
"Tapi mamah kakak?" Khawatir Reina.
"Kenapa mamah aku?" Azka merasa heran.
"Mamah kak Azka pasti sendirian dirumah." Reina menjelaskan.
"Oh ... Nggak kok." Singkat Azka dengan mimik wajah berubah.
Setelah percakapan panjang akhirnya mereka sampai dikontrakan Reina.
"Kamu tinggal disini?" Tanya Azka sambil melihat sekeliling.
"Iya, maaf ya sempit." Reina membuka pintu "Assalamualaikum, Dek kakak pulang." Memanggil adiknya.
"Ahhh ... waalaikumsalam." Berlari ke arah Reina "Lama banget kemana aja si?" Gani mencurigai Reina.
"Hehehe ... Maaf." Reina menggaruk tengkuknya merasa bersalah.
"Tau gak kak aku hampir mat_ _" Ucapan Gani terpotong.
"Shutt ... Nggak boleh ngomong kayak gitu." Reina memotong ucapan Gani.
"Ehhh ... Iya maaf." Menyeringai "Ngomong-ngomong ini siapa, pacar kakak, mau dia sama kakak?" Gani bertanya dengan bertubi-tubi.
"Hmmm bukan." Jawab singkat Reina dengan wajah datar ditambah males.
"Hahaha ... Anak kecil keren banget omongannya." Ucap Azka "Nih es krim." Memberikan es krim ditangannya.
"Buat aku aja kak jangan dikasih sama anak nakal ini." Kesal Reina.
"Cemburu ya kak, kakak tuh nggak bisa ngalahin ke imutan aku." Ledek Gani.
"Udah ngomongnya." Males "Aku mau kedapur dulu." Berjalan kedapur "Jangan makan dulu es krimnya masih pagi." Tegas Reina.
"Iya, jangan marah-marah bu cepet tua." Ledek Gani.
"Bodo amat." Reina melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Reina pergi memasak kedapur. Sementara, Gani dan Azka menunggu dengan bermain game. Azka dengan cepet memenangkan hati Gani karena itu pesona seorang Azka.
Saat Gani dan Azka bermain game, terdengar beberapa suara benturan keras didapur yang berhasil membuat Gani dan Azka terkejut berkali kali.
"Ada apa itu?" Heran Azka.
"Sudah biasa itu." Ucap santai Gani.
"Iya, coba kakak hitung sampai tiga seseorang bakal teriak." Gani kembali santai sambil terus fokus pada gamenya.
"Beneran?" Azka kembali dibuat penasaran "Satu, dua, tiga." Setelah menghitung benar saja ada yang berteriak.
Mendengar teriakkan otomatis Azka mendekati asal suara, dan itu adalah dapur dimana Reina sedang memasak.
"Wah ... penampakan macam apa ini?" Kaget Azka.
Reina hanya tersenyum sambil memegang tengkuknya. Gani datang kedapur.
"Tuhkan kak. Aku bilang jangan pernah masak lagi." Gani menggurui.
"Tapikan ada tamu." Ucap Reina dengan nada sedikit tinggi "Jangan gitu ya dek." Kesel.
"Iya santai dong ngomongnya." Balas Gani.
"Kenapa emang?" Kesal Reina.
"Kenapa nanya nggak lihat dapur hancur." Balas Gani.
Kedua saudara itu bertengkar, Azka yang mendengarnya menjadi sedikit kesal.
"Udah diam." Teriak "Dasar anak kecil." kesal "keluar dari dapur." Tegas "Aku aja yang masak." Azka bertindak seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya.
Reina dan Gani menurut pada Azka sepertinya mereka lupa kalau Azka bukan siapa-siapa.
Setelah beberapa saat Azka selesai memasak lalu memanggil Reina dan Gani.
Gani dan Reina menghampiri Azka, dan melihat semua makanan yang dimasak Azka, yang memenuhi meja kecil mereka bahkan mungkin lebih.
"Wahh ... kakak yang masak." Kagum Reina.
"Iya, udah cocokkan jadi suami idaman." Senyum Azka.
Reina dan Gani tidak memperhatikan ucapan Azka dan langsung makan dengan lahap.
Azka yang melihatnya terkejut dan menyerah untuk bicara lagi dan ikut makan bersama.
Setengah jam setelah makan Azka berpamitan untuk pulang.
Setelah Azka pulang Gani dan Reina pergi kekamar masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.