Loving You, Is Hurt

Loving You, Is Hurt
Chap 9 – Listrik yang padam



Anna memeluk Samuel yang berada tepat disebelahnya,


Ia mengeratkan pelukannya, hingga membuat yang dipeluk merasa sesak.


"Lepaskan tanganmu." Titah Samuel. Tak membuat sang empu melepaskannya.


"Anna!" Gertak Samuel. Bukannya melepaskan tangannya yang melingkar, ia malah semakin mengeratkan pelukannya.


Kini posisi keduanya sudah benar benar sedang berpelukan.


Yang awalnya Anna hanya memeluk bahu Samuel dari samping,


Sekarang ia sudah membenarkan posisinya. Beralih duduk dipangkuan Samuel dengan dirinya yang sudah menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Samuel.


Membuat pria dewasa itu dapat dapat berpikir Jernih sekarang, mau marah namun tidak bisa.


Hujan lebat kian mengguyur hebat rumah megah nan mewah yang sedang bergumul dengan listriknya yang padam.


Samuel hanya menghela napas kasar saat merasakan tubuh gadis yang memeluknya itu sedang gemetaran.


"Jangan terlalu mengeratkan pelukanmu. Aku bisa mati karena sesak napas." Bisik Samuel.


Membuat Anna melepas pelukannya sebentar, lalu sedetik kemudian ia kembali melingkarkan tangannya.


"Uh. Anna!"


"Sam.. A‐aku takut."


Samuel yang awalnya tak membalas pelukan Anna, sekarang malah melingkarkan tangannya, mendekap adik tirinya yang sedang ketakutan.


"Jangan lakukan hal ini kepada pria asing diluar sana, mengerti?" Nasihat Samuel yang membuat Anna sedikit tersinggung.


"Aku tidak semurahan itu."


"Aku tidak mengataimu murahan."


"Tapi kau berkata, seolah-olah aku ini gadis gampangan!"


"Hei, mengapa kau sesensitif ini?"


"Karena aku mencintaimu Sam! Apapun yang kau katakan selalu membuatku ARGHH." Anna berucap dengan napas yang tersenggal senggal, napasnya memburu.


"Apa maksudmu?"


Listrik yang semulanya padam, kini kembali menyala.


Menampakan kedua insan yang saling bertatap dengan segala maksud dari pikirannya.


Ruangan yang semulanya hanya diterangi dengan sinar bulan dan bintang yang menembus dari balik tirai,


Kini lampu lah yang memberi penerang untuk satu sama lain saling bertatap mengungkapkan isi kepala mereka yang tersirat dari tatapannya.


Anna yang tak kuasa mendapat tatapan tajam dari Samuel, menitikan air matanya.


Tanpa drama, ia segera menghapus cairan bening yang tanpa izinnya sudah turun.


Suasana ruangan terasa canggung, tetap pada posisi awal keduanya dengan tatapan yang tak ada putusnya, Samuel angkat bicara.


"Sekali lagi, apa maksudmu mengatakan hal tidak sepantasnya itu!" Bentak Samuel.


"Jangan membentakku!" Teriak Anna, dengan sigap Samuel membekap mulut Anna agar tidak membangunkan seisi rumah.


"Sudah ku katakan, kecilkan suaramu." Dengan gusar, Samuel menurunkan Anna dari pangkuannya tanpa melepaskan tatapan keduanya.


Guratan-guratan amarah tersirat dipelipis Samuel, telinganya merah padam.


"Kau menanyakan maksudku? Baik, ku jelaskan! Aku mencintaimu Samuel Matthew. Disaat ibuku memindahkan ku juga Arka dimansion keluarga, aku sudah mencintaimu!"


"Itu gila Anna!" Samuel menatap dirinya dengan tatapan tidak percaya.


"Ya, aku gila. Karena yang kucintai adalah kakak tiriku sendiri, hal yang seharusnya tidak ku lakukan!"


"Karena kau tahu bahwa itu tidak wajar, maka hilangkanlah perasaan mu itu." Samuel mencengkram bahu Anna, amarahnya ia salurkan dengan menyakiti adik tirinya itu.


"Lepaskan Sam, sakit.." Berontak Anna.


Samuel melepaskan tangannya, ia mengangkat kedua tangan layaknya sedang ditodongkan pistol, lalu kemudian mundur kira-kira empat langkah kebelakangan.


"Hilangkan perasaanmu, atau ku buat kita tidak akan bertemu lagi." Lontar Samuel, membuat Anna menautkan alisnya bingung.


"Apa kau sedang mengancamku?"