
Aku memandangi satu persatu temanku yang tengah mengobrol dan berjalan ke sana kemari di dalam kelas. Suasana begitu ramai meski jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Hal ini diakibatkan dari guru yang seharusnya mengajar di mata pelajaran Matematika berhalangan hadir karena harus mengajar di sekolah asalnya sehingga kini tak ada jam pelajaran di kelasku.
Kami para murid dipaksa memahami situasi tersebut karena sekolah kami memang masih minim tenaga pengajar sejak gedung sekolah dibuka awal tahun ini. Dengan kata lain sebenarnya aku dan teman-teman lainnya adalah angkatan pertama dan harus merasakan setiap keterbatasan yang dimiliki sekolah ini. Minimnya penerangan, tak ada kipas apalagi AC untuk menyejukkan ruangan, minim air karena listrik memang belum terpasang sehingga untuk keperluan toilet, pihak sekolah meminta air dari gedung sebelah dengan selang atau murid-murid yang datang ke toilet di gedung sebelah.
Sejak awal penerimaan murid baru, semua guru yang kami lihat sewaktu upacara adalah pinjaman dari sekolah lain yang sekadar ingin membantu agar kami bisa merasakan proses belajar. Sedangkan, satu-satunya staff resmi di sekolah kami hanyalah Bu Retno, yaitu kepala sekolah kami dan penjaga sekolah bernama Pak Eko.
Di kelas, aku memiliki tiga teman dekat yang semuanya duduk berdekatan denganku. Yaitu, Sari dan Amel, mereka duduk di barisan terdepan setelah mejaku, kemudian satu lagi adalah Aya, yang adalah teman sebangkuku.
Mengikuti kegiatan teman-teman sekelas, kini aku tengah mengobrol dengan ketiga temanku itu. Kami terbiasa membicarakan banyak hal dan beragam, mulai dari gosip-gosip yang disiarkan oleh TV, isu dan masalah politik hingga membicarakan tentang orang-orang yang kami kagumi, khususnya laki-laki.
Saat sedang seru-serunya mengobrol, ekor mataku seperti menangkap gambaran satu sosok tengah berdiri di luar jendela di sisi kanan kelas. Sosok itu seperti sedang mengawasi kami semua. Aku melirik tanpa mengubah posisi kepala yang sedang terarah pada Sari dan Amel. Saat itulah aku bisa melihat jelas bagaimana bentuk sosok tersebut.
Aku merasa sedikit mual begitu melihat kondisinya yang mengenaskan. Terdapat luka-luka serupa terbakar di sekujur dada, lengan, wajah hingga kepalanya yang hanya meninggalkan beberapa helai rambut yang lengket dengan kulit kepala yang menanah. Aku tak mampu melihat bola matanya saat perhatianku lebih kepada luka-luka yang terlihat sangat menyakitkan.
Kutundukkan pandangan sejenak karena merasa tak enak kemudian melirik lagi ke tempat tersebut dan sosok itu sudah tidak ada di sana. Aku sampai menegakkan badan dan menolehkan kepala ke arah jendela untuk memastikan hilangnya keberadaan sosok tersebut.
Aku menyandarkan punggung ke badan bangku. Memandang ke sekeliling kelas, mewanti-wanti jika ada salah satu dari temanku yang juga menyadari sosok tersebut. Sayangnya, harapanku tak terwujud. Seluruh temanku masih asyik bercengkerama satu sama lain, begitu pun dengan teman-teman yang duduk dekat jendela di mana sosok itu muncul. Tak ada tatapan ketakutan, juga tak ada yang berbisik-bisik mencurigakan.
Aku diam dan berpikir. Menanyakan maksud dan tujuan sosok tersebut. Apa dia manusia atau bukan? Aku ingin berpikir positif kalau dia mungkin manusia dengan kekurangan pada tubuhnya. Mungkin dia pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan tubuhnya terbakar tapi kenapa dia ada di sana, berdiam diri hingga menimbulkan kecurigaan. Pasalnya, di bagian terluar sisi kanan bangunan sudah tak ada lagi tempat yang bisa dijejak oleh kaki. Bagian itu hanyalah kebun kosong yang ditanami dengan berbagai pohon buah-buahan.
Mataku yang semula tertunduk karena sedang berpikir kemudian terangkat dan kutemukan gelagat tak wajar dari salah seorang teman terdekatku, Amel. Aku memandanginya yang sedang memperhatikan arah jendela sebelah kanan, tempat di mana sosok misterius itu terlihat. Dari sorot matanya, aku menduga kuat dia juga melihat apa yang kulihat beberapa saat lalu.
"Mel...," Aku memanggil namanya dengan berbisik. Sari yang ada di sampingnya masih asyik mengobrol dan tertawa-tawa dengan Aya. Amel menoleh dengan sorot tanya, "...lu lihat sosok yang di sana?" tanyaku pelan.
Amel menoleh ke arah yang kumaksudkan, kemudian memandangiku kembali. Ia mengangguk, "Iya...." Perkataannya tak mengeluarkan suara, mungkin ia masih ketakutan karena melihat sosoknya lebih jelas daripada aku, atau takut pengakuannya terdengar oleh teman-teman yang lain.
"Mukanya serem banget, ya? " bisikku lagi.
"Di luar sana emang ada tempat buat pijakan kaki?" tanyanya.
"Emang enggak ada?"
Ia menjawab dengan mengendikkan bahunya.
"Mungkin pakai tangga?" kataku lagi.
"Ada apa, sih? Kok kalian ngobrolnya bisik-bisik?" tanya Sari yang ternyata menyadari komunikasi antara diriku dan Amel. Ia bertanya dengan cara berbisik-bisik juga.
"Iya, ada apa, sih?" susul Aya yang sudah menundukkan kepalanya di arahkan padaku.
Aku menatap kedua temanku itu dan menemukan tanda tanya besar dari sorot mata masing-masing, "Kalian ngerasa atau lihat ada orang di luar jendela sana enggak, tadi?" tanyaku tanpa berniat membesarkan volume suara.
Aya dan Sari secara bersamaan melihat ke arah jendela yang kumaksudkan kemudian bersama-sama memberikan gelengan kepala.
"Enggak lihat dan enggak ngeh". Begitulah respons yang kuterima dari mereka.
"Emang tadi ada orang?" tanya Sari.
Aku menganggukan kepala, "Amel juga lihat. Bentuknya agak aneh."
"Mungkin cuma orang yang diminta pihak sekolah buat bersihin kaca, " kata Aya.
"Bisa jadi. Tapi, yang jadi perhatian gue adalah kondisi tubuhnya yang aneh. Banyak luka bakar dan menanah." Aku menjelaskan.
Mungkin, secara kebetulan dia lagi sakit. Jangan berpikir yang macam-macam dulu.
Dia munculnya cuma sebentar. "Hilangnya cepat banget, kayak enggak wajar gitu. Dan lagi emang di sana ada pijakan yang cukup buat kaki sehingga bisa berpindah dengan cepat?" Akhirnya Amel ikut membuka suara.
Sari dan Aya terdiam kemudian mengendikkan serta menggelengkan kepala tanda tak tahu.
"Coba nanti kita cek aja," usulku.
Secara kebetulan, jam pelajaran di putaran pertama selesai dan digantikan dengan jam istirahat. Aku dan ketiga temanku bergegas ke luar dari kelas dan memutuskan mengecek secara terpisah. Amel dan Sari mengecek dengan melihat ke luar jendela dan memastikan hingga ke sisi teras kamar mandi, di mana kita bisa melihat seluruh bagian terluar sisi kanan bangunan. Sedangkan aku dan Aya memilih menyelidiki ke lantai bawah. Aku berharap bisa menemui sosok itu lagi dan memastikan kalau dia adalah manusia. Aku dan Aya mencari hingga ke bagian kebun kosong namun hasilnya nihil. Kami tak menemukan orang yang sama di sudut bangunan sekolah mana pun.
"Mungkin tugasnya udah selesai, dan langsung pergi makanya kita enggak bisa lihat dia di mana pun." Aya memberi masukan.
“Ay, menurut lu kalau memang dia ditugasin untuk membersihkan jendela, benda apa yang paling dia butuhkan untuk mencapai ke atas?"
"Tangga, dong." Jawabnya.
"Tepat. Sekarang coba lihat ke semua tanah yang ada di sekitar kita."
Aya menuruti perkataanku.
"Ada yang aneh, enggak?"
Aya menggelengkan kepalanya, "Enggak, tuh. Kenapa emang?"
"Kalau emang dia menggunakan tangga, harusnya ada bekas pijakannya di sepanjang bagian tanah yang ini. Tapi, jangankan jejak batang tangga, jejak kaki pun enggak ada. Coba bandingin bagian tanah yang baru kita lewati. Langsung ada bekasnya."
Tiba-tiba Aya menempelkan tubuhnya padaku. Mengalungkan lengannya di lenganku, "Jadi, maksud lu gimana, Ki? Gimana caranya dia ke atas kalau enggak pakai tangga? Sedangkan di sana, enggak ada cukup pijakan untuk kaki."
"Jawabannya udah pasti, kan?" kataku, "...terbang," bisikku.
Aya semakin mengeratkan pegangannya, "Udah, yuk pergi dari sini. Lu kan udah tahu jawabannya, jangan lama-lama di sini. Gue takut."
Aku menuruti kemauannya dan bersama-sama bergerak pergi dari area kebun. Secara kebetulan, kami bertemu dengan Pak Eko sebelum menaiki tangga menuju lantai dua.
"Pak, mau tanya boleh?" kataku.
"Tanya, apa ya?"
"Sekolah kita punya tangga?"
"Tangga? Enggak ada. Kalau mau pakai pinjam ke gedung sebelah, " jawabnya.
"Oh, gitu."
"Buat apa, Neng nanyain sekolah punya tangga atau enggak?"
"Enggak apa-apa, Pak.. ada rencana aja buat bersihin jendela luar kalau lagi kebagian piket, soalnya kotor banget."
"Duh, enggak usah Neng. Bahaya. Biar saya aja."
Aku terkekeh senatural mungkin, karena tentu saja jawabanku barusan adalah kebohongan, "Iya, Pak. Oh, iya Pak apa tadi pagi ada yang bersihin jendela luar di atas?"
Pak Eko menggelengkan kepala, "Setahu saya enggak ada, Neng. Biasanya saya yang bersihin, tapi di jam sore kalau murid-murid udah pulang. Kenapa?"
"Enggak apa-apa, Pak cuma ngerasa kayaknya jendela udah mulai berdebu. Aku beralasan, pengen bersihin sendiri jadinya, kebetulan nanti saya juga kebagian jadwal piket."
"Duh, dibilang jangan. Bahaya, Neng. Nyapu-nyapu atau ngepel aja."
"Iya, deh Pak, nurut. Hehehehe. Makasih, ya, Pak." Kemudian aku dan Aya pergi kembali ke kelas.
Kedatangan kami disusul dengan kemunculan Amel dan Sari, "Gimana, kalian udah cek? Ada yang aneh?"
"Gue sama Amel udah cek sampai ke teras kamar mandi, dan emang enggak ada pijakan yang bisa dijangkau kaki." Jawab Sari.
"Gue cek jendelanya juga masih kotor banget, kok. Debuan, jadi jelas sosok tadi bukan petugas sekolah yang lagi bersihin jendela, " susul Amel.
"Lu sendiri dapat apa pas cek ke bawah?" tanya Sari.
Aku pun menjelaskan apa yang kuketahui serta dibantu penjelasan dari Aya. Mereka cukup tercengang mendengar faktanya, dan akhirnya mereka sepakat denganku untuk menyimpulkan kalau sosok yang aku dan Amel lihat beberapa saat lalu adalah makhluk gaib.
...~Bagian Keempat Selesai~...