Keeping Cute Boys

Keeping Cute Boys
Lupa




Azka pratama Pemuda yang dikira mengejar Reina karena salah paham. Usia 20 tahun. Ceria dan pembawa kebahagiaan baik dan bertanggung jawab.


"Khawatir banget. Aku liatnya pusing tahu." Kesal Azka "Sini duduk aja. dia nggak papa kok." Menepuk kursi disampingnya.


Duduk lalu menangis "Ahhh ... Kak gimana dong. Aku takut masuk Penjara."


Azka menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi "Nggak mungkin dipenjara." Mencoba menenangkan.


"Kenapa emang?" Heran "Kakak yakin." bertanya lagi.


"Iya. Perjara udah nggak muat lagi nampung orang." Mencoba menghibur "Jadi tenang aja." Santai.


"Ohhh ... kak boleh aku pinjam uang kakak." Memberanikan diri.


"Ohhh ... Aku juga baru ingat urusan kita belum selesai." Menatap.


"Urusan apa ya. Kak aku juga gak kenal sama kakak." Bingung.


"Bukan urusan antara kita tapi ada hubungannya sama kamu." Serius.


"Ohhh ... Tapi aku nggak tahu apa-apa." Wajah polos "Alasan yah?" Curiga.


"Alasan apa." Bingung.


"Alasan kakak nggak mau minjemin aku uang." Melotot "Iyakan." Menekankan "Kakak juga nggak punya yah."



"Jangan menatap kaya begitu dong." Menatap Azka "Kan jadi takut." Bergeser duduk menjauh dari Azka.


"Ohh ... yah." Mendekat pada Reina "Takut kenapa." Semakin mendekat dan Reina terus mundur hingga di ujung kursi.


"Ahhh ngapain Kak." Menutup wajahnya.


"Hahaha ... Lucunya." Tertawa "Abisnya sembarangan ngatain nggak punya uang."


"Emang punya?" Serius.


"Punya seribu." Menunjukkan uang seribu rupiah.


Reina terdiam sejenak lalu "Hahaha ... Wah ... Banyak banget." Mereka tertawa bersama.


"Oke aku pinjemin uang tapi ada syaratnya." Mengajukan perjanjian.


"Apa syaratnya." Menengadah.


"Pinjem uangnya buat apa?" Serius "Aku nggak bisa bilang aku harus pergi sekarang." Jawab Reina.


"Tapi aku bisa percaya, kamu tuh buronan di mata aku." Tersenyum tipis.


"Aku berani sumpah aku nggak ngelakuin hal-hal jahat." Berusaha mendapat kepercayaan.


"Kalau gitu kasih tahu uangnya buat apa?" Menatap Reina.


"Ihhh ... Buat bayar rumah sakit. Puas!!" Kesal dan akan pergi.


"Ehhh ... kok marah." Menahan tangan Reina agar tidak pergi persis seperti adegan drama "Iya nih uangnya. Tapi nanti kita ketemu lagi di depan toko yang tadi." Mengajukan persyaratan.


"Hmmm ... Iya." Setuju.


"Dia siapa kamu, peduli banget kayanya." Penasaran.


"Nggak. Heran aja kenapa kalau bukan siapa-siapa kok peduli banget." Penasaran.


"Yah ... Gini loh kak." Menarik napas dalam "Akukan yang buat dia pingsan jadi harus tanggung jawab." Menjelaskan dengan penuh keseriusan.


"Terus kenapa harus minjam uang." Masih penasaran.


"Kakak wartawan yah." Kesal karena terus ditanya "Gini kak aku nggak punya uang. Kalau kakak takut aku nggak bayar kakak minta apa sebagai jaminan." Bicara ngelantur karena kesal.


"Oke, beneran." Senyum licik.


"Iya, beneran." Serius "Kakak mau apa?" Menyanggupi.


"Nanti kita ketemu lagi di depan toko tadi_ _" Belum selesai bicara.


"Iya, udah tahu." Memotong pembicaraan Azka.


"Belum selesai sayang. Belum selesai." Bercanda dengan menggertakan giginya.


"Hehehe ... Lanjut kak." Ketawa.


"Gimana kalau kamu janji ngabulin satu permintaan aku dan uangnya buat kamu aja nggak minjam." Tersenyum.


"Hmmm ... Nggak aku nggak ngejual harga diri." Serius.


"Ihhh ... GR banget." ketawa.


"Terus maksudnya kakak apa?" Bingung.


"Udah deh. Gini aja kamu kasih nomor kamu sebagai jaminan." Modus.


"Ada yang aneh kak." Lupa akan sesuatu.


"Apa?" Ikutan bingung.


"Kita dari tadi ngobrol." Memegang kepalanya "Aku nggak marah padahal kakak nuduh aku nyuri." Mencebikan bibirnya.


"Belum tentu itu tuduhan, aku lihat sendiri kok." Percaya diri.


"Terus kenapa sekarang nggak langsung laporin ke kantor polisi."Menantang "Aku nggak takut karena aku nggak salah." Percaya diri.


"Yakin nggak takut. Katanya tadi takut karena anak tadi pingsan gara-gara kamu." Mengingatkan.


"Ahhh ... Iya aku lupa." Teringat.


"Tenang aja, kalau benar kamu pencuri aku langsung laporin kepolisian. Tapi melihat kamu bertanggung jawab kayanya aku mungkin juga salah." Tersenyum.


Reina tertegun "Wah ... nggak nyangka aku." Senyum "Kakak dewasa banget."


"Makanya nanti jangan kecewain aku. Kamu harus datang ke depan toko tadi kalau kamu nggak salah." Mengusap kepala Reina "Kayanya ada satu lagi yang lupa." Tersenyum.


"Apa. Nomor HP aku sebagai jaminan?" Bingung dan mengeluarkan ponselnya.


"Itu benar sih. Tapi bukan itu yang aku maksud."


"Terus maksud kakak apa?" Benar-benar bingung.


"Kita belum kenalan." Mengulurkan tangan.


"Ahhh ... Iya." Ketawa.