Love Me!

Love Me!
Part 1



Tepat tanggal 10 september 2016, hari ini dimana hari yang mestinya bahagia buat aku, mestinya... tapi entah kenapa perasaan aku begitu takut dengan dia yaitu calon suami aku.



Sambil melihat cermin yang begitu besar, qirra melihat diri nya yang sedang mengunakan gaun pengantin, tetapi wajahnya tidak terlihat seperti bahagia.



Hai nama aku Qirra Esstille, umur dua puluh tiga tahun. Hari ini aku di jodohkan oleh kedua orang tua ku dengan anak sahabat ayah ku.



Lagi asik bercermin dan melamun, tiba-tiba ada yang masuk dan menyapa ku.



“Yaampun kaka cantik banget” ungkap nya


Perempuan yang umurnya dua tahun di bawah ku ia adalah adik ku, Naisya Esstille.


Lalu aku membalas dengan senyuman.


“Kok senyumnya gitu sih ka” tanya Naisya


“Aku takut dia ga akan bisa mencintai aku sya” ungkap ku


“Ka qirra gausah takut, aku abang rian bakalan bisa nerima ka qirra dan bahkan bisa mencintai kaka” cakap Naisya


Aku mendengar ucapan naisya merasa sedikit lega semoga ia bisa menerima aku dan bisa mencintai aku.



Lalu tidak lama kemudian, mamah datang


“Yaampun kok masih disini sih, semuah udah nunggu dibawah” kata mamah


Lalu aku menjawab “iya mamah, aku udah siap kok” kata qirra


Lalu mamah menghampiri ku dan membisikan sesuatu “senyum sayang, kamu ga usah khawatir dia akan mencintai mu” kata mamah dengan penuh yakin.


Lalu aku pun berjalan keluar untuk melangsungkan acara pernikahaan.



*Lobby Hotel*


Aku melihat begitu banyak orang dan seseorang pria yang berdiri gagah sedang menunggu ku.


Entah kenapa tatapan pria itu membuat hati ini begitu gemetar seperti ada serangan yang aneh, aku terus berjalan menghampiri pria itu.


Lalu pria itu mengulurkan tangan nya lalu megang tangan ku. Rasanya aneh tapi begitu nyaman.


Pria yang bertinggi 178cm dengan ukuran dada yang bidang dan bahu yang sedikit naik dan gagah sekali. Rian Walker ia yang akan menjadi suami ku di hari ini dan selamanya.


Lalu di Depan pendeta kami melakukan sumpah janji sehidup dan semati.


“Silahkan ucapakan janji suci” kata pendeta


Lalu dengan lantang dan suara yang begitu lembut, ia mengucapkan janji suci tersebut.


“Saya Rian Walker, bersumpah akan menjadi suami yang baik, hidup dan mati, sakit dan sehat bersama istri saya” ucap rian


Lalu di ikuti dengan aku


“Saya Qirra Esstille, bersumpah akan menjadi istri yang, hidup dan mati, sakit dan sehat bersama suami saya” ucap qirra


Kemudian rian mengenakan cincin ke jari manis qirra, lalu rian mencium kening qirra dengan lembut. Saat rian mencium kening qirra.


Lalu pendeta bilang “kalian sudah sah menjadi suami istri”.


Semua orang yang berada di ruang itu bersorak gembira termasuk kedua orang tua. Tetapi saat aku melirik wajah nya, rian merasa tidak bahagia dan terlihat sangat terpaksa melakukan ini, hati ini begitu melihat wajah nya itu sangat sedih, kami disatukan bukan karena perasaan melainkan karena sebuah perjodohan.




*Kamar Hotel*


Selesai acara pernikahaan, waktu menunjukan pukul 21.37



Qirra sedang melepaskan semua aksesoris ganting, kalung dan cincin pernikahaan. Seharian begitu sangat lelah dengan acara pernikahaan yang begitu mewah.



Qirra melihat diri di cermin dan menghela nafas yang terdengar seperti orang begitu sedih.


“Hhhhh~~~” hela nafas qirra


“Apa ia akan mencintai ku, sepertinya tidak, terlihat jelas di wajahnya begitu terpaksa dengan semua ini” gumam qirra


“Bagaimana hari esok?” Ungkap qirra



Suara ketuk pintu


~tok~


~tok~


Lalu qirra sedikit teriak


“Masuk ga di kunci” jawab qirra dari dalam kamar hotel


Lalu bunda pun masuk


“Hai sayang” sapa bunda rian


“Hai bunda, kenapa bun?” Tanya qirra


“Engga kok, gimana hari ini senang?” Tanya bunda rian


“Begitu lelah bun” menjawab dengan sedikit senyuman


Bunda mengelus rambut qirra dengan lembut sambil bilang sesuatu.


“Besok pagi jangan sampai telat ya” ucap bunda


“Besok emang mau kemana bun?” Kata qirra


“Bunda sih nyuruh rian keluar negeri, tapi gatau kemana, biar kamu liburan juga” ucap bunda”


“Oh iya, kamu bakalan tinggal di apartemen, padahal bunda sudah menyuruh rian untuk membeli rumah, tapi katanya apart saja” kata bunda


“Aku gapapa kok bun, aku ikut rian aja tinggal dimana” kata qirra


“Semoga kalian bisa saling mencintai ya” ucap bunda


“Yaudah bunda pulang dulu, semua pakaian kamu sudah taruh di koper sama bunda, jadi besok tinggal jalan” kata bunda


“Iya bunda, makasih” jawab qirra


Lalu bunda pun pergi keluar. Aku berdiri sambil berusaha membuka gaun yang sedikit membuat aku sedikit sesak untuk bernafas. Resleting di belakang membuat aku susah membuka gaun ini.


“Aduh susah banget lagi” ucap qirra


Tanpa sadar ada yang membantu qirra membuka resleting gaun tersebut.


“Diem gw bantuin” kata rian


“Eh, I-iya” jawab qirra dengan sedikit gugup


Rian membuka resleting gaun tersebut secara perlahan, sambil melihat punggung istrinya yang begitu mulus dan putih.


“Udah nih” kata rian


“Iya makasih” kata qirra


“Langsung tidur aja besok kan takeoff pagi” ucap rian dengan nada yang sedikit ketus


“Iya” jawab qirra dengan lembut


Lalu rian menarik tangan qirra ke tempat tidur dan berkata “gw ga bakal macem-macem, gausah takut ya” ucap rian


“Iya” Jawab qirra


“Udah tidur” katanya rian


Lalu mereka pun memejamkan mata sambil berpelukan.


Entah kenapa qirra begitu nyaman di peluk rian, kenyamanan yang tidak bisa di ungkapkan kata-kata.


“Kenapa pelukan dia begitu nyaman, akan kah ke nyaman ini bisa menjadi cinta?” Omongan hati qirra


“Semoga esok lebih baik” omongan hati qirra.


“Good night rian” ucap qirra


Lalu rian menjawab dengan nada yang sedikit ngantuk


“Night to” kata rian




****


To be continued...