
Kami menunggu respons Intan dan Raissa, hingga muncullah suara gaduh dari arah lorong. Suara-suara langkah kaki yang tengah berlari menuju tempat kami berdiri.
"Pasti si Intan sama Raissa, tuh." Aku menduga dengan yakin.
"Kalau ternyata bukan, gimana Ki?" Tak disangka-sangka Aya justru melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat bulu kudukku berdiri. Pertanyaannya sungguh tidak cocok dengan situasi dan tempat kami saat ini.
Aku menatap penuh pertanyaan dan menuntut jawaban atas alasan Aya mengutarakan pernyataan barusan. Namun yang ditatap ikut diam dan mulai ikut ketakutan. Entah akibat takut dengan suara-suara langkah yang semakin mendekat, atau takut karena ditatap lama olehku.
Kami menoleh secara bersamaan ke dalam kegelapan lorong. Berpegangan tangan menanti kemunculan sang pemilik langkah gaduh tersebut. Awalnya hanya samar-samar hingga akhirnya dengan jelas kami bisa melihat kemunculan Intan dan Raissa. Ketika sudah mencapai posisi kami, mereka meraih lenganku dan Aya, memaksa kami menjauhi lorong seolah ada sesuatu yang mengejar mereka dari belakang.
Akhirnya, kami kembali ke titik pertama di mana pintu kaca tidak terkunci. Masing-masing dari kami berusaha mengatur napas yang tersengal, terlebih Intan dan Raissa. Keduanya bahkan sampai terduduk lemas.
"Kalian ngapain sih lari-larian, kayak lagi dikejar sesuatu atau... jangan-jangan abis lihat sesuatu, ya?" Cecarku.
Intan memandangiku sambil menyeka keringat yang memenuhi kening dan leher dengan punggung tangan kanannya. "Tadi gue sama Raissa... enggak sengaja masuk...ke...," ucapannya kembali terputus-putus.
"Ruang mayat." Raissa meneruskan perkataan Intan.
"Hah?!!" Aku dan Aya sama-sama terkejut.
"Yang benar lu? Ada ruang mayat di lantai ini?" Aku mulai heboh. Intan dan Raissa membalas dengan anggukan penuh keyakinan.
"Lu enggak salah lihat? Beneran mayat? Badan yang ditutupin kain-kain, gitu?" tanya Aya yang tak kalah heboh denganku.
"Walaupun enggak lihat langsung, beneran mayat atau bukan tapi gue sama Raissa masuk ke dalam satu ruangan yang isinya kasur-kasur yang dijejerin dan ditutup sama kain putih, gitu. Nah dari bagian yang ditutupi kain putih itu kelihatan menonjol ke atas, kayak badan manusia diselimutin." Intan yang mulai bisa mengontrol napasnya kembali menerangkan.
"Iya, dan karena syok, udah mikir yang enggak-enggak, kita langsung lari aja." Kata Raissa.
Aku mengaduh pelan. Perasaanku makin tak karuan dengan lantai ini. Aku ingin sekali segera turun ke lantai satu.
"Lu udah dapat informasi lagi belum dari Amel? Kok ibunya masih belum kelihatan juga?" Tanyaku.
"Belum. Gue telepon lagi deh nih." Intan mengambil ponsel dari dalam sakunya. "Eh, Amel ngirim SMS, nih."
"Coba dibaca." Suruh Raissa.
"Dia malah nanya, kok kita enggak ada di lantai empat. Nyokapnya udah dua kali keluar nyariin, tapi enggak lihat ada kita." Intan berujar sambil menatapku, Aya dan Raissa. "Amel juga bilang kalau dia udah sampai."
"Tuh, kan udah pasti nih kita salah lantai, Ntan. Mending balik lagi aja deh ke lantai satu, dan minta ibunya turun." Kataku.
"Ya udah ya udah, kita keluar." Kata Intan sambil berdiri dibantu oleh Raissa.
Aku mendekati pintu kaca, meraih gagangnya kemudian menariknya.
Krek!
Aku terpaku mendapati pintu yang tak bergeming.
Krek! Krek! Krek!
Berkali-kali kucoba tarik, kemudian kudorong, hasilnya tetap sama, pintu tak mau terbuka.
"Guys, ini pintunya benar enggak ya? Pintu yang enggak terkunci tadi? "Kataku, khawatir telah salah pintu karena masih banyak pintu-pintu kaca lainnya.
"Harusnya udah benar, kok. Kan pintunya dekat sama ruangan ini." Kata Intan sambil menunjuk ke arah ruangan kecil berisikan lemari es dan toilet yang rusak.
Aku pun mengangguk setuju karena memang masih ingat betul di mana letak pintunya, tapi kenyataannya pintu tersebut tak mau terbuka.
Intan menarik pintu tersebut. Hal yang sama terjadi juga dengannya. Tak ada gerakan yang terjadi pada pintu kaca tersebut. "Kok bisa begini?" tanyanya.
Aku berinisiatif mengecek satu persatu pintu kaca yang berjajar. Hanya ingin memastikan kalau kami tak salah memilih. Namun setelah kucek, semua pintu dalam kondisi yang sama, TERKUNCI.
"Semua pintunya enggak bisa dibuka, Ntan. Kok aneh banget, deh." Aku melapor.
"Jangan-jangan selama kita berpencar tadi, ada orang yang naik terus mengunci pintu ini." Raissa menduga-duga, menambah rasa panik di antara kami.
“Waduh, terus gimana dong? Masa kita terjebak di sini." Kata Aya.
"Itu di gedung seberang, kan banyak orang, kita teriak aja, deh minta tolong." Usul Raissa yang terlihat jelas mulai ketakutan.
"Iya iya benar! Pasti mereka bisa turun dan nolong kita." Susul Aya.
“Guys, tenang duluuu, jangan panik." Pinta Intan, menahan pergerakan kedua temannya. "Pasti ada cara lain buat keluar dari sini, dan lagi daripada teriak-teriak mending minta Amel keluar nyari kita kan, bareng sama petugas."
"Tapi, nyokapnya aja beberapa kali keluar enggak lihat kita, Ntan. Gimana Amel mau cari kita?" Tanya Aya.
"Tentu bisa, kan ada CCTV. Pokoknya sekarang kita tenang dulu. Gue hubungi si Amel." Kata Intan yang kembali mengeluarkan ponselnya. "Oh ****!!!"
"Kenapa, Ntan?" Tanya Raissa yang kaget dengan umpatan Intan.
"Sinyalnya hilang."
"Lha, kok bisa? Ini kan area luar, Ntan kok bisa enggak ada sinyal?" Tanya Aya.
"Duh, enggak tahu nih. Gue coba restart, deh." Kata Intan.
Sambil mendengarkan percakapan ketiga temanku, aku melihat-lihat ke area bawah gedung dan perasaan sesal datang saat mendapati pemandangan yang kurang mengenakan di situasi yang tidak tepat.
Sebuah mobil ambulans terparkir, dan dibelakangnya terdapat peti mati yang dibawa dengan troli khusus. Peti itu dihiasi bunga-bunga dan dikelilingi orang-orang yang sedang menangis, nampaknya mereka adalah keluarga dari si mayat yang ada di dalam. Seketika aku kembali merinding.
Aku mengubah posisi dan memandangi teman-temanku yang masih sibuk dengan ponsel Intan. Menunggu dirinya menelepon Amel. Bukannya aku tidak mau membantu dengan ponselku, tapi pulsa terakhirku baru saja habis dipakai ketika mengabari Aya kalau aku sudah sampai di gerbang depan rumah sakit. Sedangkan ponsel Aya mati karena kehabisan daya baterai dan Raissa, kondisi ponselnya sama seperti Intan, sulit mendapatkan sinyal sejak memasuki kawasan rumah sakit.
"Eh, tadi pas mau buka pintunya, pakai bismillah, enggak?" Tanya Aya secara tiba-tiba.
"Emang ada hubungannya?" Intan balik bertanya.
"Ya kali aja, setelah pakai bismillah, pintunya terbuka." Aya melangkah mendekati pintu, dan meletakkan tangannya pada gagang pintu tersebut, “...bismillahirrahmanirrahim...." Ketika Aya berusaha membuka pintu tersebut, diam-diam aku ikut berdoa supaya pintu itu bisa terbuka.
Kriet...
Mata kami membelalak saat melihat dengan mudahnya pintu itu terbuka di tangan Aya.
"Tuh, kan...benar dugaan gue, baca bismillah dulu." Kata Aya dengan suara agak gemetar, nampaknya dirinya juga tak menyangka kalau dirinya bisa membuka pintu tersebut.
"Jangan-jangan pintu itu emang cuma bisa dibuka sama lu, Ay makanya pas Intan atau gue yang mau buka, enggak bisa. Kan yang pertama kali buka pintu itu juga elu." Kataku yang masih takjub.
"Ya udahlah, yang penting udah terbuka. Ayo pada masuk dan turun." Ajak Raissa.
Saat kami baru akan masuk, ponsel Intan tiba-tiba berdering. Ia mengangkatnya dan kata-kata yang kami dengar hanya, 'Oh gitu. Oke. Ya udah, kita tunggu.' Membuat kami penasaran dengan siapa Intan bicara.
“Guys, barusan Amel yang telepon. Katanya kita disuruh nunggu sebentar lagi. Nyokapnya mau keluar lagi, nemuin kita.
"Lah, bukannya tadi Nyokapnya udah keluar dan enggak bisa nemuin kita? Udah jelas, kita nih salah lantai, Ntan." Kataku dengan tegas.
"Yah, gue udah bilang mau tunggu sama Amel. Coba sebentar lagi, deh. Kalau enggak nongol juga, kita turun." Kata Intan.
"Ya udah, kita tunggu sebentar di sini." Jawab Raissa dengan ketua dan sudah menduduki salah satu kursi tunggu.
Intan memilih berjalan-jalan ke sekitar meja informasi dan lorong dekat tangga ditemani Aya. Aku dan Raissa duduk menunggu tanpa obrolan. Kedua mataku menangkap keberadaan televisi berukuran 24 inch terpasang di atas lift dan dalam keadaan mati.
"Gue baru ngeh kalau di atas ada TV." Kataku pada Raissa, bermaksud memecah keheningan.
"Wah iya ya." Balasnya. "Eh si Intan sama Aya ke mana, sih? Pada jauh-jauh amat jalannya."
"Tahu, tuh..." Balasku seadanya, karena sejujurnya aku sudah mulai lelah dengan situasi ini dan ingin segera pulang ke rumah. Perutku mulai lapar, begitu juga tenggorokan yang terasa kering.
Suara teriakan mengagetkanku dan Raissa yang langsung menoleh ke arah TV yang tiba-tiba saja menyala sendiri. Kami menatapi adegan yang tersaji. Seorang perempuan terlihat duduk memojok di atas tempat tidurnya dan ketakutan. Berteriak-teriak pada sesuatu yang ada di depannya. Sesosok tubuh hitam nan tinggi bergerak mendekat. Perempuan tersebut semakin menjerit saat sosok hitam itu mendekatinya.
Blep!
Adegan itu terhenti ketika tiba-tiba TV mati dengan sendirinya.
Zzzzttttt...!!!
Benda elektronik itu kembali menyala namun dengan tampilan layar yang diisi dengan titik-titik semut. Perlahan titik-titik semut itu hilang dan kembali menyajikan adegan mencekam. Kali ini sosok laki-laki yang ditampilkan. Masih dengan kondisi yang sama, ia ketakutan terhadap sesuatu. Berjalan mundur dengan tubuh gemetar. Tangan kanannya terjulur ke depan seolah berusaha menghentikan sesuatu yang hendak mendekatinya. Ia berteriak-teriak sama histerisnya dengan pemeran perempuan beberapa saat lalu. Dari teriakan dan ucapannya, aku menangkap kalau ia menggunakan bahasa Thailand.
Blep!!!
TV kembali mati dengan sendirinya. Aku semakin merinding karena mempertanyakan bagaimana benda itu bisa menyala dan alasan ditampilkannya adegan tersebut. Kami sedang di rumah sakit, apakah wajar kalau pihak rumah sakit menyetel adegan horor untuk pengunjung tonton?
Tak lama Intan dan Aya kembali dari perjalanannya. "Guys, gue mau turun aja. Kalian kalau masih mau di sini. Enggak apa-apa." Aku berdiri karena tak tahan lagi dengan kondisi lantai 4 yang terasa semakin aneh dan mencekam.
Raissa ikut berdiri, "Iya, nanti kalian kasih tahu via SMS aja kalau udah ketemu sama ibunya Amel."
"Lha lha, kok kalian tiba-tiba banget mau ninggalin gue sama Aya di sini?" Tanya Intan yang tentu saja tak mengerti dengan keputusanku dan Raissa yang begitu tiba-tiba. "Kan tadi udah gue bilang, Nyokapnya Amel lagi berusaha mencari kita dan minta kita buat nunggu sebentar."
"Ya udah, kalau gitu lu aja. Gue sih yakin kita udah salah lantai, walaupun ini lantai 4. Beberapa saat lalu, Nyokapnya Amel juga udah keluar, kan dan enggak lihat ada kita. Nah kali ini, bisa aja hasilnya sama." Kataku, tak lagi mau berkompromi.
"Iya, duh gue juga mau turun aja ah. Enggak betah gue, kalian enggak tahu sih tadi TV-nya nyala sendiri dan muter film horor pas kalian pergi. Aneh banget, kan masa rumah sakit muter film horor."
Saat Raissa masih bercerita, aku menekan tombol open pada lift. Tak peduli lagi apakah Intan mau ikut atau tidak. Aku sudah tidak tahan dengan kondisi lantai ini. Terlalu banyak hal yang tidak wajar di lantai empat ini.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku segera masuk ke dalam begitu pun dengan Raissa. Aku memandangi Aya dan Intan, berharap mereka juga akan ikut turun. Tak dipungkiri, aku merasa khawatir kalau mereka bersikeras memilih diam di lantai misterius ini.
"Kalian yakin enggak mau ikut turun?" Tanyaku lagi memastikan, sambil menahan pintu lift agar tidak tertutup.
Intan terdiam. Aya nampaknya masih bingung dengan pilihannya. Namun, dari tatapannya ia terlihat ingin ikut denganku dan Raissa, tapi nampaknya ia juga tak tega kalau harus meninggalkan Intan seorang diri.
Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Maaf jika kali ini aku menjadi sosok yang sangat egois tapi kalau hanya berdiam diri, aku merasa yakin tak akan ada seorang pun yang datang menemui kami.
"Oke, gue tutup pintu lift-nya. Gue bakal segera hubungi kalian kalau ketemu sama Nyokapnya Amel atau petugas rumah sakit lainnya. Pastiin HP kalian aktif." Kataku seraya hendak menekan tombol close.
"Eh eh, tunggu! Gue ikut, deh. Gue ngerasa kalau enggak ada gunanya juga lama-lama di sini." Akhirnya Aya membuat keputusan. Aku menahan kembali pintu lift.
"Ntan, mending lu juga ikut turun, deh. Apa salahnya sih, kita coba cari petugas dulu di lantai lain? Nyokapnya Amel juga kebingungan kan nyari kita. Sekarang pun tetap enggak ada tanda-tanda ada orang yang nyariin kita." Aya mencoba membujuk Intan yang masih bergeming.
"Iya, Ntan... untuk kali ini please jangan keras kepala, deh. Dengerin kita, teman-teman lu. Kalau sampai ada apa-apa sama lu, kita juga lho yang harus tanggung jawab." Susul Raissa.
"Oke oke, gue ikut turun. Tapi, lu semua tanggung jawab, ya kalau Nyokapnya Amel ngomel enggak nemu kita karena turun dari lantai ini." Akhirnya pertahanan Intan hancur juga. Aku menghela napas lega.
"Iyaaa.Lagian gue yakin banget bukan lantai ini yang dimaksud Amel." Kataku sambil menariknya masuk ke dalam lift. Segera kutekan tombol close pada lift.
5 detik...
7 detik...
10 detik...
15 detik...
Pintu lift masih tak kunjung menutup?
Apa eror karena kami kelamaan berdebat?
Sekali lagi kutekan tombol close lalu menunggu
Dalam penantian kali ini, aku merasa tak nyaman dengan pemandangan di luar lift. Lantai ini terlihat semakin suram. Penerangan yang remang-remang menambah suasana mencekam. Aku semakin dikuasai rasa takut, sampai-sampai harus menundukkan kepala karena khawatir kalau-kalau akan muncul sesuatu yang menyeramkan di hadapan kami.
Masing-masing dari kami mengisi bagian pojok dan ternyata bukan hanya aku saja, ketiga temanku pun tak ada yang berani mengangkat kepala. Telunjuk kananku masih terus menekan tombol close, sambil berharap pintu segera menutup dan lift bergerak turun.
Ziitttt...
Akhirnya aku bisa menghela napas lega dan mengangkat kepala ketika pintu lift mulai menutup dan perlahan bergerak turun.
Lantai 3...
Lantai 2...
...dan kami pun tiba di lantai satu.
Pintu lift terbuka. Dari dalam kami melihat kondisi di luar lift yang begitu ramai. Petugas dan pengunjung rumah sakit bergerak ke sana dan sini.
Di meja informasi terlihat empat perawat tengah melayani pengunjung ataupun keluarga pasien. Kami keluar dengan perasaan bingung. Suasana ruangan kali ini sangatlah berbeda dibanding saat kami tiba sejam yang lalu.
Nampaknya bukan hanya aku seorang yang merasa linglung dengan perbedaan tempat tersebut. Raissa, Intan dan Aya segera duduk di bangku tunggu. Kami berusaha mengontrol perasaan ketakutan serta kebingungan kami sebelum bertanya pada para petugas yang ada di ruangan ini.
"Intan!" Suara panggilan membuyarkan keheningan di antara kami. Seorang ibu berperawakan kurus dan rambutnya yang sebahu datang menghampiri kami. Dialah ibunya Amel.
"Kalian ke mana aja? Ibu udah berkali-kali muter lantai empat sampai turun nyariin kalian, enggak ketemuuu." Ujarnya sambil beristighfar.
"Ya ampunn, Ibuuu kita juga udah di lantai empat dari tadi, ini baru turun." Balas Intan. Dirinya dan kami menyalami ibu Amel secara bergantian.
"Lantai empat bagian mana? Kok ibu muter-muter enggak lihat kalian?" Tanya ibu Amel.
"Lantai empat pokoknya, Bu. Kita naik pakai lift ini." Jawab Intan sambil menunjuk pintu lift di belakang kami.
"Ya ampuunnn, pantas enggak ketemu. Lantai empatnya bukan di bagian sini dan enggak pakai lift. Kalian salah lantai." Ibu Amel kemudian mengarahkan kami ke jalur yang benar. Kami melewati koridor yang di sisi kanannya terdapat taman serta banyak orang yang beristirahat di sana. Kemudian kami berbelok ke arah kiri dan menaiki tangga.
"Tuh, kan benar salah lantai wah, tadi lantai apa yang kita datangi." Kata Raissa.
"Emang kalian enggak nanya petugasnya? Koridor Melati, gitu." Kata Ibu Amel.
"Tadi pas datang, enggak ada petugas sama sekali Bu. Kosong. Di lobi aja enggak ada siapa-siapa, makanya kita nekad naik lift ke lantai empat. Tahunya, tetap enggak ada siapa-siapa." Aya menerangkan.
"Lantai yang kalian datangi kayaknya khusus rawat jalan. Jadi kalau Sabtu dan Minggu gini enggak ada orang. Semua pasiennya di pulangkan." Ibu Amel menjelaskan.
"Nah, terjawab sudah kenapa enggak ada siapa-siapa di lantai itu." Ujarku.
Kami telah sampai di ruang perawatan. Satu persatu dari kami menyalami Ayah Amel yang terbaring lemah. Di sisi kanannya sudah terdapat Amel yang menunggui bersama dengan adik laki-lakinya. Amel mulai menanyai keberadaan kami yang sulit sekali ditemukan ,dan kami pun kembali menceritakan pengalaman mencekam beberapa saat lalu.
"Udah tahu situasinya aneh, kalian bukannya langsung turun malah stay di sana." Amel mulai mengomel.
"Karena percaya sama omongannya, Intan, Mel. Dia berulang kali bilang kalau Ibu bakal jemput, makanya kita bertahan." Aku menjawab.
"Ya kan, gue enggak tahu kalau kita udah salah lantai. Tahunya Ibu mau keluar, gue khawatir aja kalau kita enggak bakal ketemu, makanya gue suruh stay. Lu juga kan bilangnya, lantai empat." Intan berusaha membela diri.
"Iya, lantai empatnya udah betul tapi di koridor Melati. Lantai yang lu datangin, mah setiap Sabtu dan Minggu emang kosong." Jawab Amel.
"Untung aja, disaat-saat terakhir Intan mau ikut turun. Kalau enggak, hiiiyy enggak tahu deh bakal ada apa lagi," kata Raissa, "...yang TV tiba-tiba nyala sendiri aja udah horor banget."
"...Dan pintu kaca yang tiba-tiba terkunci, guys, jangan dilupain. Itu aneh parah." Susul Aya.
"Ssst, udah enggak usah diributin lagi." Ibu Amel menghentikan cerita kami, "Yang penting kalian udah di sini. Anggap aja semua cuma kebetulan." Kata Ibu Amel sambil memberikan segelas air putih instan untuk kami.
Kami pun menuruti perkataannya dan mulai membahas hal lain. Menanyai kondisi Ayah Amel, hingga kegiatan perkuliahan Amel. Suasana yang semula tegang pun mulai mencair dengan candaan.
...~Bagian Kesepuluh Selesai~...