
Raisa berlari turun dari mobil yang bahkan belum berhenti dengan sempurna, meninggalkan Sam dan bergegas memasuki rumah melalui pintu yang terbuka lebar.
" Bik ada apa dengan nenek ?" tanya Sam, sengaja tidak menyusul Raisa ," Didalam sama siapa ?"
" Paman dan bibi Yo. Dokter juga sudah datang."
" Ada apa ?"
Bibik menggeleng ," Tadi ada tamu ngantar sesuatu. Tapi saya gak tahu siapa, saya lanjut ke tukang sayur. Pulang dari sana nenek sudah di kamar sama bibi Yo. Paman Yo manggil dokter."
Sam menghela nafas, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ditepuknya bahu Bibik pelan, " Tolong siapkan keperluan nenek untuk ke rumah sakit. " ujarnya lalu menyusul Raisa, " Bagaimana, dok? "
" Harus dirawat, ambulance sudah dalam perjalanan. Tekanan darah melonjak tajam. " dokter segera berdiri mendengar suara sirine ambulance.
" Aku ikut ambulance."
Sam menghela nafas, menyerahkan kunci mobil pada Bibik, " nanti sopir kantor akan mengambil mobil." ujarnya bergegas menyusul Raisa kedalam ambulance.
" Nek...... bangun nek." Bisik Raisa lirih. Tangannya menggenggam erat tangan keriput yang terasa dingin itu.
Sam hanya bisa terdiam disamping sahabatnya. Diusapnya lembut punggung Raisa tanpa berkata kata, " Ke rumah sakit Permata Medika. Kami di ambulance." ucapnya singkat saat Luke menelponnya.
" Luke ? "
Sam mengangguk.
" Bukannya seharusnya dia terbang? " Raisa melirik jam tangannya.
" Luke batal berangkat, cuma sekretaris dan staffnya yang pergi." Sam menepuk tangan Raisa ketika melihat gadis itu akan buka suara, " Dia suamimu, dia yang harus ada disamping mu."
Raisa terdiam dan kembali menatap neneknya... Jangan seperti ini, nek.... aku takut. Jangan tinggalkan aku tanpa sempat bicara apa apa... digelengkannya kepala, mencoba mengusir pikiran buruk dari pikirannya.
Luke melangkah cepat menuju ruang tunggu, " Raisa. "
Luke membuka pintu perlahan, menatap sosok yang meletakkan kepalanya di tempat tidur nenek. Suara statis mesin medis membuatnya merinding, mengingatkannya pada hari hari tanpa suara yang dipenuhi kekecewaan dan kesedihan beberapa tahun yang lalu.
“ Gak usah memaksakan diri.” Mama mengusap lengan Luke saat melihatnya termangu dengan wajah pucat.
Luke menghela nafas panjang ,” Aku sudah berhari hari membiarkannya sendirian, ma.”
“ Ada mama atau Sam.”
“ Dia istriku, dia membutuhkan keberadaanku.” Luke menetapkan hati, melangkah perlahan memasuki ruangan khusus itu, “ Raisa… “
“ Luke… . “ Raisa mengangkat kepalanya, menatap lelaki yang berdiri dengan postur tubuh tegang dan wajah pucat , “ Kenapa masuk?”
Luke menggeleng, memilih memfokuskan pandangannya pada Raisa, sebisa mungkin menghindari menatap nenek dengan segala macam alat ditubuhnya. , “ Aku akan menemanimu. “
Raisa meraih tangan Luke, dingin… . , “ Sudahlah, ayo keluar. Aku kedinginan dan lapar. “
Luke mengangguk, tanpa sadar bergegas pergi. Dihembuskannya nafas panjang selesai menggantung baju khusus berwarna hijau itu.
Raisa tersenyum tipis, terharu melihat Luke berusaha mengalahkan ketakutan dan traumanya pada kamar ICU demi menemaninya.
“ Mau makan apa?”
“ Apa saja. Aku yakin mama dan Sam punya stock makanan diluar sana.” Diraihnya kembali tangan Luke, masih dingin walaupun sudah tidak setegang tadi.
“ Kalian mau minum? Makan?“ mama bergegas berdiri.
Luke duduk di sofa berwarna hijau dan menarik Raisa untuk duduk bersamanya. Nafasnya masih sedikit berat ketika gadis itu menyusup kedalam pelukannya. Sungguh saat ini dia tidak yakin siapa yang menenangkan siapa.
Sam tersenyum dan bertukar pandang dengan mamanya.