
Bag 1: Love is in people, people put love in marriage. There is no romance in marriage. They have to infuse it into their marriage. Like a box, people must giving, loving, serving, preising keeping the box full. If they take out more than the put in, their box will be empty (Anonym)
Aku tidak berani melangkah lebih dari ini, bersandar di tembok ini saja sudah cukup meresahkan. Tapi semua sudah terlanjur begini, aku tidak berhak membantah keputusan papa lagi. Mereka, maksudku papaku dan juga Tuan dan Nyonya Atmadja sedang berada di dalam ruang kerja milik keluarga Atmadja, meninggalkanku di ruang tamu sendirian. Aku sembunyi di salah satu pilar tabung gendut di dalam rumah mereka dan masih mengomentari apapun yang aku lihat.
Rumah ini besar dan mewah, memang tak jauh beda dari rumahku tapi aku selalu menyukai tatanannya, lantai mengilat bersih, memerlihatkan ukiran-ukiran halus yang memang sulit ditangkap mata juga ukiran-ukiran lembut tetapi tajam di ujung-ujung tembok berwarna emas dan lukisan-lukisan pedesaan yang tampak bukan dari Indonesia.
Sungguh, mungkin siapapun yang melihatku akan mencibirku yang begitu berani berada disini. Aku sang culun dengan Baju kucelku sangat kontras dengan rumah ini, rumah milik laki-laki yang cukup tampan yang pasti popular di kalangan para wanita, maksudku siapa yang tidak mengenal keluarga Atmadja?
Kemudian lihatlah aku, rambutku memang tidak buruk, poni penuh yang jatuh hingga mataku, sedang bagian belakangnya diikat seperti ekor kuda dan jatuh hingga di bawah bahu. kulitku kuning langsat dan pucat, menampakan beberapa titik merah di wajahku, hidung kecil dan bulat juga mata yang tidak lebar. wajah ini adalah milik ibuku, begitu pula tubuh 165 cm dan ramping. Aku bukan seorang buruk rupa, ya walaupun aku tidak cantik, setidaknya aku tidak buruk rupa. Aku memang mengenakan kaca mata berframe besar dan tebal ala cewek cupu.
Sebenarnya seberapa buruk aku berada di sini. Di luar sini, aku tidak dapat mendengar percakapan apapun antara papaku dan Bapak-ibu Atmadja, walaupun aku tahu apa yang akan mereka katakan, yaitu perjodohan antara aku dan anak laki-laki mereka. Mengingat itu, kakiku langsung lemas, ini tidak benar!
Pagi tadi, aku memaksa papa untuk membatalkan janji menemui Bapak-Ibu Atmadja yang rasanya akhir-akhir ini terus menelpon ke rumah, aku tau mereka mengejarku seakan aku adalah malaikat yang akan menyelamatkan anak mereka yang sesungguhnya baik-baik saja. Aku hampir gila dibuatnya, apalagi, anak laki-laki mereka selalu menatapku tajam berbanding terbalik dengan Bapak-Ibu Atmadja, laki-laki itu memandangku seakan aku adalah ayam yang terserang flu burung. Tapi sekarang apa yang aku lakukan? Berada di rumahnya dan membiarkan masalah ini membengkak. Jadi sebenarnya masalah apa ini? Aku sendiri bingung siang-malam dibuatnya, karena ku pikir Bapak-Ibu Atmadja menyukaiku tetapi anak mereka membenciku, walau dia tak mengatakannya secara jelas.
Bagaimanapun aku tidak bisa pergi dari sini, aku sudah terlanjur memasang muka baik kepada ke tiga orang tua di dalam ruangan itu, tapi mereka tidak akan mengerti masalah anak laki-laki mereka dan aku, kan? Jangankan mereka, akupun tak mengerti mengapa laki-laki itu begitu tidak menyukaiku, laki-laki itu terlalu memasang sekat tinggi pembanding di antara kita, dan itu membuatku illfeel di dekatnya. Dia laki-laki yang sempurna sedangkan aku cewek kutu butu dan memalukan.
Aku mencoba mengendalikan napasku yang terasa sesak dan tanganku yang dingin. Aku sangat berharap papa akan menolak dan menggunakan kemampuan berbicaranya sebaik mungkin untuk menolak permintaan bodoh bapak-ibu Atmadja.
Aku tersentak saat mendengar suara siul yang semakin mendekat, suara yang tidak asing itu adalah suara anak laki-laki Keluarga Atmadja. Aku semakin merapatkan diri ke tembok dan tak berani berkutik, tapi yang benar saja, pilar ini tak akan menyembunyikanku sepenuhnya, hanya orang buta sajalah yang tidak akan menemukanku. Suara siul itu tidak lagi terdengar, hilang begitu saja, aku menelan ludah dan berdoa banyak bahwa ia telah pergi. Tapi aku salah saat mendengar suara laki-laki menggema di ruangan yang hening itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku berbalik, dan menemui sepasang mata coklat yang terlihat jelas, rambut coklat senada, dan kulitnya yang cerah. Aku tidak akan melupakan nama laki-laki ini, bahkan tidak akan pernah, Samuel Adam Atmadja. Dia tampan, juga angkuh. Aku tersadar dengan apa yang kini aku tatap yang semakin membuatku tergagap.
"Engg.. Aku.."
"Bukankah aku sudah memeringatkanmu untuk menjauh dari orang tuaku?" tanyanya.
Ya, dia memang sudah memeringatkanku, tiga hari yang lalu saat ibunya mengundangku ke rumah untuk mengajariku memasak dan mempertemukanku secara langsung dengan Sami di rumahnya. Aku juga tidak tahu, pikiran apa yang mempengaruhi nyonya Atmadja yang tiba-tiba kepikiran untuk menjodohkanku dengan anak laki-lakinya yang tampan ini.
"Sungguh, aku bersusah payah untuk menjauhi orang tuamu," jawabku akhirnya sama payahnya.
"Lalu sekarang, Apa yang membawamu kemari?" tanyanya dengan suara menyelidik, apakah aku ada tampang akan menghancurkan dapurnya lagi?
"Ayah memintaku mengantarnya kemari," jawabku kali ini memutar ujung kemeja dan meremasnya tanpa sadar, sial.
"Dan... untuk apa ayahmu kemari?" tanyanya dengan kening berkerut tipis seakan ada kelabat-kelabat pikiran sok tahu di sana. Suaranya terdengar angkuh di telingaku, aku memang tidak mengenal Sami, walau ia tampan tapi ia bukanlah tipeku, laki-laki tak berperasaan kepada wanita? yang benar saja. Dia sering kali berkata sarkastik padaku, bahkan terakhir kali aku kemari, tiga hari yang lalu, aku di usir olehnya di belakang ibunya dan percayalah dia tidak perlu mengatakannya secara langsung untuk membuatku sadar. Gelagatnya saja sudah membuatku tidak betah.
"Aku tidak tahu," jawabku rendah, kemudian mengerdikan bahuku dan membuang pandanganku. Ku dengar desah napas kesal Sami, aku bisa menangkap samar-samar ia tengah menatap tajam ke arahku. Kemudian Sami sudah berbalik meninggalkanku. Aku sungguh lega bukan main, keberadaan laki-laki itu sungguh menyusahkanku.
Tapi di luar dugaanku, Sami tengah berdiri di depan ruang kerja keluarga Atmadja dan meraih kenop pintunya, aku pasti sudah menjerit melarangnya jika bukan karena ku ingat di mana aku sekarang, aku pun memilih untuk diam, tetap bersandar takut pada tembok ini, mengharapkan keputusan terbaik yang akan aku dapatkan.
Aku mencoba mendengar pembicaraan mereka, karena samar-samar suara Sami-lah yang dominan di sana. Sungguh aku tidak dapat mendengar apapun selain krasak-krusuk dari ruang tengah, suara tv. Hingga aku memutuskan untuk berjalan membisik bak kepiting yang kepanasan.
"...Apakah ini sejenis lelucon? Ayolah ma, berhenti menonton mtv murahan dan lihat bagaimana situasinya sekarang," Suara lembut Sami terdengar, ya! ada satu hal yang baru aku ketahui akhir-akhir ini. Sami sangat menyayangi ibunya, tak pernah sekalipun aku mendengar atau melihat sikap kasar laki-laki itu dan sikap dinginnya keluar di hadapan sang ibu, Sami adalah orang yang berbeda di depan ibunya. Bukankah itu sungguh menarik?
"Husst.. Sami, apa yang kamu katakan? kamu bahkan belum mengucapkan salammu kepada Zayn, calon mertuamu," Aku yakin tante Lana sedang memelototi anaknya karena suaranya yang lembut itu menyiratkan sesuatu.
"Selamat malam, Om Zayn," Suara Sami terlihat menimbang-nimbang panggilannya.
"Selamat malam, Sam," jawab papa dengan wibawanya yang kental, kuharap wibawa itu akan menurun padaku suatu hari nanti.
"Ma?" Panggil Sami.
"Sam, kami baru saja berdiskusi, sebaiknya kamu panggil dulu Sofiah, mama akan menjelaskan semuanya pada kalian," Tante Lana masih tersenyum lebar pada Sami, begitu mendengar namaku di sebut aku langsung meluruskan tubuhku dan bersiap untuk berlari. Tapi ku pikir itu sia-sia karena dengan jelas ku dengar suara Sami.
"Dia ada di balik pintu, Sami yakin dia dapat mendengar jelas dari sini," katanya dengan suara melunak pada mamanya. Tapi aku hanya membeku, bagaimana dia tahu?! Apakah sekarang aku harus melongokan kepalaku seperti pemain sirkus atau diam di sini sampai Sami menarikku ke dalam?
"Sami... panggil dia," kata Tante Lana masih mencoba lembut di depan papa, ya jika papa cukup bodoh untuk menganggap hubungan mereka tidak aneh kali itu. Baiklah mungkin sekarang adalah saatnya.
Aku pun langsung berbalik dan memapangkan diriku tegak sedikit gugup di depan pintu yang terbuka. Papa melihatku dan kucoba mngartikan tatapannya yang tenang, Ibu-Bapak Sami tampak mnyambutku dengan senyuman ramah mereka. Berbanding terbalik dengan Sami, yang memandangku seakan aku makhluk tak terdeteksi.
"Sofiah... duduklah kemari," Tante Lana menggerakan tangannya mengundangku masuk, dengan malu-malu aku mengikuti arah tangannya dan duduk di sofa di samping sofa mereka yang berhadapan dengan sofa ayah. Sami masih membeku. "Sami, duduklah," lanjut ibunya, Sami langsung duduk di sampingku karena sofa itulah satu-satunya tersisa.
Awalnya keheningan yang ramah menyelimutiku tapi aura jahat menyerangku dari samping kananku, ku lirik Sami dan benar saja, laki-laki itu tengah memandangku tajam dan itu membuatku takut. Aku mengerjabkan mataku sekali dan membuang pandanganku cepat, kuharap aku dapat segera pergi dari sini. Sami selalu membenciku dan ku pikir ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan masalah perjodohan.
"Sofiah, tante dan papamu sudah memutuskan bahwa kalian berhak hidup bahagia bersama-sama," kata Tante Lana bersemangat, aku tersentak. Kulihat ayah Sami langsung menyikut lengan istrinya pelan.
"Kami memutuskan untuk menjodohkan kalian, ya, itupun jika kalian berdua setuju, bukankah begitu Zayn?" Ayah Sami, Adam, beralih pada papaku dan ku lihat mereka sedang berinteraksi lewat tatapan, mungkin itu adalah isyarat saling mengiyakan satu sama lain, ku lihat ke arah papa yang mengangguk yakin.
"Ya, tentu saja mereka harus setuju," desak Tante Lana.
"Nah! karena itu Sami, kamu harus segera menyelesaikan skripsimu, mama yakin pernikahan akan membuat kalian bersemangat," katanya, aku meringis.
"Tapi Sofiah juga masih 17 tahun, dia tidak mungkin memikirkan soal pernikahan, terlalu dini," Kata Sami lagi membawa-bawa namaku, aku meliriknya tak mengatakan apapun.
"Memangnya kenapa jika masih 17 tahun, mama yakin Sofiah juga tidak menganggap itu akan menjadi sesuatu yang salah, iya kan Sofiah?" Tante Lana beralih padaku, aku jadi salting bukan main.
"I-iyyah tante," jawabku gunda, dan saat itu Sami memandang tajam ke arahku, aku menangkap tatapannya yang seakan ia ingin mencekikku sebelum kemudian aku mengalihkannya. Aduh! apa sih yang aku katakan?!
"Nah! Sofiah sudah setuju, lalu tunggu apa lagi, kita bisa langsung mengadakan pertunangan mereka, kalau perlu langsung saja akad nikahnya," kata Tante Lana yang berhasil membuatku melongo, juga Sami, kami sama-sama kaget, mungkin ada yang tidak beres dengan otak wanita ini. Begini, aku yakin ia sangat tahu jelas hubunganku dan Sami sama sekali tidak baik, tapi dia malah bersikukuh untuk menikahkan kita. Pasti ada sesuatu di sini, kan? pasti Tante Lana punya alasan kenapa dia sampai-sampai harus segera menikahkan anaknya.
"Ma..." panggil Sami dengan suara yang menurutku... sangat memelas. "Sami tidak mau dijodohkan seperti ini," katanya, aku melirik ke arahnya, ada siratan duka di sana. Apakah aku seburuk itu hingga dia tak mau menikah denganku? apakah dia benar-benar membenciku? Ya, walaupun aku juga membencinya tapi aku kira pernikahan boleh-boleh saja, ehm sebenarnya aku tidak membencinya, hanya terkadang aku merasa perlu sedikit meninggikan harga diriku di hadapannya, aku tidak pernah ingin membencinya, maksudku, Sami tampan, Ehm, Ya dia memang tampan dan aku buruk rupa, dan lihatlah wajahnya, dia memang menganggapku malapetaka sekarang. Aku tidak boleh egois, lebih baik aku berada di pihaknya saat ini, hanya untuk saat ini. Aku tau aku sangat menjijikan, dia selalu memandangku sebelah mata bukan? Jadi aku tidak bisa membayangkan setiap harinya aku akan di pertemukan oleh sepasang mata yang selalu ingin mendepakku dari rumahnya.
"Sami? kamu mau membantah mama, nak?" tanya Tante Lana lembut dengan tatapan terluka ke arah Sami, ih! mamanya ini pintar sekali akting, Sami jadi kelagapan sendiri.
"Bukan begitu, bagaimana kalau mama dan aku diskusikan ini dulu, tidak perlu mengambil keputusan terlalu cepat, kan?" tanyanya, aku hanya mengangguk setuju ke tante Lana.
"Ya sudah, apa lagi yang mau kamu diskusiin sama mama?" Sami menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Boleh aku tau alasan mama menjodohkanku dengannya?" tanya Sami. Tante Lana tertawa pelan dan menatapku dengan kerlingan menggoda, apa dia hanya ingin menggodaku dengan melemparku ke kandang singa? maksudku anaknya sendiri?
"Ayolah Sami, kita sudah membicarakannya kemarin, Sofiah baik dan cantik, juga pintar, ayo lihat dia," jawab Tante Lana, dan itu membuatku jengkel saat dia mengatakan cantik dan Sami malah memandangku jijik. Aku mengerucutkan bibirku kesal.
"Itu modal yang belum cukup untuk dijadikan calon istri," katanya.
"Terus yang seperti apa?" tantang tante Lana. Sami memijat dahinya sebentar.
"Anggun, memerhatikan penampilan, pandai memasak..." katanya, aku melongo, dari mana dia menemukan kalimat-kalimat itu? kenapa semuanya tidak ada dalam diriku?!
"Sofiah memilikinya Sami, kamu hanya tidak mengenalnya lebih dekat, dia memiliki segala yang kamu mau," apa itu pujian? tapi kenapa aku merasa bahwa perkataan tante Lana lebih buruk dari pada perkataan Sami, ya? Kemudian Sami memandangku, aku pun memandangnya, tatapannya berarti meminta bantuan. Aku memandangnya dingin yang tidak berhasil kupertahankan cukup lama.
"Tante, ehm sepertinya kita perlu membicarakan ini berdua sebelum memutuskannya," ucapku canggung.
"Begitu, Sofi?" tanya Tante Lana, aku pun mengangguk.
"Ya sudah jika itu mau kalian tidak mengapa, kalian juga perlu saling mengenal, kan?" aku mendengus, pasti sangat sulit melawan keinginan tante Lana, dia wanita keras kepala dan menganggap apapun yang dia katakan adalah benar dan perlu. Aku melirik Sami, dan dia hanya menatap kosong ke arah meja, lagi-lagi aku merasa bodoh berada disini.
***
"Kenapa papa diam saja sih saat tante Lana memaksa seperti itu?" tanyaku saat perjalanan pulang, aku dan papa naik kendaraan kesayangan kita, mobil jeep yang papa beli saat aku menginjak 13 tahunku.
"Lo? gimana mau ngomong, papa sendiri belum dipersilahkan untuk ngomong," jawab papa dengan desah tawa, apakah ada yang lucu? bahkan saat anaknya di olok-olok sejak tadi pun, papa tidak marah? Aku pun diam dan mengerucutkan bibirku kesal. "Ayolah sayang, ini kan hanya pernikahan..." Aku langsung memotong, apa katanya?!
"Pa?! Pernikahan itu berarti menyerahkan sisa hidup Sofi ke orang lain, menjadi tanggung jawab orang lain dan itu artinya hidup bersama dan saling terikat satu sama lain. Ini menentukan kebahagian hidup Sofi!" jelasku membentaknya. Tapi papa? ia malah tertawa mendengar nasehatku.
"Papa tau, papa ingin memilihkan pasangan yang tepat buat kamu," kata papa, aku melengos.
"Sami bukan pasangan yang tepat buat Sofi," jawabku gemas.
"Sami pasangan yang tepat buat kamu," kata papa membuatku harus memandangnya nanar.
"Papaa... Aku nggak mau dijodohin," kataku kemudian, aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menolak perjodohan ini, karena ini benar! pernikahan adalah penentu kebahagiaanku, kan? aku tidak boleh salah pilih.
"Sof, kamu kan sudah di beri waktu oleh tante Lana untuk lebih mengenal Sami, ini adalah kesempatanmu, lo," kata papa, keningku pun mengernyit.
"Kenapa sih papa kok bersikeras buat menjodohkanku dengan Sami? pasti ada sesuatu," kataku, papa terdiam kemudian melirikku sebelum kembali melirik ke jalanan.
"Papa dan keluarga Atmadja berteman, kita mau hingga keterunan keberapa pun tetap berteman," jawabnya.
"Kenapa seperti itu?" tanyaku heran, yang benar saja.
"Ya, karena kita ingin seperti itu," jawab enteng papa, aku melongo di buatnya.
"Pa, jika seperti itu, jika aku dan Sami menikah kemudian punya anak, dan anak kami saling menikah, lalu apa namanya itu jika bukan menghancurkan generasi?" Ayahku malah terkekeh mendengar penjelasanku itu.
"Bukan begitu maksud papa, jika kamu akhirnya menikah dengan Sami, itu sudah cukup menggambarkan dekatnya keluarga kita dengan keluarga Atmadja. Tidak perlu sampai anak-anak kalian saling menikah, anak itu hanya akan menjadi bukti kedekatan keluarga kita," Jawab papa.
"Tapi tetap saja, perjodohan ini merugikanku, Ehm.. Juga Sami," kataku, papa terkekeh lagi.
"Kan, papa sudah bilang bahwa kalian belum saling mengenal, jadi ini adalah kesempatan baik untuk saling mengenal, setelah itu kalian boleh bilang seperti itu," kata papa. Aku pun terdiam. Papa benar, dan sepertinya aku harus dan lagi-lagi menuruti keputusannya yang gamblang ini. Sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan waktu yang di berikan tante Lana, mengingat Sami membuatku kesal, dia tidak suka padaku. Mungkinkah pernikahan ini akan tetap berlangsung?