MARRY YOU

MARRY YOU
Bagian 3



Bag 3: Jika kau memiliki kekuatan, maka kau memiliki kewajiban (Warth Of The Titans)


Aku mandi, merasa segar, merontokan segala beban pikiran yang menggangguku sedari tadi.Aku melihat ke dalam cermin di dalam kamarku. Oh! lihatlah gadis itu, dia terlalu besar untuk seorang berumur 17 tahun, mungkin dia harus diet untuk beberapa hari. Astaga, apa ini sudah meracuni pikiranku bahwa aku harus mulai memerhatikan penampilan?!


Aku tidak tau bagaimana tante Lana memuji diriku, aku tidak cantik, dan bahkan aku begitu memalukan. Aku menghempaskan diriku di atas ranjang. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Dua kata terus menggema dalam pikiranku seakan ingin memecahkan kepalaku.


Sami Atmadja.. Sami Atmadja.. Sami Atmadja..


Oh Tuhan.. rasanya kepalaku mau pecah. Wajah laki-laki itu terus menghantui. Mengapa dia begitu dominan dan misterius. Sekarang, aku sudah mirip narapidana yang kabur dari selnya dan Sami sedang bermain-main denganku sebelum melemparku kembali ke dalam sel. Aku menggeliat tidak nyaman.


Para orang tua ini juga sepertinya punya rencana. Aku hampir gila dengan seluruh rencana yang akan di lakukan orang tua itu ataupun Sami. Aku hampir saja tertidur di atas ranjangku jika bukan karena lagu Justin Bieber mengalun dan mengagetkanku. Ku lihat siapa yang menelpon, tante Lana. Aku melengos tidak bersemangat, apa lagi sekarang?


"Hallo," kataku, suara yang paling bersemangat yang pernah aku dengar adalah suara tante Lana.


"Oh Sofiah sayang.. kamu belum mengunjungi tante hari ini. Bagaimana kabarmu?" aku selalu bertanya-tanya mengapa Sami dan ibunya tampak begitu berbeda.


"Baik, tante," jawabku gugup.


"Oh bagus! apakah papamu sudah pulang?" tanya tante Lana lagi. Aku melirik jam di kamarku.


"Belum," jawabku begitu singkat tapi cukup rendah.


"Tante masak banyak untuk makan malam hari ini, Sofiah, datanglah bersama papamu, kita bisa makan malam bersama. Kita sudah seperti keluarga," tante Lana mulai bersuara kegirangan di ujung sana, apakah salah satu saraf warasnya ada yang putus? aku mengernyit sebentar, jika Sami tau apa yang aku pikirkan, mungkin dia sudah membunuhku. "Ini pasti akan menjadi makan malam istimewa, Sami bahkan terlihat antusias," Ah dia berbohong, aku tahu itu! "Jadi kalian harus datang, okey?"


"Hm.. Baiklah tante, aku akan memberitahu papa," kataku.


"Nah! Tante tunggu ya sayang," kata tante Lana sebelum kemudian telepon kami terputus. Apakah aku mengambil keputusan yang salah? Aku akan menyusun rencanaku sendiri malam ini. Lihat saja Sami, kamu mungkin punya rencana? aku juga punya! mari kita lihat siapa yang akan menang di antara kami.


Aku memakai gaun dengan lengan 3/4 berwarna oren dan renda yang menutupi bagian dadaku, aku menarik keatas renda itu, tidak mengijinkan siapa pun mengintip kulit mulusku ini. Aku bercermin sekali lagi, berputar-putar didepan cermin dengan memegang ujung gaunku sehingga tampak terbang dan mewah. Aduh! apa-apaan aku ini? Ini bukan aku sekali, rambutku yang tadinya aku urai seketika berhenti karena aku berpikir bahwa berputar-putar membuatku bodoh.


Mengapa aku harus tampak sempurna untuk datang ke kediaman Atmadja? apa pentingnya mereka, biasanya juga aku keluar hanya mengenakan kaos kesenanganku dan celana jins yang tampak kumel karena memang pakaian itu membuaku nyaman, rambutku biasa aku ikat kuda dan aku tak pernah lupa dengan kaca mata coklatku seakan framenya berasal dari jati. Aku menyukai penampilan itu.


Aku menggeleng cepat, jika aku berniat mengerjai Sami dengan mencoba menarik perhatian laki-laki itu, maka itu tidak akan berhasil, aku malah akan tampak seperti wanita murahan. Aku meringis, Oh! sungguh menyedihkan aku ini! Aku memang jelek, tapi tidakkah ada satu laki-laki di dunia ini yang akan menyukaiku?


Yang pasti itu bukan Samuel Adam Atmadja, sungguh! aku tidak berharap sejauh itu. Aku yakin jika aku datang ke rumah tante Lana seperti ini, sebagaimana aku di cermin, maka aku yakin Sami akan mencemoohku dan mengatakan aku wanita murahan, ya! laki-laki tak punya perasaan itu juga tidak bisa menjaga mulutnya, terutama padaku.


Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, "Sof," panggil papa. Aku melirik ke arah jam dindingku yag berbentuk tomat berwarna merah menyala. Ini pukul enam lewat, pantas saja papa sudah kembali. Cepat-cepat aku mengikat rambutku ponytail dan memakai kacamataku. Menuju ke arah pintu, aku membuka pintu kamarku dan di sana papa masih dengan jas kerjanya.


"Oh, kamu sudah siap rupanya," kata papa.


"Ya, tante Lana mengajak kita makan malam ke rumahnya, apa papa sudah tau?" tanyaku.


"Lana mengirim pesan saat papa rapat tadi, jadi papa telat membaca pesannya, dia juga bilang sudah menghubungimu," jelas papa, aku mengangguk.


"Pukul tujuh, papa tidak siap-siap?" tanyaku padanya, sembari aku berbalik ke arah ranjangku dan meraih kaos warna peach yang tadi sempat aku keluarkan. Sebaiknya aku berganti pakaian, kan? akal sehatku sedang menguasaiku sekarang.


"Kamu mau ganti baju lagi?" tanya papa mengikuti langkahku masuk ke dalam kamar, papa terdengar terkejut.


"Ya, aku tidak mungkin menjadi badut di rumah tante Lana, kan?" jawabku.


"badut? kamu tampak cantik dengan gaun itu Sofiah, apa yang kamu pikirkan?" kata papa, aku menatapnya heran.


"Papa bercanda? Ini sama sekali bukan aku."


"Kamu hanya tidak terbiasa, papa tau, tapi sungguh! kamu terlihat seperti wanita dengan gaun itu," kata papa, kali ini aku yang tersinggung.


"Jadi aku bukan wanita?" papa tertawa geli.


"Bukan begitu, kamu tampak lebih wanita... lebih feminim... lebih cantik," kata papa, aku mengerutkan bibirku.


"Papa!!" jeritku kesal ke arahnya, bahkan papa mengakui sendiri bahwa anak perempuannya ini jelek, adakah yang lebih buruk dari ini? "Sudah, sudah, papa keluar saja," aku mendorong punggungnya, kepalaku jadi pening menyaksikan pertempuran pikiranku antara sisi wanita jalangku dan wanita baik-baik. Sebentar aku berpikir aku akan memakai gaun oren ini, mengurai rambutku, memakai parfum seambrek dan mengganti kaca mataku dengan lensa kontak. Tapi, akal sehatku menguasaiku, untuk apa dan siapa aku berubah seperti ini? untuk Sami? Oh aku langsung dibuatnya hampir gila mengingat diriku mengejar Sami seperti perempuan ****** yang sering laki-laki itu campakan, aku mengerang berat.


Kemudian aku ingat bahwa aku ingin mengalahkan Sami, kenapa aku harus menahan diri menjadi feminim karena laki-laki itu? Ini juga tidak benar! tapi aku tidak pernah feminim dan sekarang tiba-tiba aku ingin menjadi feminim dan menginginkan pujian dari orang lain. Apakah ini normal untuk seorang perempuan? jika ada mama di sini, mungkin semuanya tak sesulit ini.


Pintu kamarku kembali diketuk, kupikir itu pasti papa, aku melirik jam lagi, jam tujuh kurang sepuluh menit, apakah selama itu aku berpikir? aku bercermin dan tampilanku benar-benar kacau!


"Sof, ayo! kamu sudah siap?" suara papa terdengar, aku menghela napas berat kemudian membukakan pintu untuknya.


Papa terlihat rapi dengan kemeja abu-abu dan celana hitamnya. Matanya menatapku tampak terkejut. "Kamu tidak jadi ganti?" katanya kemudian.


"Aku bingung apa yang harus kupakai, aku tampak tak biasa dengan ini tapi disisi lain aku ingin tampak cantik," akuku dengan suara payah, raut wajah papa tampak pengertian.


"Sayang, kenapa kamu harus bingung, bagaimana kamu mau terbiasa dengan penampilanmu sekarang jika bahkan kamu tak pernah memulainya, apa lagi yang perlu kamu khawatirkan?" kata papa. Aku masih cemberut.


"Ak-ku pikir, aku seperti wanita murahan jika mengenakan ini, aku tampak seakan aku akan menggoda seseorang karena memang ini bukan aku," jelasku.


"Apa?" papa tampak tersentak kemudian tertawa renyah, "Oh Sofiah, selama kamu tidak berniat seperti itu, orang lain tidak akan menganggapmu seperti itu, percaya papa," katanya, aku diam, "apa itu?" tanya papa melihat keanehan raut wajahku.


"Aku tidak yakin dengan itu," kataku, papa tampak berpikir.


"Begini saja, kamu tidak perlu berubah terlalu banyak. Kau bisa mengambil titik tengahnya," kata papa, aku mengerjabkan mataku sekali.


"Maksudnya?" tanyaku.


"Seperti penampilanmu sekarang, lihatlah dirimu, kau masih tampak seperti biasanya dengan rambut dan kacamata itu. Kamu bisa memulai lewat pakaianmu dulu, orang lain tidak akan terlalu memerhatikan, nanti pada saat kamu akan berubah secara keseluruhan, kamu tidak lagi kesulitan," kata papa, Oh laki-laki tua yang bijaksana yang tidak lain adalah papaku sendiri, dia begitu menyayangiku bahkan tanpa seorang ibu pun dia akan mengatasi segalanya untukku.


Aku mencintainya dan apa yang dia katakan adalah kebenaran, aku langsung memeluk papa, tubuhnya tampak tersentak dengan pelukanku. Tapi kemudian dia tersenyum, aku dapat merasakannya.


"Terima kasih pa, aku tidak tau bagaimana aku tanpa papa," kataku, mataku jadi buram. Papa menggeleng dan membelai kepalaku sayang.


"Tentu saja kamu bisa Sofiah, kamu anak papa," katanya seakan memperingatkanku, aku tersenyum, "Sudah, lebih baik kita berangkat sekarang," kata papa melepas pelukannya, membelai kepalaku lagi dan aku mengangguk, aku siap untuk ini.


***


Aku berdiri di depan pintu rumah mewah itu, papa berada di sampingku menggenggam tanganku. Aku dapat mendengar suara langkah kaki mendekat, kemudian pintu rumah kediaman Atmadja terbuka. Seorang pelayan tampak masih muda menyambut kami, wajahnya tampak kaku dan jutek. Aih, bahkan pelayannya pun seperti tuannya, aku mendengus sendiri.


"Silahkan masuk," katanya kemudian dengan gerakan seperti boneka setan, memersilahkan kami. Kami masuk ke dalam tak lama tante Lana menyambut kami, dia berhambur memelukku erat kemudian mencium kedua pipiku. "Lihatlah dirimu kamu tampak cantik dengan gaun ini," katanya, aku tersenyum senang, ya! inilah yang aku harapkan.


Tante Lana beralih pada papa, "Zayn," sapanya kemudian tersenyum pada papa, setelahnya tante Lana mengaitkan tangannya ke tanganku dan membawa kita masuk. Di ruang makan aku mendapati Om Adam dan Sami juga seorang anak perempuan yang duduk manis dengan Ipad ditangannya, adik perempuan Sami!


Om Adam tersenyum padaku, berbeda dengan Sami, dia menatapku lekat-lekat dari atas sampai bawah, Ih! seperti tidak pernah melihat perempuan dengan gaun, rambut dikuncir dan kaca mata lebar saja? Aku menaikan daguku membuatku tampak angkuh dan tak peduli, seperti wanita cantik pada umumnya. Saat kuintip dia lagi, dia menaikan satu alisnya.


"Sheila, singkirkan Ipadmu itu, kita akan mulai makan malamnya. Ayo Sofiah duduk di sini," Tante Lana menarikku seakan tanpa dosa, mendudukanku di kursi di dekat kursi Sami yang duduk di kepala meja, sedangkan di kepala meja yang lain ada Om Adam. Saat kuintip Sami, tatapannya datar.


"Astaga Sheila, kemarikan itu," tiba-tiba tante Lana berjalan cepat ke anak perempuannya dan seakan tak kuasa, mengambil Ipad itu dari anaknya.


"Mama.." Sheila merenggut.


"Jika kamu tak mau menuruti mama, mama akan buang benda ini," kata tante Lana dengan mata melotot, dia tetap tampak cantik.


"Mari kita mulai," kata tante Lana sembari tersenyum lebar duduk dengan punggung tegak dan kepala lurus, ia tampak mendominasi, bahkan om Adam hanya bisa tersenyum dan mengiyakan apapun, tante Lana benar-benar begitu penting di keluarga ini.


Tante Lana mulai mengambilkan nasi untuk om Adam, kemudian Sheila dan piringnya dengan cepat, aku terpesona dengan wanita ini. Dia tersenyum simpul padaku, aku hanya bisa melongo memandangnya.


"Ini," dia memberikan piring nasi padaku, pertama aku hanya mengernyitkan keningku. Tapi seakan tersengat listrik aku langsung berdiri dan menerima piring nasi itu. Piringnya berat dan indah diatas tanganku. Aku melirik Sami dengan gugup, dia menatapku begitu tenang. Aku menyendokan nasi ke piring papa terlebih dahulu, tidak seperti tante Lana, aku lambat dan gemetaran. Selesai. Aku menyendokan nasi ke piring Sami dan tanganku benar-benar gemetaran. Sial! dapatkah dia berhenti menatapku dan memperhatikan setiap gerak-gerikku, aku tau dia menikmatinya karena itu memang menyiksaku.


"Aduh, sampe gemetaran gitu," goda tante Lana.


"Dasar aneh," aku langsung membeku saat suara kecil nan sarkastik Sheila terdengar, aku merenggut kesal. Kemudian aku duduk dengan kasar dan menatap piringku yang masih kosong. Ini memalukan. Saat aku melirik piring tante Lana, om Adam dan Sheila, piring mereka sudah dilengkapi dengan lauk. Tante Lana menatapku heran.


"Kamu tidak mengambilkan lauk untuk papamu?" tanya tante Lana tiba-tiba, aku yakin wajahku memerah malu. Kemana niat untuk mengalahkan Sami? Ayo Sofiah! kuatkan tekad, beranikan diri! aku berdiri, okey! papa dulu, aku mengambilkan ayam dan tumis sayur untuknya. Aku menatap Sami dengan berani, "Ayam?" tanyaku, dia menggeleng, aku menatapnya agak lama.


"Jamur? ikan?" tanyaku lagi, agak lama dia melihatku.


"Ikan," jawabnya singkat, aku menelan ludah mengangkat piring ikan dengan gemas. Tanpa memotongnya aku berikan satu ekor ikan itu ke atas nasinya, aku yakin ke lima orang ini pasti terkejut. Dia melihatku dengan tatapan terkejut, tanpa memperdulikannya aku tersenyum menantang ke arahnya, berbangga diri dan mendudukan pantatku ke kursi.


Makan malam sebenarnya biasa saja, tidak ada yang spesial. Mungkin hanya percakapan kecil papa dan om Adam tentang pekerjaan, atau rewelan Sheila. Aku hanya diam, mengutuk diri atas kebodohanku tadi, ya! aku menyesal, aku yakin tante Lana pasti menambah poin keburukanku dan segera membenciku. Aku semakin membantu Sami jika itu terjadi.


Usai makan malam, kita beralih ke ruang tengah. Aku baru saja akan duduk dikursi di samping papa, tapi tante Lana menarikku ke samping Sami dan berkata pada Sheila, "Sayang, kamu duduk di sini, dekat om Zayn," aku terkejut saat aku sudah duduk disamping Sami.


"Jadi, Sofi, bagaimana sekolahmu?" pertanyaan mudah dari tante Lana.


"Nggak ada yang istimewa tante, biasa saja," kataku.


"Sudah kuduga," celetuk Sheila dengan juteknya.


"Kapan ujian akhirnya?" tanya tante Lana kemudian.


"Hhm bagus dong, lebih cepat lebih baik, iya kan, pa?," katanya, aku berharap aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.


"Ya, lebih cepat lebih baik," ulang om Adam, aku menunduk malu.


"Setelahnya mau kuliah di mana?" aku meringis setengah tersenyum mendengarnya.


"Hm, sastra tante," jawabku.


"Astaga, memang ya semua orang aneh pasti ngumpulnya di sana," celetuk Sheila lagi.


"Hush, mana tata kramamu Sheila," kata Tante Lana memendelikan matanya lagi. Sheila membuang wajahnya. "Sastra itu punyanya orang-orang pintar, bagus loh,'' kata tante Lana. Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk-angguk pasrah, benar-benar tak ingin membahas ini. Seakan bisa membaca gelagatku, tante Lana mengalihkan pembicaraan.


"Sami, bagaimana skripsimu?" tanya tante Lana pada Sami, Sami mengangkat alisnya.


"2 bulan lagi," jawanya pendek.


"Jangan dipaksa, Lana," kata om Adam, aku meliriknya.


"Ya, kalian tidak ingin membahas ini rupanya. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" aku tidak mendengar itu sebagai pertanyaan yang wajar dari tante Lana, nadanya seperti kekesalan atau bagaimana, aku tak tahu, kita semua diam, aku jadi berpikir apakah wanita ini benar-benar waras? maksudku, dia sama sekali tidak dapat membaca situasi.


Kemudian seorang pelayan masuk ke ruang tengah membawa makanan penutup dan sebuah mug besar es sirup. Aku mencoba mendengarkan papa yang mencoba mengangakat topik tentang perjalanannya ke Singapura minggu lalu, Om Adam menimpalinya dan mereka mulai bicara soal bisnis lagi.


"Tapi Zayn, perjalanan bisnis selama itu, kamu meninggalkan Sofi sendirian?" tanya tante Lana khawatir.


"Iya, tidak papa, Sofi bahkan bisa bersikap lebih baik jika tidak ada papanya," ucap papa.


Aku mengerucutkan bibir, "bukan itu papa, tidak kenapa napa karena memang Sofi udah gede," ucapku.


Aku menatap si pelayan berwajah sinis hendak melaluiku, dia membawa semangkok besar penuh pasta. Mata pelayan itu tampak berputar ke satu ruangan, dia bahkan berhenti untuk menatap Sami dan tersenyum manis sambil menundukan kepalanya malu. Dan aku masih hendak sinis lagi saat itu padanya, tapi dia sudah tersandung dengan kakinya sendiri dan melempar semangkok pasta ke arahku. Semuanya berjalan bergitu cepat. Aku mandi saus, bau telur, bau daging yang ternyata baunya lebih menyengat dan membuatku ingin muntah.


Aku masih tidak bisa berkata-kata, menatap tanganku yang berlendir dengan heran.


"Astaga!" teriakan tante Lana terdengar, kulihat papa ikut berdiri dari tempatnya. Semua orang terkejut, aku hanya bisa menelan ludah berulang kali.


"Maaf nona aku tidak sengaja. Aku tiba-tiba terjatuh. Sungguh, aku tidak bermaksud melakukannya," pelayan itu bicara terlampau cepat. Aku sudah melompat dari sofa dan menatap tubuhku sendiri hampir akan menangis.


Aku sangat jijik! Aku sangat menjijikan!


Sami menatapku dingin seakan menyalahkanku. Sami terciprat sedikit, ada noda kecil di kaos putihnya. Tapi aku, aku kacau! Tante Lana menghampiriku dan mencoba membersihkan kuah kental itu dari kulitku. Aku menyapu daging dan kentang yang menempel di bajuku. Sekarang baju oren ini berubah coklat.


"Betapa cerobohnya kau Soraya!" tante Lana mengomel, pelayan itu merenggut kesal saat berjongkok dan mengangkat mangkoknya. "Oh sayang, ini seharusnya tidak terjadi. Kamu butuh mandi," kata tante Lana kemudian menarikku. Aku sempat melihat Sami di belakang dan dia tampak mengatakan sesuatu pada ayahnya. Kemudian om Adam menepuk pundaknya seakan memberi kekuatan, aku meringis melihatnya.


Tante Lana membawaku ke kamar Sami, "di kamar tamu aja tante," kataku dan dia menggeleng.


"Terlalu jauh Sofi, kamu nanti malah mengotori rumah tante," katanya. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan memasukan diriku ke kamar iblis! Lantainya jadi kotor karena gaunku masih meneteskan noda. aku merasa bersalah untuk itu. Tante Lana meninggalkanku dn aku masih kebingungan di dalam kamar itu sambil merutuki nasib buruk. Tak lama, pintu terbuka lagi dan Sami masuk. Dia menatapku agak lama.


Aku menelan ludah kali ini benar-benar ketakutan. Aku berdiri kaku di depannya dengan kepala tertunduk sambil memilin jari. Ini memang salahku, aku tak pernah bisa melakukan hal benar di hadapannya.


Sami menghampiriku lebih depat, menatapku lagi dari puncak kepala sampai kaki. "kamu memang selalu sesial ini, ya? Dalam satu hari kamu bisa mengesankanku pada banyak hal," ucapnya, nadanya sinis, aku mencoba menatap ke mana pun asal bukan ke matanya, dia tidak akan bisa mengerti sampai kapanpun betapa tertekannya situasiku saat ini.


"Payah," ucapnya kemudian, ia berjalan ke arah lemari bajunya.


Sami mengambil sebuah kaos, celana pendek miliknya, dan sebuah handuk, ia berbalik dan memberikannya padaku.


"Ck, kamu juga tidak akan mendengarkanku, kan, atas apapun yang akan aku katakan. Dengar, mamaku bukan seorang yang bisa bermain lembut padamu," ucapnya. Aku menerima pakaian itu dengan enggan.


"Apa maksudmu?" tanyaku dngan kening mengernyit.


"Memang apa lagi maksudku, mama dan pelayan itu berbagi pandangan dan tiba-tiba sup itu menimpamu."


Aku melotot tak mengerti.


"Ah, sudahlah, kenapa aku harus menjelaskannya," dia menampar angin kemudian menatapku lagi agak lama, tatapannya turun ke pakaianku. "Bajumu norak sekali, apa kamu mengambilnya di suatu tempat?" bibirnya mengerut jijik.


Aku menatapnya tanpa kedip, "apa katamu?!" tapi suara yang seharusnya adalah teriakan malah hilang tidak keluar sama sekali. Kali ini aku seperti punya alasan yang lebih pasti untuk menangis. Mataku sudah buram dan tubuh bisa ambruk saking lemasnya.


"Kamu menunggu apa lagi, cepat mandilah, " perintahnya lagi. Aku menundukan kepalaku saat melaluinya cepat-cepat, langsung masuk ke kamar mandi tanpa berani mengintip laki-laki itu.


Aku mandi dengan sama cepatnya, terpaksa memakai sampo dan sabun milik Sami, aku sudah tidak sempat berpikir. Rasanya campur aduk, aku juga tak bisa membedakan mana air shower dan mana air mataku. aku memalukan, menjijikan. Benar-benar sudah sangat hina, aku tidak akan datang kemari lagi, tidak ada lagi perjodohan! Tiba-tiba aku sudah sesenggukan.


Saat menatap ke cermin hanya mengenakan bra dan celana dalam, aku melihat seberapa buruk diriku di sana. Aku menghapus air mataku menepuk ke dua pipiku agar tidak sembab karena air mata. Payah, aku menangis untuk mereka, tapi ini benar-benar sial! Hari yang sial.


Aku mengenakan pakaian Sami, kaosnya kedodoran di tubuhku, celana pendeknya jatuh dibawah lututku. Aku seperti makhluk paling hina, alien dari luar angkasa atau pengemis atau anak yatim-piatu. Aku yang jelek pun jadi semakin jelek.


Aku keluar dari kamar masih menutup mulutku rapat-rapat, aku berjalan perlahan tanpa suara. Sami sedang duduk di atas ranjang dan bermain ponselnya, tapi saat kupikir aku bisa keluar tanpa sepengetahuannya agar Sami tak lagi melihat wajah kacauku ini. Dia sudah berbalik dan menontonku, aku merah padam, aku benci bagaimana cara dia menatapku.


"Ini yang mau aku jelaskan padamu," katanya kemudian, aku menatapnya membeku sesaat dan menatapnya tanpa kedip lagi, "Sebenarnya kamu ini berada dipihak siapa?" tanya Sami, aku tertegun, "Dengar. Datang kemari adalah sebuah kecerobohan terbesarmu. Kamu membuat mama semakin leluasa untuk menggencarkan rencananya. Kamu tau kan apa yang dia inginkan? Tidak bisakah kamu menolaknya, apapun yang kiranya akan semakin membuat mama berada di atas dan memegang kendali?"


Oh kesini arahnya, aku mengerti tapi aku tidak bergeming. "Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, apakah kamu tidak juga mengerti?" Dan Sami, dia pasti berpikir aku bodoh. Sami beranjak dari tempatnya dan menghampiriku.


"T-tapi bukankah pembicaraan terakhir kita tidak menghasilkan rencana apapun.." ucapku rendah.


"Kupikir kamu cukup pintar untuk memahaminya, kita memang belum punya rencana apapun untuk menggagalkan perjodohan ini. tapi ini soal kendali Sofiah, apapun keputusan yang akan kita ambil kita harus tetap berada di atas," dia menekankan.


"Ak-aku tidak mengerti," kataku takut-takut. Kulihat Sami menjalankan tangannya ke rambutnya tampak mencari sesuatu yang mungkin hilang di kepalanya itu.


"Okey, mungkin ini terlalu tinggi untukmu...Mama, papa dan Om Zayn, mereka punya rencana, kamu mungkin tidak menyadarinya, dan asal kamu tau, rencananya itu lebih dari selain menjodohkan kita, Sofiah. Aku memang masih belum bisa melakukan apapun untuk membantah orangtuaku, tapi bukan berarti kamu juga kehilangan kewajibanmu di sini. Apa kamu tidak bisa membantuku sebentar saja dan membuat kerja sama ini jadi sedikit lebih pintar, aku benar-benar tampak seperti sekumpulan orang bodoh saat bersamamu. Kamu tidak mengerti juga?" dia bicara panjang lebar, aku masih diam saja.


Aku menundukan kepalaku. Ya, sekumpulan orang bodoh saat bersamaku, aku bisa mengingat kalimat itu sampai aku mati sekalipun. Aku menekan kedua bibirku jadi satu terlampau kuat. Sami menatapku agak lama.


"Dengar, Sofiah, kita punya cara kita sendiri, kendali kita sendiri."


Apa maksudnya dengan kendali? Dia ingin terbebas dari perjodohan dan ia membicarakan soal kendali yang sama sekali tidak sampai di otakku.


Aku mengalihkan pandanganku dan menghembuskan napasku menyatakan persetujuan, Sami diam, aku memandangnya dan dia memandangku, ia mengangkat dagu ke arah pintu menyuruhku untuk keluar. Aku merasa sangat memalukan, aku merasa lebih rendah dari seorang yang bodoh sekalipun.


Aku melihatnya lewat bulu mataku, dan berjalan lemas ke arah pintu tiba-tiba Sami memanggilku, "Sebaiknya kau segera mminta ayahmu untuk mengantarmu pulang," katanya dingin dan aku mengiyakan dalam diam.


Apa sih yang aku harapkan dari laki-laki sepertinya? Mengapa aku masih berharap dia akan menyukaiku? Apa yang aku pikirkan?! Sungguh ini menggelikan sekali. Ini seperti punuk merindukan bulan.


***


Di ruang tengah, kulihat Om Adam yang sedang mengobrol dengan papa, ada juga tante Lana yang hanya menyimak. Ini sudah setengah sepuluh malam dan aku masih berada dirumah orang lain, menggembara dengan legal.


Tante Lana tersenyum padaku, kuharap wajahku tidak tampak mengerikan karena aku menahan agar tidak menjerit kesal.


"Tante Lana," kataku, suaraku serak, bodoh! kemudian kupaksakan senyuman diwajahku.


"Ada apa sayang? Apa ada yang salah?" Tante Lana beranjak dari duduknya, wajahnya berubah kalut dan khawatir. Ia mengelus rambutku dan menatapku heran.


"Aku...aku tidak menginginkan perjodohan ini, ak-aku tidak mau dijodohkan," kataku, suaraku pelan dan payah.


"Sofiah.. Apa yang kau katakan ini? Apa kau bertengkar dengan Sami? Oh! kurangajar sekali anak itu! Dengar! Jangan dengarkan dia, tante akan memarahinya dan menyuruhnya minta maaf padamu.."


"Bukan.. Bukan itu tante. Aku tidak bertengkar dengan Sami, aku sudah memikirkan ini baik-baik.. aku tidak cocok dengan Sami, aku tidak bisa menikah dengannya. Ini keputusanku tante, aku yang akan menikah dan menghabiskan hidupku bersama pasanganku, dan aku tau mana pasangan yang tepat untukku... maafkan aku tante," kataku, bahkan suaraku bergetar, aku malah sangat ingin menangis. Tante Lana menggelengkan kepalanya.


"Sebanarnya apa yang terjadi pada kalian berdua? beritahu tante," tante Lana memaksaku.


"Sejak awal kita memang tidak menginginkan perjodohan ini, aku ataupun Sami, kami berdua. Kami ingin menggagalkannya tapi kami tidak tau bagaimana, kuharap tante mau mengerti." tante Lana memelukku dan aku balas memelukannya erat.


"Tolonglah Sofi, pikirkan ini baik-baik, tante tau bagaimana Sami, dia akan segera menerima perjodohan ini. Percayalah," kata tante Lana, aku tercengang, mengapa aku tampak seperti sangat menginginkan perjodohan ini? Aku tidak menginginkannya! Aku tidak menyukai laki-laki itu! Mataku panas dan berair.


"Aku ingin pulang tante," bisikku padanya. Tante Lana melepas pelukannya dan menatap mataku.


"Oh jangan menangis Sofi, maafkan tante," katanya, aku menggeleng.


"Aku hanya ingin pulang, kumohon," kataku lagi, kuyakin wajahku semakin jelek dan menjijikan, aku yakin pula, setelah ini tante Lana tidak akan menyukaiku lagi karena aku tidak cukup baik untuk segala hal yang dia harapkan. Aku bukan siapa-siapa untuknya sejak awal. Papa dan om Adam hanya berteman dekat awalnya, kemudian papa mengajakku ke rumah tante Lana bulan lalu dan sejak saat itu kami dekat.


Aku sudah menganggap dia mamaku sendiri, dia begitu baik dan tidak pernah merasa jijik denganku karena aku sudah kebal dengan kehidupan tanpa seorang ibu, aku selalu mengaggap diriku menjijikan.


Aku mengangguk pada tante Lana, dan melepas pelukannya, dia menatapku tidak enak, aku mencoba tersenyum tapi kecut, papa menatapku sedih tapi berusaha menyembunyikannya.


Kami berjalan beriringan menuju pintu keluar ditemani tante Lana dan om Adam. Papa mengatakan sesuatu yang tidak terlalu aku simak. Aku benar-benar tidak dapat berpikir jernih, aku masih merasa janggal dengan ini semua dan merasa masih ada yang salah. Papa menyalakan mobil jeepnya dan mobil kita segera membelah jalanan malam yang sepi.