
Raisa memasang sabuk pengaman, menunggu Luke selesai memasukkan barang ke bagasi. Dipandanginya cincin yang melingkar sederhana di jari manisnya, dirabanya kalung dengan desain senada di lehernya, hadiah pertama dari Luke. Ada ikatan, harapan dan ketakutan melingkar erat disana.
Dua hari bersama Luke membuka sedikit bahwa lelaki itu tidak sepenuhnya menakutkan. Dia sopan dan menghargainya, terkadang jahil dan hangat nyaris seperti Sam, tetapi masih seringkali terlihat menutup diri dengan memasang wajah dingin.
Tunangannya meninggal dalam. Kecelakaan beruntun yang membuatnya cedera . . Lihat saja bekas operasi di rahangnya … Mungkin itu yang sering membuat matanya tiba tiba gelap, terutama saat ia bersikap sedikit manis pada Raisa
Dihembuskannya nafas , bagaimanapun Luke sudah jujur tentang masa lalunya. Dan bersedia membangun bersamanya dari nol. Setidaknya saat ini mereka berusaha merasa nyaman saat bersama.
“ Kita kemana ? “
Luke memasang sabuk pengaman, menatap Raisa , “ Ke rumah nenek dulu. Kamu bisa pindah ke rumahku, ajak nenek kalau mau.” Ditepuknya kemudi, “ Maaf ke rumah kita.”
Raisa melirik malu malu dan membuang pandangan ke balik jendela saat pandangan mereka bertemu.
“ Nek …. Kami pulang.” Raisa membuka pintu, mematung melihat neneknya duduk di kursi roda menatap deretan foto di atas meja tua.
“ Mana suamimu ?” terkekeh melihat Raisa tersipu dan Luke sedikit kikuk ,” Masuklah …. Mau mengemasi barangmu ?”
“ Nek, apa nenek bersedia tinggal bersama kami ?” Luke duduk di dekat nenek ,” Ada cukup ruang buat kita bertiga.”
Perempuan tua itu mendesah ,” Aku belum siap meninggalkan rumah ini. Tidak perlu kuatir, para tetangga disini akan menjagaku.”
“ Tapi nek … “
Nenek mengibaskan tangan menyela Raisa ,” Kalau aku butuh dekat denganmu aku akan pindah kerumah kalian. Tapi tidak sekarang.” Diaturnya nafas yang sedikit tersengal ,” Kalau kamu kuatir, aku terima tawaranmu untuk mempekerjakan seseorang yang akan menjagaku 24 jam.”
Raisa menghela nafas, menatap Luke yang mengangguk pelan.
Nenek tersenyum melihat pembicaraan tanpa kata keduanya ,” Sana, kemasi barangmu. Sudah seharusnya kamu tinggal bersama suamimu.”
Raisa bergegas pergi untuk menyembunyikan matanya yang berkaca kaca.
“ Luke.”
“ Ya nek …. “ disambutnya tangan keriput yang terulur padanya, membantu perempuan itu berjalan mendekati meja.
“ Tolong simpan ini untuk Raisa. Bukan barang berharga, tapi sangat bernilai.” Diulurkannya kotak kayu yang sudah berumur ,” Ada beberapa benda kecil milik kakek, nenek dan kedua orangtuanya.”
Luke menerima dan menyimpannya di saku jaket.
“ Aku percayakan Raisa padamu.”
“ Aku tidak bisa berjanji untuk selalu membahagiakannya, tapi aku akan lakukan yang terbaik yang aku bisa.” Luke memeluk tubuh renta itu.
“ Sana, bantu dia berkemas.”
Luke mengangguk dan masuk ke kamar Raisa, menghela nafas melihat gadis itu melipat pakaiannya sambil sesekali mengusap air mata yang menetes tanpa suara.“ Jangan menangis sekarang.” Dipeluknya Raisa lembut.
Raisa menjauhkan diri setelah beberapa saat ,” Thanks. Aku akan meninggalkan beberapa disini. Kalau aku ingin menengok nenek.”
Luke mengangguk, menatap sekeliling kamar yang rapi dan efisien tanpa banyak barang selain yang memang dibutuhkan. Dipandanginya lemari yang nyaris kosong, dan kopor berukuran sedang yang tidak terlalu penuh kendati sekotak make up dan beberapa buku catatan sudah masuk kedalamnya.
“ Aku cari kardus dulu.” Raisa meninggalkan Luke sendiri.
Luke duduk ditempat tidur, memperhatikan tumpukan pakaian dalam koper yang nampak seperti ketika ibunya akan bepergian.
“ Ada apa ?” Raisa masuk sambil membawa kardus ,” Ada yang lucu ?”
Luke memperlebar senyumnya ,” Cuma ini yang kamu bawa untuk pindah rumah ? Isi kopormu sama dengan kopor ibu untuk pergi dua hari.”
Raisa mengangkat bahu, memasukkan beberapa kotak sepatu kedalam kardus dan menumpuknya dengan buku dan beberapa barang pribadi.
“ Aku bawa ini ke mobil dulu.” Luke mengangkat kardus ,”Kopernya taruh dekat pintu nanti aku kembali.”
Raisa mendorong koper dan tas laptopnya, meletakkannya di ruang tamu. Dilihatnya sekilas nenek sedang sibuk menyiapkan teh. Ia beranjak ke kamar sebelah, membuka kamar yang biasa ditempati Jessy. Masih ada beberapa barang yang kelihatannya sengaja ditinggal atau tak sempat terbawa.
Gadis itu sudah packing dan membawa koleksi pakaian terbaiknya hampir dua minggu lalu. Terlintas bagaimana ia menertawakan Jessy dan menuduhnya tak sabar pindah ke rumah baru yang dibeli Sam akhir tahun lalu.
Baru terpikir mengapa Jessy menolak bantuannya untuk berbenah di rumah barunya, dan menganggapnya itu karena Jessy ingin menata rumahnya sendiri. Tiba tiba ia ingin tahu nasib rumah itu …. Ia tahu Sam tidak akan menempatinya “Maaf Sam … “ bisiknya lirih.
“ Sudahlah. “ tiba tiba saja Luke sudah meraih gagang pintu dan menutupnya , “ Nenek sudah menyiapkan teh untuk kita. “
Raisa mengangguk.
“ Aku akan minta tolong tetangga carikan, atau … ke agen tenaga kerja saja. “
“ Kamu butuh asisten yang menginap dirumah ? “
“ Aku ingin merasa aman nenek ada yang menjaganya malam hari juga.”
“ Maksudku di rumah kita. “ sahut Luke , “ Karena di rumah ada bibi yang tinggal dirumah, kalau kamu belum dapat orang kita bisa minta bibi pindah kesini jaga nenek. “
Raisa menengadah menatap Luke.
“ Kita bisa memanggil bantuan beberes seminggu dua atau tiga kali.”
Raisa mengangguk , “ Terima kasih.”
Luke meraih bahunya , “ Ayo. “ ditariknya kursi untuk Raisa , “ Nek … ikut kerumah yuk. “
“ Aku sudah bilang . … “
Luke menepuk tangan nenek lembut , “ Maksudku sekarang ikut kerumah. Nanti setelah makan malam kami antar pulang. Memangnya nenek gak ingin tahu Raisa bakal tinggal dimana dan ditempat seperti apa ? “
Nenek terkekeh , “ Baiklah … “ disodorkannya cangkir , “ Minum dulu tehmu. “
Dan hari sudah menjelang sore ketika mobil Luke sudah memasuki halaman rumah.
“ Ada Sam. “ Raisa melihat mobil putih Sam terparkir , “ Mobil om … . Eh mobil papa juga. “ ralatnya melihat Luke mengerutkan kening , “ Lupa. “
Luke mendengus.
Raisa membantu nenek keluar dan duduk di kursi roda yang sudah dikeluarkan Luke dari bagasi. Ditariknya nafas panjang sebelum mendorong kursi roda nenek dan mengikuti Luke yang mendorong kopernya.
“ Stop ….”
“ Apaan ?” Luke menatap heran saat Sam menghalangi Luke di depan pintu.
“ Hei, kamu biarkan pengantinmu memasuki rumah begitu saja ?” seru kakek sambil berjalan tergesa dengan tongkatnya.
Luke menghela nafas dan geleng kepala. Diulurkannya koper pada Sam, mendekati Raisa dan memondongnya ke dalam ,” Sekali lagi.” Bisiknya sambil tertawa kecil saat gadis itu menyembunyikan wajah di dadanya.
Ditariknya nafas dan mulai melangkah masuk, langsung menuju tangga dan membawanya ke kamar utama diiringi tatapan dan senyum keluarganya yang menatap dari bawah.
“ Wow … “ perlahan diturunkannya Raisa di pembaringan yang bertabur bunga. Kali ini membiarkan dirinya memeluk gadis itu lebih lama. Ditariknya nafas sebelum mencium kening Raisa ,” Thanks to be with me.” Bisiknya.
“ Luke … “ Raisa menatapnya dengan mata berkaca kaca. Pandangannya tak terbaca, terlalu banyak yang berkecamuk di dalam mata bening kecoklatan itu.
Luke menarik lengannya, duduk mempermainkan rambut legam yang tergerai diatas bantal bertabur bunga ,” Seperti iklan shampoo mawar.”
Raisa tertawa, mengusap sudut mata yang basah ,” Semoga gak ada semut atau ulat bulu terbawa kesini.”
Luke menggerakkan rahangnya.
“ Ada apa ? Sakit ?”
Luke mengusap rahangnya ,” Agak aneh rasanya. Kelihatannya aku terlalu banyak tersenyum dua hari ini.”
“ Aaaah.” Raisa salah tingkah, bangkit dan duduk disamping Luke ,” Mereka menunggu dibawah.”
“ Mungkin mereka malah berharap kita tidak turun.” Diangkatnya alis dan tergelak melihat Raisa bergegas berdiri dengan wajah memerah.
Sementara dibawah mereka bertukar pandang sambil tersenyum. Sangat sulit mendengar Luke tergelak seperti itu. Bahkan wajah yang biasanya dingin dan kaku itu masih menyimpan sisa senyum saat turun dengan tenang sementara Raisa berjalan sedikit di belakangnya dengan kikuk.
Ibu yang pertama kali maju memeluk mereka berdua. Kemudian ayah dan kakek menjabat tangan Luke sebelum memeluk Raisa.
Sam memeluk Luke erat ,” Ingat yang kamu janjikan.” Bisiknya disambut anggukan Luke. Kemudian mendekati Raisa memeluknya erat, menggertakan rahang menahan rasanya sambil mengusap punggung Raisa. Dijauhkannya tubuh setelah mereka berdua berhasil mengatur nafas ,” Aku sudah punya kakak galak, jangan jadi kakak ipar yang cerewet ya …. Baik baiklah pada adikmu yang manis ini.” Diusapnya sudut mata Raisa yang basah.
“ Sejak kapan aku cerewet ? Bukannya kamu yang lebih banyak bicara.”
“ Siapa tahu ….. kamu terpengaruh olehnya.” Diliriknya Luke ,” Ngomong ngomong, kamu dua hari di villa untuk ngasih privat caranya tersenyum ?”
Luke bersidekap, menarik sedikit ujung bibirnya mendengar semua tertawa.