
Bag 5 : Hidup memang tak selalu seperti apa yang kita harapkan, tapi selalu ada harapan untuk tetap hidup.
"Kamu baik-baik saja, honey?" tanya papa saat aku sedang melamun di balkon kamar. Aku menoleh ke arahnya, ia mengenakan kaos putih polos dan celana longgar.
"Papa tidak tidur?" tanyaku.
"Papa merindukan momen ini," katanya tiba-tiba, suasana di antara kami jadi begitu lembut dan tak tersentuh. Aku menatapnya penasaran, papa masih menatap taman rumah kami seakan menggambarkan kerinduan di hatinya yang tak terbalaskan, ini pasti tentang mama.
"Mamamu sangat suka berada di balkon pada malam hari hanya untuk berpikir atau melamun. Persis sekali seperti yang kamu lakukan sekarang," jelasnya, aku dapat merasakan pilunya hati papa, hidup tanpa mama sangat berat untuknya, aku tau itu, setiap malam papa juga susah tidur, aku tau. Setiap pagi papa akan membuat kopinya sendiri dan duduk di meja makan dengan merenung, aku tau. Dia memang begitu merindukan mama... begitupula aku. "Terakhir kali mama berada di sini, dia bicara soal kamu," papa menatap ke arahku. Kemudian papa tersenyum sangat manis.
"Saat Sofiah menikah nanti... dia ingin merangkaikan bunganya sendiri untukmu, dia ingin memberimu jepitnya dan dia ingin mengecupmu dengan mengatakan 'hiduplah bahagia untuk selamanya', kamu tau bagaimana mama, kan? dia selalu berpikir jauh ke depan, dia selalu bertanya bagaimana gaun pengantin yang akan Sofiah pakai," papa tersenyum mengenang, aku tertawa lembut untuknya dan dia menatapku sama lembutnya, banyak rindu yang tertinggal di mata itu.
"Mama dan tante Lana begitu dekat, seperti adik dan kakak," papa melanjutkan, entah kenapa, napasnya tiba-tiba saja jadi panjang. "Mereka punya hobby yang sama, mungkin itu yang menjadikan mereka begitu dekat... Bermimpi..." papa terkekeh setelah mengatakannya, "Kamu tau? sejujurnya perjodohan ini bukan asal menjodohkan, papa juga mau yang terbaik untuk anak papa," Aku terdiam.
"Sami adalah laki-laki yang baik," lanjut papa seakan dia bisa membaca pikiranku, "Dia... memiliki sesuatu yang membuat papa menyukainya," katanya.
"Apa itu?" tanyaku tak bisa menahan rasa penasaran.
"Dia sangat menyayangi ibunya, papa tidak pernah melihat yang seperti itu," Saat papa mengatakan itu, ia menerawang jauh ke depan. Aku juga dapat melihat bagaimana Sami dengan tante Lana. Tapi saat papa mengatakannya tadi, dia seakan mengerti bahwa Sami sudah terlahir seperti itu. Aku tidak bisa memperdebatkan apapun, aku tidak ingin merusak momen itu.
***
3 minggu tepat berlalu, ujianku berakhir. Sebenarnya ini bukan akhir dari perjalanan pendidikanku, bahkan ini awal menuju masa depan. Aku tak yakin dengan mengambil sastra bahasa, tapi dari semua yang terpikir olehku, sasta adalah yang paling mudah.
Saat itu, Aku sedang duduk di depan sekolah dan merenung. Aku memperhatikan sekitarku dengan seksama, kemudian ke pintu utama sekolah dan melihat siapa yang keluar darinya. Cinta pertamaku, dia yang bisa ku ingat sampai sekarang.
Dia tampan tentu saja, rambutnya hitam legam. Kulitnya sedikit kecoklatan karena dia pernah menjadi anak basket andalan sekolah selama satu tahun. Aku meliriknya dan dia sedang berada tak jauh dariku, sepertinya sedang menunggu seseorang.
Roni tidak pernah menatapku. Aku sedang meliriknya diam-diam, duduk tidak nyaman di atas bangku dan dia berdiri tegap dengan wajah bosan dan tangan yang berada di saku. Ya, ini sungguh di luar keingintahuanku. Aku tidak pernah berpikir bertemu dengannya disini.
Aku menatapnya cukup lama berharap dia membalas tatapanku. Kemudian dia menatapku, mungkin merasa bahwa aku sudah menatapnya terlalu lama, keningnya mengerut halus. Tanpa menjelaskan apapun aku mengalihkan pandanganku. Ingin sih, tersenyum padanya sebagai tanda perkenalan pertama kita. Aku berharap dia mengajakku bicara. Aku menggenggam tanganku penuh pengharapan, mungkin jika dia mengajakku berbicara kita bisa menjadi teman, kemudian menjadi teman dekat dan kemudian berpacaran, akhirnya aku baru bisa melampaui Sami Atmadja.
Napasku tersentak saat Roni berjalan cepat ke arah mobil yang baru saja datang. Aku merenggut sedih, memangnya aku sejelek itu apa. Roni sudah hilang dari penglihatanku dan aku sendiri sekarang. Bukankah sangat miris kisah cintaku ini? Aku menunggu lagi, tak lama mobil yang menjemputku datang.
Aku langsung masuk kedalam mobil dan wajah sopir setengah baya menyambutku, "Maaf mbak, tadi itu... ada sedikit masalah," katanya dengan berpikir agak lambat, matanya menyiratkan kecemasan saat aku mencoba membaca matanya, dia mengalihkan pandangannya.
Memperhatikan jalan, itulah yang kulakukan biasanya, lagu yang dipasang pak Johan membuatku mengantuk. Tak sadar aku sudah tertidur. Aku ingin tidur, aku menurunkan bahuku dan tubuhku semakin lemas sedang mata juga kepalaku berat. Sedikit demi sedikit ketidaksadaran melarikan ingatanku. Posisi ini begitu nyaman, tenang, damai dan cukup singkat.
"Sudah, biar saja pak," aku mendengar seseorang berbicara, aku masih tak ingin membuka mataku.
"Tidak langsung dibawa ke dalam, mas?" itu suara pak Johan, aku mengernyitkan keningku tidak nyaman.
"Aku saja yang bawa ke dalam," kata suara yang kukenal itu. Keningku tidak lagi berkerut. Kemudian hening, aku semakin merilekskan tubuhku. Tidak ada suara lagi. Tiba-tiba kakiku melayang, kemudian tubuhku, sesuatu yang keras berada di tengkukku dan belakang lututku. Apa ini? tiba-tiba hidungku sudah dipenuhi aroma parfum yang lembut, semakin kueratkan tubuhku hingga posisiku hampir melengkung, kemudian kucium dalam-dalam aroma itu, mengunciku. Oh ini nyaman sekali, aku tersenyum lagi. Inilah nikmatnya orang tidur.
"Dia tidur?" tanya seorang yang persis sekali dengan suara Tante Lana.
"Aku bawa dia ke kamar," jawabnya dan aku masih melayang. Aku bergumam tidak nyaman, kemudian melemaskan tanganku kearahnya. Kenapa ini begitu nyata? Aku tersenyum tipis dan mengeratkan tubuhku kearahnya.
"Jam tiga kalian sudah harus siap, pakaiannya mama bawa ke kamarmu nanti."
Tiba-tiba tubuhku serasa dihempas ke atas suatu yang lebih empuk, kasur, karena seluruh bagian dari tubuhku dapat menyentuh kain halus dan empuk ini. Aku membalikan tubuhku kekiri dan memeluk guling. Membenamkan wajahku di sana dan menghirup aroma yang sama. Suhu kamar begitu nyaman. Aku bisa tertidur pulas di sini, kepalaku tak mau bertoleransi lagi, semuanya begitu membiusku. Kemudian napasku mulai teratur, tidak ada suara maskulin itu lagi hingga yang kubutuhkan sekarang adalah gelap yang mendamaikan. Aku pun tertidur, pulas dan cukup lama.
***
Aku terbangun dengan sentakan, sialan kodok yang tiba-tiba berubah menjadi kalajengking, ini mengagetkanku. Aku mengerjab mataku, oh! tidurku nyenyak sekali sampai-sampai aku ingin kembali tidur lagi. Saat aku sadar, ternyata aku masih mengenakan pakaian bekas dari sekolah. Aku menggeliat, kemudian kembali tersentak, tunggu.. tunggu.. aku tidak pernah punya seprai berwarna hijau dengan garis yang jarang, selimut tebal hijau.. ini bukan milikku tentu saja, lemari di hadapanku.. dan aku menoleh ke langit-langit.. Senapan itu? astaga! bagaimana aku bisa berada di sini, apakah aku berhalusinasi?
Aku memang belum bertemu Sami Atmadja sejak tiga minggu terakhir dan hampir setiap malam aku selalu memikirkan bagaimana jika aku tertidur di ranjangnya? Aku merengut dan beranjak dari dudukku. Aih! lantainya keras dan dingin, ini nyata! aku tidak bermimpi? tapi bagaimana mungkin?
Bukankah tadi aku masih menunggu jemputanku datang? Kemudian aku bertemu Roni dan dia pergi begitu saja tanpa mengajakku berkenalan, kemudian jemputanku datang, pak Johan memasang lagu instrumen dan aku tertidur...
Aku membekap mulutku yang mengangah hebat setelah menyadari sesuatu. Sialan! Jangan bilang bahwa Sami yang membawaku saat aku tertidur? Sami Atmadja?! Tuhan.. kepalaku langsung pening seketika dan tubuhku meluruh ke lantai, aku berharap aku bisa berubah menjadi manusia air kemudian masuk ke selokan. Aku menggigit kukuku gusar, menoleh ke kanan dan kekiri, dan kosong. Jendelanya sedikit terbuka, mungkin aku akan lompat saja dari jendela. Oh! itu ide bagus.
Aku beranjak dari dudukku. Sedikit mengendap-endap, seakan kakiku yang telanjang! akan menimbulkan kegaduhan. Kuharap bukan Sami yang melepas sepatu butut dan kaos kaki bauku. Oh tuhan! Aku menempel ke daun pintu, bersiap membukanya.
"...Karena memang yang datang hanya keluarga dekat dan kerabat bisnis saja," Aku mendengar suara perempuan asing tepat di balik pintu.
"Pak Adam mengizinkan kita makan setelah ini, Tapi heran ya, acara mau dimulai tapi dia masih enak tidur di dalam," katanya lagi, aku mengernyitkan keningku, firasatku mengatakan bahwa dia sedang membicarakanku.
"Anak masih muda kok disuruh cepat-cepat nikah, kan kasihan kalau sudah punya anak nanti," timpal suara yang lain.
"Tidak masalahlah.. Dikampungku saja pokoknya sudah haid, ibunya sudah mulai sibuk mencarikan jodoh... umur masih 20 tahun anaknya sudah 2 atau 3," aku bergidik ngeri mendengarnya, kampung mana yang dia bicarakan sih? aku jadi penasaran.
"Eh, itu mas Sam, kan? dia kelihatan bingung gitu," percakapan masih berlangsung, mendengar nama Sami, aku langsung menempel kembali ke pintu.
"Gugup mungkin, dulu aku sama Mas Indro juga begitu," kata perempuan pertama, aku mengernyitkan keningku, terbayang di otakku, membuka pintu lebar-lebar kemudian menarik 2 orang itu dan menghujani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalaku yang rasanya siap meledak.
"Sampai sekarang masih nggak bisa percaya, akhirnya mas Sam jadi juga," lanjutnya. Aku menelan ludah dan menjauh dari pintu tak tahu menahu.
"Astaga.. apa yang harus aku lakukan?" bisikku gusar. Aku menarik napasku dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Tenang Sofi, tenang.. jangan mengambil kesimpulan dulu." Mungkin papa yang membawaku kemari untuk menghadiri pernikahan Sami dengan pacarnya. Tante Lana takut aku masih sakit hati dan tidak mau mendatangi pernikahan mereka karena itu mereka seakan menculikku. Ya ya! itu adalah alasan yang paling masuk akal.
Tiba-tiba gagang pintu bergerak, aku tersentak dan semuanya berjalan begitu cepat saat daun pintu terbuka dan Sami masuk ke dalam dengan hati-hati dan dengan seribu ketampanan yang dimilikinya.
Aku masih membeku tidak bergerak, seakan sesuatu melarangku untuk beranjak. Mataku tak berkedib sama sekali, sedang Sami, oh ini nyata! menatapku tenang. Kemana perginya malaikat yang seharusnya berada disisi-sisiku, apa mungkin mereka juga sedang mengagumi ketampanan laki-laki ini?
"Kamu sudah bangun rupanya." Sami tampak rapi, jas silver dengan dua kancing, kemeja abu-abu juga dasi abu-abu. Rambut coklatnya disisir rapi, dia tampak tampan dan tiba-tiba aku merasa inferior dengan penampilanku sendiri.
"Apa maksudnya ini semua?" suaraku terdengar melengking aneh.
"Kamu pasti terkejut setelah tiga minggu tidak bertemu. Setelah malam itu, mama dan papa juga berpikir hubungan kita baik-baik saja. Kemudian kamu jadi sibuk untuk ujianmu. Itulah kenapa kita tidak ingin mengganggumu dengan semua persiapannya."
"Tunggu dulu, persiapan? Maksudnya apa? Kamu tidak sedang bercanda, kan?"
"Tidak. Kita akan menikah, hari ini, saat ini juga."
"Siapa yang boleh memutuskan begitu?!"
"Semua menyetujuinya, termasuk papamu."
"Papa tidak bilang apa-apa padaku," kekesalan langsung meliputiku saat itu juga. Aku tidak bisa lagi menahan nada bicaraku.
"Dia mungkin sudah mengatakannya."
"Tidak, dia tidak bilang apa-apa!"
Sami diam dan menatapku serius.
Kemudian tatapannya turun ke tanganku.
"Kamu juga memakai cincin itu."
"Apa?" aku mengangkat tanganku, sebuah cincin perak dengan berlian di tengahnya terselip di sana. "Ak-aku menemukannya. K-kupikir ini... dari papa," tiba-tiba suaraku habis. Aku merasa ingin menangis saat ini juga. "Dia bilang dia akan memberiku hadiah sebelum kelulusan."
Tapi Sami tidak bilang apa-apa lagi. Dia diam saja. Seharusnya aku tidak terlalu anti padanya. Papa memang beberapa kali mencoba berbicara soal Sami, tapi aku selalu menghindar. Tidak, matilah aku! Lalu sekarang bagaimana?
"Jika kamu sudah tidak sekalut tadi, kuharap kamu mau segera bersiap, acaranya akan dimulai sebentar lagi," bagaimana mungkin dia bisa bicara setenang ini? Aku sudah bersiap meluruh di lantai atau mengubur diriku sendiri. Sami hendak berbalik meninggalkanku.
"Tunggu," cegahku, "apa kamu serius? Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi tidak bisa seperti ini. Ini salah," ucapku frustasi.
Sami menatapku agak lama, kuharap dia bisa memasang sedikit belas kasihan di wajahnya untukku. "Tidak ada yang benar di dalam hidup. Itulah yang aku pelajari karena itu aku juga belajar untuk tidak pernah mengharapkan sesuatu. Dan begitulah manusia, mereka tidak akan pernah merasa cukup."
Aku menatapnya aneh, benar-benar aneh. "Ak-ku butuh papaku," kataku kemudian, wajahku tampak cemas, Sami menatapku agak lama, kemudian mengangguk. Aku melihat punggungnya, yang malah tampak semakin gagah, meninggalkan ruang kamar.
Aku menunggu papa masuk ke dalam kamar, aku tidak bisa bersabar sekarang, aku mondar-mandir ke kanan dan ke kiri meminta jawaban. Aku kalut, jadi Sami benar-benar akan menikahiku? Pintu kamar terbuka dan papa masuk darinya, ia terlihat rapi dengan tuksedonya. Aku langsung berhambur memeluknya.
"Apa maksudnya ini semua, pa? aku tidak mengerti sedikitpun. Sungguh pa, aku tidak pernah mengharapkan pernikahannya akan jadi seperti ini, tolong katakan padaku bahwa ini hanyalah lelucon," kataku dipelukannya. Papa membelai rambutku lembut.
"Tenanglah Sofi, kamu jangan kalut seperti ini, kamu harus kendalikan dirimu, kuasai dirimu dulu," kata papa masih mengelus kepalaku, aku mencoba meresapi kata-kata papa, kutarik napasku dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Sofi," panggil papa, "Sami mendatangi papa sekitar dua minggu yang lalu," aku terdiam, mencoba menyimak dengan baik, "Dia datang ke kantor dan meminta izin papa untuk menikahimu. Dia bilang ini di luar dari perjodohan... dia tidak menyukai perjodohan, dia melakukannya atas kehendaknya sendiri," jelas papa.
"Kenapa papa tidak bilang apapun padaku?"
"Kamu selalu menghindar, papa bisa apa? tapi karena kamu sudah menerima cincinnya. Papa tidak ingin seakan sedang menggodamu."
Ini kesalahpahaman. Ini benar-benar keliru.
"Ayo, sekarang ganti bajumu, papa harus keluar untuk menerima ijab kabul calon suamimu itu," kata papa, senyum tipis tergambar di wajahnya.
Papa melepas pelukannya, mengecup keningku dan menatapku penuh haru kebahagian. "Sudah, sana mandi," kata papa padaku. Aku tidak ingin melakukan apapun lagi. aku hanya ingin melempar diriku di kasur dan membenamkan kepalaku hingga mampus. Ini adalah hal terburuk yang pernah terjadi di dalam hidupku.