Loving You, Is Hurt

Loving You, Is Hurt
Chap 8 – Permintaan Maaf



"Jangan memancing emosiku jika kau sadar bahwa dirimu itu cengeng."


"Jangan sok tahu. Aku tidak seperti yang kau katakan."


"Lihat matamu itu. Seperti orang yang baru saja terkena sengatan lebah."


Anna ingin membantah, tetapi ia sadar.. Bahwa memang benar adanya yang dikatakan oleh kakak tirinya itu.


Membuat Samuel menatapnya dengan senyuman tipis, sangat tipis.


Jika orang lain yang berada disebelah Samuel, pasti tidak akan menyadari senyuman tipis yang terukir diwajah tampannya.


Berbeda dengan Anna yang sudah pasti menyadarinya.


Awalnya ia kaget, namun didetik selanjutnya ia memalingkan wajahnya. Tak berniat sedikitpun untuk membahasnya.


"Aku minta maaf." Satu kalimat yang keluar dari bibir Anna. Membuat Samuel terkekeh geli.


Bukannya marah, Anna malah terpesona.


Ingin sekali dirinya mengabadikan moment langkah ini, karena jangankan melihat tawa Samuel, untuk melihat senyumannya saja ia kesulitan.


Apalagi melihat tawaan tanpa paksaan yang keluar dari bibir Samuel.


"Bisa kau ulangi lagi? Aku tak mendengarnya." Goda Samuel.


"Aku minta maaf, Kak." Ucap Anna. Bukannya kembali tertawa, Samuel justru menatapnya tajam.


"A–apakah ada yang salah?" Tanya Anna dengan canggung


"Kau bertobat?" Samuel kembali menggoda Anna. Berusaha untuk menghilangkan rasa bersalahnya karena sudah mengancam Anna semalam dengan kasar.


"Ya, aku meminta maaf karena sudah bertindak tak sewajarnya padamu. Aku meminta maaf atas tindakanku yang terus-terusan memanggilmu tanpa ada sebutan kak. Aku juga meminta maaf atas celotehan ku yang selalu membuat kupingmu panas. Aku meminta maaf atas segala yang pernah kuperbuat selama ini yang sekiranya menyinggung perasaanmu." Tutur Anna, membuat Samuel semakin merasa bersalah.


Ia pikir, Anna akan memarahinya seperti biasa. Mengingat Anna yang tidak terima jika disalahkan.


Tetapi tak berjalan sesuai ekspetasi, dan malah diluar dugaan seorang Samuel Matthew.


"Huft.. Aku juga meminta maaf kepadamu, atas perlakuanku tadi malam yang sudah diluar batas."


"Aku tidak akan memaafkanmu." Ketus Anna.


"Ya, terserahmu." Baru ingin meninggalkan Anna, tangannya langsung dicegat oleh Anna dengan tatapan memelas.


"Temani aku makan." Pinta Anna.


...***...


"Apa kau tidak berniat membagikannya padaku?"


"Karena ulahmu."


"Hei, Aku juga tidak makan karena ulahmu!"


Keduanya berdebat dengan Anna yang masih terus menyendokan nasi juga sosis yang berada dipiring kedalam mulutnya.


"Jika kau mengetuk pintu sebelum masuk kedalam kamarku, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Tutur Samuel, membuat wajah Anna menjadi merah padam.


Samuel bukanlah anak kecil yang tidak paham dengan respon tubuh Anna.


Jelas sekarang ia tahu, bahwa Anna merasa malu.


Anna kembali teringat dengan sebuah benda milik Samuel yang menggantung kebawah.


"Itu semua salahmu! Jika kau tidak mencegat tanganku, kejadian memalukan itu tidak akan terjadi." Ujar Anna yang tidak terima disalakan.


"Hm." Singkat Samuel.


"Oh ya, mengapa kau malah mencegat tangan ku? Jangan-jangan.. Kau ingin berbuat mesum padaku?!" Anna berucap lalu sedetik kemudian memeluk dirinya sendiri sembari menatap Samuel dengan tatapan yang mengintimidasi.


Membuat Samuel menjitak kepala milik Anna.


"Sakit Sam.." Anna meringis.


"Perbaiki isi otakmu itu. Aku tidak minat bernafsu pada bocah ingusan sepertimu."


"Mengapa kau menyebutku bocah ingusan? Memang mana ingusku?"


Samuel menyodorkan ponsel miliknya dengan aplikasi kamera yang sudah terbuka.


"Apa?"


"Berkacalah." Kata Samuel membuat Anna mengambil ponselnya itu, lalu melihat pantulan wajah dirinya.


Dengan mata yang melotot kaget, ia segera membelakangi Samuel.


Terlihat dipipinya itu, terdapat cairan hijau yang sudah mengering.


"Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" Perasaan Anna yang mulai malu, membuat dirinya menaikan suaranya.


"Kecilkan suaramu."


"Jika aku—"


"OH MY GOD.." Jerit Anna.


Listrik yang semulanya menyala kini padam, membuat Anna yang takut akan kegelapan menjerit dan spontan memeluk Samuel yang duduk disebelahnya.