga tidur itu selama artinya enggak jelas, Ki."
Aku terdiam mendengar masukannya. Jika saja mimpi itu tidak terasa nyata untukku, sampai-sampai aku bisa merasakan cubitanku sendiri. Jika saja mimpi itu tidak memiliki alur cerita yang begitu rapi dan meyakinkan. Jika saja sebuah suara misterius yang menunjukkan jalan keluar untukku keluar dari mimpi itu tidak muncul. Mungkin sekarang aku tidak akan bersikukuh kalau mimpi panjang itu hanya sekadar bunga tidur biasa.
Namun apalah daya, aku memang tidak pintar merumuskan makna sebuah mimpi. Sehingga untuk saat ini, kupasrahkan diri menelan bulat-bulat pernyataan untuk percaya saja kalau mimpi semalam hanyalah bunga tidur yang kebetulan sangatlah buruk, dan menyerahkan semua kebenarannya hanya pada Allah SWT. Wallahu Alam Bishawab.
......~Bagian 5 Selesai~......