
Azka mengejar anak yang dilihatnya Azka berlari sekuat tenaga dengan napas yang memburu.
Ia hampir menangkap anak tersebut. Namun, kesialan menimpanya hingga seseorang membawa gerobak penuh dengan tongkat dan menabrak Azka yang sedang berlari hingga keduanya terjatuh.
Azka bangkit dari posisi terjatuhnya dan seseorang yang menabraknya langsung meminta maaf.
"Maafkan saya pak maafkan." Ucap pembawa gerobak tersebut.
"Iya tidak masalah." Akan kembali berlari.
Namun, seseorang tersebut menarik tangan Azka sehingga Azka kembali ketempatnya terjatuh.
"Ada apa lagi pak." Azka menahan kesal.
"Maafkan saya pak, saya cuma mau meminta maaf." Pembawa gerobak tersebut terus meminta maaf.
"Kata saya nggak papa." Terus melihat arah anak yang sedang dikejarnya.
"Tapi saya benar-benar minta maaf." Berlutut dihadapkan Azka.
"Ya, ampun pak." Membuang napas dan terus memperhatikan arah lari anak yang dikejarnya "Saya ambil kayu bapak satu." Mengambil kayu berukuran tongkat dari pembawa gerobak tersebut "Sekarang saya boleh pergi kan pak?" Memaksakan senyuman "Saya maafin bapak kok." Azka Menyeringai menutup ucapannya sambil memohon.
"Terimakasih." Menunduk-nundukan kepala sambil berterimakasih tanpa berhenti bahkan ia tak sadar Azka sudah tidak ada ditempat.
Tanpa peduli hal lain Azka berlari mengejar anak yang dikejarnya sambil memegang tongkat.
Namun naas Azka kehilangan jejak dan hanya memperhatikan sekeliling.
Kilas balik selesai.
"Gituh ceritanya." Azka mengakhiri ceritanya.
"Mamah Kakak kenapa?" Reina bertanya dengan mimik wajah khawatir ditambah heran yang membuat wajahnya terlihat imut.
"Udah jangan dipikirin lagi." Azka mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, kalau gitu ceritanya." Menatap Azka "Kok kakak jadi ngejar aku." Tambah heran Reina.
"Soalnya waktu itu karena capek aku duduk dulu." Senyum "Istirahat." Mendenyutkan dahi " Terus lihat anak itu keluar dari toko si ibu tadi." Azka selesai bercerita.
"Oh kakak teriak ke anak yang lari didepan aku." Kejut Reina.
"Iya." Singkat Azka " Langsung lari si." Menyilangkan kakinya "Langsung aja kerjain." Menutup ucapannya dengan senyum jahil.
"Isshh ... Nyebelin banget hidupmu." Reina mendorong pelan tubuh Azka.
"Tapi sukakan dijahilin sama orang ganteng." Narsis Azka.
"Emang gateng nggak percaya." Canda Azka sambil tertawa kecil.
"Iya deh ganteng. Tapi, menurut mamah kakak aja." Balas canda Reina dengan menekan kata tapi sebagi ledekan.
"Ohh ... Gitu ya, hati-hati loh nanti suka." Canda Azka sambil berdiri dari duduknya.
"Nggak akan." Balas Reina sambil menggelengkan kepala.
"Awas ya kalau sampai suka beneran." Azka bicara dengan nada agak tinggi sambil berlari kecil menjauhi Reina.
"Ehhh ... Kak mau kemana?" Tanya Reina sambil agak teriak.
"Tunggu aja sebentar, awas kalau pergi." Azka menjauh dari Reina dengan ancaman.
"Dasar, nggak janji ya kak." Teriak Reina lalu tertawa.
Setelah Reina menunggu beberapa saat Azka datang dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Bawa apa Kak?" Reina penasaran.
"Es krim, kamu suka rasa apa?" Azka memperlihatkan es krim ditangannya lalu duduk disebelah Reina.
"Ahhh ... Es krim." Kaget Reina dengan nada cukup tinggi.
"Kenapa?" Azka yang terkejut langsung bertanya.
"Aku lupa, gara-gara kakak." Reina berdiri dengan panik.
"Lah ... salah aku apa?" Bingung Azka.
"Adikku nungguin makanan dirumah." Reina bersiap untuk pergi.
"Ehhh ... Tunggu aku ikut." Ucap Azka.
"Kenapa?" Heran "Aku nggak bakal kabur, aku pasti bayar hutang ke kakak." Ucap Reina serius.
"Ya ampun segitunya." Menatap "Aku mau ikut karena kamu belum beli apa-apa." Azka menjelaskan.
"Ohh ... Tapi aku nggak bisa terima." Tolak Reina.
"Tenang aja nggak gratis kok." Berdiri "Aku ikut makan masakan kamu." Azka serius.
"Kakak yakin." Reina merasa ragu.
"Iya." Azka bicara dengan pasti.