
“ Sore bu ….. “ Linda berdiri dari kursinya saat Raisa keluar dari lift.
“ Apaan sih kak.” Raisa tersenyum jengah ,” Biasa aja.”
Linda tersenyum ,” Selamat ya .” dipeluknya Raisa ,” Aku sudah menduga bakal terjadi, tapi tidak secepat ini.” Perempuan beranak satu itu menepuk pipi Raisa ,” Empat tahun jadi sekretarisnya, hanya ibu dan kamu yang membuat matanya melembut.”
Raisa menggeleng salah tingkah ,” Ada tamu ?”
“ Ya, tapi masuk saja. Mereka menunggumu.” Linda mengetuk pintu sebelum membukanya untuk Raisa “ Ibu disini, Pak.” ditepuknya punggung Raisa melihat gadis itu masih gugup dengan statusnya.
“ Sore … “ Raisa mengangguk memberi salam pada keempat tamu Luke, duduk setelah lelaki itu menepuk sofa disampingnya.
“ Selamat sore nyonya.”
Luke menggosok hidung menutupi senyum gelinya melihat Raisa kikuk ,” Tanda tangani ini, untuk pembukaan rekening bersama kita. Dan ini … “ diulurkannya kartu kredit ,” Untukmu.” Matanya menyorot tajam saat Raisa hendak menolak.
“ Thanks.” Diraihnya pena dan menandatangani formulir di depannya ,” Sudah ?”
“ Ini.” Lelaki lain menyodorkan berkas ,” Tuan Luke akan mengalihkan sebagian saham perusahaan bagiannya atas nama anda.”
“ No.” sahut Raisa ,” Di perusahaan ini saya karyawan. Dan kepemilikan saham bagi karyawan ada aturannya..”
“ Tapi ini pemberian pribadi.”
Raisa menatap Luke sejenak, mengerti bahwa lelaki ini akan memahami keputusannya ,” Saya punya beberapa lembar saham perusahaan ini karena kinerja saya. Itu milik owner. Suami saya yang owner, saya bukan.”
Luke memberi tanda agar tamunya tidak menjawab.
“ Di kantor dia pemilik dan saya karyawan, tapi dirumah lain lagi. Sebagai istri saya hanya menunggu uang belanja masuk kesini.” Dilambaikannya form pembukaan rekening. Ditatapnya Luke sekali lagi. Tersenyum ketika lelaki itu hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis.
“ Jadi jelas ya … saham itu tetap atas nama saya pribadi.” Ditatapnya pengacara dan perwakilan dewan komisaris ,” Beberapa direksi kita melakukan hal ini saat menikah, dan itu sah saat mereka menghendaki. Tapi istri saya tidak menginginkannya.” diraihnya tangan Raisa, meremasnya lembut. Tidak dingin atau berkeringat, gadis ini yakin dengan keputusannya.
Raisa tersenyum dan tiba tiba sedih saat membayangkan Jessy akan mendapatkan penawaran yang sama atau bahkan lebih ...kalau saja ….
Setelah beberapa hal yang perlu dibicarakan sudah diputuskan,, keempat tamunya meminta diri.
“ Kamu bahkan menolak pemindahan nama beberapa properti pribadiku “ Luke mengulurkan tangan mempermainkan helai rambut gadis yang duduk disampingnya.
“ Siapa yang butuh sertifikat untuk tinggal dan memakai propertimu ? Bukannya aku hanya butuh akta nikah yang kita dapatkan pagi tadi untuk tinggal bersamamu ?” bibirnya mengerucut ,” Ingat janjimu sendiri bahwa aku akan menjadi satu satunya walaupun bukan yang pertama.”
Luke tersenyum, menjentik bibir manyun itu. Berdehem dan memasang wajah serius ,” Kamu istriku, dan secara hukum kamu berhak mendapatkan itu semua yang tadi ditawarkan.”
Mata Raisa menggelap sedih, dan tidak sadar menarik bahunya menjauh.
Luke menghela nafas ,” Harusnya aku memberimu sedikit waktu sebelum membicarakan ini.”
Raisa tersenyum menenangkan ,” Kapanpun kamu menawarkannya … jawabannya tetap sama.”
“ Dan tentang rekening bersama … aku tidak bermaksud mengontrol pengeluaranmu.”
“ Semua kembali pada rasa percaya. Kedua orangtuaku melakukan ini sampai mereka meninggal.” Raisa bersandar ,” Mereka membuat rekening bersama, dan masing masing memiliki rekening pribadi. Secara berkala ayah dan ibu mendiskusikan kebutuhan bulanan dan berapa yang harus ditransfer ke rekening itu. Bahkan setelah dirasa mampu, mereka mengijinkanku mengelolanya.” Raisa menarik nafas panjang ,” Itu yang membuat kami bertahan kendati usaha ayah mengalami pasang surut.”
Raisa menggeleng sedih ,” Bahkan kendati Sam mengirimkan seluruh gajinya ke rekening itu, dia masih saja mengeluhkannya. Entahlah …. Apa yang terjadi dengan saldo rekening mereka.” Ditatapnya Luke ,” Kamu gak berpikir aku menjawab ini karena Jessy kan ?” Tanyanya kuatir.
Luke menggeleng tegas ,” Sama sekali tidak. Karena kamu berbeda dengannya.” Ditariknya nafas panjang ,” Siang ini kamu melunasi tagihan kartu kredit Jessy kan ?”
Mata Raisa melebar ,” Kok ….”
“ Pagi tadi ada tagihan kartu kredit Sam termasuk yang di pakai Jessy. Dan tadi saat perwakilan bank membicarakan penarikan dan penutupan rekening, aku minta data kartu kredit Sam. Setelah di cek ulang tagihan kartu kedua itu sudah lunas. Dari rekeningmu.”
Raisa mengangguk ,” Aku tau Sam mau dan mampu membayarnya, tapi …. “
Luke meraih bahu Raisa ,” Aku mengerti. Tapi tagihan itu besar , hampir tiga bulan gajimu. Kamu bisa mencicilnya.”
Raisa menarik nafas ,” Keburu Sam pulang dan mencak mencak. Aku punya tabungan, jangan kuatir.” Dijauhkannya tubuh dan duduk dengan tegak ,” Lagipula aku sekarang punya rekening bersama yang gak ikut ngisi. Aku tidak akan kelaparan, dan aku ada tempat untuk tinggal.” Ujarnya dengan tampang jahil.
Luke tertawa ,” Kenapa gak kamu sebutkan sekarang aku punya suami? Lebih singkat dan jelas.” tergelak ketika Raisa menutup wajahnya yang memerah. Memeluk erat gadis yang tengah menyembuyikan wajah di dadanya. Menikmati rasa nyaman itu.
Linda yang saat itu mengetuk dan membuka pintu tertegun. Ini bukan Luke yang selama ini dikenalnya.
“ Ya Linda …. “
Raisa menjauhkan tubuh dengan malu malu.
“ Tempat makan dan undangan ke departemen keuangan sudah disampaikan.”
“ Jam berapa ?”
“ Reservasi setengah tujuh, satu setengah jam lagi.”
Luke mengguman ,” Jadwalku ?”
“ Sudah selesai semua, pak.”
“ Mau jalan jalan sebentar ?” Luke menatap Raisa.
“ Maaf pak, jam kerja masih satu jam lagi. Saya akan kembali ke ruangan.” Raisa berdiri dan bergegas keluar.
Luke tertawa menatapnya sampai menghilang dibalik pintu.
“ Tidak mudah menghadirkan senyum bapak seperti itu.
Luke mengurangi senyumnya ,” Jangan coba menggodaku, Linda.”
“ Saya hanya ikut merasa senang, Pak. Semoga bapak tidak terlalu sering mengganggunya hanya karena dia masih belia.”
Luke mempermainkan cincin di jarinya ,” Dia bisa sangat dewasa saat dibutuhkan, itu membuatku kagum. Tapi kepolosannya membangkitkan jiwa kekanakanku.”
Linda tersenyum mengiyakan ,” Kalau seperti ini, bapak tidak jauh bebeda dengan Pak Sam.”
Luke mengguman saat Linda meninggalkan ruangan dan menutup pintu