Miki'S Scary Stories (Based On True Story)

Miki'S Scary Stories (Based On True Story)
Insiden di Dalam Toilet



Bel pergantian pelajaran telah dibunyikan. Aku dan teman-teman sekelas bersiap menuju kamar mandi untuk berganti seragam olahraga karena pelajaran di jam ke empat ini adalah praktik olahraga dan akan ada pengambilan nilai hari ini.


Para siswa terbiasa berganti pakaian di dalam kelas karena siswi-siswi termasuk aku lebih nyaman jika menggantinya di dalam kamar mandi perempuan. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, aku memandangi teman-teman yang sudah mengisi ruangan yang cukup luas tersebut. Aku berjalan masuk hendak segera mengganti pakaian.


"Miki, kita ganti di dalam toilet aja, yuk," ajak Amel yang memang sejak tadi berjalan di sampingku, "kita berdua aja."


"Oke." Jawabku seraya menganggukkan kepala.


Mata kami menelisik setiap bilik toilet yang ada di sana. Dari empat bilik hanya satu pintu yang masih agak terbuka, dan kemungkinan besar menandakan tak ada yang menggunakannya.


"Kayaknya di situ kosong." Kata Amel, dan bersama denganku, kami mendekati bilik tersebut.


"Ki, lu bawa sisir enggak?" tanya Inggid, salah satu teman sekelasku yang berdiri agak belakang dekat tembok kamar mandi.


"Enggak bawa, Nggid. Di tas." Kataku yang otomatis mengalihkan pandangan ke arah Inggid. Kebetulan ada seorang teman juga yang mengajak bicara Amel, sehingga kami berdua tak begitu memperhatikan bilik toilet yang kami pilih dan hanya tangan-tangan kami yang bergerak hendak mendorong pintunya. Setelah selesai bicara aku menolehkan kepala kembali ke arah bilik dengan agak menunduk ke bawah.


Bruak!


Tiba-tiba terjadi keanehan yang tidak diduga-duga menimpa kami. Sekilas aku melihat sekelebat rok abu-abu yang biasa kami gunakan dari dalam bilik, di belakang pintu, namun aku tak bisa melihat kedua kakinya. Aku dan Amel terdorong ke belakang dengan cukup keras ketika pintu toilet ditutup paksa dari dalam.


Teman-teman yang melihat kami terdorong, bahkan tubuhku sampai bertabrakan dengan dinding di belakang, ikut tercengang.


"Ada orang?" tanyaku pada Amel yang tentu saja sama bingungnya dan tidak tahu.


"Wah, parah lu berdua...ada orang, malah main masuk aja. Salah satu temanku mulai meledek, kemudian disusul oleh teman-temanku. Mengubah suasana kaget dan tercengang menjadi candaan serta ledekan untukku. Amel pun ikut-ikutan meledek dengan menyalahkanku karena telah sembarangan membuka pintu.


"Wah, parah nih, Miki ada orang juga, malah main buka aja. Salahin Miki, aja nih." Ujar Amel.


Aku yang memang merasa bersalah, meski bukan aku satu-satunya yang bersalah dengan pembukaan pintu itu, akhirnya meminta maaf pada seseorang yang masih berada di dalam bilik. Disusul oleh Amel yang juga merasa bersalah.


Setelah berulang kali meminta maaf, kami diam menunggu adanya respons dari sang korban. Sayangnya, setelah menunggu beberapa saat, kami tak mendengar jawaban darinya. Satu persatu teman kami keluar karena telah selesai berganti pakaian. Sedangkan, aku dan Amel terpaksa berganti pakaian di depan bilik toilet. Hingga kami selesai mengganti seragam, dan kamar mandi telah sepi, siswi di dalam bilik belum juga keluar.


"Kok lama banget, ya Ki?" bisik Amel padaku.


"Boker, kali." Jawabku sekenanya.


"Tapi, kok daritadi kayak enggak ada aktifitas ya? Nyalain keran air, kek atau aktifitas nyiram WC." Ujarnya lagi.


"Iya, tapi kita enggak bisa lama-lama, pasti anak-anak udah pada ngumpul di lapangan." Bisiknya lagi dan kujawab dengan anggukan setuju.


Kami yang masih menanti kemunculan sosok yang ada dibalik pintu bilik, melihat Inggid kembali ke kamar mandi dengan ekspresi kesal.


"Kalian ngapain, sih masih di sini? Anak-anak udah pada ngumpul di lapangan, Pak Sigit juga udah nyuruh bikin barisan. Ia mengomel.


"Sebentar lagi, Nggid. Kita nunggu orang yang di dalam keluar." Kata Amel.


"Iya, enggak enak kalau belum minta maaf secara langsung." Aku menjawab.


Inggid maju selangkah di depan pintu yang kami tunggui. Tangan kanannya secara brutal membuka pintu tersebut hingga nampaklah kekosongan yang tak kami duga-duga.


Aku dan Amel melongo. Mengabaikan sorot mata Inggid yang semakin kesal, dan mungkin telah menganggap kami berbohong.


"Lu berdua nungguin apaan dari tadi?" tanyanya dengan ketus.


Aku dan Amel masih tak bisa berkata-kata akibat keadaan di hadapan kami.


"Buruan lah ke lapangan. Jangan sampe, cuma gara-gara keterlambatan lu berdua, bikin anak-anak sekelas di hukum." Inggid kembali mengomel lalu berlalu pergi.


"Kok kosong, Ki?" tanya Amel yang masih menatap lekat kondisi dalam toilet.


Aku tak mampu menjawab karena masih tercengang melihat kondisi toilet yang kering. Tanda memang tak pernah ada aktivitas di dalam sana. Namun, jelas-jelas beberapa saat lalu aku melihat sekelebat rok abu-abu di balik pintu, rok yang sama seperti para siswi kenakan.


"Ki, buruan cabut, deh. Merinding gue." Kata Amel seraya menarik lenganku.


"Padahal gue yakin banget ada orang di dalam, Mel dan jelas-jelas pintunya itu didorong dari dalam, kan?" Aku baru mengeluarkan suara saat sudah di dalam kelas.


"Gue juga yakin ada orang yang dorong, Ki. Soalnya, dorongannya kencang banget. Mustahil kalau itu ulah angin." Amel menjawab dengan kedua tangan yang sibuk memasukkan seragamnya ke dalam tas.


"Konyol, nih. Kita dikerjain sama memedi." Kataku.


“Hush, ya udah ngomongin itu nanti aja. Buruan kita turun ke lapangan, sebelum disamperin lagi sama Inggid." Ajaknya. Kemudian aku dan Amel bergegas menuruni tangga.


Kami ikut bergabung ke dalam barisan dengan sambutan tatapan sinis dari guru olahraga kami.