Loving You, Is Hurt

Loving You, Is Hurt
Chap 7 – Lapar



"Jam berapa ini?" Anna menguap lalu melihat jam diponsel miliknya.


Terlihat jam menuliskan angka nol tiga lewat dua puluh satu.


"Yang benar saja? Aku terbangun kelaparan dipagi-pagi buta begini?" Anna menatap tak percaya pada dirinya sendiri.


Huft, sejujurnya dirinya tak sebegitu berani untuk turun. Namun bagaimana lagi? Perutnya sudah berteriak untuk meminta makan.


Mau tidur lagi pun sulit.


Anna duduk menetralkan isi pikirannya, namun sedetik kemudian ia kembali teringat,


Dari jam makan malam hingga tengah malam tepat jam dua belas malam, ia baru bisa tertidur akibat menghabiskan waktunya untuk menangis.


Ia kembali bergidik ngeri saat mengingat bagaimana murka Samuel semalam.


"Lebih baik, sehari penuh ini aku tak mengajaknya berbicara! Biar dia sadar, bagaimana didiamkan seorang seperti diriku." Cetus Anna, lalu dengan matanya yang sembab, ia melangkahkan dirinya ke dapur.


... ***...


Dirinya melihat lihat kedalam Almari yang terkunci, barangkali ada makanan yang sudah siap saji untuk langsung ia makan tanpa perlu memasak lagi.


Namun sayang nihil, tak ada makanan apapun lagi yang ia dapatkan.


Entah kemana semua makanan yang kemarin tersajikan. Entah sudah habis, atau dikemanakan.


Membuat Anna menghela napasnya kasar.


Yang berarti dirinya harus memasak terlebih dahulu, sebelum memberi makan cacing cacing diperutnya.


"Mie habis, Telur pun tidak ada. Rumahnya megah, tetapi kebutuhan makan darurat saja tidak tersedia." Kata Anna dengan nada mengejek.


Anna merotasikan matanya malas, lalu melangkahkah diri untuk mencuci dan mengupas bawang dan jahe.


Tidak lupa ia menyiapkan cabai chili, dan beberapa saos lainnya untuk menyempurnakan masakan miliknya.


Karena ia akan membuat masakan dengan memanfaatkan sosis yang menganggur didalam lemari es milik Samuel.


Setelah mencuci semua bahan lalu mengupas bawang putih, bawang merah juga bawang bombai, dan jahe,


Kini ia beralih untuk mencincang-cincang semua bahan-bahan yang tersedia.


Lalu memasaknya sesuai resep yang ia ingat.


Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang mendekati dapur.


Anna bergegas bersembunyi dibalik lemari yang menurutnya cukup besar untuk menyembunyikan tubuh mungilnya.


Tidak lupa untuk membawa panci yang ia gunakan.


Terlihat dibalik lemari tersebut, ada Samuel yang sedang menyalakan mesin kopi.


Membuat Anna menelan salivanya kasar, jantungnya berdegup sangat kencang sekarang, bahkan ia bisa mendengar degupan jantungnya sendiri yang rasanya ingin melompat keluar.


Karena keteledoran Anna, jarinya malah mengenai panta panci.


Yang membuat menjerit kaget, lantaran panas yang diberikan.


"Apa itu?" Samuel tidak bodoh untuk mengenali suara siapa yang baru saja menjerit.


Anna yang menyadari kebodohannya, kian merutuki dirinua sendiri.


"Sepertinya akan ketahuan." Gumam Anna pasrah, tetapi tetap memilih untuk berdiam ditempat persembunyiannya.


Menahan sakit dijari tangannya yang melepuh akibat panas.


"Sedang apa kau disitu?"


Deg..


Dengan berat hati Anna bangun dari tempat persembunyiannya, ia tak berani memandang balik ke Samuel yang terus menatapnya intens.


"Jawab pertanyaanku Anna." Kini suara Samuel mulai meninggi, membuat hati Anna mencelos.


Lagi-lagi Samuel membentaknya. Orang yang ia cintai, justru malah yang paling sering menyakiti hatinya.


"Sekarang apa hah! Kau ingin memukulku? Karena sudah memakai dapurmu tanpa izin lalu bersembunyi layaknya pencuri?" Balas Anna tak kalah meninggi.


Membuat Samuel langsung membekap mulut adik tirinya itu.


"Kecilkan suaramu! Ini tengah malam!" Seru Samuel, menatap tajam pada Anna yang sudah mulai meneteskan air mata.


Sejujurnya, Samuel tak ingin berlaku kasar pada perempuan, karena mengingat ibu dan adiknya adalah seorang perempuan.


Tetapi entah mengapa, emosinya selalu memuncak ketika bersama Anna.


Untuk menahan emosi saja, rasanya ia kesulitan.


Kini matanya baru menyadari panci yang sedari tadi Anna pegang, lalu Samuel membuang napas kasar.


"Aku minta maaf sudah membentakmu." Ucap Samuel, membuat Anna yang tadinya menangis sesenggukan, menjadi sedikit tenang.


...***...


Masih dengan napas yang terengah-engah, Samuel mengompres jari tangan Anna melepuh.


"Ini semua salahmu!" Ujar Anna menyalahkan.


"Kau!" Samuel ingin kembali menceramahi Anna, namun ia berusaha untuk tetap mengontrolnya.


"Apa?"


"Jangan memancing emosiku jika kau sadar bahwa dirimu itu cengeng."