Loving You, Is Hurt

Loving You, Is Hurt
Chap 4 – Jesslyn oh Jesslyn



Keheningan melanda ketiganya yang berada dimobil, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran yang berkecamuk didalam benaknya.


Anna yang terus-terusan merutuki ke bodohannya dalam berucap,


Juga Samuel yang memikirkan tentang bagaimana ia akan menjelaskan tentang penundaan jadwalnya dengan nona Clairre,


Dan disisi lain Andrew yang sedari tadi memikirkan, apakah ia membuat kesalahan lagi, sehingga kedua atasannya itu hanya berdiam-diaman?


Hingga dering telepon memecah keheningan diantaranya.


"Thank u God." Anna bergumam.


"Halo?" Ucap wanita dari seberang sana.


"Ya Halo, ada apa Jesslyn?" Tanya Anna dengan yetap memandang keluar dijendela mobil.


"Ah, Anna.. Bisakah kau datang ke appartemenku? Aku membutuhkan bantuanmu." Pinta Jesslyn dengan nada yang dibuat semenyedihkan mungkin.


"Uh? Memangnya ada apa? Aku kesana segera!" Tutup Anna, lalu mengarahkan alamat Appartemen Jesslyn ke Andrew lalu memerintahkannya untuk segera menuju ke Appartemennya.


"Ada apa?" Tanya Samuel.


"Entahlah. Jesslyn memintaku untuk mendatangi Appartemennya, karena ia butuh bantuanku." Jelas Anna, ia sedikit khawatir mendengar nada memelas milik Jesslyn.


"Apa kau sedang Khawatir sekarang?" Samuel menatap intens wajah Anna.


"Tidak." Kilah Anna.


"Baiklah, terserahmu." Balas Samuel dengan pandangan mata yang terus menatap Anna.


"Bisakah mata sialanmu itu berhenti menatapku, Sam!"


"Jaga bicaramu Anna Camille!"


"Kau tahu, aku sedari tadi tidak dapat menahan degupan jantungku yang sedari tadi ingin melompat dibuatmu!"


"Oh God." Lanjut Anna setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan.


Ia memalingkan kembali wajahnya yang mulai memerah karena malu.


Disisi lain Samuel menatapnya dengan penuh tandanya, apa yang salah dengan adik tirinya itu?


"Nona, apakah jalan ini sudah benar?" Andrew memecah keheningan lagi karena merasa suasana kembali menegangkan.


"Ya. Tetap berjalan lurus hingga kau menemukan Salon, setelahnya, beloklah ke kiri." Tutur Anna menjelaskan, masih dengan wajahnya yang merah padam.


Samuel hanya diam mendengar penuturan asisten juga adik tirinya itu, entah apa yang sedang ada dipikirannya saat ini.


Kini ketiganya sudah berada didepan Appartemen yang tinggi juga megah.


Anna bergegas menuju Lift, disusul oleh Samuel juga Andrew. Anna memencet angka empat, lantai dimana ruangan Jesslyn berada.


Kini ketiganya sudah berada dilantai empat, masih dengan Anna yang berada didepan, mencari ruangan dengan nomor empat ratus dua puluh dua.


Hingga ia matanya tertuju dengan pintu berwarna emas dengan warna putih yang menghiasinya.


Anna memencet Bel, lalu mengetuk pintu Appart milik Jesslyn.


"Jess, apa kau berada didalam?" Seru Anna.


"Ya. Dobraklah, aku tidak dapat membukakan kalian pintu." Teriak Jesslyn dari dalam sana.


Ia lupa bahwa appartemennya itu kedap suara, jadi berteriak saja hanya akan membuat ruangan menjadi bising.


Sedangkan suara tidak akan sampai keluar.


Anna mengambil ponselnya, lalu mencoba untuk menghubungi Jesslyn.


"Hei bocah. Apa kau masih lama?" Tanya Samuel sembari melihat jam Rolex miliknya.


"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan bocah? Aku memiliki Nama. Panggil aku Anna Camille." Protes Anna dengan wajah kesalnya.


Jesslyn melihat ponselnya berdering, ia meraih ponselnya itu dengan berhati-hati.


"Halo Anna?"


"Kau berada dimana? Aku sudah berada diluar!"


"Itu, ah– bisakah kau mendobraknya saja?"


"Hei, kau gila! Kau mau aku di datangi petugas keamanan?"


"Oh My God." Jesslyn merutuki kebodohan-nya. Ponselnya terjatuh. Sedangkan satu-satunya cara berkomunikasi dengan Anna hanya melalui Ponselnya itu.


"Halo Jesslyn? Kau sedang baik-baik saja kan?" Anna mulai panik, kini jantungnya mulai berdegup kencang. Ia takut terjadi sesuatu dengan kawannya itu.


"Andrew, bisakah kau mendobrak pintu itu?" Pinta Anna.


"Tidak boleh!" Samuel Menyela.


"Oh ayolah! Entah apa yang sedang terjadi dengan temanku didalam sana." Anna memelas, tidak membuat Samuel merubah keputusannya.


"Kau tahu apa konsekuensinya bukan?"


"Mengganti rugi tak akan membuat keluarga kita menjadi miskin Sam!"


"Anna–"


"Kak Samuel."


"Petugas akan mengusir kita. Bagai–"


Entah sejak kapan Andrew menghilang, kini ia sudah membawa Card Scan milik ruangan Jesslyn.


"Kita bisa menggunakan ini, saya mendapatkannya dari pihak Appartemen."


Samuel memijat pelipisnya yang terasa pening dengan semua drama yang terjadi.


"Mengapa aku tidak kepikiran ya?" Anna berbicara dengan dirinya sendiri.


"Karena otak kecilmu itu tak mampu bekerja lagi." Ketus Samuel.


"Dasar kau!"


"HEI BERHATI-HATILAH! TIKUS ITU AKAN MENYERANGMU!" Teriak Jesslyn yang membuat Anna menutup matanya karena suara Jesslyn yang dapat memecahkan gendang telinga.


"AH, DIMANA?" Anna yang mulai sadar pun ikut panik, ia melingkarkan tangannya dibahu Samuel, lalu menaiki tubuh sang empu.


Sedangkan Andrew hanya menghela napas kasar. Sudah terlalu banyak ia menghabiskan waktunya hanya untuk melakukan hal yang tak bermutu.


"I-itu! Oh Godness. Tikus itu mengikutiku." Jesslyn berlari kearah Andrew, ia bersembunyi dibelakang milik Andrew, lalu kemudian memeluknya dengan erat.


Andrew yang merasa ada yang menjanggal dibagian pinggangnya pun menoleh. Bagaimana bisa gadis asing itu memeluknya tanpa izin?


"Tolong lepaskan tanganmu, nona." Andrew berucap sopan.


"Astaga. Maaf sudah lancang." Jesslyn berucap canggung, sejujurnya itu modus terselubung Jesslyn.


"Lagi mumpung." Jesslyn berbisik sambil terkekeh, semakin membuat Andrew menatapnya intens.


"Baiklah, maaf sudah membuatmu tidak nyaman."


Sedangkan Anna kembali diceramahi Samuel.


"Pulanglah. Aku ingin bersama Jesslyn saat ini, nanti akan ku hubungi kau, jika aku ingin pulang."


"Apa kau mengusirku Anna?" Kini Samuel memejamkan matanya menahan emosi, selain waktunya sudah terbuang sia-sia, adiknya itu juga sudah bersikap kurangajar terhadapnya.


"Jika kau berpikir begitu, maka pergilah!" Jika yang didepan Samuel adalah orang asing, mungkin saja wajah orang itu telah penyet dibuatnya.


Samuel melangkah pergi tanpa sepatah katapun, begitupun dengan Andrew yang mengikuti atasannya.


Anna dan Jesslyn menatap satu sama lain penuh arti, mereka menjalankan misinya dengan baik.


Perlu di ketahui, ide gila ini berasal dari Anna. Sebenarnya misinya tak begitu mulus, karena yang mereka rencanakan bukan tentang tikus dan di Appartemen.


Namun setidaknya niat terselubung yang asli berhasil.


Yaitu modus Anna pada Samuel, dan modus Jesslyn pada Andrew.


Jesslyn mengenal Andrew karena kedekatannya pada Anna, ia selalu menceritakan Samuel pada Jesslyn.


Hingga Andrew yang hanya asistennya pun Anna ceritakan.


Sehingga Jesslyn melihat siapa Samuel juga Andrew yang dimaksud oleh Anna. Ternyata orang yang selama ini ia lihat di Televisi maupun media sosialnya.


Kini keduanya masuk kedalam Appartemen milik Jesslyn, sembari bertukar cerita hal apa yang mereka lakukan untuk melancarkan misinya.


Hingga sampai ke Anna yang menceritakan hal bodohnya yang dua kali keceplosan dihadapan Samuel.


Membuat Jesslyn tertawa lepas saat membayangkan wajah malu sahabatnya itu.