
Kilas balik kemarin malam.
"Apa?" Asgara terkejut "Nggak mah, itu sangat memalukan." Tolaknya.
"Tapi sayang, itu satu-satunya cara agar ada orang yang menjaga kamu." Tegas nyonya Aristi.
"Pah." Asgara melihat kearah Pak Burhan tepatnya papahnya yang sedang duduk disamping mamahnya.
"Maaf." Memalingkan wajah "Papah nggak bisa bantu."
"Kamu cuma bisa menerima." Nyonya Aristi tersenyum kemenangan.
"Ta _ _ tapi." Gelagapan "Asgara kan udah dewasa apa kata orang nanti." Lanjut Asgara.
"Pah." Panggil Asgara kembali "Papah ngertikan perasaan aku." Kembali membujuk.
"Papah bilang papah gak bisa apa-apa." Jawab papah Asgara karena dipelototi sang istri.
"Kamukan nggak mau ditemenin pengawal." Sahut nyonya Aristi mamah Asgara "Ya, kamu harus setuju sama keputusan mamah." Tambahnya.
"Pokoknya Asgara nggak mau, mamah aja yang diurus baby sister Asgara nggak mau titik." Asgara bersikukuh.
"Oke." Asgara yang mendengarnya tersenyum senang "Tapi, kamu sekolah dirumah lagi." Tambah nyonya Aristi.
"Mamah kok egois." Kesal Asgara "Untuk pertama kalinya aku kesel sama mamah." Tambah Asgara.
"Aku punya penyakit apa, aku cuma alergikan kenapa harus sampai segitunya." Kesal Asgara "Dari kecil Asgara nggak punya teman." Tegasnya.
"Aku seneng banget dengar mamah ngebolehin aku sekolah normal." Menatap mamahnya "Tapi kenapa harus kayak gini." Sedikit marah "Mamah taukan alasan kenapa aku kemarin pergi diam-diam sendiri." Jelasnya " Itu karena aku pengen sendiri." Pangkasnya lagi.
"Keputusan mamah nggak bisa diubah." Nyonya Aristi bicara dengan ekspresi yang tak berubah.
Setelah pembicaraan itu nyonya Aristi menelpon Reina dan mengajak bertemu.
Kilas balik selesai.
"Bagaimana?" Tanya nyonya Aristi "Kamu setuju." Tanyanya lagi dengan berharap penuh.
"Tapi, kenapa harus saya?" Tanya balik Reina.
"Karena kamu teman sekelas Asgara." Ucap singkat nyonya Aristi.
"Hah, tapi saya tidak pernah melihat Asgara disekolah." Ucap Reina.
Reina lupa pada Asgara pria yang membuatnya terkejut dilorong sekolah.
"Yah, karena anak saya baru masuk sekolah dua hari yang lalu." Nyonya Aristi menjelaskan.
"Benarkah, tapi nyonya saya tidak melihatnya dua hari yang lalu." Heran Reina.
"Dia hanya daftar, dan waktu itu dia pergi diam-diam." Ucap nyonya Aristi "Saya tidak pernah berniat mendaftar dia sekolah disekolah umum." Jelasnya lagi "Saat saya tahu dia pingsan saya baru mengijinkannya." Bicara apa adanya "Kamu tidak pernah tahu detailnya, saya hanya akan menjelaskan sampai situ." Nyonya Aristi menutup ucapannya.
"Saya butuh waktu." Ucap ragu-ragu Reina.
"Oke, saya kasih waktu kamu sampai besok pagi." Tegas nyonya Aristi "Jika kamu setuju besok pagi sebelum berangkat sekolah kamu datang ke alat ini." Tambahnya menyelesaikan pembicaraan.
Nyonya Aristi memberikan waktu yang singkat karena dalam kamusnya tidak ada penolakan.
"Kamu mengerti." Tegas nyonya Aristi Membayar makanan lalu pergi.
Reina hanya tersenyum ramah melihat kepergian nyonya Aristi yang perlahan memudar dari pandangannya.
Dirumah Reina
Reina merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Berpikir apa yang harus dirinya pilih. Sekarang dia membutuhkan pekerjaan tapi pekerjaan ini akan menjadi pekerjaan yang rumit.
Reina berpikir untuk menolak. Namun, bayangan semua tanggung jawabnya akan adiknya sekolah dan semua tanggung hidup yang harus terus dijalani.
keesokan harinya
"Dek, kakak berangkat ya." Ucap Reina sambil mengikat tali sepatu.
"Kakak mau kemana pagi banget baru juga jam enam." Tanya Gani.
"Udah jangan banyak tanya." Ucap Reina "Makanan udah siap, kamu cepet siap-siap sekolah." Berdiri "Kakak berangkat." Membuka pintu "Assalamualaikum." Pergi.