MARRY YOU

MARRY YOU
Bagian 2



Bag 2: Dengan adanya harapan, seorang akan percaya bahwa pada dasarnya semua orang memiliki kebaikan (Superman)


Sekolah memang kerap kali ramai, terlebih saat hari-hari medekati ujian. Tapi kali ini aku dan teman-temanku duduk di depan kelas seusai mata pelajaran eksklusif yang di berikan sekolah untuk minggu-minggu terakhir ini sebelum liburan. Aku masih disini karena aku belum di jemput oleh papa, memang jam pulang jadi tidak teratur beberapa hari ini. Tapi aku sudah memberitahu untuk menjemputku lebih awal, aku tau papa sibuk dan karena itu pula aku masih duduk santai disini menunggu lamanya papa menjemput.


Kali ini teman-temanku sedang bergosip ria, walaupun buku-buku berserakan di sekitar kami, tapi sepertinya itu tidak akan cukup untuk membuat kami fokus pada tugas yang ada. Bahan gosipan kali ini sangat seru hingga membuatku pening, karena bahasan kali ini adalah aku, aku dan perjodohan.


"Sebenarnya perjodohan itu nggak buruk kok, kadang orang tua kan lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya, apalagi Om Zayn," goda Renna seakan aku benar-benar akan dijodohkan, teman-temanku memang paham bagaimana posesifnya papa kepadaku. Aku hanya melengos kesal saat tawa Anis berada di belakangnya.


"Sumpah ya Sof, aku nggak nyangka saja, di antara kita, kamulah yang akan menikah lebih dulu," Anis kembali tertawa, aku hanya bisa diam. Ya aku memang terdeteksi waktu akan menikah secepatnya, terlebih menikah dengan laki-laki seperti Sami, andai teman-temanku ini tau, mereka tak akan berani tertawa seperti itu padaku, terlalu miris.


"Aku jadi penasaran dengan calonmu itu, punya fotonya nggak?" tanya Natha yang membuatku hampir geram, aduh! apa-apaan sih mereka ini!


"Teman-teman, bagaimana sih kalian bisa menyimpulkan begitu cepat, aku tidak akan dijodohkan, itu cuman rencana gila orang tua kami," Aku protes juga.


"Sof Sof, kan aku sudah bilang nggak ada salahnya nikah..."


"Ren, please ya, aku nggak akan pernah nikah karena dijodohkan, titik. Sekolah belum kelar, mikirin mau kuliah juga sudah bingung setengah mati," aku memotong.


"Tapi kalau cowoknya tampan sih, nggak pa pa, Sof," kata Anis menahan tawa, dia memang hobi menggodaku, apalagi posisiku yang benar-benar terdesak ini.


"Apaan sih, Nis," kataku kemudian mengeplak kepalanya pelan. Mereka kembali terbahak.


"Kok iya sih cewek culun kaya gini bisa laku juga," Kata Anna menarik kepalaku ke belakang dan mencubit ke dua sisi pipiku ganas. Aku meringis serta merintih, ini penyiksaan namanya.


" Lepasin!!" jeritku sepanjang koridor.


"Ayolah Sof, dia pasti tampan, kan, sampai kamu rela menyerahkan keperawananmu dalam waktu dekat?" Anis kembali tertawa, okey, ini sudah cukup karena kami sudah membicarakan ini selama satu jam tanpa henti. Aku tidak yakin kalau pembicaraan ini akan berakhir baik, buktinya saja aku sudah dapat mendengar perkataan mesum Anis di tambah Anna yang menimpali.


"Enak kali ya bisa nikah cepat nggak perlu repot cari calon, nggak perlu tu have fun trus dimarahin orang tua," aku pun melengos, memang mereka tau siapa orang yang akan menikahiku sampai-sampai bicara seperti itu, Have fun katanya?


"Eh? tapi benerkan Sof, calonmu itu sesuai selera? kalau dijodohkan tapi dengan om-om tua penyot sih jangan mau," kata Renna.


"Sudah ah, kalian makin ngaco, aku ke kelas dulu ambil tas, mau pulang," kataku kemudian segera beranjak, setelah aku berdiri pun mereka masih membahas hal yang sama. Sebaiknya aku mengirim pesan pada papa kalau aku pulang lebih cepat dan tidak ada kelas tambahan. Terkadang ayah memang akan menyempatkan untuk menjemputku. Terkadang kami menikmati waktu berdua yang singkat itu mampir ke suatu tempat entah untuk makan, membeli buku, atau hanya ngobrol.


Aku merogoh tasku dan mencari handphoneku. Di hapeku ada 2 panggilan tak terjawab dan satu pesan, 1 panggilan dari ayahku dan satu panggilan lagi dari seorang yang tak kukenal nomernya. Aku membuka pesannya cepat.


'Sayang, papa tidak bisa menjemputmu hari ini, karena ada urusan di kantor yang harus diselesaikan, tapi kamu tak perlu sedih . Papa sudah menyuruh seseorang untuk menjemputmu. Jam satu seperti biasa. Love U.'


Aku melihat pesan papa dan membacanya ulang. Seseorang?


'Jadi papa sudah memakai jasa sopir untukku sekarang?'


Sembari menunggu aku membereskan buku-bukuku yang ada di meja. Setelah selesai aku memakai tasku yang berwarna hijau redup dengan gantungan buah tomat merah besar di resletingnya. Aku keluar kelas dan masih kudengar tawa teman-temanku, sekolah masih lumayan ramai jam segini, ya selain mereka menghabiskan waktu untuk belajar, mereka akan menggunakannya untuk menceritakan apapun dibanding pulang ke rumah dan tidur, sangat berbeda denganku.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Anna, melihat kearah tasku terkejut.


"Aku sudah bilang," jawabku dengan senyum lebar. Renna dan Anis berdiri.


"Tunggu aku, aku juga akan keluar," kata Renna diikuti Anis. Aku menunggu mereka dan saat itu handphoneku bergetar.


'Tidak sayang, bukan untuk menjadi sopirmu, sebaiknya kamu temui dia dulu. Papa'


Aku mulai merasakan adanya sesuatu yang janggal di sini. Papa bukanlah tipe ayah yang akan mengenalkan anaknya kepada sembarang orang, aku begitu berharga untuk papa.


Anis mengaitkan tangannya ke tanganku dan di samping kiriku, Renna, kami berjalan beriringan sembari bercerita tentang ujian yang akan diadakan besok.


Kita berjalan ke pintu ganda, menuju lapangan depan dimana mobil-mobil akan berhenti menunggu muatan sebelum kemudian segera keluar dan berganti dengan mobil lain. Karena aku belum melihat kiranya mobil papa, dan begitupula Renna dan Anis. Akhirnya kita mengambil duduk di sebuah bangku panjang yang memang di sediakan untuk siswa yang menunggu jemputan.


Renna bercerita tentang orang yang dia taksir. Teman seangkatan yang menurutku cukup populer dan hampir semua perempuan di sekolah kami akan jatuh hati dengannya, begitu pula Renna, tapi tidak aku, aku menyukai seorang yang lain.


"Jadi menurutmu dia menunggu di depan sekolah kemarin adalah untuk menunggumu?" Aku mencoba meresapi percakapan mereka, Anis berbicara, keningnya berkerut seakan tidak percaya dan Renna menatapnya penuh binar.


"Ya! itu sih cuman menurutku saja. Lagi pula setelah aku pergi, dia ikut pergi dan sepertinya dia melirikku saat itu," jelas Renna, Anis tertawa.


"Renna... Renna... yang benar saja. Kalau Adi menyukaimu itu berarti wanita cantik di dunia ini sudah punah," Kata Anis, Renna langsung mencubit lengannya keras, aku hanya tertawa berada di antara mereka.


"Jahat banget si nis, kamu itu, bukannya ngaminin malah ngomong kaya gitu," kata Renna kesal.


"Eh, jangan marah, aku itu hanya mau supaya kamu tidak mengharapkan yang tidak-tidak sampai berfatamorgana. Boleh saja Adi menyukaimu, kalau tidak? Nah bagaimana juga kalau misalnya yang di tunggu Adi kemarin bukan kamu, cuman orang lain yang kamu nggak tau, jangan kegeeran dulu, apa kamu mau jamin kemarin itu sepi kaya kuburan? nggak kan? Tapi kalau pun Adi menyukaimu aku aminin, tapi kalau nggak?" Anis bicara panjang lebar, Renna masih merenggut. "Sof sof, jawab sof," Anis beralih padaku sembari menyenggol lenganku pelan.


"Memang aku harus ngomong apa?" Tanyaku, yang sumpah nggak tau arah percakapan mereka.


"Keluarin seluruh pendapat ajaibmu tentang Adi dan Renna," Jelas Anis.


"Oh," aku mengangguk mengerti, kemudian terdiam, aku harus ngomong apa? masalah percintaan itu sungguh membingungkan dan jangan pernah tanya padaku. Aku lebih suka jadi pendengar yang baik. Ponsel di kantongku bergetar. Aku langsung melonjak di sambut dengan keterkejutan Anis dan Renna. Aku melihat nomernya, ini nomer tidak di kenal sebelumnya, cepat-cepat aku mengangkat.


"Hallo," aku mendengar bunyi motor yang sama dari tempatku berdiri.


"Kamu mau pulang atau tidak?" Suara laki-laki, aku tertegun. Siapa gerangan yang menelpon ini? Suara dingin ini seakan tidak asing.


"Siapa ini?" tanyaku gunda.


"Arah kirimu," kata suara dingin itu lagi. Tanpa di suruh-suruh lagi aku langsung menoleh. Mataku menatap lapangan parkir di sebelah kiri sekolah. Kemudian pada sebuah mobil porsche hitam yang membuatku kaget. Tentu saja bukan mobil, tapi orang yang ada di depan mobil itu.


"Sami?" kataku, di seberang sana tak ada jawaban, karena saat itu kulihat Sami sudah mengantongi handphonenya di celana jinsnya kembali. Sial! Itu Sami?! Laki-laki yang sering menatapku dengan jijik dan selalu berusaha mengusirku dari rumahnya. Aku menelan ludahku yang terasa kering. Jadi maksud papa seorang itu adalah Sami?!


Aku mengerjabkan mataku berkali-kali tanpa merasa bosan, rasanya kakiku lemas melihat seorang yang paling tidak ingin aku temui, setidaknya sejak kemarin, berada di depanku, jauh di depan sana. Entah apa, aku dapat merasakan aura jahat itu melingkupiku, tatapan Sami begitu dingin dan membunuh ke arahku, mata laki-laki itu gelap dan rahangnya mungkin mengeras. Apakah dia marah? pada siapa? Tapi sungguh sukses membuatku takut. Sesekali aku berpikir dia akan menembakku dengan senapan yang pernah aku lihat tergantung di dinding kamarnya saat mamanya maksudku Tante Lana menyuruhku untuk mengambil pulpen di kamar laki-laki itu yang aku kira memang hanya alasan untuk membuatku merayap di rumahnya secara legal.


Sudahkah aku bilang, bahwa aku memang sering berkunjung ke rumahnya hanya untuk belajar masak atau bergosip dengan ibunya, itu menggelikan, tapi sekaligus menakutkan karena setiap kali Sami melihatku dia selalu ingin melemparku keluar rumahnya, seperti tatapannya sekarang. Tatapan kebencian dan kekejaman yang mungkin akan ia munculkan suatu saat nanti, jika aku mengambil usulan ibunya untuk menikah dengannya.


Kakiku lemas, aku ingin jatuh ke tanah dan menyembunyikan wajahku, aku tidak suka dengan bagaimana laki-laki itu menatapku, mengintimidasiku. Di lain sisi, sepertinya Anis dan Renna merasakan keanehanku saat itu, karena sayup-sayup aku mendengar mereka berkata, "Ada apa Sof? Sof, kamu kesurupan?!" sebelum kemudian mereka menoleh ke arah yang aku lihat dan jadilah keheningan di antara kami, untuk beberapa saat yang menurutku sangat lama, pikiranku kosong dan mataku hanya terpaku pada satu titik.


Sami berjalan dengan langkah tenangnya, aku sangat berharap dia akan masuk ke dalam mobil mewahnya dan meninggalkanku, tapi sayangnya dia menghampiriku, aku begidik ngeri, laki-laki dengan kaos hitam dan jaket motif gelap, menghampiriku. Sial! Aura jahat itu datang semakin dekat dan semakin kuat.


"Papamu menyuruhku menjemputmu," Suara itu sangat dingin dan tidak terdengar seperti sapaan, ia memerintah dalam suaranya yang tenang itu. Tapi lagi-lagi aku hanya mengangah tidak percaya, mendapati dia sudah berdiri di depanku. Aku tidak mendengar suara Anis dan Renna, ke mana mereka? "Aku tidak punya waktu lagi, aku antar kamu pulang," katanya sembari melirik arlogi mahalnya, aku tergagap.


"Oh," kataku, hampir saja tersegal oleh napasku sendiri. Kakiku masih tidak bergerak, masih mirip tiang. Hingga aku merasakan seseorang menggoyang lenganku cukup pelan, tak terdeteksi, dan tentu saja itu Anis atau mungkin Renna.


"Sof?" mereka berbisik ke arahku meminta penjelasan, Sami mulai melirik ke arah temanku dengan kening berkerut samar dan Anis memelototiku tak sabaran.


"Eng, Sam, ini temanku, Anis dan Renna," aku mengenalkan mereka, dan mereka mulai setuju dengan caraku, dasar! Sami menatap Anis dan Renna bergantian, wajahnya tanpa ekspresi, Sial!


"Hai kak," Renna memulai dengan menyodorkan tangannya malu-malu. "Renna," lanjutnya, dan aku mengkhawatirkan sikap dingin Sami kepada mereka.


"Sami," Jawabnya sembari menerima jabatan Renna, tanpa senyuman.


"Anis," Anis ikut-ikutan menyodorkan tangannya dan Sami menyalaminya tanpa minat, tak tertarik.


"Aku harus mengantarmu pulang, ayo," katanya kepadaku dan tanpa menunggu apapun langsung berbalik menuju mobilnya yang terpajang indah di parkiran. Aku hampir menajamkan mata ke arahnya untuk mejaga sikapnya di depan teman-temanku, sayangnya aku tak berani. Sebelum aku berjalan mengikutinya, Renna menarik lenganku hingga membuatku hampir terjatuh ke belakang.


"Jangan bilang kalau laki-laki itu calon suamimu!" Desisnya cukup keras aku langsung membekap mulutnya.


"Jadi bener, Sof?!" Anis menjerit di sisi lain, aku mengertakan bibirku ke arahnya. "Cowok kaya gitu yang bakalan dijodohin sama kamu?!" ternyata Anis tak dapat membaca bahasa mataku, dia masih berteriak. Tapi aku juga bingung dengan maksud 'kaya' yang dikatakan Anis itu apa? Sikapnya atau tampangnya?


"Bukan, dia itu sepupuku."


"Bohong!" Renna merontah dari dekapan tanganku, "Sama sekali nggak ada mirip-miripnya sama kamu," jelas Renna.


"Sepupu jauh! Sudahlah," Bentakku, "aku harus menyusulnya sebelum laki-laki itu kembali lagi dan memunculkan kesadisannya," tekanku yang membuat keduanya melepas tangannya seperti habis tersengat.


Aku langsung menyusul Sami yang sudah duduk di belakang setiran, dengan setengah berlari. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa Sami tidak akan menerkamku di dalam mobilnya, aku menelan ludah yang terasa membatu, jujur! aku takut dengan sikap laki-laki itu padaku dan ini adalah kali pertama aku akan berada dalam satu ruang tertutup hanya berdua dengannya.


Sebenarnya, jika kemarin-kemarin aku masih bisa bertahan untuk datang ke rumahnya adalah karena tante Lana yang memaksa dan bahkan mengirim jemputan ke rumah, aku sudah bersusah payah untuk tidak bertemu dengannya.


Aku membuka pintu mobil, aku ragu untuk duduk di sampingnya, tapi aku tak mungkin duduk di kursi belakang, kan? Aku menutup pintu dan mobil itu mulai berjalan.


Keheningan berada di antara kami, tanpa musik hanya hembusan AC yang entah kenapa bisa begitu menusukku, padahal saat aku lihat tombol ACnya hanya mengarah pada satu garis. Sesekali aku memberanikan diri melirik laki-laki di sampingku. Dia tampak seksi saat menyetir, aku melihat alis tebalnya yang tenang dan mata indahnya yang berwarna coklat itu tengah begitu fokus, dia tampan.


"Aku belum sarapan, jadi kita akan berhenti di kafe, di depan sana," Suaranya tampak mengagetkanku, kafe? aku meliriknya penuh tanya dan mulai berpikir bahwa dia hanya beralasan untuk berlama-lama denganku, alhasil aku menyembunyikan senyum di wajahku ini, dan seperti punya antena, Sami langsung memandangku dengan kening berkerut.


"Kita perlu bicara dan kuharap ini menjadi pembicaraan yang pertama dan terakhir kalinya untuk kita," jelasnya, seakan mengetahui segala isi pikiranku. Musnah sudah senyum di wajahku, aku hanya bisa menggumamkan persetujuan sembari membuang pandangan ke luar mobil.


"Lalu masalah apa lagi?" tanya Sami tanpa mengalihkan pandangannya lagi dari mobil, aku menggigit bibirku ragu, ini adalah pembicaraan kami yang paling panjang dan dia terdengar seperti seseorang yang menyebalkan.


"Apakah kamu sangat terganggu dengan masalah ini?" aku benar-benar penasaran dengan cara pikirnya, sungguh! jika dia tidak terlalu terganggu dengan masalah ini maka pembicaraan kita tak perlu terlalu membunuh satu sama lain, dan mungkin kita bisa berteman.


"Ya," jawabnya singkat.


"Mengganggumu dalam hal seperti apa?" tanyaku kemudian, mencoba tidak terdengar antusias.


"Aku tidak bisa menemukan satu hal pun yang tidak mengganggu jika itu maksudmu, kuharap kamu dapat sedikit membantuku untuk cepat menyelesaikan masalah ini," Katanya.


Kami sampai di sebuah kafe di dekat sebuah supermarket, Sami memarkirkan mobilnya. Ia menyuruhku keluar dan bahkan dia sudah berjalan cepat masuk ke pintu kafe mendahuluiku, ya, apa yang kuharapkan darinya? membukakan pintuku dan menggandengku sampai pintu masuk? yang benar saja!


Goblin Cafe, begitulah yang tertulis di papan di depan kafe, kafenya sangat anggun. Seluruh kafe bernuansa hijau. Meja bulat tersebar, ada beberapa sofa panjang di sisi-sisinya, terdapat pula meja bar di depan sana.


Sami memilih meja yang paling dekat dengannya, duduk, kemudian memanggil pelayan. Aku mengambil kursi di depannya dan mendengarkan dengan seksama pesanannya.


"Mix pasta dan teh hijau," katanya, aku hanya memandangnya seakan terpesona seperti orang bodoh. Bagaimana seorang dapat bersikap setidak acuh itu dan kabar buruk lainnya dia tampan, sangat memesona.


"Apa nona mau pesan sesuatu?" tanya pelayan itu menyadarkanku dari lamunanku.


"Coklat panas saja, terima kasih," kataku dan dia mengangguk patuh, pelayan laki-laki itu pun pergi, meninggalkan keheningan di meja kami. Aku kembali melirik Sami, dan Sami sedang menatapku, begitu dekat dan dalam, dia menyilangkan kakinya, dengan punggung sejajar punggung kursi. Aku menelan ludahku yang membatu.


Kali ini dia memutar telunjuknya yang kokoh di meja, memutar-mutarnya dan dapatkah dia berhenti memertontonkan bibirnya yang tipis dan merona, berhenti menatapku, dan melempar diri ke neraka sekarang juga? Oh iblis ini membuatku gila. Aku merasa sedang duduk di atas paku.


"Jadi kamu memadukan teh hijau dengan pasta?" akhirnya aku bersuara, pertanyaan yang ringan, bukan? orang bodoh pun dapat menjawab.


"Ya, aku tidak tahu lagi apa yang bisa membuatku lebih bernafsu," jawabnya, aku menelan ludah.


"Mengapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku akhirnya, pertanyaan ini seperti hak hidup untukku.


"Memang ada apa dengan tatapanku?" Aku memajukan dudukku, mengangkat kedua lenganku untuk menumpuknya di atas meja, dengan tegap dan tegas aku menatapnya balik dengan berani.


"Lupakan, mari kita bicarakan masalah ini sekarang," kataku seakan aku adalah wanita kota pekerja keras yang merangkap sebagai janda dengan anak satu. Sami terdiam, dia tampak tertarik dengan sikapku, ada kilatan humor yang disembunyikan di matanya sebelum musnah dengan cepat. Oh, dia memang meremehkanku.


"Baiklah, mari kita mulai dari yang paling ringan untuk dibahas," dia masih berusaha menjaga sikapnya. Aku ingin menamparnya jika aku punya hak, tapi aku tidak yakin untuk melakukannya tanpa yakin terlebih dahulu bahwa dia akan membawaku kepengadilan. Aku menunggunya berbicara, "Apa kamu menyukaiku?" tanyanya sangat santai. A-ap-paaa?? Aku tergagap, mengapa dia menanyakan ini? Aku mengernyit, membuka mulutku kemudian menutupnya lagi.


Apa aku menyukainya? Dia tampan, dia pintar, perempuan mana yang akan menolaknya. Mungkin aku akan menjadi perempuan pertama, aku menggigit lidahku yang kelu.


"Tentu saja tidak, aku pasti gila jika melakukannya," kataku, Oh itu adalah kebohongan.


"Bagus," katanya, kemudian senyum memesona itu muncul dari wajahnya, aku merasa seperti tertangkap basah sedang berbohong karena dia masih menatapku dan tatapan itu menggemakan suara di kepalaku 'Kau tidak menyukaiku? yang benar saja'


"Nah! Bagaimana denganmu sendiri?" kataku agak kesal karena seakan diperlakukan seperti tersangka. Dia terkekeh dan membuang pandangannya.


"Tentu saja tidak," katanya, akhirnya membenahi cara duduknya dan menatapku lagi, "Kita tidak saling menyukai, seharusnya itu mempermudah kita menyelesaikan masalah ini," katanya. "tapi mama sepertinya menyukaimu..." tentu saja mamanya menyukaiku, orang buta pun dapat melihatnya, "Dan ini rencananya, sebagai langkah awal, mari kita memutar balik pemikirannya agar dia tidak menyukaimu," katanya.


"Apa?!" Ini keterlaluan, jika mamanya membenciku maka aku akan menjadi seorang yang menjijikan, aku seperti orang yang tidak tau terima kasih. Semua orang tidak menyukaiku, mereka hanya memandangku sebelah mata karena mungkin aku tampak seperti kotoran yang seharusnya berada di tempat sampah. Jika mamanya menyukaiku, aku sangat bersyukur karena dapat dekat dengan wanita sepertinya dan hanya orang bodoh yang mau membuat orang seperti tante Lana yang baik hati untuk membenciku.


"Tidak tidak.. Aku tidak mau melakukannya," kataku cepat.


"Kenapa?" Sami terlihat terkejut, tapi ia dengan mudah mengontrol gayanya agar kembali tenang seperti biasa.


"Aku tidak mungkin membuat tante Lana membenciku, ia terlalu baik padaku," jelasku, Sami diam, tampak berpikir. Jika ia adalah laki-laki yang punya hati, ia tidak mungkin membiarkanku melakukan hal itu.


"Kamu tidak perlu membuat dia membencimu, kamu hanya perlu membuatnya tak suka padamu," katanya, pada saat yang sama pesanan kami datang, tapi Sami tak melihat makanannya, nah! sekarang aku lebih menarik dari pada perutnya.


"Memang apa bedanya?" tanyaku. Sebentar, laki-laki tampan itu menghembuskan napasnya berat.


"Jika kamu tidak menyukai sesuatu, sebenarnya kamu berharap bahwa sesuatu itu bisa berubah menjadi lebih baik. Tapi saat kamu membenci sesuatu, kamu tak peduli apa ada sesuatu yang baik dari dirinya atau tidak, kamu tidak ingin melihatnya karena kamu membencinya. Kebencian adalah akhir dari segalanya, tapi tak suka hanya permukaannya, bisa berakhir baik atau buruk," aku melongo mendengar mulutnya, dia mendesis dan aku melihat bibirnya mencibir saat melihat tampangku dan bergumam sesuatu seperti "bodoh."


Sami meminum tehnya, "mari kita melakukannya di hadapan mamaku. Mama tidak perlu membencimu, dia hanya perlu berpikir kamu tidak cocok untukku," kata Sami membuatku menahan napasku sebelum laki-laki itu melanjutkan acara makanannya. Oh baiklah,ia bahkan tidak peduli dengan reaksiku, dia akan membuat harga diriku hancur di depan mamanya.


"Apakah kamu tidak punya ide yang lebih pintar dari ini?" tanyaku mencoba menjaga sikapku tetap anggun, seperti dia yang bersikeras mempertahankan sikap dinginnya di hadapanku.


"Oh, kalau begitu temukan idenya," katanya, menatapku sebentar sebelum kembali ke pastanya. Sami benar-benar menjunjung tinggi etika makan, dia tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya walau saat makan sekalipun.


Baiklah dia menantangku, mari temukan ide yang lebih pintar. Aku hampir menjerit senang saat mengetahui bahwa aku akan memunculkan ide jenius untuknya. "Karena kulihat kamu adalah anak yag patuh, mari rubah sikapmu sebagai bentuk protesmu atas keputusan mereka," jelasku. Nah! ada perubahan ekspresi di sana, ia tampak kalut sebentar tapi dengan cepat ia mengontrol kekalutannya. Oh! dia adalah seorang yang pandai berakting.


"Aku lupa memberitahumu, ada beberapa batasan yang tidak boleh di lalui disini selama kamu bekerjasama denganku kamu harus mengerti batasan-batasan itu," kata Sami, ia menegakkan punggungnya, memangnya dia sedang berbicara dengan siapa? apakah aku terlihat seperti seseorang yang mengemis pekerjaan padanya? keningku berkerut, kesal dan keingintahuan campur aduk menjadi satu, "batasan yang pertama yang mungkin bisa kamu ketahui adalah kau tidak boleh mengaduk-aduk kehidupanku dan orang tuaku, artinya kamu tidak boleh memengaruhiku untuk bersikap buruk pada mereka, kamu tidak boleh mengaturku untuk bagaimana bersikap dengan orang tuaku. Kamu tidak boleh menjelek-jelekanku atau mempermalukanku di depan orang tuaku. Semua hal labil yang mungkin kamu lakukan, harus disingkirkan di depan orang tuaku jika itu menyangkut soal aku di depan mereka," lanjutnya. Aku hanya melongo, sebenarnya siapa dia di depan orang tuanya, mengapa dia terdengar begitu palsu. Aih! Dia benar-benar anak penurut yang brengsek!


"Wah, kau terdengar aneh sekali. Biar aku tebak, kau pasti tidak pernah kentut di depan orang tuamu?" kataku. Sami terdiam, ia tampak terkejut.


"Apakah itu etika yang kamu pakai di depan orang tuamu?" tanyanya santai, tapi ia tampak tertarik. Aku tersenyum lebar padanya, berbangga diri.


"Ini adalah bukti keterbukaan. Kamu tidak perlu bersembunyi ke dalam kamar saat kau merasa mulas, itu manusiawi, apakah waktu kecil saat kamu sakit, orang tuamu tak merawatmu?" tanyaku, dia diam sebentar.


"Tentu saja mereka melakukannya," jawab Sami skeptis.


"Nah! jenis penyakit apa yang kamu alami sewaktu kecil, apa kamu tidak pernah cacingan? cacar air? muntah berak? masuk angin? aku ingat waktu kecil dulu, mama pernah menarik keluar cacing sebesar 20 cm langsung dari anusku menggunakan kantong plastik. Dia melakukannya sebagai bukti sayang pada anaknya, dan semua itu manusiawi, dan mungkin itu dapat menunjukan sikap keterbukaan dalam keluarga, dalam berbagai hal," jelasku, aku menahan tawaku saat melihat perubahan ekspresi Sami, dia tampak terkejut dan juga jijik Sami terlihat memundurkan punggung, menyentuh punggung kursi dengan hati-hati, Hm... aku tau dia tidak mungkin tertarik memakan pastanya lagi sekarang.


"Mamaku tidak perlu melakukan itu," katanya mencoba tenang, aku tersenyum, menantangnya. "Kembali kepada batasan, itu tetap berlaku. Temukan ide yang lain," katanya lagi, aku cemberut sebentar, jadi dia tidak menerima ide jeniusku, bagaimana dia tega menanggalkan harga diriku tanpa melakukan hal yang sama, itu sama sekali tidak adil.


"Bagaimana jika kamu tunjukan calonmu pada mereka, ide yang bagus bukan? kamu bisa mencari wanita lain atau mungkin membayar mereka untuk berpura-pura menjadi pacarmu," kataku dan dia memandangku intens, tampak berpikir.


"Aku punya pacar," katanya tiba-tiba. Kini aku yang terdiam, Oh, jadi dia punya pacar?


"Jadi?" tanyaku dan suarku tiba-tiba serak.


"Mama tidak suka padanya," jelas Sami.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Dia model, entahlah, mama bilang bahwa wanita yang bekerja sebagai model adalah wanita yang kotor," jawab Sami.


"Jadi kamu putus dengan wanita model itu?" tanyaku.


"Tidak, aku tidak putus dengannya, kita masih berhubungan," jelasnya, aku mengangguk walau masih kebingungan. Oh jadi dia benar-benar punya pacar? tidak adil sekali, bahkan aku tidak pernah pacaran. "Bukan ide yang bagus, pikirkan lagi," Sami menyeruput tehnya lagi.  tampaknya tante Lana akan memilih untuk mempertahankanku dan menendang wanita-wanita pilihan Sami.


"Tapi... apakah kamu serius dengan menghentikan perjodohan gila ini?" Sami tampak salah paham karena dia menatapku seakan menuduhku mengharapkan perjodohan dengannya, "maksudku apakah kamu tidak mencoba memikirkan perasaan tante Lana, dia tampak begitu menginginkan perjodohan ini. Apakah dia tidak sakit hati jika kita melakukan ini padanya?" jelasku. Sami terdiam, dia menatapku dalam.


"Sebaliknya, akan semakin menyakitkan bila kita membiarkannya, kita tidak menginginkan perjodohan ini. Sudah merupakan jalan terbaik untuk menghentikannya, kan? masalah perasaan mama dapat berubah hanya dalam beberapa waktu. Kamu mau terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia?" suaranya tenang, Oh! dia mulai lagi, sebagai laki-laki tak punya perasaan.


"Baiklah, mari buat kerjasama yang saling menguntungkan, kamu punya batasan, maka begitupula aku, Jika kamu mau aku menghargai batasanmu maka kau harus melakukan hal yang sama," itu baru pintar Sofiah! aku bersorak untuk diriku sendiri.


"Apa batasanmu?" tanyanya tak tertarik.


"Pertama, kamu tidak boleh menyuruhku menanggalkan harga diriku didepan siapapun."


"Kupikir kamu memang tidak memilikinya," Sami memotongku.


"Aku tidak terbiasa menjadi musuh untuk seseorang, jadi jangan buat seseorang memusuhiku," aku mencoba tak memerdulikan kalimatnya, aku mencoba tegas agar dia tidak menganggapku seorang yang mudah untuk diinjak-injak. Sami mengangkat sikunya ke atas meja dan menyentuh dagunya, ia memijatnya lembut, aku dapat melihat rambut yang mulai tumbuh di sana.


"Itu yang pertama?" tanyanya kemudian.


"Untuk selanjutnya aku akan memberitahumu seiring berjalannya waktu," jawabku mengetahui apa yang dia pikirkan, dia mengangguk setuju. Tiba-tiba suara dering ponsel berada di antara kami, nada jadul ini bukan milikku tentu saja. Aku melirik Sami yang sedang merogoh kantong celana, Oh! bahkan dia tidak mengalihkan pandangannya dariku. Di luar yang aku tau, dering ponsel itu mati, dan aku melihat dia meletakannya di atas meja. Aku mengernyit ke arahnya, dia tidak mengangkat teleponnya  "Sampai dimana kita tadi?" tanyanya tampak mengetesku, berapa sih umur laki-laki ini, 22? 23? ia tampak 40-an saat berbicara.


"Intinya, aku tidak mau melakukan idemu itu untuk membuat tante Lana tidak menyukaiku, aku akan bersikap sebagaimana aku di depannya," jawabku, dia tampak berpikir lagi.


"Baiklah, kamu punya ide lain?" tanyanya kemudian menarikku untuk menatapnya intens.


"Kamu tidak menerima seluruh ideku tadi," jawabku, ia pun mengangguk setuju.


"Kalau begitu mari jalani perjodohan ini dulu sampai kita menemukan cara," ucapnya, ia minum tehnya dan lewat bulu matanya ia kembali melihatku, menebak-nebak reaksiku. Tentu saja aku tersentak kaget, jadi dia mau melakukan perjodohannya?


Aku tidak bisa bernapas untuk sementara saat aku membalas tatapan dan sikap tenangnya itu. Bukankah dia seharusnya muncul sebagai penetang pertama dan yang paling kuat untuk bertahan? Okey, aku mulai takut sekarang, bayang-bayang bahwa dia punya rencana terselubung untuk menyingkirkanku begitu menghantui.


"Ayo, aku antar kamu pulang," ucapnya. Sami sudah beranjak, meninggalkan pastanya tapi aku tidak ada mood untuk membahas soal pasta. Aku masih kepikiran bagaimana menemukan celah dari perkataan Sami soal mencari cara lain. Aku masuk kedalam mobilnya, aura mengerikan itu seakan terkunci di sekitarku. Kemudian mobil itu kembali membelah jalanan siang kota.