Keeping Cute Boys

Keeping Cute Boys
Buktikan



Setelah lelah bercanda dan membantu adiknya bersih-bersih. Malam pun tiba.


Reina berbaring diatas tempat tidur sederhananya. Saat ini dia bersiap untuk tertidur. Namun, ada yang mengganjal hatinya seperti ada yang dirinya lakukan.


Reina terus berpikir keras dan tak ada yang diingatnya Sama sekali. Setelah begitu lama berpikir akhirnya Reina tertidur.


Keesokan hari


Hari ini adalah akhir pekan Reina dan sang adik Gani sedang bersantai terduduk dengan kegiatan masing-masing.


Kemudian terdengar bunyi sesuatu sehingga membuat kedua bersaudara itu saling memandang lalu tertawa.


"Hahaha kakak lapar." Ucap Gani terkejut lalu memegang perutnya.


"Hahaha ... apa." Reina tertawa lalu menutup wajahnya karena malu.


Gani asik tertawa lalu terdengar sesuatu yang sama dari perutnya dan hal itu membuat keduanya tererajat dan tertawa terbahak-bahak untuk kedua kalinya.


Hal itu memberikan tawa untuk mereka dipagi hari meski hanya hal kecil.


"Kalau gitu kakak kedapur lihat apa ada yang bisa dimasak." Reina berdiri lalu pergi kedapur.


Sesampainya didapur Reina melihat keseluruh ruangan dapur namun tidak mendapati apapun.


Inilah yang selalu dikhawatirkan Reina. Mungkin akan ada cara. Tapi hari ini adalah hari libur mungkin jika cari pekerjaan juga akan sulit.


Setelah berpikir Reina telah memutuskan untuk bekerja paruh waktu hari ini setidaknya mungkin akan mendapatkan makanan untuk dirinya dan adiknya hari ini.


Reina bersiap-siap lalu menuju pintu untuk pergi.


"Kak mau kemana." Ucap Gani tiba-tiba hingga mengejutkan Reina.


" Ehhh ... Ngagetin." Menatap Gani "kakak mau beli bahan makanan." Bohong Reina.


"Kalau gitu hati-hati kak." Kata Gani sambil memainkan ponselnya "Jangan lupa es krim." Tambahnya lagi sambil terus memandangi ponselnya.


"Es krim, masih pagi." Singkat Reina sambil memakai sepatu.


"Bodo amat, Gani tunggu ya." Ucap Gani sambil berjalan masuk kamarnya.


"Apa Kak." Gani mengeluarkan setengah badan dipintu kamarnya yang tidak jauh dari pintu keluar.


"Ahhh ... Ngagetin terus." Kesal Reina lalu keluar rumah.


Setelah keluar rumah Reina berjalan dijalan yang kemarin dirinya lewati.


Setelah berjalan beberapa langkah yang cukup jauh dari rumahnya tiba-tiba tangan Reina ditarik seseorang.


"Ahhhh!!" Reina menutup wajahnya karena kaget "Siapa? Sumpah ya kalau mau menculik aku juga gak ada gunanya." Tambahnya sambil memukul-mukul kedepan tapi tetap menutup matanya.


"Tenang ini aku." Ucap seseorang tersebut.


Reina memberanikan diri membuka mata lalu melihat seseorang didepannya. Dan dia melihat sosok yang tak asing.


"Ahhh ... kakak Ngagetin aja." Reina merasa lega karena yang dilihatnya adalah Azka padahal kemarin lari terbirit-birit saat melihat Azka. Mungkin karena mereka sudah banyak berbicara dan Azka adalah pembawa suasana baik.


"Lagian kamu, kenapa nggak datang kemarin. Aku kecewa ternyata kamu beneran pencuri." Azka menatap Reina dengan tatapan tak percaya.


"Beneran kak aku bukan pencuri." Ucap pembelaan Reina.


Ternyata yang terlupakan oleh Reina dan dipikirkannya semalam adalah janjinya pada Azka.


"Kalau gitu ikut aku buktiin." Tantang Azka.


"Aku nggak takut." Reina yang mengangkat kepalanya dan menerima tantangan Azka.


Mereka pergi ketempat tak asing yaitu tempat kemarin didepan toko kelontong dimana Reina dikejar Azka.


"Wah ... kok kesini kak?" Reina merasa bingung.


"Kamu tahu kenapa kemarin aku ngejar kamu sambil bawa tongkat?" Tanya Azka serius.


"Kenapa?" Tanya balik Reina.


"Tunggu sebentar kamu pasti tahu." Ucap Azka entah menunggu apa.