
Setelah mereka tertawa, akhirnya Azka memulai perkenalan.
"Oke." Mengulurkan tangannya "Nama aku Azka pratama, ya seperti yang terlihat aku orang sederhana, penggil aja terserah kamu." Sambil tersenyum.
"Ohh ... Iya kak." Menjabat tangan Azka "Nama aku Reina." Membalas senyuman.
"Kakak." Menatap Reina "Kok kayanya aku lebih muda deh." Menggoda.
"Hmm ... Mudaan aku." Muka datar "Aku masih sekolah." Serius.
"Serius banget." Kecewa "Tadinya kan mau bercanda." Muka males "Ehhh ... Tunggu berarti kamu bolos sekolah." Menatap curiga Reina.
"Nggak kok aku mau berangkat sekolah, terus kakak tiba-tiba ngejar aku." Berbohong dan memalingkan wajahnya.
"Masa, kok nggak pake seragam." Menekan Reina.
Reina bingung tidak bisa mencari alasan. Namun, Reina tertolong oleh kedatangan dokter.
"Permisi, siapa keluarga korban." Tanya dokter tiba-tiba.
"Emm ..." Reina bingung dan juga takut karena Reina mengira Asgara pingsan penyebabnya adalah dirinya.
"Kami menemukannya." Mencairkan suasana "Kami juga tidak tahu keluarganya." Serius.
"Huh ..." Membuang napas dalam "Kami tidak bisa menghubungi keluarga korban." Dokter pun ikut merasa bingung "Dan pasien tidak membawa ponsel berserta informasi yang dapat kami ambil." Jelasnya.
"Sa ... saya pernah sekali bertemu dengannya disekolah." Memberanikan diri untuk bicara.
"Bagus." Mengangguk lalu menatap Reina dan tersenyum "Kondisi pasien sangat mengkhawatirkan." Serius.
"Kalau begitu saya akan pergi ke Sekolah." Tergesa-gesa "Tolong Dok, lakukan yang terbaik untuk mengobatinya." Merasa bersalah.
"Ta ... tapi saya tidak_ _" Ucap dokter yang merasa ragu.
"Maafkan saya." Ucap dokter yang merasa bersalah dia adalah dokter baru di rumah sakit yang belum terbiasa dengan transaksi di rumah sakit.
"Tidak masalah dok." Tersenyum yang membuat dokter tersebut tertegun sebentar "Ini memang seharusnya dilakukan sesuai peraturan rumah sakit." Reina menutup pembicaraan dengan senyumannya.
"Terimakasih atas pengertiannya, saya akan menunggu informasi keluarga pasien." Bersiap masuk ruang perawatan "Dan akan melakukan yang terbaik." Tersenyum.
Dokter muda tersebut pergi menunaikan tugasnya sebagai Dokter. Azka pergi membayar administrasi. Dan Reina dengan terburu-buru pergi kesekolah.
Sesampainya di Gerbang sekolah Reina berhenti sejenak dan berpikir apa hukuman untuknya karena bolos sekolah.
Tapi sekarang bukan saatnya memikirkan tentang dirinya. Dalam keadaan sangat merasa bersalah Reina masuk kedalam sekolah.
Setelah mendapat izin penjaga keamanan Reina berlari ke kantor kepala sekolah.
Sesampainya dipintu kantor kepala sekolah Reina memberanikan diri masuk ruangan.
Saat pintu dibuka Reina. Bukannya melihat kepala sekolah, tapi Reina melihat seorang ibu sedang menangis sambil duduk di sofa bersama guru-guru yang berkumpul menemaninya.
"Permisi." Membuka pintu "Saya mau bicara hal penting dengan_ _" Terpotong.
"Reina kenapa kamu tidak sekolah." Ucap wali kelas Reina memotong pembicaraan Reina.
"Maaf Bu, saya bolos dan saya berbohong atas surat ijin saya." Menundukkan kepala "Sebenarnya saya mencari kerja." Jujur apa adanya.
"Oke, ibu maklum." Wali kelas Reina menatap sayu "Lain kali jangan diulangi." Memperingati tapi sambil tersenyum.
Kepala sekolah datang "Ada masalah apa Reina sepertinya kamu tergesa-gesa?" Tanya kepala sekolah yang sudah mendengar percakapan Reina dan wali kelasnya.
"Pak, apa bapak tahu murid laki-laki yang waktu itu bikin heboh." Berucap dengan apa adanya karena tak tahu nama Asgara.
"Ohhh ... Maksud kamu Asgara ada apa?" Tanya kepala sekolah.
Sebelum Reina menjawab, ibu yang sedang menagis tadi langsung menghampiri Reina dan memegang kedua bahu Reina dengan histeris.