Keeping Cute Boys

Keeping Cute Boys
permohonan




Dokter muda yang bertemu Reina dan yang mengobati Asgara. Dia bukan dokter baru didunia kedokteran tapi baru dirumah sakit tersebut.


Biasanya dia adalah dokter pribadi. Dan ini kali pertama dia dirumah sakit jadi dirinya belum cukup terbiasa.


Adit aqila permana, usia 21 tahun. Dokter spesialis dan bertugas mengobati trauma dan sejenisnya. Dokter termuda yang lulus dengan cara yang luar biasa yaitu lulus di usia sangat muda.Hari ini dia mengobati Asgara karena dokter yang seharusnya bertugas tidak bisa hadir karena ada situasi darurat. Jadi dia dipercaya untuk menggantikannya.


Di rumah sakit


Dokter Adit keluar dari ruangan setelah pemeriksaan dan penanganan Asgara selesai.


"Apa saya boleh bertanya." Dokter Adit bertanya pada Azka.


"Bertanya apa?" Jawab singkat Azka.


"Gadis tadi siapa kamu?" Tanya dokter Adit yang penasaran.


"Dia pacar saya." Kebohongan singkat Azka.


Jawaban itu cukup membuat dokter Adit tertegun.


"Kenapa?" Azka melirik dokter Adit "Suka?" Tanyanya lagi.


"Nggak apa maksud anda saya hanya bertanya." Adit mengelak.


"Serius banget si Dok." Azka tersenyum "saya cuma bercanda." Tertawa.


"Hmmm ... Saya pergi kalau gadis itu sudah kembali segera suruh keruangan saya." Ucap Adit lalu pergi.


Tiba-tiba ponsel Azka berdering. Azka mengangkatnya ternyata itu telpon dari Reina.


"Halo, kak ini aku Reina." Menyapa sebrang telpon.


"Iya tau." Singkatnya dengan candanya.


Mereka berdua bicara lewat telepon selama beberapa saat. Tanpa waktu lama setelah itu seorang ibu datang dengan tergesa-gesa dan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


"Dek, kamu tahu ruangan Asgara." Ibu itu bertanya pada Azka. Namun, Azka yang melihat ibu itu hanya tertegun.


"Dek." Panggil Ibu itu "Kamu dengarkan." Melambai-lambaikan tangan didepan wajah Azka.


Diruangan Asgara


"Sayang." Teriak ibu tersebut setelah melihat Asgara terbaring lemah.


"Tenang ya bu." Upaya Azka menenangkan ibu tersebut "Setelah ini anda harus menemui dokter." Berbicara dengan lembut.


"Oh ... baiklah." Menarik napas dalam-dalam.


"Saya antar." Ucap ramah Azka.


Diruangan Adit


"Permisi dok." Azka membuka pintu.


"Silakan masuk." Ucap Adit.


Saat Adit melihat namun yang dilihatnya cukup membuatnya kecewa dia sangat berharapan Reina yang masuk. Ada yang aneh pada Adit biasanya dia tidak peduli pada siapapun kecuali pasiennya dia hanya seorang pemuda yang gila kerja.


Tapi karena dia seorang profesional dia bersikap biasa.


"Ini siapa?" Adit tersenyum ramah dan bertanya pada Azka dan menatap lembut ibu tersebut.


"Ibu ini ibunya Asgara." Jelas singkat Azka.


"Asgara?" Bingung Adit.


"Maksud saya pasien." Jelas Azka lagi.


"Oh, ibu kita perlu bicara dengan serius dan agak pribadi mungkin." Ucap serius Adit.


"Baiklah saya pamit dulu." Pamit Azka yang mengerti situasinya.


Setelah meminta ijin Azka pergi keluar dan pulang. Namun, ada yang aneh padanya dia menjadi sedikit muram tak seperti biasanya entah kenapa.


Sementara Azka pulang Adit dan Ibu Asgara membicarakan apa yang terjadi pada Asgara.


"Bu, apa anda tahu trauma yang dialami anak anda?" Tanya Adit dengan serius.


"Iya saya tahu." Jawab Ibu Asgara dengan wajah yang pucat "Saya mohon semoga anda bersedia membatunya." Memohon "Saya tahu anda adalah dokter terbaik yang dapat mengatasi trauma, bisakah anda memberikan pengobatan secara pribadi untuk anak saya." Ibu Asgara ingin Adit menjadi dokter spesialis pribadi Asgara.