Loving You, Is Hurt

Loving You, Is Hurt
Chap 5 – Ide Anna



Kini sudah menunjukan pukul lima sore, yang berarti sebentar lagi akan gelap.


Sambungan telepon terhubung, menandakan seseorang berbicara satu sama lain menggunakan alat komunikasi miliknya.


"Apa?" Ucap Samuel dari seberang sana.


"Apa kau perlu ku ajari bagaimana cara yang benar dalam mengangkat telepon?" Anna mendumel.


"Jika tidak penting, aku akan mematikannya."


"Oke, baiklah. Bisakah kau menjemputku sekarang? Rasanya aku sudah lelah, dan ingin pulang mandi."


"Tidak." Telepon terputus.


Samuel mematikan telepon secara sepihak, membuat Anna kesal setengah mati, dan malah melempar ponsel miliknya.


"Oh tidak.." Anna yang sadar dengan apa yang telah diperbuatnya, segera melihat ponsel miliknya yang tergeletak dilantai, akibat ulahnya.


"Ini semua karena dirimu Samuel Matthew!"


"Ada apa Anna?" Jesslyn menatapnya bingung


"Bisakah aku meminjam bajumu, dan kamar mandi milikmu?" Tanya Anna sungkan.


"Mengapa kau bertanya? Jika kau ingin menggunakannya tanpa izin pun, aku tetap mengijinkannya." Jesslyn menatap tidak percaya kepada Anna.


"Thank u Lord! Aw, makasih Jesslyn, kau memang sahabatku."


Anna memilih pakaian yang menurutnya sedikit terbuka. Karena ia tahu, kawannya itu memiliki banyak sekali pakaian terbuka.


Dirinya mau berlagak sedikit nakal terhadap kakaknya itu, ia ingin tahu, apakah Samuel akan marah kepadanya lalu memberikan jasnya untuk menutupi tubuhnya, atau malah tergoda dengan ke seksiannya?


Anna tersenyum membayangkannya. Pikirannya sudah mulai kemana-mana. Semenjak Alan menjadi teman sebangkunya, otaknya sudah tak sebersih dahulu.


Setelah ia kira dirinya sudah menemukan apa yang dicarinya, Anna bergegas menuju Bathroom appartemen milik Jesslyn.


Sekitar empat puluh menit ia membersihkan tubuhnya, kini ia mengkenakan pakaian yang sudah dipilihnya itu.


Lalu ia menatap dirinya dari pantulan kaca.


Menurutnya itu terlalu terbuka untuk dilihat seorang Andrew atau orang lain.


Ia tidak mau menjadi bahan nafsu orang lain.


Lalu ia kembali mengurungkan niatnya bersikap nakal, karena ia tahu pasti Andrew ikut bersama saudara tirinya itu.


Melakukan aksinya itu, hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Sehingga ia memilih pakaian yang tidak terlalu terbuka juga tak bisa dibilang tertutup.


"Nah, ini oke."


...***...


"Iya, tunggu sebentar." Ucap Jesslyn walau ia tau suaranya itu tak-akan sampai keluar.


Ia merapikan baju juga rambutnya lebih dahulu, sebelum akhirnya ia membukakan pintu.


"Permisi nona." Salam Andrew, dengan pandangan yang menatap Jesslyn dengan lekat.


Jantung Jesslyn berdegup kencang, ia tidak suka berada disituasi yang membuat dirinya terpaku.


"Permisi?" Ulang Andrew yang merasa tak mendapat jawaban.


"Ah, ya.. Iya? Ada perlu apa?" Jawab Jesslyn mengalihkan pandangannya.


"Apakah nona Anna berada didalam?"


"Ya.. Tadi dirinya sedang membersihkan diri."


"Baiklah. Tolong sampaikan kepadanya, bahwa tuan ku sudah berada dibawah, menunggunya."


"Oh. Oke, akan ku sampaikan." Jesslyn berucap lalu menutup pintunya tanpa menunggu balasan dari Andrew.


Andrew yang mendapat perlakuan kurang beretika itu memilih untuk hanya menghela nafas saja,


Lalu kemudian ia berdiri didepan pintu menunggu Anna untuk mengawalnya sampai ke mobil, sesuai dengan perintah atasannya.


"Anna! Apa kau sudah selesai?" Tanya Jesslyn dibalik pintu kamar.


"Ya, aku akan keluar."


Pintu terbuka, menampakan Anna yang memakai kemeja croptop dengan celana kulot milik Jesslyn, tidak lupa dengan rambutnya yang dicatok curly.


"Pujaan hatimu sudah menunggumu dibawah. Maka pergilah."


"Apakah ucapanmu itu mengusirku Jesslyn?" Anna menatapnya dengan tajam.


"Jika bukan karena Andrew yang terus berada didepan, aku tidak akan mengusirmu."


"Ohh, Hahaha." Anna yang semulanya kesal, sekarang malah tertawa terbahak bahak.


Kini keduanya bersama-sama berjalan kearah pintu, Jesslyn berniat untuk menemani Anna sampai setidaknya didepan pintu Appartemennya.


"Andrew, kau sesekali jangan hanya menampakan ekspresi datarmu. Berikanlah senyuman, karena teman disebelahku menginginkannya." Goda Anna membuat tersedak Salivanya sendiri.


"Kau bergurau Anna. Pergilah, aku mengusirmu sekarang!"


Jesslyn langsung menutup pintu Appartemennya, ia tak tahu lagi harus melakukan apa lagi selain cara itu,


Agar dirinya tidak semakin masuk kedalam godaan Anna.


"Sepertinya kau akan melepas lajangmu dengan sahabatku itu Andrew." Tutur Anna diselingi tawanya, lalu melangkah mendahului Andrew yang sedari tadi hanya diam.