
"Tumben Anna berangkat ke sekolah dengan sopir kita." Ucap Eve menyadari keberadaan Anna yang tak menampakan batang hidungnya, lalu kemudian ia melahap Sandwich yang telah disediakan diatas meja makan.
"Dia kembali ke Mansion utama." Cetus Samuel.
"Kau bercanda. Mana mau ia kembali ke Mansion seorang diri?" Timpal Evelyn meremehkan.
"Tetapi itu kenyataannya." Samuel menyahut, lalu kemudian meninggalkan Evelyn yang menatap tidak percaya.
"Hei tunggu! Aku ingin menebeng padamu, Leo sedang tidak enak badan."
"Mengapa dia tidak melapor padaku?" Samuel menautkan alisnya.
"Apa? Kau cemburu pada adikmu sendiri?"
"Apa maksudmu? Mengapa semua perempuan disini sangatlah aneh?" Keluh Samuel sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hah? Kau yang aneh kak." Eve merotasikan bola matanya malas.
"Intinya, aku akan menebeng padamu, titik." Pungkas Evelyn kemudian berlalu meninggalkan Samuel yang diam mematung ditempatnya.
...***...
"Mengapa kau tidak datang kesekolah?" Tanya gadis dengan rambut dikuncir kuda dari seberang sana.
"Kau tahu, aku sedang patah hati." Anna terus terang, hingga didetik selanjutnya, Jesslyn mendengar isakan tangis yang berasal dari ponsel miliknya.
"Anna? Apa kau baik-baik saja?" Tanya nya panik.
"Tidak Jesslyn, aku sama sekali tidak dalam keadaan yang baik-baik saja." Jelas Anna yang semakin membuat Jesslyn tidak tenang.
"Haruskah aku izin, dan menemuimu dirumah kak Samuel?"
"Tidak perlu. Aku sudah kembali ke Mansion utama keluargaku." Ungkap Anna dengan nada lesu.
"Oh God. Ada apa sebenarnya ini?" Jesslyn dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.
"Tunggu sebentar.. Ini sudah jam berapa, dan telepon kita masih tersambung. Apa kau tidak mendapat teguran dari Guru yang mengajar?"
"Tidak, Kami sedang Jamkos sekarang. lagi-lagi Pak Budi tidak masuk." Tutur Jesslyn.
"Kau tahu Anna. Hari ini kami akan pulang lebih awal karena akan ada rapat kepsek dan guru-guru dijam terakhir." Jesslyn berucap dengan nada yang bergembira.
"What? Bagaimana bisa? Disaat aku tidak masuk, kalian justru malah mendapat kejadian Epic!"
"Hahaha, mungkin kau pembawa sialnya Anna." Canda Jesslyn, membuat orang yang ia ucapi itu langsung mematikan telepon secara sepihak.
"Aneh sekali." Gumam Jesslyn.
Jesslyn berpikir sejenak, lalu kemudian mencebikkan bibirnya.
"Kalau Anna kembali ke Mansion keluarganya, otomatis presentase diriku bertemu Tuan Andrew semakin kecil?" gerutu Jesslyn.
"Haruskah aku membujuk Anna agar ia tak menyerah? Agar kesempatan itu bisa ku gunakan untuk mencari perhatian Andrew?"
"Tapi bagaimana jika ia tak mau? Dan memilih membuka hatinya pada si jelek Alan?" Sambung Jesslyn dengan otaknya yang terus berpikir.
"Apa maksudmu mengatakan, si Jelek Alan?" Cela Alan, entah darimana ia datang, kini sudah berada tepat disebelah meja Jesslyn.
"Jangan mengganggu ku Alan! Cukup kau buat Anna yang gila." Cibir Jesslyn, membuat alis Alan mengerut.
"Bagaimana bisa Anna memiliki teman sepede dirimu? Dan katamu Anna gila? Apa kau serius?" Alan mendekatkan wajahnya pada Jesslyn.
"Jauhkan wajah jelekmu itu! Dan seperti dipikiranmu, temanku sudah gila akibat duduk bersebelahan denganmu." Jesslyn menjawab ketus, membuat Alan menatapnya sebal.
"Jika aku jelek, mana mungkin kau akan menyukaiku?" Ledek Alan, ia memandang lekat mata biru gadis didepannya yang sedang memberi tatapan tajam kearahnya.
"Kau!" Geram Jesslyn.
"Perlu kau tahu, a-aku menerimamu hanya karena kasihan. Jadi jangan merasa bahwa kau yang paling keren." Sambungnya.
"Oh ya? Bukankah kau yang menangis-nangis pada Anna hanya karena menginginkanku membalas cintamu? Hahaha." Nafas Jesslyn memburu, ia sangat kesal sekarang.
"Pergilah jelek! Kau mengganggu penglihatan ku." Cicit Jesslyn, kemudian tidur dengan lengannya yang menjadi bantal bagi kepalanya.
Jesslyn akui bahwa Alan memanglah tampan, namun ia memilih untuk menyimpan pengakuan itu didalam lubuk hatinya saja. Karena rasanya ia enggan memuji langsung kekasih masa lalunya itu.
"Ya, ya, ya. Terserah padamu saja." Pungkas Alan meninggalkan Jesslyn.