Loving You, Is Hurt

Loving You, Is Hurt
Chap 3 – Menjemput



Jam sudah menunjukan pukul empat belas lewat empat puluh lima. Yang berarti lima belas menit lagi Anna akan pulang, dan menemui si tampan pujaan hatinya.


Kelas Anna saat ini sedang Jamkos, dikarenakan guru yang seharusnya mengajar sedang sakit.


Anna memilih untuk hanya tidur-tiduran diatas mejanya sambil membaca novel dihandphone miliknya. Ia sangat malas untuk ikut berghibah dengan teman-teman sekelasnya,


Karena menurutnya, pertemanan seperti itu hanya akan membuatnya menjadi toxic.


Jika kalian berpikir bahwa Anna tak memiliki teman, maka jawabannya salah besar!


Karena jejaring pertemanan Anna disekolahnya itu sangatlah luas, entah itu adik maupun kakak kelasnya bahkan ke beberapa guru-guru sekalipun akrab dengannya.


Karena ke friendly -an Anna lah yang membuat ia berhati hati dalam berbicara maupun bertindak disekolah.


Yang berarti, dugaan Samuel yang mengira dirinya akan menangis dan tak mau ikut pulang bersama Leo itu tidak sepenuhnya benar.


Karena dirinya akan sangat menjaga imagenya didalam lingkungan sekolah, dan melakukan aksinya itu jika sudah berada dikeluarganya.


"Tuan, sudah waktunya kita menjemput Anna. Karena sebentar lagi kelasnya akan selesai."


"Ya," Jawab Samuel lalu berjalan mengarah parkiran, yang pastinya disusul oleh Andrew.


Keduanya kini sudah berada didalam mobil, lalu Andrew selaku yang menyetir mulai menyalakan mesin dan melajukan kendaraan dengan kecepatan yang stabil.


...~~~...


Samuel juga Andrew sudah berada didepan gerbang sekolah milik Anna, terlihat seluruh murid disana menatap mobil BMW jenis 320i yang berwarna hitam mengkilat.


Tak sedikit dari mereka yang bertanya tanya siapa pemilik dari kendaraan itu.


Hingga dari ujung sana terlihat wajah kesal yang mengarah ke kendaraan milik Samuel.


Ia membuka pintu mobilnya, lalu menariknya sekuat tenaga. Membuat Andrew menganga kaget.


Bisa-bisanya nonanya itu dengan mudah membanting pintu mobil yang terbilang cukup mahal itu dengan mudah.


Lalu ia menghentikan tindakan konyolnya, lalu menyalakan mesin.


"Tuan, kita akan menuju kemana?" Tanya Andrew menatap Samuel dari kaca mobil.


"Timezone!" Tidak, bukan Samuel yang menjawab, tapi Anna.


"Berhenti ke kanak-kanakan Anna."


"Jangan menceramahiku Sam! Aku sedang kesal karena si guru tua yang botak itu menyuruhku untuk maju kedepan!" Jelas Anna, kemudian ia menyandarkan kepalanya dibahu Samuel.


"Kau tahu," Belum sempat ingin mengadu, ucapan Anna langsung dipotong oleh Samuel yang sibuk dengan ponselnya.


"Tidak."


"Bisakah kau mendengarku terlebih dahulu, Hah!" Ucap Anna dengan nada yang sedikit meninggi.


"Berani kau meninggikan suaramu padaku Anna Camille?" Balas Samuel tak kalah dengan nada yang lebih tinggi.


Membuat nyali Anna menciut, karena tak pernah ia mendapat bentakan dari siapapun.


Andrew yang merasa suasana mulai menegangpun berdehem berniat untuk mencairkan suasana. Namun ternyata tidak sesuai dengan ekspetasi.


"Diamlah Andrew!" Seru keduanya bersama, membuat Andrew diam seribu bahasa.


"Kau!" Keduanya kembali kompak sambil menunjuk satu sama lain.


"Berhenti mengikuti ucapanku Sam!"


"Panggil aku dengan sebutan Kak!"


"Ku panggil sayang saja bagaimana?" Ujar Anna keceplosan, membuat tangannya itu langsung membekap mulutnya.


Kini ia salah tingkah didepan Samuel, yang membuat alis Samuel berkerut bingung.


"Hei bocah, candaanmu garing." Samuel membalas tanpa ekspresi apapun. Sedangkan Anna menutup wajahnya yang sudah memerah.


Andrew yang menyaksikan kedua atasannya itu hanya diam dan menghela nafas sesekali.


"Tuan, jika kau terus-terusan menunda Jadwalmu, bisa bisa nantinya kau akan kesulitan mengatur waktumu. Atau bahkan, dalam sehari kau harus menghabiskan waktumu hanya untuk bekerja." Ujar Andrew mengingatkan.


"Ya, aku tahu itu. Kau cukup mengatur Jadwalku saja."


"Soal nona Clairre.. Kau harus menyiapkan alasan yang tepat agar tak membuatnya berubah pikiran. Karena kau sudah menunda pertemuanmu dengannya tiga kali."


"Ah, itu. Kau memindahkan pertemuan ku dengannya kapan?"


"Besok tuan, karena tuan Bian, selaku pemilik perusahaan BN's Company menunda pertemuannya salah satunya dengan kita karena ia sedang ditugaskan di Surabya."


"Baiklah."


Anna hanya mendengarkan saja, ia tak begitu paham dengan apa yang diperbincang-kan kedua pria dewasa itu.


Karena menurutnya, pembahasan mereka sangatlah membosankan. Apalagi untuk gadis berjubah putih abu-abu sepertinya.