
Pagi yang merekah, dengan matahari pagi yang menyoroti ruangan kerja seorang pria, yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang berada diatas mejanya.
"Andrew, meeting apa saja yang harus ku hadiri hari ini?" Tanya pria itu masih dengan kesibukan terhadap berkas-berkasnya.
"Pagi ini tepat jam setengah sembilan, anda harus menghadiri rapat dengan Pemilik perusahan Skycorp tuan." Jawab Andrew sembari memeriksa kembali jadwal yang sudah ditetapkan untuk tuannya itu di Tab miliknya.
"Selanjutnya?"
"Selesai rapat dengan tuan Sky, anda harus menghadiri pertemuan dengan para investor. Lalu dijam istirahat, nona Claire ingin mengajak anda bertemu di caffetarina untuk membahas investasi dan keuntungannya dalam berinvestasi diperusahaan kita."
"Pukul berapa kira-kira jam istirahat?" Pertanyaan Samuel membuat Andrew terdiam.
Bagaimana bisa tuannya itu melupakan aturan jadwal yang ia buat sendiri?
"Mengapa kau diam?"
"Maaf tuan. Jam dua lewat tiga puluh lima, seluruh yang bekerja diperusahaan kita dapat beristirahat sejenak hingga tepat jam tiga mereka kembali melakukan pekerjaannya." Andrew menjawab dengan sedikit menundukan kepalanya.
"Huft, mengapa cepat sekali? Manusia sialan mana yang mengaturnya?" Umpat Samuel, membuat Andrew menatapnya bingung.
Apa tuannya itu sedang amnesia? hingga ia mengumpat dirinya sendiri?
"Tuan, ku ingatkan kembali jika kau lupa. Kita memberi mereka waktu beristirahat dua kali. Di jam pertama mereka beristirahat dua puluh lima menit, dan di jam kedua mereka dapat beristirahat selama satu jam." Tutur Andrew menjelaskan.
"Ya– aku tahu itu." Kilah Samuel, lalu detik selanjutnya ia memijat mijat pelipisnya.
"Apa yang sedang terjadi padaku? Sialan bocah itu. Membuatku bingung menempatkan waktu ku untuk hanya menjemputnya." Gumam Samuel, yang samar samar terdengar dikedua telinga Andrew.
"Tuan, apa kau baik-baik saja? Perlukah aku memanggilkan Ambulance?"
"Kau tidak perlu se-dramatis itu Andrew."
Andrew tak menjawab, lagipula ia tak benar-benar berniat untuk memanggil Ambulance,
Daripada ia terkena masalah hanya karena diam melihat atasannya yang memijat pelipisnya dan bergumam sendiri, maka ia memilih untuk bertindak lebay.
"Tunda pertemuan dengan nona Clairre. Hari ini aku harus menjemput Anna." Samuel berujar lalu menghela nafasnya kasar.
Kini ia merasa seperti seorang ayah yang sedang bertanggung jawab pada putrinya.
"Tuan, saya bisa meminta Leo untuk menjemput nona Anna." Saran Andrew, membuat Samuel berpikir sejenak. Lalu kembali menghela nafas kasar.
"Tidak semudah itu Andrew. Anna tak akan ikut bersama Leo, dan akan menangis sejadi jadinya lalu melaporkan ku kepada ayah dan ibu."
"Ditambah Evelyn yang hanya mau dijemput oleh ayah, aku juga Leo. Menyuruh Leo menjemput Anna hanya akan membuat situasi menjadi rumit." Lanjut Samuel menjelaskan panjang lebar.
Terlihat dari pancaran diwajah Samuel, bahwa pria itu sedang diambang frustasi yang tak tahu ingin melakukan apa.
"Maaf tuan."
"Kau tak perlu meminta maaf, memang bocah ingusan itu yang tak tahu diri."
...***...
"Ah, sedari tadi lidahku ini tergigit. Mengapa seperti ini? Apa yang akan terjadi?" Tanya Anna panik kepada dirinya sendiri.
"Karena kau mengunyah permen karet disaat jam pelajaran! Itu kualat Anna."
"Hei, aku tidak sedang berbicara denganmu Alan!" Anna memutar bola matanya malas.
"Diamlah jika kau tidak ingin mendapat hukuman dari Pak Ezra." Alan terkekeh saat melihat wajah kesal Anna.
"Alan, Anna. Bisakah kau kecilkan suaramu? Lihatlah Pak Ezra menatap kearah meja kalian berdua." Bisik Jesslyn yang berada dibangku belakang keduanya.
"Terserah!"
"Murid dengan meja pojok kedua dari depan, silahkan maju." Anna melihat ke kanan dan ke kiri, siapa yang dimaksud oleh guru tua itu.
Melihat Alan yang berdiri membuat Anna mepelototkan matanya.
"Apa yang dilakukan si bodoh ini?" Anna bermonolog didalam hatinya.
"Yang disebelahmu, suruh dia berdiri. Lalu kalian berdua maju kedepan."
Anna yang baru tersadar, akhirnya dengan berat hati ia berdiri, lalu bersama-sama dengan Alan melangkahkan kakinya kedepan.
"Kalian mendengarkan apa yang saya jelaskan tadi bukan?" Tanya Pak Ezra
"Dengar.." Kompak keduanya dengan lesu.
"Baiklah. Maka kau," Ucap Pak Ezra dengan menunjuk Alan.
"Kerjakan nomor satu." Lanjut Pak Ezra lalu menulis soal yang akan ia berikan kepada Alan.
"Dan kau," Kini jarinya itu mengarah ke Anna yang menatapnya malas.
"Kerjakan nomor dua." Sambungnya, lalu menulis soal yang akan ia berikan kepada Anna.
"Jika kalian tidak dapat mengerjakannya, maka silahkan membersihkan Toilet siswa bagian B." Ucap Pak Ezra diselipi penekanan disetiap katanya.
Anna yang mendengar hal itu lantas kaget. Bagaimana bisa tangannya yang lentik dan terawat itu malah disuruh membersihkan toilet yang notabenenya sudah tak terpakai karena kotor?
Sedangkan Alan hanya tersenyum tenang, karena sebenarnya ia sudah sangat paham dengan materi ini.
Makanya ia tampak tak peduli dengan penjelasan, dan memilih untuk mengganggu Anna.
Dalam waktu tiga menit, Alan sudah menyelesaikan soal yang diberikan.
Yang semakin membuat Anna ketar ketir karena dengan mudahnya teman sebangkunya itu menyelesaikan soal yang diberikan,
Dan itu tandanya, gilirannya lagi untuk menyelesaikannya.
Sejujurnya ia paham dengan materi yang diberikan, namun ia setakut itu untuk salah.
Karena dirinya tak mau mengotori tangannya untuk membersihkan Toilet yang sangatlah terbilang kotor dan jorok.
Jantung Anna berdegup kencang saat menuliskan Jawabannya,
Hingga ia selesai menulis rumus juga jawaban dalam kurung waktu lima menit lamanya.
Ia menatap jawabannya, baru saja Pak Ezra ingin memberikan pendapatnya, dengan gesit Anna berkata..
"Sebentar Pak! Maaf, sepertinya aku sedikit keliru." Dengan geraknya yang gesit, Anna menghapus angka delapan, lalu menggantinya dengan angka lima.
Membuat senyuman kemenangan yang ditunjukan oleh Alan, luntur seketika.
"Kali ini kalian berdua selamat, sekali lagi saya mendapat kalian yang bermain-main disaat jam pelajaran saya, maka tanpa rasa kasihan saya akan menghukum kalian." Tegas Guru itu, lalu menyuruh keduanya duduk dan melanjutkan pengajarannya, tak sesekali ia menyindir Anna juga Alan.
...~~~...
TBC..
Shelaa ingetin lg buat pencet like yaa moms, adik & kakak sekaliann ^^