
Setelah mengerjakan tugas sekolah Reina berbaring diatas tempat tidurnya. Tiba-tiba panggilan telpon masuk.
"Halo, ini dengan siapa?" Tanya Reina.
"Saya ...." Pembicaraan mereka cukup panjang. Dan menghasilkan kesepakatan pertemuan.
Besok harinya Minggu siang.
"Dek, kakak ada urusan kamu baik-baik dirumah." Reina memakai sepatunya.
"Iya." Balas Gani.
Reina pergi bertemu seseorang yang menelponnya kemarin malam.
Gadis itu sedang duduk sambil memegang ponselnya disebuah restoran yang cukup mewah.
"Mau apa ya ..." Gumam Reina yang gugup.
Lalu datanglah seorang ibu dengan gaya anggunnya berjalan. Itu adalah nyonya Aristi ibu dari Asgara.
Ibu Aristi duduk didepan Reina sehingga mereka saling berhadapan.
"Pelayanan tolong, dua porsi menu seperti biasa." Panggil nyonya Aristi.
Tak lama kemudian makanan datang.
"Apa kamu suka?" Tanya nyonya Aristi yang langsung memesan tanpa bertanya pada Reina terlebih dulu.
"Iya nyonya." Reina hanya tersenyum.
"Baguslah, maaf saya tidak bertanya terlebih dulu sebelumnya." Nyonya Aristi tersenyum "Saya hanya ingin memberi kamu makanan terbaik disini." Tersenyum lagi.
"Apa ada sesuatu nyonya mengajak saya bertemu?" Ucap sopan Reina.
"Iya." Singkat nyonya Aristi "Ini uang." Memberikan amplop.
"Apa maksudnya nyonya." Heran Reina.
"Saya, berterimakasih pada kamu." Tersenyum.
"Untuk apa?" Reina kembali dibuat heran.
"Kamu telah menolong anak saya." Ucap nyonya Aristi.
"Saya menolong?" Lagi-lagi Reina dibuat bingung.
"Kemarin, bila anak saya tidak langsung dibawa kerumah sakit saya tidak tau bagaimana keadaannya sekarang." Memegang tangan Reina.
"Tapi itu salah saya." Reina berbicara dengan ragu.
"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, dokter sudah menjelaskan semuanya." Nyonya Aristi tersenyum.
"Hah ... benarkah?" Reina sedikit bingung.
"Saya tidak bisa menerimanya Nyonya." Menolak "Saya memang seharusnya membayar uang rumah sakit." Tambah Reina.
"Kenapa? kamu suka sama anak saya." Nyonya Aristi mencurigai.
"Tidak nyonya. Jangan salah paham." Reina menjelaskan.
"Ohh ... syukurlah." Nyonya Aristi merasa lega "Saya tidak bisa menyerahkan anak saya pada orang lain begitu saja." Memperjelas.
"Iya." Reina menjawab dengan canggung.
"Oke kita mulai ke pembicaraan utama." Nyonya Aristi mulai serius "Saya dengar kamu sedang mencari pekerjaan. Apa kamu mau bekerja dengan saya." Bicara langsung ke intinya.
"Pekerjaan, pekerjaan seperti apa?" Reina merasa sekaligus bingung.
"Menjadi pengasuh anak saya." Nyonya Aristi sangat serius.
Ucapan nyonya Aristi berhasil membuat Reina tersedak.
"Kamu tidak papa?" Memberikan tisu pada Reina "Minum pelan-pelan." Khawatir nyonya Aristi.
"Terima kasih nyonya." Menenangkan pikirannya "Maksudnya nyonya tadi apa?" Reina bertanya dengan bingung.
"Iya, pekerjaan yang saya tawarkan menjadi pengasuh anak saya." Nyonya Aristi berbicara dengan tenang.
"Apa maksud anda." Reina gugup "Anak kedua Anda?" Memberanikan diri untuk bicara.
"Saya hanya punya satu putra." Ucap singkat nyonya Aristi lalu memasukan makanan pada mulutnya.
"Maksud anda nyonya?" Reina semakin bingung dan terus terkejut tak percaya dengan apa yang telah didengar telinganya.
"Baca ini." Nyonya Aristi memberikan lembaran kertas pada Reina.
"Apa ini?" Mengambil kertas, membuka halaman dan membacanya "Perjanjian?" Reina membaca semua isi perjanjian tersebut.
Isi perjanjian kontrak
Pihak A (Asgara ) dan pihak B (Reina )
Pihak B harus menemani dan mengurus pihak A
Pihak B harus sedia datang kapanpun pihak A membutuhkan
Pihak B harus menghapal halaman ketiga tentang apa yang harus dihindari pihak A
Pihak B dapat memilih dimana pun ia akan tinggal, dan selama pihak A tidak memerlukan penjagaan itu adalah waktu bebas pihak B
Kontak hanya berlaku selama 7 bulan sampai waktu ujian nasional.
Masih banyak lagi isi perjanjian yang selama waktu berlangsung akan diungkapkan.