Just Me

Just Me
7



Wanita itu terlihat sibuk mengambil beberapa barang miliknya untuk di masukan ke dalam koper lamanya yang sudah berdebu.


Kyra mengambil beberapa pakaian lama miliknya dan sama sekali tidak mengambil pakaian baru dari lemari yang di penuhi pakaian model terbaru. Itu bukan miliknya dan dia tidak akan sudi membawa barang-barang dari pria itu.


Setelah selesai, ia segera menyeretnya dan berjalan turun.


Beberapa pelayan yang melihat nyonya mereka yang sedang membawa koper mengernyit bingung. Mereka membungkuk begitu wanita itu tiba di hadapan mereka.


"Good Morning, Miss." Salam mereka serempak.


Kyra tersenyum lembut, "Hei, kalian tidak perlu seformal begitu padaku. Aku bukan lagi nyonya kalian." Ucap kyra tidak bisa menahan nada senangnya.


Ia sudah memkirkan bahwa ini adaah pilihan yang terbaik untuk dirinya dan Pria egois itu. Jika dia menahan pria itu lebih lama, dia tahu hanya akan ada rasa sakit yang terus membuat hatinya terluka. Lebih baik dia memutuskan hubungan mereka secepat mungkin dan mulai hidup baru. Dan mungkin sebentar lagi Si Wanita pameran utama akan hadir. Jadi untuk apa dirinya bertahan?


Mereka semua menampilkan raut bingung. Tidak percaya akan ucapan yang keluar dari mulut sang nyonya.


"Kata siapa?" ucap seseorang dari belakang tubuhnya.


Kyra berbalik dan menemukan Adrian dengan pakaian formal nya. Kemeja navy dan jas hitam. Kyra menukikkan kedua alisnya mendengar ucapan pria itu. Bukankah pria itu juga sudah bersepakat semalam? Apakah otaknya sudah bergeser?


"Aku sudah mendatangani kertas itu. Apa kau lupa?" tanya Kyra. Nada nya memperingati Adrian.


"Maksudmu ini?" tanya nya sambil memperlihatkan kertas yang sudah berisi tanda tangan Kyra. Gadis itu mengangguk pelan.


Adrian mengoyangkan kertas yang sudah berisi tanda tangannya dan tanpa kata merobek nya dengan cepat. Gadis itu mengangga dan tampak begitu terkejut.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Kyra marah. Menatap horror robekan kertas itu.


"Sekarang kau masih nyonya mereka." Ucap pria itu santai. Ia berbalik dan memberi kode kepada para pelayan yang juga sedang menatap robekan kertas itu dengan raut terkejut.


"Bawa koper nya ke dalam kamarnya dan siapkan mobil untuk ku ke kantor."


Belum sempat pria itu melangkah, Kyra dengan cepat meraih ujung jas pria itu dan menatapnya tajam.


"Apa maksud semua ini?!" tanyanya dengan raut emosi.


"Kau pikir aku percaya dengan semua ini? Itu bukan dirimu. Aku yakin kau memilki seribu rencana untuk mengambil hartaku." Ucap nya datar tanpa beban.


Kyra memerah menahan kesal. Apa-apaan itu?! Memang  dirinya seburuk itu? Lalu sekarang dimana  salahnya? Kenapa pria ini tidak membiarkannya pergi saja seperti yang selau diinginkan pria itu sedari dahulu?


"Aku tidak membutuhkan semua itu. Kita sudah bercerai dan kita sudah bersepakat semalam!" ujar Kyra mengepalkan tangannya. Ia menahan diri untuk menonjok wajah pria di hadapannya ini.


"Alvaro?" Bisik Adrian. Terselip nada mengejek di sana.


Kyra menggertakan giginya kesal. Karena kau sudah merobeknya, brengsek!


"Aku tidak peduli. Aku akan membawa kertas itu kembali dan kau harus menyetujuinya!" Tegas Kyra. Ia tidak sudi berlama-lama hidup dengan pria itu.


"Lakukan dan akan ku hancurkan keluarga mu." ucap nya kejam.


Kyra mematung. Dia ingat Keluarga yang dimaksud pria itu. Kelurga kecil yang telah menampungnya dari kecil dan pria itu ingin menghancurkannya? Tidakkah pria itu merasa peduli dengan nasib keluarga nya jika keluarganya di hancurkan? Walaupun aku bukanlah jiwa dari tubuh ini, tapi tetap saja aku tahu diri.


"Jangan pernah kau  menyentuh Keluarga ku!" teriak Kyra marah. Dirinya paling tidak suka jika ada seseorang yang mengancam nya. Apalagi menyangkut hal pribadinya .


"Tidak akan ku lakukan asal kau tetap di sini." Ucap Adrian tenang.


"Bukankah ini keinginanmu? Bercerai dengan ku? Aku sudah mengabulkannya, tapi apa sekarang? Apa lagi yang kau inginkan?!" kyra menahan air mata yang mati-matian ingin meluncur bebas dari kedua mata birunya.


Jangan menangis Kyra! Si brengsek ini tidak pantas mendapat air matamu!


"Yang ku inginkan adalah membuka topeng busuk yang kau gunakan." Ucap nya tajam tanpa peduli dengan Kyra yang merasakan denyut menyakitkan dari hati kecilnya.


"Tidak bisakah kau percaya padaku? Aku tidak mungkin melakukan hal itu." Bisik Kyra lemah. Ia menunduk. Kenangan buruk saat Mantan Kekasihnya menuduh nya dulu membuatnya sedikit trauma. Pria itu membentak nya di hadapan semua orang.


"Percaya padamu? Dalam mimpimu." Jawab pria itu dengan  pedas lalu berbalik pergi. Meninggalkan Kyra yang mematung tidak percaya . Tangan yang sempat menyentuh ujung jas pria itu mengambang lalu terkulai lemas. Air matanya perlahan jatuh dari kedua bola mata cantiknya. Pada akhirnya ia menangis. Lagi-lagi tidak ada yang mempercayainya.


Kau menahanku karena itu? tidak biskakah kau membiarkannya seperti yang selalu kau inginkan? Aku tidak ingin berada denganmu lebih lama, Adrian. Pernikahan tidak jelas ini membuat ku harus segera pergi jauh. Aku tidak mau tubuh ini tersakiti lagi.


Kyra menangis setiba di kamar nya. Baju di dalam kopernya tidak ia keluarkan. Ia tetap ingin pergi dari Rumah ini. Wanita itu menangis saat ingatannya kembali saat Sahabat nya terjatuh tepat di hadapannya saat mereka bertengkar dulu. Lalu Mantan Kekasihnya menuduh nya jika dirinya sengaja mendorong nya karena iri dan membalas dendam karena Mantan kekasihnya lebih memilih Sahabatnya.


"Brengsek." Maki Kyra pelan berusaha menghapus air mata yang membanjiri pipi nya. Ia jijik harus mengingat kenangan itu. Memang siapa mereka?! Sialan! Menjauh lah kalian dari pikiranku! Ini gara-gara si Brengsek Adrian! Peduli setan jika dia tidak percaya padaku! Dasar pria sombong!


Lalu sekarang apa? Haruskah aku kabur? Tapi bagaimana mungkin, dengan semua penjagaan ketat itu?


Kyra menghapus air mata nya dengan kasar. Ia jijik harus menangis karena mereka. Setelah mulai tenang, otaknya berusaha berpikir cara agar keluar dari tempat ini. Rumah Keluarga nya cukup jauh dari kediaman Alvaro. Tapi jika menggunakan Kereta Api itu akan mudah dan uang nya pun cukup untuk pergi. Baiklah, aku akan menyusun rencana agar bisa pergi dari sini.


Lebih baik aku tidur dulu. Batin Kyra merasa pusing. Entah kenapa ia merasa tubuh ini juga sama lemahnya dengan tubuhnya dulu.


*