
"NGGA MAU! ANNA POKOKNYA MAU IKUT TITIK." Pungkas Anna dengan keputusannya yang sudah bulat.
"Anna, tolong mengerti sayang. Mom sama Dad pergi bukan hanya dua atau tiga hari. Tetapi dua minggu. Gimana sekolah kamu sayang? Bukannya senin kamu Ujian?" Tutur Karen lembut kepada anaknya yang ia tahu jelas seberapa keras kepala anaknya itu.
"Anna ngga peduli Mom. Anna ngga mau ditinggal sendirian di Mansion sebesar ini!" Anna menghela nafasnya dengan terengah-engah, matanya pun sudah berkaca kaca, jika ada yang memprovokasinya, mungkin saja sekarang tangisnya sudah pecah.
"Ada Bi Imah, Bi Ela ada juga kang Sopri, sama mas Asep. Lagipula kakakmu minggu depan juga akan pulang, setidak hanya tiga hari kamu menunggu."
"NGGA MAU!" Ternyata tanpa provokasi pun tangis Anna sudah pecah, membuat Karen menatapnya frustasi.
"Mom kasih kamu pilihan, tinggal di Mansion, atau Mom titip kamu sama Samuel."
Perlu diketahui, Kedua orang tua Samuel bercerai diumur Samuel juga Evelyn yang masih terpaut kecil karena suatu alasan,
Lalu sang Ayah menikah lagi dengan Ibu Anna diumur Samuel yang menginjak usia empat belas tahun dan Evelyn yang masih duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar sekitar berusia delapan tahun.
Yang berarti Samuel dan Evelyn bersaudara kandung dari pihak Ayah. Sedangkan Arka juga Anna bersaudara kandung dari pihak Ibu.
Pasal menitipkan Anna, sebenarnya Samuel memilih untuk pisah rumah karena ia ingin agar kelak saat beristri dirinya sudah memiliki Rumah, dan tak menetap lagi di Mansion keluarganya,
Jangan mengira jika rumah itu berasal dari uang kedua orang tuanya. Karena rumah yang cukup megah itu semuanya hasil dari kerja keras Samuel selama ini.
Sedangkan Evelyn memilih untuk menetap dirumah sang kakak hanya karena rumah itu berdekatan dengan sekolahnya, mempersingkat waktu untuk menempuh jarak tempat ia bersekolah.
...~~~...
"PAGI SAM!" Sapa Anna dengan suara khasnya yang dapat memecahkan gendang telinga siapapun yang berdekatan dengannya. Tidak lupa ia menunjukan cengiran kudanya.
"Aku kakakmu Anna, panggil diriku dengan sebutan Kak!" Tegas Samuel, ia tidak begitu peduli dengan panggilan Anna yang langsung memanggilnya dengan Nama,
Namun ia tidak ingin adik tirinya itu tak memiliki sopan santun, dan ia sebagai seorang kakak harus membiasakan adiknya itu agar ia tau Ber-attitude.
"Ya, ya, ya. I know." Balas Anna acuh tak acuh. Sudah hampir puluhan kali dirinya mendengar perkataan itu dari mulut Samuel,
Dan seperti yang baru saja terjadi, tak ada perubahan apapun didalam otaknya yang merubah kelakuannya.
Tetap saja ia melakukan kesalahan se-simple itu.
"Anna Camille! Aku harap kau dapat memahami perkataanku. Bukan hanya sekedar menjawabnya saja." Tukas Samuel, lelah rasanya menasehati Anna, karena Anna yang selalu membuat kesal dan menghancurkan mood yang sebelumnya baik menjadi buruk.
"Hamba mengerti wahai baginda Kak Samuel Matthew. " Tutur Anna dengan penekanan dikalimat yang menyebutkan Kak juga nama lengkap Samuel.
"Bagus." Balas Samuel, membuat Anna merotasikan bola matanya malas.
"Baiklah KAK. Bisakah kau mengantarku sekarang? Sebentar lagi Bel akan berbunyi dan kelasku akan masuk."
"Kau yang membuat dirimu terlambat, dengan segala drama yang kau buat." Samuel meninggalkan Anna yang menatapnya tidak terima.
"HEI, JAGA MULUTMU ITU!" Anna mendengus lalu berjalan menyusul Samuel yang sudah mendahuluinya.
"Berhenti menghentak-hentakan kakimu Anna. Kau seorang perempuan, maka jaga sikapmu."
"Ya, kau benar, dan selalu benar."
"Karna kau tahu itu, maka lakukanlah ucapanku!"
Anna tak bergeming lagi, rasanya ia ingin mencakar-cakar pria didepannya ini.
Pria yang sudah mencuri hatinya sejak lama karena Kharisma juga Ketampanan yang ia miliki.
Apalagi melihat pembawaan Samuel yang sekarang sangatlah tegas juga berwibawa. Semakin membuat Anna tergila gila dengan Samuel.
Namun Samuel hanya mendengarnya saja, tak berniat untuk membalas. Menurutnya, akan hanya menguras emosi berdebat dengan adik tirinya itu.
Keduanya kini sudah berada di mobil, dengan Anna yang tak henti-hentinya berceloteh walaupun tahu ia tak mendapat respon apapun,
Tapi ia tak peduli, selagi dirinya tak berbicara pada jendela kaca maka menurutnya itu normal.
Kuping Samuel rasanya panas mendengar celotehan adiknya itu,
Jika kalian bertanya dimana Evelyn, maka jawabannya adalah dirinya sudah diantar terlebih dahulu oleh Leo, salah satu pengawal khusus keluarga Matthew
"Bisakah kau diam Anna Camille?" Tanya Samuel yang mulai kesal.
"Tidak." Singkat, padat, dan jelas. Membuat Samuel memukul stir dan menaikan kecepatan agar cepat sampai ke sekolah Anna.
"HEI! KAU GILA? Jika ingin mati, maka turunkan aku!" Teriak Anna membuat Samuel menurunkan kecepatan mobilnya, lalu menepi kepinggiran.
"Ehm.." Anna membeku melihat apa yang dilakukan Samuel, apakah ia akan benar benar diturunkan?
"Turunlah."
"Kau!" Geram Anna. Mau ditaruh dimana mukanya jika ia mengemis-ngemis kepada Samuel yang baru saja ia teriaki?
"Ku bilang turun." Samuel menatap Anna tanpa ekspresi, entah karena kekesalannya yang sudah memuncak, hingga tanpa beban ia mau menurunkan Anna dijalan yang sepi.
"Baiklah! Aku akan menelpon Dad Aiden buat menjemputku dan melaporkanmu!" Ancam Anna,
"Ayahku tidak akan meninggalkan pekerjaannya yang penting, untuk seorang bocah ingusan. Jika kau lupa, ayah tidak sedang berada di Jakarta."
"Bisakah kau menahan mulutmu itu untuk tidak membuatku kesal Sam?"
"Apa kau melupakan sebuah kata? Atau perlu ku tambahkan? Dan perlu kau tahu, yang ku katakan benar adanya."
"Sialan!" Umpat Anna membuat Samuel menatapnya tajam, ia tahu bahwa sekarang ia kembali melanggar aturan Samuel untuk tak berkata kasar didepannya.
"Oke, aku minta maaf Kak Samuel, karena sudah melanggar aturanmu dua kali hari ini."
"Bukan hanya dua kali, tetapi berkali kali."
"Baiklah, kau benar. Maka maafkan aku."
Melihat Anna meminta maaf, membuat Samuel kembali menyalakan mesin lalu mengantar Anna ke sekolah tempat Anna menempuh pendidikan.
"Oh Godness!" Anna melihat ke jam tangan miliknya, sudah menunjukan 6.55. Kini ia menatap tajam pria yang sedang memandangi Handphone nya.
"Tunggu apa lagi? Turunlah!" Samuel menautkan alisnya, lalu ia sadar dengan apa maksud dari tatapan Anna.
Seketika ia tersenyum penuh kemenangan, ia tahu sekarang bel sekolahnya sudah berbunyi 15 menit yang lalu,
Menandakan bahwa sekarang kelasnya pasti sudah masuk, dan Anna terpaksa harus mencari alasan agar tak mendapat hukuman dari guru piket.
"Aku akan membalasmu Kak! Tunggu saja." Anna turun dari mobil, dan bergegas menuju gerbang sekolahnya.
"Mengapa mereka harus menitipkan iblis liar itu padaku?"
...... ~~~......
TBC !
Tombol Likenyaa dipencet ya moms hehe ^^