
"Jika kau berpikir begitu, maka itulah yang mungkin kulakukan saat ini." Balas Samuel dengan ekspresi datar.
"Mengapa kau semarah ini?" Tanya Anna heran, ia tak menyangka bahwa ungkapan perasaan darinya akan membuat situasi menjadi serumit ini.
"Kau tahu, kau satu-satunya orang yang paling tidak ku bayangkan akan mencintaiku Anna."
"Mengapa?"
"Itu menjijikan. Sangat menjijikan, kau paham sekarang?" Samuel bergidik.
Deg..
"Apa aku semenjijikan itu dimatamu?" Bulir-bulir cairan bening yang semulanya ia tahan, kini turun membasahi kedua pipi tirus milik Anna.
"Ya, kau sangat menjijikan. Maka segera hilangkan perasaanmu itu, sebelum aku menciptakan jarak diantara kita." Gertak Samuel membuat Anna menggeleng tak percaya. Ia tidak menyangka bahwa seorang Samuel yang dicintainya akan mengatakan hal yang sangat menusuk hatinya.
"Sebelum kau mengatakan hal itu, aku sudah lebih dulu mencobanya. Bahkan dari saat aku menyadari bahwa aku mencintaimu pun, sudah ku usahakan untuk membuang jauh-jauh perasaanku!" Tegas Anna dengan hati yang kacau.
"Maka jangan pernah coba-coba menyerah, sampai kau bisa menghilanhkan perasaanmu. Ini perintah, Anna Camille." Pungkas Samuel, lalu meninggalkan Anna yang termenung dengan perkataan yang baru saja ia lontarkan.
...***...
Pagi yang merekah dengan cahaya matahari menyinari sebuah rumah mewah berlapisi cat warna putih, terdapat seorang gadis yang sedang sibuk merapikan tas mengemasi barang-barangnya.
Ia menatap barang juga pakaian tersebut dengan perasaan yang hancur lebur. Perkataan Samuel pagi tadi membuat hatinya serasa teriris.
"Jika itu yang kau inginkan. Maka akan ku lakukan sesuai kemauanmu." Monolog Anna, kemudian mengusap pipinya yang sudah mulai dituruni cairan bening.
Anna menuruni tangga dengan perasaan kacau balau, dan sialnya, ia malah bertemu dengan si pengacau itu.
Hingga kemudian Samuel mendahuluinya tanpa mengatakan satu kata pun, walau itu hanya sebuah kata maaf.
Membuat Anna mengepalkan tangannya, dan didetik selanjutnya ia meringis akibat kuku lentiknya yang panjang itu mengenai telapak tangannya.
"Ah nona, maaf bila lancang.. Apa nona akan segera kembali ke mansion utama?" Tanya Art yang ditugaskan dirumah pribadi Samuel.
"Aa.. Bi, iya. Karena besok Kak Arka akan kembali, jadi aku memilih agar lebih dulu pulang untuk bisa menyambutnya besok." Kilah Anna dengan senyuman paksaan miliknya.
"Begitu rupanya.. Apa perlu kusiapkan makanan dulu Nona?"
"Tidak perlu Bi, aku akan segera berangkat. Dan akan makan setelah sampai."
"Baik Non. Saya permisi untuk memanggil Tuan Samuel." Ucap Art tersebut, membuat mata Anna membulat sempurna.
"Eum bi, u-untuk apa memanggilnya? Ia sedang beristirahat.." Anna tersenyum kecut dengan jantung yang sudah berpacu dengan cepat.
"Untuk memberi tahu kepergian anda nona." Art itu tersenyum simpul dengan sedikit membungkukan badannya.
"Haruskah?" Gumam Anna, membuat Asisten rumah tangga itu menatapnya bingung.
"Ah maksudnya, Ti–dak perlu. Tadi aku sudah mengatakannya langsung pada Samuel, dan dia memberi pesan agar berhati-hati saja. Lalu ia meminta untuk– untuk.. Ah, dia akan menyusulku nanti, untuk sekedar memastikan." Bohong Anna diiringi tertawa garing.
Hanya membuat Art mengangguk paham, tak ada niat untuk mencurigai kebohongan atasannya.
Dibalik drama Anna, diatas sana berdiri seorang yang sedari tadi menatap kearah kejadian baru saja dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
...***...