Keeping Cute Boys

Keeping Cute Boys
Jawaban



Setelah menunggu beberapa saat seorang ibu datang dari dalam toko tersebut yang dimana Azka dan Reina berdiri didepannya.


"Ehhh ... Ada nak Azka, ada perlu apa?" Tanya ramah si ibu yang baru keluar dari dalam toko.


"Iya." Tersenyum "Bu, saya mau beli beberapa bahan makanan." Balas ramah Azka.


Reina yang mendengarnya seketika melihat ke arah Azka dengan tatapan heran.


"Kak." Heran "Katanya mau_ _" Ucapan Reina terpotong.


"Shut ..." Menaruh telunjuk didepan bibir Reina "Diam dulu." Azka menatap tengil pada Reina.


"Ihhh ... Ngapain si." Melotot "Jangan sok keren deh." Memutar bola matanya "Tangan kakak asin tahu." Ejek Reina menutup ucapannya.



"Apa." Azka menatap Reina "Asin." Menaikkan nada bicara "Coba ngomong sekali lagi." Menyeringai.


"Hahaha ..." Reina hanya tertawa.


Setelah belanja banyak berbagai macam bahan masakan dan camilan Azka dan Reina pergi dan berhenti didepan kursi disebuah taman dipingir sungai.


"Kak, katanya mau buktiin aku salah apa nggak kok malah belanja." Heran Reina.


"Udah sini duduk dulu." Ucap Azka lalu duduk dikursi panjang didepannya.


Reina nurut dan duduk disebelah Azka. Setelah Reina duduk.


"Aku mau jelasin semuanya." Azka memulai pembicaraan.


"Sebenarnya Kemarin aku nggak ngejar kamu." Jujur Azka.


Hal itu membuat Reina terkejut sekaligus heran.


"Terus kenapa kakak nuduh aku?" Bertanya kesal hingga mencebikan bibir bawahnya.


"Kamu sendiri yang lari, bukan aku yang salah dong." Azka berusaha menghindar dari amarah Reina.


Reina hanya melotot menatap Azka kini Reina seperti bom yang akan meledak.


"Sabar, tarik napas." Mencoba menenangkan "Aku minta maaf." Azka tersenyum membujuk.


"Oke, aku cerita." Azka mulai bercerita.


Kilas balik kejadian.


Seorang ibu duduk disebuah kursi dengan megang alat sulamnya. Tepatnya dihalaman rumah didepan sebuah kolam ikan kecil. Ibu tersebut mendapatkan ketenangan dengan aktivitasnya.


Seorang pemuda keluar dari pintu dan menghampiri sang ibu.


"Mah, Azka berangkat ya." Pemuda tersebut adalah Azka dia duduk berlutut didepan sang ibu yang tidak lain adalah Mamahnya.


Ibu itu hanya menatap dengan sayu pada Azka. Lalu memegang wajah anaknya itu dan tersenyum tipis.


"Cari Reza ya, cari Reza." Mamah Azka terus mengulangi ucapannya dengan wajah berkaca-kaca lalu mulai menangis "Mereka pasti pulangkan, pasti pulang." Menangis tersedu-sedu.


"Iya, Azka pasti cari Eza." Azka menenangkan sang mamah dan memeluknya "pasti cari mereka." Menguatkan dirinya "Jangan nangis mah, Azka pergi dulu." Pamit Azka dan dibalas senyum tipis sang mamah.


Setelah Azka melangkah dan sudah didepan gerbang. Tiba-tiba ada suara ledakan yang membuatnya terkejut sekaligus khawatir. Azka langsung berlari kembali ketempat ibunya berada.


"Mah!!" Berteriak karena khawatir.


Lalu Azka melihat mamahnya terus berjalan kesana-kemari tanpa henti dengan mengulang-ulang ucapannya. Tubuhnya bergetar hebat.


Mamah Azka terlihat begitu histeris penuh ketakutan seakan-akan dia melihat ketakutan terbesarnya.


Azka yang melihatnya langsung memeluknya. Mendekap sang ibu dipelukannya dengan hangat agar ibunya kembali tenang.


"Tenang, Mah disini ada Azka." Menenangkan sang ibu " Itu cuma petasan mamah nggak usah takut." Azka terus berusaha menenangkan sang ibu.


Setelah beberapa saat Azka memberikan obat penenang pada sang ibu sehingga ibunya tertidur.


Azka melihat sekeliling dan mendapati seseorang melempar sesuatu dari balik tembok yang menjadi pagar rumah Azka.


Ketika Azka melihat apa yang dilempar kedalam rumahnya tersebut. Ternyata itu sesuatu yang sudah sering terjadi.


Azka pergi keluar rumah tanpa sengaja Dia melihat seorang anak terjatuh didepan tembok rumahnya.


Anak tersebut langsung kabur saat ditanya itu membuat Azka curiga bagaimana mungkin seorang anak kecil dapat memanjat tembok yang cukup tinggi sendiri.