
Hujan deras yang masih mengguyur sejak tadi malam membuat siapapun enggan beranjak dari peraduannya. Raisa mematikan alarm dari ponselnya yang ada di atas meja di samping tempat tidur.
," Ups ...." diaturnya nafas, masih terkaget kaget menyadari ada lelaki yang berbagi tempat tidur dengannya.
Kali ini Raisa memilih menatap wajah yang tertidur pulas disampingnya, dan bukan segera keluar dari kamar seperti sebelumnya.
Sam dan Luke memiliki garis wajah yang hampir sama tapi versi yang berbeda.
Sam adalah sosok yang ramah, hangat, dan sangat sadar akan daya tariknya. Sahabatnya itu juga lebih lepas dalam mengekspresikan perasaannya. Dan itu tergambar jelas dari penampilan dan raut wajahnya yang tidak dibawah artis atau model ternama.
Sementara garis dirahang Luke semakin menegaskan sikapnya yang jauh lebih tertutup. Ditambah lagi kecelakaan dan kehilangan yang dialaminya beberapa tahun lalu, membuat lelaki disampingnya ini menjaga jarak dengan banyak orang.
" Pagi .... sudah puas ngelihatinnya ?" guman Luke sambil tersenyum tipis.
" Ehm ... Pagi." Raisa tergagap dan bisa memastikan wajahnya memerah ," Aku ... aku keluar dulu."
" Kopiku jangan terlalu manis ya." ujar Luke sambil mengulum senyum. Setelah dua hari di villa Raisa memilih 'tertidur' di sofa, mereka berbagi tempat tidur di rumah. Tetapi tiga hari sebelumnya, Luke belum pernah menemukan wajah istrinya saat membuka mata. Selalu saja gadis itu bangun terlebih dahulu dan ia akan menemukannya di dapur.
" Mau sarapan apa ?" Raisa meletakkan secangkir kopi di meja dapur.
" Kamu bikin apa ?"
"Ada Nasi, mau digoreng atau mau dimasakkan sayur ?"
" Beli bubur di dekat rumah mama, yuk. Nanti sekalian kesana. Sam sudah pulang." lanjutnya hati hati.
Raisa menghembuskan nafas perlahan ," Aku mandi dulu kalau begitu." ujarnya setelah mencuci gelas susunya.
" Hmmm ...." guman Luke sambil menikmati kopinya. Ternyata menahan diri untuk mulai dari nol tidak semudah yang dibayangkannya. Mendekati gadis yang sekian lama hanya diperhatikan dari jauh membutuhkan proses. Tapi predikat suami istri yang mereka sandang sekarang membuat pikiran dan tubuhnya meminta lebih.
"Ehm ... mau mandi ?" Raisa mengangkat kepalanya saat Luke masuk ke kamar.
Raisa menarik jeans dan kaos putih dengan gambar kartun, cepat cepat memakainya sebelum duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan menyisir rambutnya.
" Sudah siap ?"
Raisa menatap pintu kamar mandi yang terbuka, terpekik kecil dan buru buru mengalihkan pandangannya ketika mendapati Luke keluar hanya dengan handuk mengelilingi pinggangnya.
" Kenapa ?" Luke sengaja berdiri dibelakang Raisa, mengawasi wajah dan leher gadis itu memerah.
" Ehm ... gak ...aku keluar dulu."
" Gak mau siapin baju suamimu dulu ?" Luke mengulum senyum.
" Oh, maaf ... mau pakai apa ?"" Raisa beranjak ke depan lemari.
" Sudahlah, tolong siapin mobilnya." putus Luke, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri.
Raisa menatapnya sekilas, tercekat melihat mata Luke menggelap sebelum lelaki itu menutupnya sambil menghela nafas ... Diambilnya tas kecil diatas meja sebeum menutup pintu.
Raisa membereskan dapur sebentar sebelum meraih kunci mobil dan melangkah ke garasi.
" Ayo."
Raisa menatap sosok jangkung yang terlihat segar dengan rambut masih agak basah dan sedikit acak acakan. Luke mengenakan jeans selutut dengan kaos berkerah warna putih yang dikenakan seadanya. Tapi aura mendominasi itu tidak tertutupi oleh penampilannya yang bisa dibilang santai.
" Masih belum puas mengagumi suamimu, sayang ?"
Blussssh ...... Raisa bergegas masuk kedalam mobil dan duduk manis setelah memasang sabuk pengaman.