
Sam meletakkan gelasnya ketika melihat Luke dan Raisa memasuki ruang tengah ," Raisa .... kangen." dipeluknya gadis itu erat, merindukan tepukan ringan dipunggungnya.
Luke menarik ujung bibirnya. Bukan pertama kali ia menemui pemandangan seperti ini, tapi kali ini terlihat berbeda. Ada rasa yang mereka tahan untuk diungkapkan, selain dengan diam dalam pelukan ," Sudah ?" Luke menjitak adiknya.
" Astaga ... Jangan bilang kamu jadi posesif dan cemburuan, Luke."
" Salah ?"
" Basi kalau sama aku." gerutu Sam sambil mengawasi Raisa yang nampak kikuk saat Luke menarik pinggangnya. Senyumnya melebar sebelum tertawa keras.
" Apa sih ?" Mama keluar dari kamarnya diikuti Papa ," Eh, Raisa ...."
" Te ... eh, Ma .... " Raisa mencium tangan perempuan parobaya itu sebelum memeluknya.
" Kamu baik baik saja, sayang ?"
Raisa hanya mengangguk sambil tersenyum. Masih terasa sulit baginya bersikap seperti biasanya.
Sam menghela nafas pelan, menyadari sahabatnya bukan hanya kikuk karena statusnya sebagai istri Luke tapi lebih karena apa yang terjadi pada dirinya dan Jessy. Mata yang biasanya bening itu tertutup kabut tipis, " Sa .... aku kangen masakanmu."
" Mau dimasakin apa ?"
" Iga bakar."
Raisa mengernyit ," Emang ada stock Iga ?"
" Kita belanja .... Ayo." ujarnya sambil melompat dari sofa ," Jangan pelit ... aku pinjam kakak iparku sebentar."
Luke geleng kepala ," Emang kamu pikir aku mau bilang apa ?"
Raisa tersenyum saat Luke mengangguk dan mengikuti lelaki yang menariknya pergi ," Sabar Sam ....."
" Luke ... apa mereka baik baik saja ?" tanya Mama begitu mobil Sam meninggalkan pekarangan.
"Sekarang ? Tidak." Luke memeluk bahu mamanya ," Tapi mereka akan baik baik saja nanti. Mereka hanya butuh waktu, dan janganlah ditanya apakah dia baik baik saja."
" Kenapa ?"
"Apa mama pikir aku akan dengan sengaja menyakiti gadis yang menjadi istriku ?"
" Dia gadismu atau perempuanmu ?"
Luke mendengus ," Saat ini dia masih gadisku."
" Dia menolak ? Atau kamu ..."
" Pa ... kami memutuskan memulainya dari nol. Dia butuh waktu untuk memastikan perasaannya kepadaku, dan aku bersedia menunggunya."
" Kamu sendiri ?"
" Aku yakin akan perasaanku ... tapi masih belum yakin untuk melangkah terlalu jauh." guman Luke ," Aku yang memaksanya menjalani ini, aku harus bersabar sampai dia nyaman sebagai istriku."
" Kenapa diam ?Aku gak sekikuk ini saat bersama kakakmu."
" Kakakku itu suamimu."
Raisa mencibir.
" Sa ... kamu merasa terpaksa ...."
" Kami memutuskan dengan kepala dingin." potong Raisa ," Kami bisa memulai dari nol dengan membalik urutannya sedikit."
" Hmm ..."
"Kalau normalnya pasangan lain akan pendekatan, pacaran lalu menikah ... Kami akan mengubahnya sedikit. Menikah, pendekatan dan ...." diangkatnya bahu ringan tanpa menyadari mukanya sedikit memerah.
" Jadi .... Luke sedang pendekatan pada istrinya nih ?"
Raisa mengerucutkan bibirnya.
" Kalian gak pisah ranjang kan ? Atau jangan jangan pisah kamar ?"
" Dua hari pertamaaku tertidur di sofa." Aku Raisa.
Sam tergelak ," tertidur ... atau membuatnya nampak seperti tertidur ?"
" Issh."
" Lalu malam malam selanjutnya ?"
" Apaan sih ? Gak sopan ...."
" Kalian berbagi ranjang, dan kamu tetap gadisnya ?"
Raisa mengerutkan kening.
" Belum jadi perempuannya ?" terbahak bahak melihat wajah Raisa merah padam ," Hebaaat .... kakakku benar benar sudah berjuang keras menahan diri. Atau jangan jangan dia tidak nor ..."
" Berisik !" Raisa memukul bahu Sam dengan bantal kecil ditangannya.
Tawa Sam semakin keras ," Maaf kakak ipar ....."
Raisa merengut, lalu menatap lelaki disampingnya. Senang melihat Sam bisa tertawa lepas seperti itu ... untuk sejenak perasaan marah dan sedih yang dipendamnya teralihkan. Raisa bukannya tidak tahu senyum dan tindakan 'normal' yang ditunjukkan Sam hanya faktor kebiasaan ... Sam terbiasa ceria, terbiasa jahil, terbiasa ramah.
" Apa lihat lihat ?"
" Mau marah atau mau nangis ?" tanya Raisa saat menyadari Sam membawanya ke ruang terbuka didekat tanggul.
Sam menghentikan mobilnya di bawah pohon, mematikan mesin dan membuka pintu lalu berdiri diatas dinding tebal sambil berteriak.
Raisa mendiamkannya, menatapnya sambil duduk diatas kap mobil. Bahkan ketika lelaki itu memukul kantong pasir yang memang tergantung di bawah pohon besar di dekatnya. Sampai ketika Sam duduk bersimpuh, Raisa mendekat dan memeluknya tanpa suara.