
Anak kecil itu menghampiri Reina dan memberikan secarik kertas dan sekantong plastik yang dirinya tak tahu isinya. Itu membuat Reina heran.
Lalu ibu itu berlari menjauh tanpa berkata apapun pada Reina.
"Bu. Apa maksud anda saya bingung!!" Panggil Reina sambil berteriak karena ibu tersebut telah berlari jauh.
Lalu Reina melihat sekeliling dan melihat seorang pemuda membawa pemukul dan berteriak padanya.
"Hey ... Ternyata kamu ya berandal!!" Teriak pemuda tersebut dan mengejar Reina.
Reina bereaksi dan langsung berlari menjauh dengan kebingungan dan ketakutan.
"Yah salah aku apa." Berlari terbirit-birit.
"Woy ... Berhenti gak." Teriak pemuda tersebut terus mengejar.
Mereka terus saling mengejar tanpa henti. Kemudian Reina berlari ke jalan sepi.
Dengan napas terengah-engah Reina terus menengok kebelakang.
"Brukk." Reina menabrak seseorang lebih tepatnya mereka bertabrakan.
"Auu ..." Teriak Reina "Siapa sih. Sakit tau!!" Berteriak sambil mengusap-ngusap tangannya yang sakit.
"Jangan teriak dong!!" Tak mau kalah "Kamu juga salah, Baju aku jadi kotor nih." Berbalik marah.
"Ehhh ... enak aja." Kesel "Harusnya aku yang ngomong kaya gitu." Marah-marah.
"Kamu lihat dong." Berdiri.
"Kakak lihat." Marah "Aku yang ditabrak." Kesel Asgara orang yang bertabrakan dengan Reina.
"Ehhh ... Tunggu kok aku kaya pernah lihat kakak yah." Terdiam sejenak "Ehhh ... bukan kakak kamu orang yang waktu itu marah-marah ya kan?" Baru teringat.
"Kamu diam." Meminta Asgara berhenti bicara.
Asgara terus bicara karena kesal pada Reina. Tanpa aba-aba.
Reina melihat sekeliling lalu menarik tangan Asgara dan bersembunyi di bawah meja untuk bersembunyi.
Karena pemuda yang mengejar Reina sudah ada di ujung jalan terpaksa Reina harus membawa Asgara bersembunyi karena tidak mau diam.
"Ngapain. Lepas!!" Marah "Banyak debu." Wajah Asgara memerah.
"Lebay banget si." Reina kesal.
"Lepas cepat kita keluar." Wajahnya semakin merah.
Reina terus melihat sekeliling. Bertanya pada Asgara tapi tak ada jawaban. Ketika ia melihat Kearah Asgara.
"Ahhh ..." Teriak Reina "Hei ... Jangan bercanda." Menepuk-nepuk wajah Asgara.
Kemudia sebuah kepala muncul.
"Hai ..." Ucap santainya.
Reina yang melihatnya mengedip-ngedipkan matanya. Lalu menatapnya dengan melotot hingga mata itu menjadi besar.
"Ngapain dibawah meja?" Tanya orang yang muncul tiba-tiba "Akhirnya tertangkap juga." Dan dia adalah pemuda yang mengejar Reina dari tadi.
Reina menarik napas "Huh ... kakak ganteng deh." Mencoba menenangkan "Jangan tangkap dulu ya kak." Tersenyum "Aku nggak salah kak nanti kita bicarakan." Memohon.
"Nggak bisa." Menolak.
"Tapi kakak nggak kasihan sama dia." Menunjuk Asgara yang sedang pingsan di bahunya.
"Ehhh ... Selain maling ternyata orang mesum ya." Terkejut pemuda tersebut.
"Maling." Bingung "Siapa?" Heran.
"Kamu siapa lagi." Menunjuk Reina.
"Bentar kakak salah paham." Menjelaskan.
"Udah nanti aja kita bawa anak ini kerumah sakit dulu." Membawa keluar Asgara "Yuk bantuin berat." Membopong Asgara.
"Oh ... iya." Langsung membantu Membopong.
"Ini anak berat banget padahal badannya kecil." Mengomel.
Mereka memberhentikan Taksi dan Pergi kerumah sakit. Didalam taksi.
"Dia nggak papa kan Kak wajahnya merah banget." khawatir.
"Pacar kamu ya?" Menatap Reina.
"Bukan." Menggelengkan kepalanya.
Mereka pun sampai dirumah sakit. Asgara langsung dibawa keruang perawatan.
Reina terus berjalan mondar mandir didepan ruangan.
"Kamu kenapa khawatir banget ya." Tanya pemuda tersebut karena pusing melihat Reina mondar mandir didepannya.