Love Me!

Love Me!
Part 6 : Sebuah perasaan



Beberapa hari kemudian, Rian mendadak pulang ke rumah larut malam, bahkan dua tidak pulang. Rara merasa sikap Rian sedikit aneh.


Pagi ini di sebuah apartemen, Rara berusaha ingin menanyakan tentang pekerjaan Rian.


.


.


.


Di kamar, Rian sedang bergegas pergi ke kantor. Dan Rara sedang menyiapkan sarapan di dapur. Kemudian Rara masuk ke kamar untuk menyuruh Rian sarapan terlebih dahulu.


“Rian sarapan dulu ya, aku udah masak nasi goreng” cibir Rara dengan senyuman.


Rian menjawab dengan nada yang biasa aja dan sibuk membenarkan dasi “iya”.


Rara berjalan menghampiri Rian, lalu ia membantu Rian memakai dasi.


“Kamu hari ini pulang jam berapa?” Tanya Rara.


Rian terdiam sejenak dan memandang wajah Rara.


Yang di lihat Rian



“Kok di tanya ga jawab sih?” Tanya Rara lagi.


Rian mengelus pipi Rara dan merasa sangat bersalah telah berbohong selama beberapa hari ini.


“Mungkin tengah malem gua pulang” kata Rian.


Rara tersenyum lalu bilang seperti ini “kamu kerja apa sih? Sampai dari minggu kemarin sibuk terus” ungkap Rara.


Rian tidak menjawab, lalu ia menarik tangan Rara keluar dari kamar untuk sarapan.


.


.


.


At Office


Rian seperti orang yang sangat kebingungan, karena dua hari lagi, pertunangannya dengan Gladis segera terlaksana. Kemudian Bam datang menyapa Rian.


“Udah lah gausah lo pikirin, lo tuh harus jujur sama Gladis, bahwa lo itu udah nikah” ucap Bam.


Rian menjawab “gua berada di tengah-tengah, Rara istri gua, dan Gladis ga bisa gua tinggal, lo tau sendiri kan?”


Bam menepuk pundak Rian “tapi lo punya pilihan bro, Rara punya perasaan” ungkap Bam.


Mendengar hal itu, Rian termenung sejenak, lalu ia meningat wajah Rara yang beberapa hari ini selalu sedih.


.


.


Apartemen Syila


12.00


“Apa Rian masih belum nerima gue ya?” Tanya Rara.


“Gue gatau sih, cuma pernikahaan lo baru 3 minggu ya beb, wajar sih” kata Syila.


Syila pun terdiam dan bingung harus jawab apa. Syila hanya mengelus pundak Rara, supaya menenangkan hatinya yang gelisah dari kemarin.


.


.


.


22.35


Di apartemen


Rara menunggu Rian pulang, tapi belum ada kabar, bahkan hati Rara menjadi sangat-sangat gelisah. Ia merasa ada hal yang janggal.


Kemudian tiba-tiba Rian datang dengan keadaan mabuk parah.


Gubrak..!


“Rian, yaaampun kamu sampe kayak gini” ucap Rara. Lalu Rara membawa Rian ke kamar.


.


.


Di kamar


Rara menaruh Rian di kasur, kemudian mencopot kedua sepatunya dan membuka dasi nya.


Saat Rara ingin membuka dasi nya, tangan Rara di pegang oleh Rian.


“Eh” sontak Rara yang kaget.


Kemudian Rian bangun dan mencium bibir Rara, Rara pun terkejut. Namun perlahan membalas ciuman Rian, kemudian deruh nafas Rian semakin cepat, dan ciuman tersebut turun ke leher Rara, dan akhirnya Rian menarik Rara ke dalam dekapan nya.


.


.


.


00.33


Rian terbangun melihat keadaan Rara yang hanya mengenakan selimut di kasur.


Yang di lihat Rian



Rian merasa semakin bersalah sama Rara, ia sama sekali tidak ingin menyakitinya, tapi ia tidak mau Gladis bunuh diri kalau di tinggal.


Kemudian Rian mengelus kepala Rara dan tidur di samping sambil memeluk Rara.


“Sebuah perasaan antara kamu, aku dan dia” ucap dalam hati Rian.


.


.


.


.


To be continued